NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Lima gerobak pengangkut material datang lagi, sebab masih banyak orderan yang belum diantarkan.

Hari ini juga waktu baik dimulainya pembangunan rumah.

Batu pertama diletakkan oleh Bai Dashan. Pendeta Tao datang membersihkan area, menggaungkan doa, membakar dupa, demi kelancaraan urusan dan rencana.

Dihari pertama, hampir semua penduduk desa Huanshan datang membantu membuat pondasi. Ini adalah cerminan kerukunan antar tetangga, serta tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun oleh para lelehur.

Lazimnya kebiasaan masyarakat yang hidup dipedesaan miskin, jika ada warga membangun rumah, pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh para penduduk.

Tanpa gaji, cukup memberi makan sekali sehari jika mampu.

Kalau tidak, hanya akan ada ucapan terimakasih saja.

Kalau tidak mampu membeli material bangunan, mereka akan mencari bersama atau menyumbang.

Misalnya membantu menebang kayu, mengumpulkan batu, menggali tanah liat, memberikan atap jerami, dan sebagainya.

Namun sekarang berbeda, dan baru terjadi untuk pertama kalinya didesa Huanshan.

Alasannya, selain konsep arsitektur rumah yang berbeda dan sedikir rumit, Bai Dashan juga merasa mampu untuk memberi upah tenaga.

Itung-itung membantu sesama tetangga agar dapur kediaman mereka tetap mengebul.

Untuk tenaga buruh yang diberi gaji, tugas mereka dibagi dua kelompok.

Dua puluh orang jatah membuat tembok pagar setinggi lima meter, mengelilingi lahan seluas satu hektare delapan ratus meter.

Sementara tiga puluh buruh lainnya bertugas membangun rumah.

Ada pula tenaga tambahan gratis yang akan membantu setiap hari, seperti kakek Bai, kakek Chen, Bai Sanlang, dan Chen Yongzi.

Untuk tenaga suka rela yang membantu memasak ada nenek Bai, nenek Chen, bibi Mei, Zhang Yuwen, dan Li Yuning.

Sementara bibi yang diberi upah ada lima orang. Kebetulan mereka ini masih belum menjalankan bisnis, sebab tidak terlalu pandai memasak.

Para bibi tersebut diperbantukan dalam urusan cuci mencuci bahan masakan, perkakas dapur dan makan, menimba air, serta membersihkan dapur.

Rumah yang dibangun lebih dulu adalah sisi timur, dimana itu menjadi hunian utama.

Dapur produksi sabun sudah resmi menambah karyawan.

Ada Pan Yubao, Pan Yushang, Pei Dalin, Su Jinbao, Su Daya, Yan Yuhe, Zhao Cui, Jang Baozi, Chan Dongli dan Yan Ling.

Kesemua muda mudi itu terpilih karena mereka pekerja keras, rajin, tekun, yang terpenting berbudi luhur dan jujur.

Rencananya setelah pembangunan rumah dan pabrik sabun rampung, tenaga pekerja akan kembali ditambah setidaknya dua puluh orang lagi.

Untuk urusan peracikan sebelum diuleni, tetap menjadi tanggung jawab Bai Anshu dan Hanzi. Agar tidak ada kebocoran resep, pekerjaan itu dilakukan dikamar.

Waktu kerja diberlakukan dari jam delapan pagi hingga lima petang, dengan gaji satu tael per bulan, dan libur empat kali setiap akhir pekan.

"Jadi bangunan bagian barat diubah..?" tanya Chen Yeping, kala Bai Anshu menyodorkan gambar pabrik sabun.

"Benar paman..!" Ansu menunjuk lahan sisi barat.

"Dua ribu meter ini khusus untuk pabrik, gerbang masuk dipisah dengan rumah utama. Selain tungku ada tambahan oven untuk pengeringan sabun."

Chen Yeping menganggukkan kepala berulang kali.

"Diarea barat yang sudah dipisahkan tembok pagar pabrik, tetap dibangun sesuai konsep awal. Empat kamar tamu lengkap bilik pemandian, ruang belajar, dan satu gudang barang."

"Baik, paman mengerti."

"Dibagian belakang pabrik ini untuk sumur, dua bilik jamban, dan satu bak besar penampungan. "

Bai Yeping mengangguk "nanti sore paman akan menemui orang yang ahli dalam penggalian sumur, agar besok sudah bisa mulai bekerja."

"Terimakasih paman...!"

Setelah mendapat orderan dari serikat dagang Dao, Bai Anshu memerah otak semalaman.

