Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Sisi Lain Sang Tuan Muda
Rasa penasaran yang begitu besar akhirnya mengalahkan rasa takut dan lelah yang sejak tadi menggelayuti tubuh Arumi. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, ia mengambil sepotong kardigan rajut abu-abu dari tas kainnya untuk menutupi piyama katun sederhana yang ia kenakan.
Setelah memastikan koridor luar benar-benar sepi, ia menyelinap keluar dari kamar.
Suasana bagian dalam rumah mewah itu terasa sangat berbeda di malam hari. Lorong-lorong panjang yang tadinya tampak megah kini terasa seperti labirin sunyi di dalam museum tua.
Arumi berjalan mengendap-endap menuruni tangga, memanfaatkan bayang-bayang pilar besar agar tidak terlihat jika ada penjaga yang melintas. Beruntung, sebagian besar pelayan tampaknya sudah beristirahat di paviliun belakang.
Arumi berhasil mencapai pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan taman belakang. Begitu menyelinap keluar, udara malam yang dingin dan embun yang pekat langsung menusuk pori-pori kulitnya, membuat Arumi sedikit menggigil.
Namun, pandangannya tetap terkunci pada sudut taman dekat gudang tua.
Semakin ia melangkah mendekat menembus kegelapan, suara ringkih yang tadi ia dengar dari balkon kini terdengar semakin jelas dan nyata.
"Meong… meong…"
Arumi bersembunyi di balik sebuah pohon palem besar yang rimbun, menahan napasnya rapat-rapat saat mengintip ke arah siluet jangkung tersebut. Jantungnya berdegup kencang, antara tidak percaya dan terkejut, saat menyadari bahwa penglihatannya sama sekali tidak salah.
Pria itu memang Renard Wijaya.
Sang miliarder kejam yang tadi siang menatapnya penuh keangkuhan dari balik meja marmernya, kini sedang berjongkok di atas rerumputan basah tanpa beralaskan apa pun. Jas mahalnya yang berharga puluhan juta telah ditanggalkan begitu saja di atas bangku taman, menyisakan kemeja putih yang lengannya kini digulung berantakan hingga sebatas siku.
Di atas tanah di hadapannya, ada sepotong wadah plastik kecil berisi makanan basah dengan aroma ikan yang cukup menyengat.
Namun, yang membuat mata Arumi membelalak tak percaya adalah benda yang sedang dipegang oleh jemari kokoh Renard. Pria itu tengah memegang sebuah botol susu formula khusus hewan berukuran mini, menyuapkannya dengan sangat hati-hati ke mulut seekor anak kucing liar berbulu oranye yang tampak kurus, kotor, dan kelaparan.
"Kamu ini, merepotkan sekali," gumam Renard. Suaranya terdengar sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada nada ketus, tidak ada keangkuhan, dan tidak ada ancaman. Suara bariton itu terdengar berat, namun begitu lembut, seolah menyimpan rasa lelah yang mendalam dari dunia luar yang selalu menuntutnya menjadi sempurna.
Renard mengusap kepala anak kucing kecil itu menggunakan ibu jarinya yang besar secara perlahan, bergerak dengan sangat ritmis dan penuh kehati-hatian, seolah takut makhluk rapuh itu akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.
"Jangan mengeong terlalu keras. Kalau wanita di dalam rumah itu sampai terbangun dan melihatmu, dia akan mengira aku memelihara monster berisik di pekaranganku."
Arumi menahan napas di balik pohon. Ia tertegun menyaksikan pemandangan kontras yang tersaji di depan matanya. Sisi robot berdarah dingin dan angkuh yang selama ini ditunjukkan Renard kepada dunia seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh sosok pria kesepian yang tampaknya hanya bisa menemukan ketulusan dan kehangatan dari seekor hewan jalanan.
Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di wajah Arumi. Pria ini... ternyata punya hati.
Krek.
Malang bagi Arumi, saat ia sedikit menggeser posisi berdirinya untuk melihat lebih jelas, kakinya tidak sengaja menginjak sebuah ranting pohon kering yang tersembunyi di balik rumput. Suara patahan itu terdengar begitu nyaring memecah keheningan malam yang sunyi.
Anak kucing kecil itu langsung terkejut, melepaskan botol susunya, dan berlari cepat menyelinap ke bawah celah sempit di bawah gudang tua.
Renard tersentak hebat.
Tubuhnya seketika menegang kaku. Dengan gerakan cepat yang terlatih, ia langsung berdiri tegak dan membalikkan badannya. Sepasang mata elangnya langsung menghunus tajam ke arah pohon palem tempat Arumi bersembunyi, memancarkan aura intimidasi yang pekat.
