NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Kota Milan

Seminggu menjelang keberangkatan ke Milan, suasana di Istana Surya tegang. Kabar samar terdengar sisa pengikut Grup Macan Hitam yang lolos pembasmian, kini dipimpin Riko, adik kandung Bara. Mereka bersumpah darah untuk balas dendam, berniat menghancurkan apa yang paling dicintai Alex: Aulia.

Alex menggandeng tangan Aulia erat saat mereka keluar menuju mobil. Wajahnya dingin, matanya waspada memindai setiap sudut. Keamanan ditingkatkan maksimal: 3 mobil pengawal mengelilingi mobil utama, Brian memimpin langsung, senjata tersembunyi siap dijangkau.

“Duduk di tengah, jangan menoleh ke luar, dan apa pun yang terjadi… jangan lepaskan tanganku, ” perintah Alex rendah, suaranya serius tanpa ampun.

Aulia mengangguk, meremas jari kekar itu. Ia tidak takut mati, tapi ia takut Alex terluka lagi. “Aku di sini, Alex. Aku tidak akan kemana-mana.”

Konvoi melaju tenang di jalan tol menuju bandara pribadi. Namun, tepat di tikungan sepi dekat hutan karet wilayah abu-abu di mana CCTV mati tiba-tiba dua truk kontainer besar meluncur kencang dari arah berlawanan, memotong jalan dan memblokir total jalan keluar.

BRAK!! DERR!!

Tabrakan keras tak terelakkan. Mobil utama Alex terhantam bagian samping, berputar sebelum berhenti mendadak. Kaca pecah berhamburan, asap mengepul.

“Tetap merunduk!!” bentak Alex, langsung menarik Aulia masuk ke pelukannya, melindungi seluruh tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

Dari balik semak belukar dan truk, puluhan pria bertato dengan jaket Harimau Emas keluar, membawa senapan laras panjang, parang, dan molotov. Mereka mengepung mobil. Di barisan depan, Riko tertawa liar sambil menunjuk mobil yang penyok itu.

“KELUAR, ALEXANDRA SURYA!! Waktunya bayar hutang darah!!” teriak Riko, suaranya bergema.

Pintu mobil terbuka paksa. Alex keluar lebih dulu, berdiri tegak di depan pintu, menutupi akses ke Aulia. Jasnya robek, luka gores di dahi meneteskan darah, tapi auranya seperti iblis yang baru bangun tidur dingin, membunuh, dan penuh amarah murni.

Brian dan pasukan keamanan sudah keluar dari mobil lain, terlibat baku tembak sengit. Suara tembakan memecah udara, api berkobar, aroma mesiu dan besi bercampur darah. Pertempuran tak seimbang terjadi. Musuh nekat, mereka tidak peduli nyawa sendiri, hanya ingin mati bersama Alex.

Riko menerjang maju, parang besar di tangan, langsung menyerang Alex. “Kau bunuh kakakku! Kau ambil semua milik kami! Hari ini aku akan potong kecil-kecil wanitamu di depan matamu, sebelum aku bunuh kau pelan-pelan!!”

Kalimat itu adalah kesalahan terbesar Riko.

Mata Alex berubah hitam pekat, tanpa sepercik pun kemanusiaan. Ancaman pada Aulia adalah pemicu bom nuklir dalam dirinya.

Alex menangkis serangan parang dengan lengan berlapis jas tebal darah segar langsung membasahi kainnya lalu dengan kecepatan tak masuk akal, ia menangkap pergelangan tangan Riko, memelintirnya sampai terdengar bunyi tulang hancur, lalu menendang dada pria itu hingga melayang jatuh.

“Kau… tidak berhak menyebut namanya,” desis Alex, suaranya rendah tapi menggetarkan jiwa semua orang yang mendengar. Ia berjalan mendekati Riko yang merintih kesakitan, menginjak dada pria itu dengan sepatu kulitnya yang berat. “Kau pikir sampah sepertimu bisa menyentuh rambut kecilnya saja? Kau pikir kau punya hak balas dendam padaku? Aku adalah RAJA, dan kau… hanyalah serangga yang aku izinkan hidup sampai detik ini.”

