"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: LUKA YANG TERBUKA LAGI
Waktu berjalan merajut takdir dengan kelenturan yang senyap, melompati hari demi hari hingga tak terasa dua minggu penuh telah berlalu begitu saja di tengah kedamaian bumi Pesisir Selatan. Kehadiran Egi yang selalu bersikap sopan, santun, dan menaruh rasa hormat yang teramat besar pada keluarga akhirnya berhasil melunakkan hati kedua orang tua Aini.
Pagi itu, memanfaatkan momen saat Aini sedang tidak berada di rumah, Egi sengaja datang berkunjung secara diam-diam tanpa sepengetahuan wanita idamannya tersebut untuk mengutarakan isi hatinya yang terdalam di hadapan Bapak dan Ibu Naya.
"Bapak, Ibu... aku rasa sudah teramat lama aku menjalin kedekatan dan berteman baik dengan Aini," ujar Egi dengan nada suara yang teramat santun dan berwibawa di ruang tamu.
"Dulu, aku sebenarnya pernah ingin meminang Aini untuk menjadi suaminya, tetapi saat itu dia menolak dengan alasan ingin fokus menyelesaikan karya tulisan naskahnya. Tapi kini, rasa-rasanya sudah sangat lama aku menunggu di balik bayangan sepi. Proses novel fiksi orisinilnya yang berjudul "Luka dalam Rumah Tangga" di aplikasi NovelToon pun sekarang sudah resmi menemui kata ending, bahkan sudah sukses besar diangkat menjadi film adaptasi. Kalaupun nanti ke depannya Aini mau bangkit membuat novel baru lagi, Egi berjanji akan sangat mendukungnya, Ibu. Tapi, Egi juga tidak mungkin bisa menunggu Aini terlalu lama tanpa ada ikatan yang pasti. Mohon izin dan bantuan Ibu serta Bapak... tolong bujuk Aini untuk membuka hatinya, Bu."
Bapak dan Ibu Naya saling berpandangan sejenak, merasakan ketulusan yang teramat murni memancar dari tutur kata Egi. Di dalam lubuk hati mereka, kedua orang tua Aini menganggap bahwa Egi adalah sosok pria yang sangat baik, sopan santun, tahu cara menghargai, dan sangat menyayangi Aini seutuhnya.
"Kalau dari pihak Ibu dan Bapak... mungkin kami sebenarnya sudah mengizinkan Nak Egi untuk meminang Aini," balas Ibu Naya dengan desah napas yang lembut dan bijaksana.
"Tapi, bagaimanapun kita harus mencoba membicarakannya baik-baik dulu pada Aini, Nak Egi. Ibu tidak mungkin bisa memaksa kehendak Aini, meskipun kami berdua tahu betul kalau Nak Egi adalah orang yang teramat baik."
"Terima kasih banyak, Bu," sahut Egi dengan senyuman yang merekah lega.
"Semoga Ibu bisa membuat pintu hati Aini kembali terbuka untuk menerima kehadiran Egi."
"Mudah-mudahan saja begitu, Nak," jawab Ibu Naya penuh harapan yang meneduhkan batin.
Di malam harinya di ruang tamu bapak Farhan meminta putri sulung nya agar duduk bersama kecuali Natan. Natan memilih untuk mengerjakan tugas di kamarnya. Suasana seketika hening, pak Farhan bingung mau mulai dari mana.
" Ada apa pak?" Tanya Aini mencoba mencair kan suasana.
Bapak Farhan dan ibu Naya menjelaskan tentang kedatangan Egi tadi sore dan mencoba meyakini Aini. Aini menghargai nasihat dan pendapat kedua orang tuanya jadi Aini mencoba membuka hatinya, apa salah nya Aini coba jalani dulu.
Dua hari setelah perbincangan rahasia itu berlalu, momentum yang dinantikan Egi akhirnya tiba. Berkat bujukan lembut dari Ibu Naya di ruang tamu sebelumnya, Aini akhirnya bersedia memenuhi permintaan Egi untuk pergi berkunjung dan berkenalan langsung dengan kedua orang tua pria tersebut.