Jika pabrik sabun selesai, karyawan ditambah, maka suasana rumah menjadi amat ramai. Otomatis ketenangan dan kebebasan keluarga tak akan didapatkan.

Oleh sebab itu, Bai Anshu memutuskan untuk merubah desain rumah, dan memisahkan pabrik sabun.

Dengan begini, apa pun aktifitas yang ia dan keluarganya lakukan, tidak seorang pun mengetahui. Semua terhalang dinding pembatas setinggi lima meter.

Meski kebisingan pabrik tetap terdengar, tapi setidaknya tak akan ada orang-orang berlalu lalang dihalaman rumah yang mengganggu privasi.

Untuk empat kamar utama juga diubah.

Semua memiliki bilik mandi dan jamban. Lubang sepitengnya jauh digali sampai kebatas pekarangan belakang. Saluran pembuangannya dibuat dari batu tersusun membentuk kotak lalu diplester rata terbenam tanah, sebab era ini belum ada pipa pralon.

Hal itu akan menjauhkan bau tak sedap menggumpal diruangan khusus buang air besar dan kecil.

Sedangkan pancuran untuk mengalirkan air dari sumur ke bathtub, menggunakan bambu.

Kalau area sumur lama, itu hanya special untuk cuci mencuci, kolam pendingin makanan serta memelihara ikan.

Seratus lebih pria berusia dua belas hingga lima puluh tahunan, sedang menikmati istirahat siang dengan menyantap menu tumis bayam usus, oseng rebung kulit, sup tulang, daging babi merah, dan nasi pulen.

Semua tercengang melihat hidangan mewah itu, bahkan sampai ada menggosok matanya berulang kali.

Biasanya kalau ada gotong-royong membuat rumah, makanan yang disediakan cuma roti kosong, tumis sayuran tanpa minyak, sup lobak, atau panekuk telur dari biji-bijian kasar.

Ada pun daging dan ikan cuma sekedar untuk penghias, itu juga cuma satu kali muncul dimeja hidangan.

Tapi ini, sajian menu yang bahkan tidak ada dirumah saat tahun baru, teronggok melimpah dihadapan mereka.

Yang lebih membuat semua terperangah adalah teh hijau manis. Ini jelas ada tambahan gula.

Jangankan para pekerja, kelima bibi yang membantu memasak didapur saja terperangah mendelik.

Bahan makanan berharga mahal, menumpuk rapi melimpah digudang penyimpanan.

"Kita seperti sedang menghadiri jamuan dirumah orang kaya..? bahkan jika ada pernikahan didesa, makanannya tidak selezat ini."

"Bukankah saudara Dashan memang sudah kaya..? usaha sabunnya berjalan dengan baik."

"Benar, istriku mengatakan jika dikota sedang gempar karena munculnya sabun buatan keluarga Bai cabang kedua."

"Ya, istriku juga mengatakan kalau sabun ini sangat laku dipasaran, harganya delapan ratus koin untuk yang besar."

"Sungguh beruntung sekali saudara Dashan ini. Berkat Shu-ya disambar pentir, mereka mendapat keberkahan."

"Bisa dibilang beruntung karena Shu-ya mampu bertahan, kalau pada saat disambar petir kehilangan nyawa bagaimana..?"

"Apa enaknya tersambar petir..? entah apa yang dirasakan Shu-ya pada saat itu..? dia bahkan sampai koma tiga hari."

"Tapi kita juga beruntung, sebab Shu-ya dengan suka rela berbagi pengetahuan secara cuma-cuma."

"Berkatnya, aku bisa berbisnis dan memberikan makanan layak untuk istri dan putraku."

"Aku juga..! sekarang tidak ada lagi kelaparan, aku bahkan bisa menyisihkan penghasilanku untuk disimpan sekarang."

Obrolan saling bersahutan, menghiasi acara makan siang bersama dibawah sinar mentari yang bersinar malu-malu.

Bai Dashan yang mendengar obrolan para tetangganya tersenyum kikuk, wajahnya merona malu, bersamaan perasaan bangga untuk sang putri sulung menyelusup masuk mengetuk hatinya.

Bai Dashan bersyukur putrinya ialah insan yang terpilih untuk mendapatkan keberkahan ini. Meski tak bisa dipungkiri, ia tentu teramat takut kala tragedi itu.

Namun kini semua terbayarkan, sebab putrinya baik-baik saja, malahan terbangun dengan memiliki bakat istimewa.

1
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
Erna Fkpg
nah kan nyesel dikasih bisnis besaralah meremehkan karena pakaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!