"Siapa di sana?!" bentak Renard, suaranya kembali dingin dan penuh ancaman.
Tahu bahwa dirinya sudah tertangkap basah dan tidak bisa melarikan diri, Arumi akhirnya keluar dari balik pohon dengan perlahan. Ia mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan ekspresi kikuk dan serba salah.
"A-aku... maaf, Tuan Renard. Aku tadi tidak bisa tidur karena suasana kamar yang terlalu asing. Lalu saat aku berdiri di balkon, aku mendengar suara aneh dari arah sini," jawab Arumi terbata-bata, berusaha meredakan ketegangan.
Begitu melihat bahwa orang yang memergokinya adalah Arumi, wajah Renard sempat berubah pucat pasi karena terkejut.
Namun, sedetik kemudian, semburat warna merah muda keunguan langsung menjalar cepat dari leher hingga ke seluruh wajahnya. Itu adalah perpaduan antara rasa malu yang luar biasa karena rahasianya terbongkar, dan rasa amarah yang tertahan.
"Dan kamu memutuskan untuk mengintip pemilik rumah ini di tengah malam seperti seorang pencuri?!" Renard melangkah maju dengan cepat, mendekati Arumi hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal.
Ia melirik wadah makanan kucing dan botol susu di atas tanah dengan panik, lalu menatap Arumi lagi dengan dahi yang berkerut dalam.
"Jangan salah paham!" seru Renard dengan suara yang sedikit meninggi, memotong sebelum Arumi sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menggoda atau bertanya.
"Aku tidak sedang bermain-main atau menyayangi makhluk kotor itu! Aku cuma... aku cuma sedang memastikan bahwa pekarangan rumahku bebas dari hama yang bisa merusak tanaman mahal di taman ini! Kucing itu merusak ketenanganku, jadi aku berniat menangkapnya untuk dibuang jauh-jauh!"
Arumi menatap tepat ke dalam manik mata Renard. Di balik tatapan galak dan tajam yang berusaha pria itu tunjukkan, Arumi bisa melihat dengan sangat jelas kilat kepanikan yang hebat dari seorang Tuan Muda yang harga diri dan gengsi tingginya sedang dipertaruhkan.
Menyingkirkannya? Tapi cara pria itu menyuapi susu tadi terlalu lembut untuk ukuran orang yang ingin membasmi hama.
"Oh... begitu, ya?" jawab Arumi pelan, menekan kuat-kuat sudut bibirnya agar tawa yang sudah di ujung tanduk tidak meledak di depan pria menyeramkan ini. "Tuan Muda Wijaya membersihkan hama di taman menggunakan botol susu formula khusus? Metode pembasmian yang sangat unik dan berperikemanusiaan, Tuan."
Wajah Renard semakin memerah sempurna, bahkan telinganya kini ikut memerah seperti kepiting rebus. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasa sangat terpojok dan mati kutu oleh kalimat sindiran halus dari wanita yang berstatus sebagai "istri kontraknya" ini.
Baru hari pertama, dan wanita ini sudah berhasil menjatuhkan harga dirinya.
"Masuk ke kamarmu sekarang juga, Arumi!" ancam Renard dengan suara rendah yang tertahan, giginya gemertak karena menahan malu. "Dan ingat satu hal dengan baik. Jangan pernah berani membahas atau membisikkan apa yang kamu lihat malam ini pada siapa pun di rumah ini ataupun di kampusmu. Jika sampai ada satu orang saja yang tahu... aku akan membatalkan kontrak kita dan menyita rumah ibumu besok pagi!"
Setelah melontarkan ancaman yang sangat tidak sinkron dengan perilakunya tadi, Renard menyambar jas mahalnya di bangku taman, lalu berjalan melewati Arumi begitu saja dengan langkah besar yang tergesa-gesa. Bahunya sempat menyenggol lengan Arumi dengan cukup kasar, menunjukkan betapa gusarnya pria itu saat ini.
Arumi membalikkan tubuhnya, menatap punggung tegap Renard yang berjalan cepat—hampir seperti setengah berlari—masuk kembali ke dalam rumah melalui pintu kaca. Untuk pertama kalinya sejak badai hutang menghancurkan hidupnya, Arumi tidak merasa ketakutan lagi pada sang miliarder berdarah dingin.
Pria itu tidak sekejam atau semenakutkan yang dunia bicarakan. Renard Wijaya hanyalah seorang pria penuh gengsi yang terbiasa memakai topeng terlalu tebal untuk melindungi dirinya sendiri.