NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 Ruang dalam Cincin bulan Sabit!

"Hah? Mbok Ginem?" ucap Dinda linglung, matanya mengerjap-ngerjap kaget.

​"Kenapa, Nduk?" tanya Mbok Ginem sembari mengerutkan dahi bingung melihat ekspresi syok tamunya.

​Dinda tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan untuk mengusir sisa kebingungannya. Mbok Ginem tersenyum maklum, lalu berkata dengan lembut, "Kalau begitu, yuk kita makan, Nduk. Si Mbok sudah masakkan makanan untuk malam ini."

​Dinda mengangguk patuh. Ia lalu bangkit dan mengekor di belakang Mbok Ginem menuju dapur kecil berukuran sekitar dua kali tiga meter. Sepanjang jalan, Dinda melangkah dengan super hati-hati. Ia ngeri setiap kali kakinya menapak dan lantai kayu di bawahnya mengeluarkan bunyi derit yang nyaring. Dinda tidak bisa membayangkan kalau lantai rumah panggung ini tiba-tiba ambles dan roboh. Memang sih tingginya hanya sekitar empat meter dari permukaan tanah, tapi tetap saja sukses membuat lututnya lemas.

​Begitu sampai di bilik dapur, ia melihat Wira sudah duduk duluan menikmati makan malamnya.

​"Mari makan, Nduk," ajak Mbok Ginem ramah.

​Dinda mengangguk sopan. Seolah mengerti ketakutan Dinda, Wira menggeser posisi duduknya ke samping, memberikan sedikit ruang agar Dinda bisa duduk dengan nyaman di dekatnya.

​Mata Dinda melirik ke arah piring yang terbuat dari tanah liat. Isinya hanya potongan paha ayam bakar hasil buruan tadi siang, ditemani beberapa potong singkong rebus yang tampaknya hambar tanpa garam.

​Ah, cuma ini? batin Dinda, mendadak rindu dengan nasi putih hangat.

​"Maaf ya, Nduk. Kita makan seadanya," ucap Mbok Ginem pelan, gurat penyesalan tampak di wajah tuanya. "Kami tidak punya cukup uang untuk beli makanan yang enak, terlebih untuk membeli segenggam beras pun kami tidak mampu..."

​Mendengar penuturan tulus itu, hati Dinda mendadak tersentuh. Ia menatap Mbok Ginem lalu menggeleng kuat-kuat. "Enggak apa-apa kok, Mbok. Makan begini saja sudah enak banget," jawab Dinda lembut. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan senyum manis yang menenangkan.

​Malam itu, rumah panggung yang biasanya hanya diisi oleh keheningan antara Wira dan Mbok Ginem, mendadak terasa lebih hangat dengan kehadiran Dinda.

​Setelah makan selesai, Dinda beralih duduk bersantai di ruang tengah. Pikirannya kembali berkelana jauh pada tempat asing nan indah yang beberapa jam lalu ia kunjungi.

​Apa tadi itu cuma mimpi? Tapi kenapa terasa nyata banget? Rasa manis dari buah jeruk dan segarnya air dari mata air itu... Dinda membatin heran. Saking nyatanya, sisa rasa manis buah jeruk tadi seolah masih tertinggal di ujung lidahnya.

​Tanpa sengaja, Dinda kembali menautkan kedua tangannya di atas pangkuan. Detik berikutnya, ia terpekik lirih saat melihat jari manisnya. Cincin perak berbandul bulan sabit itu ternyata masih melingkar manis di sana!

​"Loh? Ini kan cincin yang tadi..." gumam Dinda lirih. Jidatnya mulai berkerut dalam, mencoba mencari logika di balik semua ini.

​Karena penasaran, jemari tangannya tanpa sengaja mengusap bandul bulan sabit pada cincin tersebut. Dan... wusss!

​Seketika itu juga, pemandangan bambu dan atap jerami rumah Wira menghilang, berganti dengan hamparan kebun hijau yang luas dan aroma tanah yang segar.

​"Hah?! Apa ini? Kenapa bisa berubah lagi?!" tanya Dinda, kaget sekaligus takjub setengah mati.

​Untuk menguji apakah ini nyata atau sekadar halusinasi, Dinda kembali mengusap bandul bulan sabit itu sekali lagi. Wusss! Tubuhnya kembali berpindah tempat, mendarat tepat di atas lantai kayu ruang tengah milik Wira.

