NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.Tongkat Besi yang Menolak Tunduk pada Langit

Melihat tampilan panel sistemnya yang kini terasa jauh lebih kaya, lebih megah, dan berkilauan dengan aura keemasan, sudut bibir Xiao Xuan kembali terangkat membentuk senyum puas yang dalam. Namun, yang membuat hatinya benar-benar bernyanyi dan berdebar kencang bukanlah sekadar daftar kemampuan atau status yang bertambah, melainkan satu hal khusus yang tertulis di sana: Jurus Pamungkas Langit Cerah yang baru saja ia salin itu ternyata masih memiliki ruang untuk ditingkatkan lagi.

Setelah menarik napas panjang dan menenangkan detak jantungnya yang melonjak karena antusiasme yang meluap-luap, ia kembali memberikan perintah tegas dan jelas di dalam hatinya.

"Sistem, gunakan kesempatan peningkatan terakhir ini untuk mengembangkan Jurus Pamungkas Langit Cerah!"

【🔔 Dering Perubahan Besar: Peningkatan Berhasil Dilakukan!】

【📚 Jurus Pamungkas Langit Cerah (Peringkat MERAH) → Telah Berevolusi Menjadi: Metode Pertempuran (Peringkat EMAS)! ✨(★ω★)】

【📖 Penjelasan Sistem: Metode Pertempuran ini adalah jalur bertarung yang telah disesuaikan secara sempurna khusus untuk pemilik. Ia lahir dan berevolusi dari inti kekuatan Sekte Langit Cerah, namun kini telah berubah total, melepaskan ikatan asalnya, dan menyesuaikan diri sepenuhnya dengan jalan yang kau tempuh serta sifat Roh Bela Dirimu. Di dalamnya, seluruh ilmu itu terbagi menjadi tiga pilar kekuatan utama yang saling melengkapi:】

1. Sembilan Bentuk Seni Tongkat: Inti dari teknik serangan fisik. Terdiri dari sembilan gerakan dasar yang mencakup segala kemungkinan pertempuran: Menunjuk, Menyapu, Mengangkat, Meratakan, Menjalin, Meruntuhkan, Memecah, Mengguncang, dan puncaknya Ilusi. Setiap gerakan menyimpan potensi mematikan yang berbeda, disesuaikan khusus untuk panjang dan beratnya Tongkat Besimu.

2. Kekuatan Berlipat: Teknik penguatan sementara. Mengonsumsi energi dari Cincin Roh untuk melipatgandakan kekuatan fisik dalam waktu singkat tanpa merusak tubuh secara drastis. Semakin banyak cincin yang dimiliki, semakin besar peningkatan yang didapatkan. Pada tingkat sempurna, ia mampu melipatgandakan kekuatan hingga delapan belas kali lipat dari kekuatan asli.

3. Langit yang Hancur: Puncak mutlak dari metode ini, jurus penghancur segalanya. Menguraikan dan meleburkan seluruh kekuatan yang tersimpan dalam Cincin Roh ke dalam tubuh sendiri, memaksimalkan setiap tetes energi hingga batas mutlak yang tak terbayangkan. Semakin banyak cincin yang "dikorbankan" atau digunakan bahan bakarnya, semakin dahsyat peningkatannya. Pada tingkatan tertinggi, kekuatanmu akan melonjak hingga lima ratus dua belas kali lipat dari kondisi biasa! 💥

Membaca setiap baris keterangan yang tertera jelas di hadapannya, mata Xiao Xuan memancarkan kilatan cahaya yang tajam, dingin, dan penuh ambisi yang membara. Dibandingkan dengan teknik asli milik Sekte Langit Cerah yang hanya berpusat pada ledakan kekuatan kasar, versi yang telah berevolusi ini jauh lebih mengerikan, jauh lebih lengkap, jauh lebih sistematis, dan yang paling penting—sempurna serta pas dengan dirinya.