Hari itu, Aini tampil dengan perpaduan gaya busana yang teramat modis, elegan, namun tetap memancarkan kearifan lokal yang sangat sopan. Wanita berusia 26 tahun itu mengenakan tunik sepadan berwarna putih bersih tanpa lengan, yang berpadu sempurna dengan manset putih panjang serta celana putih berbahan satin yang mewah. Hijab berwarna krem lembut terlilit teramat rapi di kepalanya, menonjolkan kilau bersih kulit kuning langsatnya yang merona alami. Penampilannya teramat cantik dan berkelas, hingga membuat Egi sempat terkesan dan terpesona menatapnya tanpa kedip saat menjemputnya.
Namun, keindahan penampilan Aini seketika runtuh di bawah tembok keangkuhan kastil manusia. Setelah menempuh waktu hanya sepuluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor, mereka tiba di sebuah rumah megah milik keluarga Egi. Pertemuan awal yang tadinya berjalan formal mendadak berubah menjadi kaku saat Ibu Nita—ibu kandung Egi—mulai menanyakan asal-usul, latar belakang, dan status pernikahan masa lalu Aini. Begitu mengetahui kebenaran jati diri wanita di hadapannya, raut wajah Ibu Nita seketika berubah drastis, memancarkan sorot pandangan mata yang teramat merendahkan, sinis, dan kaku.
"Hanya seorang janda di kampung sebelah..." desis Ibu Nita dengan nada suara yang sarat akan cemoohan tajam, memotong penjelasan latar belakang keluarga Aini.
"Ibu..." tegur Egi dengan wajah yang memerah menahan malu dan tidak enak hati. Namun, tangan kanan Ibu Nita langsung mengambang di udara, memberikan isyarat tegas yang memerintahkan Egi untuk diam dan tidak ikut campur.
Aini menegakkan punggung mungilnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata wanita paruh baya di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa takut.
"Memangnya kenapa, Bu, kalau saya adalah seorang janda? Lagipula, saya juga belum memiliki anak dari pernikahan masa lalu saya," jelas Aini dengan nada suara yang meluncur begitu datar, tegas, dan tenang.
Ibu Nita mengulas senyuman sinisnya, bersedekap dada dengan keangkuhan yang memuakkan batin.
"Saya benar-benar sangat tertipu melihat gaya pakaianmu hari ini. Penampilanmu tampak sangat luar biasa berkelas, tetapi ternyata itu semua hanyalah tipuan semata untuk menutupi status renyahmu."
Aini hanya terdiam membisu, menelan air salivanya secara perlahan sembari menahan gejolak rasa sakit yang mendadak mencuat di ulu hatinya.
"Seharusnya kamu itu sadar diri," lanjut Ibu Nita, kata-katanya kian menukik tajam meremukkan perasaan.
"Kamu itu hanyalah seorang janda. Mana pantas kamu diperistri oleh anakku yang teramat berbakat, mapan, dan sudah dipercaya untuk mengelola banyak lini bisnis besar ini? Bercermin lah dulu yang baik sebelum kamu bermimpi terlalu tinggi untuk mengejar anakku. Siapa namamu tadi? Ah, iya... Aini." Sentilnya dengan tatapan mata yang teramat merendahkan martabat manusia.
Egi merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh rasa salah yang luar biasa. Dia menatap Aini dengan sorot mata yang penuh permohonan maaf atas kelakuan kejam ibunya. Namun, Aini yang menolak untuk ditekuk oleh harga diri yang diinjak-injak, langsung bangkit berdiri dengan gerakan yang teramat anggun dari kursi sofa.
"Kalau begitu... saya sebenarnya sudah berkaca dengan sangat jelas di depan cermin sebelum saya memenuhi permintaan anak Anda untuk pergi berkunjung ke rumah ini, Bu," balas Aini, suaranya terdengar begitu dingin, menusuk, dan sarat akan logika wanita mandiri yang meremukkan wibawa Ibu Nita.