​"Jadi ini beneran nyata?! Aku punya ruang dimensi sendiri?!" bisiknya girang bukan main.

​Dinda yang penasaran mulai bertingkah seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Ia beberapa kali mengusap cincinnya, menikmati sensasi berpindah tempat dalam sekejap mata dari ruang dimensi ke ruang tengah rumah Wira, lalu kembali lagi. Setelah cukup puas bereksperimen, Dinda tak bisa menahan tawa bahagianya. Ia tertawa cekikikan sendirian di kegelapan malam.

​Hingga tanpa sadar, suara Mbok Ginem memecah keheningan dari arah pintu kamar. "Nduk? Ada apa? Kok tertawa sendiri?"

​Langkah eksperimen Dinda langsung terhenti. Ia buru-buru menggeleng dengan wajah memerah karena malu. "Ah, enggak apa-apa, Mbok! Enggak ada apa-apa."

​"Ya sudah, mari tidur dan istirahat," kata Mbok Ginem lembut sembari tersenyum.

​Dinda pun mengiyakan dengan patuh. Malam itu, Dinda merebahkan diri di atas amben kayu dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bahagia. Sekarang ia tahu, ia memiliki akses ke sebuah ruang rahasia yang menyimpan berbagai macam kebutuhan hidup modern. Selama ia masih terjebak di zaman kuno antah-berantah ini, Dinda yakin dirinya tidak akan pernah kelaparan atau kesusahan lagi.

1
Siti Naimah
cuma bisa membayangkan saja.. Dinda masuk di kehidupan jaman dulu kala..entah di jaman Majapahit atau apa.dimana rakyat pedesaan pada heran melihat minuman kopi teh sachet an.. minuman instan..juga makanan biscuit.. apalagi kompor gas🤭...tentu penduduk desa tersebut cuma bisa bengong.



😄😄😄😄
Tasyacysya: Izin Zaman dulu, Tapi bukan majapahit, semacam dunia lain..😄
total 1 replies
Siti Naimah
Gauri..sadar diri dong🤭
masak pengen merebut Wira dari Dinda...kan masih banyak cowok2 yg laen
Siti Naimah
gak habis pikir dengan apa yg lagi dialami oleh Dinda... betul2 sesuatu yg gak masuk akal🤭...tapi aku suka banget.. mestinya banyak hal aneh2 yg lain... ditunggu kelanjutannya 😄
Siti Naimah
semoga kakak author sehat selalu..
ditunggu karyanya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
istirahat saja kak... jangan terlalu memaksa diri
Siti Naimah
walah namanya minta sumbangan..dan ngantri gitu aja kok coba2 berniat genit sama Wira...ya tentu aja bikin Dinda jadi sewot 🤭
Siti Naimah
semangat berkarya 💪
Sri rahayu
lumayan jauh Thor 😁😁😁
Siti Naimah
ceritanya Dinda sama Wira bakal menjadi pedagang sembako nih👍
Siti Naimah
kasihan banget prajurit penjaga perbatasan sampai susah untuk mencari makanan.sampai singkong pun tidak dapat.semoga bisa segera mendapat makanan dari Dinda..gak kebayang jika lihat Indomie..tentu pada heran dan bingung.ada makanan aneh tapi enak banget 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
belum terlalu jauh kok aman
Dewiendahsetiowati
lanjut Thor
Siti Naimah
semoga mpu Barata lekas sembuh..
dan bisa bekerja kembali
Siti Naimah
mpu Barata seperti nya mulai berangsur sembuh dan keadaannya membaik.makanya jadi lapar dan doyan makan
Siti Naimah
ini si lawe juga baru mengenal barang aneh dan asing.tisu basah...itu model barang jaman modern ya lawe..he..he😄
Siti Naimah
bisa membayangkan... betapa senangnya panji menjumpai makanan yang asing..tapi lezat banget🤭
Siti Naimah
Dinda punya jiwa sosial yang tinggi😍👍
Siti Naimah
biscuit merupakan makanan aneh dan mewah di tempat nya panji😄
Siti Naimah
wah membayangkan system nya Dinda kok gak bisa ya🤭jadi bingung sendiri.tapi ya sudahlah yang penting Dinda berhasil 💪
Siti Naimah
rasain lho Lilis..makanya jangan sombong.berusaha supaya bisa menerima hal2 baru dan mengakui kelebihan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!