Sekarang, dengan adanya Metode Pertempuran ini yang telah menjadi milik mutlaknya, Xiao Xuan merasa tak perlu lagi menyembunyikan kemampuannya dengan berlebihan atau merasa cemas akan ketahuan. Selama ia menguasainya dengan baik dan bijak, ia bisa menggunakannya kapan saja dibutuhkan. Lagipula, jumlah orang yang bahkan mengenali wujud atau teknik asli Palu Sumeru saja sudah sangat sedikit di benua ini, apalagi teknik versi baru yang telah berubah total bentuk dan prinsip kerjanya ini. Teknik ini kini adalah miliknya, identitas barunya.

Namun, di balik rasa gembira yang meluap itu, ada satu masalah besar yang kini membuatnya sedikit mengernyitkan dahi. Syarat penggunaan teknik pamungkas Langit yang Hancur terasa terlalu berat, terlalu menuntut, dan berisiko tinggi. Proses pengaktifannya jauh lebih rumit, jauh lebih membebani, dan jauh lebih berbahaya dibandingkan teknik Ledakan Cincin asli milik Tang Hao.

Jelas sekali, untuk menggunakannya dengan aman dan efektif, ia membutuhkan dua syarat mutlak: baik itu Cincin Roh yang kualitasnya sangat tinggi dan murni, maupun dasar fisik yang luar biasa kokoh—ditempa hingga sekeras baja dan sekuat gunung, seolah tubuhnya sendiri adalah senjata paling keras di dunia. Jika tidak memenuhi syarat itu, begitu teknik itu dikeluarkan, belum tentu musuhnya yang mati atau hancur; bisa jadi dirinyalah yang akan hancur lebur lebih dulu, berubah menjadi debu karena tubuhnya sendiri tak sanggup menampung energi yang begitu dahsyat dan liar.

Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa atau mengurungkan niat. Sebuah senyum percaya diri kembali mengembang di bibirnya. Ia teringat kembali pada teknik lain yang telah ada di genggamannya: Tubuh Roh Mistik, hasil evolusi dari Tangan Giok Misterius.

Teknik ini adalah jawaban atas masalahnya. Tubuh Roh Mistik jauh lebih unggul dibandingkan teknik biasa; jika dikuasai hingga tahap mahir atau sempurna, ia akan mampu menutupi seluruh permukaan kulit dan organ dalam dengan lapisan pelindung energi yang tak kasat mata namun sekeras logam tertempa. Teknik itu memberikan kekebalan fisik terhadap benturan, kekebalan terhadap segala jenis racun atau pengaruh jahat, serta ketahanan luar biasa terhadap panas, dingin, dan serangan benda keras.

Hanya dengan dasar tubuh sekuat itulah, ia berani berpikir untuk memicu kekuatan Langit yang Hancur di masa depan. Keduanya ibarat pasangan yang diciptakan untuk saling melengkapi.

Waktu yang tersisa baginya cukup jelas dan terhitung. Masih ada sekitar tiga bulan lagi sebelum ia harus mendaftar secara resmi ke Akademi Kota Nuoding. Tiga bulan yang singkat namun sangat berharga ini adalah waktu emas yang tak boleh disia-siakan sedetik pun.

Setelah masuk ke dalam lingkungan akademi, ia akan hidup di tengah keramaian, diawasi oleh banyak guru dan murid, serta dikelilingi oleh orang-orang asing. Di sana, akan sangat sulit untuk berlatih teknik-teknik rahasianya secara leluasa. Terutama dengan kehadiran Tang San... Xiao Xuan tak mau mengambil risiko sedikit pun. Ia tahu betul sifat "rasa ingin tahu", ketajaman pengamatan, dan kecerdasan anak itu. Ia tak mau sampai Tang San melihat gerakan atau gayanya, lalu timbul rasa iri, curiga, atau niat buruk seperti yang pernah ia lihat atau baca di kehidupannya yang lalu.

Dengan pikiran yang matang, teratur, dan penuh perhitungan, Xiao Xuan segera menyusun jadwal ketat untuk tiga bulan ke depan—sebuah jadwal yang akan membuat orang biasa pusing hanya dengan membayangkannya.

- Malam hari: Tetap menggunakan meditasi mendalam untuk menggantikan tidur. Tubuhnya beristirahat, namun kesadarannya tetap terjaga, terus-menerus mengumpulkan, memurnikan, dan memadatkan kekuatan roh tanpa henti.