Sisa anak buah Riko yang melihat pemimpinnya ditindih begitu mudah, mulai mundur ketakutan. Aura membunuh Alex terlalu nyata. Mereka sadar, mereka bukan melawan manusia, tapi melawan maut itu sendiri.

Namun salah satu pengikut nekat, yang merasa sudah terpojok, mengangkat senapan ke arah mobil tempat Aulia bersembunyi. Ia tahu satu-satunya cara melukai Alex adalah lewat wanitanya.

DOARRR!!

Peluru melesat tajam menuju kaca belakang.

“NOOO!!” teriak Alex, matanya membelalak ngeri. Tanpa pikir panjang, ia melompat secepat kilat, kembali ke mobil, dan melempar tubuhnya menutupi seluruh tubuh Aulia.

TING!!

Peluru menembus kaca, lalu tersangkut di pelapis baja di bahu jas Alex tepat di atas jantung.

“ALEX!!” jerit Aulia histeris, memeluk leher pria itu erat saat Alex jatuh menimpanya. Air mata gadis itu membasahi wajah Alex yang pucat namun masih tersenyum tipis.

Brian dan pasukan langsung menghabisi penembak itu tanpa ampun. Dalam hitungan detik, semua musuh lumpuh, mati, atau menyerah. Riko ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi, nasibnya pasti jauh lebih mengerikan dari kematian.

Di dalam mobil yang rusak, Aulia gemetar hebat saat ia menekan kain ke bahu Alex yang berdarah deras. “Kenapa?! Kenapa kau bodoh sekali?! Kau hampir mati!! Kenapa kau selalu menaruh nyawamu untukku?!”

Alex mengerang pelan menahan sakit, tapi tangannya tetap mengusap pipi Aulia dengan lembut, menghapus air mata gadis itu. Ia menatap manik mata cokelat kesayangannya itu dengan tatapan lembut yang hanya untuknya.

“Karena… bagiku…” bisik Alex parau, napasnya berat, “Satu detik hidup tanpamu… jauh lebih menyakitkan daripada seribu peluru di tubuhku. Jantungku, nyawaku, dagingku… semuanya milikmu, Aulia. Jika harus pecah berkeping-keping demi menjagamu tetap utuh… maka aku akan hancur seribu kali lipat dengan senang hati.”

Aulia menunduk, menempelkan dahinya ke dada Alex, menangis sejadi-jadinya namun kali ini campuran rasa syukur dan cinta yang meluap. Ia mencium luka di bahu itu dengan air matanya.

“Kau tidak boleh mati, Alex. Dengar aku… Kau tidak boleh mati. Karena aku butuh kau. Aku ingin hidup bersamamu. Aku ingin tua bersamamu. Aku ingin… kita punya akhir yang bahagia, seperti janjimu.”

Alex tersenyum, menarik wajah gadis itu naik hingga bibir mereka bertemu dalam ciuman hangat, penuh janji, dan rasa memiliki yang tak tergoyahkan. Di tengah bau darah, asap, dan puing perang, cinta mereka bersinar paling terang, tak terhancurkan oleh kekuatan apa pun di dunia ini.

“Aku janji, Sayang…” gumam Alex di sela ciuman mereka. “Aku akan bertahan. Dan kita akan ke Milan. Kita akan tunjukkan pada dunia… bahwa tidak ada api, darah, atau peluru yang bisa memisahkan kita. Kita adalah Takdir Satu Sama Lain.”

Brian mengetuk pintu mobil pelan, wajahnya lega namun tetap waspada. “Tuan, aman. Kita harus segera ke klinik sebelum kehilangan banyak darah.”

Alex mengangguk pelan, lalu mengangkat tubuhnya yang berat, namun tetap memeluk pinggang Aulia tak mau lepas. “Bawa kita pergi, Brian. Dan pastikan… tidak ada satu pun makhluk hidup yang tersisa dari sisa Grup Macan Hitam. Aku ingin nama itu lenyap selamanya dari sejarah.”

“Siap, Tuan.”

Saat mobil pengganti melaju menjauh dari lokasi kejadian, Aulia duduk di pangkuan Alex, menekan luka itu sambil terus bergumam halus, meyakinkan dirinya dan Alex bahwa semuanya akan baik-baik saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!