"Dan setelah saya melihatnya kembali hari ini, aku rasa... bukan saya yang tidak pantas untuk anak Anda, melainkan anak Anda yang teramat tidak pantas untuk mendapatkan wanita seperti saya! Dan satu hal lagi yang harus Anda tahu dengan jelas, yang mengejar-ngejar saya selama ini adalah anak Anda, bukan sebaliknya! Permisi."
Ibu Nita seketika terbungkam kaku, matanya membelalak tidak percaya mendengar setiap baris kalimat pembelaan tajam yang keluar begitu berani dari mulut seorang janda kampung yang dia remehkan.
Tanpa memberikan pandangan lanjutan, Aini langsung berbalik badan membelakangi ruangan, melangkah tegap menuju pintu utama dengan koper harga diri yang tetap tegak.
"Ai! Tunggu, Ai! Maaf!" seru Egi yang langsung bergerak panik keluar dari ruangan, berlari terburu-buru untuk mengejar dan menyusul langkah kaki Aini yang sudah berada di halaman luar. Sementara itu, Ibu Nita tetap duduk dengan santai di kursi ruang tamunya tanpa memancarkan rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak perlu, Mas Egi," potong Aini cepat saat langkah tegap Egi berhasil menahan lengannya di dekat pagar luar.
"Apa yang dikatakan oleh ibu Anda barusan itu... semuanya memang teramat sangat benar adanya."
"Bukan begitu, Ai... tolong dengarkan aku dulu. Biar aku antar kamu pulang, ya?" bujuk Egi dengan tatapan mata yang berkaca-kaca menahan rasa bersalah yang teramat pekat di jiwanya.
Aini mengulas seulas senyuman "akting muka datar" andalannya yang teramat dingin namun mematikan kelasnya.
"Memang adanya seperti itu, Mas. Tidak perlu repot-repot mengantarku, aku sudah memesan layanan taksi harian lewat ponselku sejak di dalam tadi. Permisi," ketus Aini formal, lalu langsung membalikkan tubuh mungilnya untuk melangkah masuk ke dalam mobil taksi yang baru saja berhenti di pinggir jalan raya, meninggalkan Egi yang terpaku diam membeku menelan pil pahit karma batin di bawah terik matahari yang kian membakar batin.
Garis alur berpindah membelah jarak menuju sunyinya kamar hotel mewah di pusat kota. Di dalam keheningan ruang kerjanya yang luas, Arka Mahesa Pratama sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap lurus ke arah langit luar dengan rahang yang mengeras sempurna. Rasa bersalah, cemburu, dan rindu yang tertahan selama berminggu-minggu kini berubah menjadi bumerang yang teramat menyiksa seluruh kedamaian jiwanya sendiri malam demi malam. Gengsi tingginya selama satu bulan ini mulai terasa mematikan logikanya, mengunci rapat gerbang hatinya dalam kepedihan rasa yang mendalam karena menyadari bahwa dinding es ketidakpedulian yang dia bangun justru telah menghukum jiwanya sendiri di balik bayang-bayang rindu yang tak pernah menemui kata usai.
Sebab, bagian paling mulia dari sebuah harga diri seorang wanita mandiri adalah ketika dia mampu menolak untuk ditundukkan oleh keangkuhan harta manusia lain; membuktikan bahwa kilau emas yang murni di dalam jiwanya jauh lebih berharga daripada memaksakan diri bertahan di dalam lingkungan yang tidak pernah tulus memuliakan arti sebuah kehormatan rasa
...****************...
Aduh gimana ya setelah ini Aini akan membenci Egi atau tetap berteman ya?
ayo ikuti terus kelanjutan kisah Aini ya
Selamat membaca readers ku tercinta terimakasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya ya cintaku ♥️♥️♥️