NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Alibi Susu Hangat

Bab 6: Alibi Susu Hangat

​Suasana di lorong lantai dua itu mendadak terasa begitu mencekam hingga suara detak jantung Aline sendiri terdengar sangat nyaring di telinganya. Tatapan Adrian yang mengarah ke kepalan tangannya membuat adrenalin Aline berada di titik tertinggi sepanjang hidupnya. Jika Adrian memaksa membuka tangannya sekarang, benda berteknologi militer itu akan langsung mengakhiri penyamarannya—dan nyawanya.

​"T-Tuan Besar..." Aline membuka mulutnya, suaranya bergetar hebat dengan nada sengau khas orang yang ketakutan setengah mati. Ia sengaja memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur meja konsol marmer di belakangnya, menciptakan impresi bahwa ia benar-benar terpojok oleh sang predator.

​"Aku bertanya padamu, gadis desa," Adrian mengambil satu langkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. Pria itu menundukkan tubuh tegapnya, menatap Aline dari jarak yang sangat intim di bawah temaramnya malam. "Apa yang dilakukan seorang pengasuh baru, berkeliaran di koridor tengah mansionku pada jam sebelas malam dengan pakaian seperti ini? Dan apa yang kau sembunyikan di tanganmu?"

​Jantung Aline nyaris copot, namun otaknya yang secerdas komputer siber bekerja dengan kecepatan kilat untuk menyusun alibi terbaik dalam hitungan milidetik.

​Ia menarik napas pendek yang terdengar putus-putus. "S-Saya... saya tidak menyembunyikan apa-apa, Tuan Besar! S-Saya hanya... saya sangat ketakutan..."

​Aline perlahan mengangkat tangan kirinya yang sejak tadi berada di balik punggungnya. Di jemari tangan kirinya, ia ternyata memegang selembar sapu tangan kain kusam yang sudah basah oleh air matanya yang sengaja ia keluarkan lagi demi mendukung aktingnya. Sementara tangan kanannya yang memegang kamera mikro tetap terkepal, namun ia posisikan seolah-olah ia sedang meremas ujung kaus hitamnya karena gugup.

​"S-Saya tadi terbangun karena mendengar suara ketukan di jendela kamar saya... S-Saya mengira ada pencuri atau hantu..." Aline mulai terisak kecil, membiarkan air mata palsunya mengalir membasahi pipinya yang telah dirias lebih gelap. "L-Lalu saya teringat Tuan Muda Kenzo dan Nona Muda Keira... Saya takut mereka terbangun dan ketakutan juga karena suara badai di luar. J-Jadi saya berniat ke dapur untuk membuatkan susu hangat untuk mereka... t-tapi saya tersesat karena rumah ini terlalu besar dan gelap... S-Saya tidak tahu jalan ke dapur, Tuan..."

​Aline menundukkan kepalanya, membiarkan tubuhnya bergetar hebat di depan dada bidang Adrian. "M-Maafkan saya, Tuan Besar! Tolong jangan bunuh saya... Saya benar-benar tersesat... Saya hanya ingin mengantarkan susu hangat..."

​Adrian terdiam. Mata elangnya menatap lekat-lekat pada sapu tangan kusam di tangan kiri Aline, lalu beralih ke wajah gadis itu yang berlumuran air mata di balik kacamata bulat tebalnya. Ekspresi ketakutan yang ditunjukkan gadis ini begitu mentah, begitu rapuh, dan sangat meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya.

​Namun, Adrian bukanlah orang biasa. Ia adalah pemimpin tertinggi "Gorgon". Ia tidak mudah mempercayai air mata.

​Adrian mengulurkan tangan kanannya yang bebas dari gelas whisky, lalu dengan gerakan lambat namun menekan, ia meraih pergelangan tangan kanan Aline—tangan yang menyembunyikan kamera mikro itu.

​Aline menahan napasnya. Jika Adrian membuka paksa jemarinya, semuanya berakhir.

​Adrian meremas pergelangan tangan Aline yang terasa kecil di dalam genggaman tangannya yang besar dan kokoh. Ia mengangkat tangan terkepal itu ke atas, membawanya ke depan wajah mereka. "Kau meremas kausmu begitu erat, Aline. Seolah-olah kau sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh dari genggamanmu."

​"S-Saya hanya... saya selalu meremas baju saya kalau sedang ketakutan setengah mati, Tuan..." Aline menjawab dengan suara cicit yang hampir habis, matanya menatap Adrian dengan pandangan memohon yang amat sangat polos. "I-Ibu saya dulu selalu bilang... kalau takut, remaslah bajumu sendiri agar hatimu tenang..."

​Adrian menatap manik mata cokelat pudar milik Aline selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Hening yang panjang terjadi di antara mereka, hanya diiringi oleh suara hantaman air hujan yang deras di kaca jendela luar. Ada sesuatu yang aneh dalam getaran tubuh gadis ini—tubuhnya bergetar hebat karena takut, namun nadinya yang berdenyut di bawah cengkeraman jemari Adrian terasa... terlalu konstan untuk orang yang sedang panik.

​Pria itu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Aline dengan sentakan pelan. Ia meminum sisa whisky di gelasnya dalam satu tegukan habis.

​"Dapur berada di lantai bawah, di ujung koridor sebelah kanan dari tangga utama," kata Adrian dengan suara yang teramat dingin, membalikkan tubuhnya membelakangi Aline. "Dan ingat peringatanku sekali lagi, Nona Sanyoto. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu berkeliaran di area tengah. Jika besok malam aku mendapati kakimu melangkah satu senti saja mendekati jembatan menuju sayap barat... aku sendiri yang akan memastikan tubuhmu dikirim kembali ke desamu di dalam sebuah peti kayu."

​"M-Baik, Tuan Besar! Terima kasih... Terima kasih karena tidak membunuh saya!" Aline membungkuk berkali-kali dengan gaya ketakutan yang amat konyol, lalu buru-buru berbalik dan berjalan cepat setengah berlari kembali ke arah koridor sayap timur, menjauh dari keberadaan sang mafia.

​Setelah memastikan dirinya berada cukup jauh dari jangkauan pandangan Adrian, Aline menghentikan langkahnya di depan pintu kamar tidur besar milik si kembar. Ia mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia membuka kepalan tangan kanannya—kamera mikro itu masih utuh, sedikit basah oleh keringatnya.

​Pria itu... tingkat kewaspadaannya benar-benar gila, batin Aline dengan tatapan yang kembali menajam. Hampir saja.

​Aline memutar gagang pintu kamar tidur Kenzo dan Keira dengan sangat perlahan, berniat untuk memeriksa keadaan mereka sekaligus menuntaskan alibi "memeriksa anak-anak" yang baru saja ia katakan pada Adrian jika sewaktu-waktu pria itu mengawasinya dari kejauhan.

​Namun, saat pintu kayu tebal itu terbuka sedikit, pemandangan di dalam kamar membuat seluruh tubuh Aline kembali menegang.

​Kamar tidur luas yang seharusnya gelap dan diisi oleh dua anak kecil yang tertidur lelap itu ternyata benderang oleh pendar cahaya biru dari layar monitor monitor raksasa yang terpasang di dinding tersembunyi di balik lemari pakaian mereka yang terbuka.

​Di depan layar-layar besar itu, Kenzo dan Keira sedang duduk di atas kursi putar kecil dengan headphone terpasang di telinga mereka. Di atas layar monitor tersebut, menampilkan rekaman CCTV seluruh sudut mansion secara real-time—termasuk rekaman koridor lantai dua tempat di mana Aline dan Adrian baru saja berhadapan beberapa menit yang lalu.

​Si kembar tidak sedang tidur. Mereka menonton seluruh interaksi menegangkan antara Aline dan ayah mereka layaknya sedang menonton sebuah film bioskop yang seru.

​Saat mendengar suara pintu terbuka, Kenzo dan Keira secara bersamaan memutar kursi mereka menghadap ke arah Aline. Mereka menanggalkan headphone mereka, lalu melempar senyuman licik yang teramat lebar ke arah sang pengasuh baru.

​Bagaimana reaksi Aline saat mengetahui bahwa si kembar mengawasi setiap pergerakannya? Jebakan apa yang akan diberikan dua monster kecil ini setelah mengetahui alibi "susu hangat" milik Aline?

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!