- Dini hari: Berlatih Mata Roh Xuanqing tepat saat sinar ungu muncul dari timur. Momen itu sangat singkat, hanya sekejap mata; melewatkannya berarti menunda kemajuan berhari-hari.

- Setelah sarapan: Menghabiskan separuh pagi untuk mengasah Sembilan Bentuk Seni Tongkat. Meski hanya menguasai gerakan dasar, itu sudah cukup baginya untuk menghadapi bahaya di tahap awal ini. Teknik pamungkas seperti Kekuatan Berlipat atau Langit yang Hancur akan ditunda sampai fisiknya benar-benar kuat dan matang. Memaksanya sekarang hanya akan merusak pertumbuhan tulang dan ototnya.

- Siang hingga sore: Setelah makan siang, fokus utamanya adalah menempa diri dengan Tubuh Roh Mistik dan menyempurnakan teknik bergerak Langkah Tangga Awan. Ia akan berlatih terus menerus hingga waktu makan malam tiba, mengeraskan kulit dan ototnya selapis demi selapis.

- Malam hari: Setelah makan dan beristirahat sejenak bersama keluarga, waktunya diisi dengan melatih inti Kekuatan Tai Chi, memahami prinsip lunak mengalahkan keras, halus menaklukkan kasar, dan bagaimana membelokkan kekuatan musuh.

- Tengah malam: Saat seluruh anggota keluarga sudah lelap dalam tidur nyenyak, ia kembali bermeditasi dan berkultivasi dalam keheningan mutlak, menjaga agar tak mengganggu istirahat mereka sekaligus memaksimalkan penyerapan energi bumi.

Rencana tersusun rapi, dan tanpa menunda lagi, Xiao Xuan langsung melaksanakannya dengan disiplin besi.

Dengan bantuan sistem yang membuat pemahaman menjadi jauh lebih mudah dan instan, setiap kali ia berlatih, ia merasakan kemajuan yang nyata, terukur, dan sangat memuaskan. Semakin lama ia berlatih, semakin kuat ia rasakan, seolah tubuhnya perlahan namun pasti berubah menjadi senjata hidup. Seluruh ajaran Tao yang ada di dalam benaknya kini berkembang pesat, menyesuaikan diri dengan pemahaman unik Xiao Xuan, dan tumbuh semakin kokoh serta mendalam setiap harinya.

Di rumah itu, meski Kakek Jack dan keluarganya tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dipelajari atau dilakukan oleh Xiao Xuan di balik pintu tertutup, mereka tak pernah berusaha menghentikan, melarang, atau banyak bertanya. Mereka hanya diam mendukung dengan cara sederhana mereka: memastikan makanan bergizi selalu tersedia di atas meja, menjaga agar suasana rumah tetap tenang dan damai, serta menutup mata dan telinga terhadap apa pun yang terjadi.

Berkat perintah tegas Kakek Jack, tak ada satu pun warga desa yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik pintu kamar itu. Bahkan Xi Yu, jika ditanya teman-temannya atau tetangga, hanya akan menjawab polos dan lugu bahwa kakaknya hanya tidur panjang atau duduk diam saja seharian.

Waktu pun berlalu dalam keheningan, keringat, dan kerja keras yang tiada henti. Tiga bulan yang padat dan melelahkan itu terlewati begitu saja, seolah baru sekejap mata.

Hari itu, akhirnya tiba. Hari pendaftaran ke Akademi Kota Nuoding.

Kakek Jack, yang sudah mengingat tanggal ini dengan saksama dan penuh antisipasi selama tiga bulan terakhir, bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum kokok ayam terdengar. Ia berjalan keluar rumah untuk menjemput Tang San di gubuk kecil pinggir hutan tempat anak itu tinggal bersama ayahnya.

Sementara itu, Xiao Xuan masih berdiri di halaman belakang rumah, memanfaatkan sisa waktu sebaik mungkin untuk melakukan latihan terakhir dan merapikan segala gerakan yang telah ia pelajari.

Menunjuk... Meratakan... Menjalin... Menyapu... Mengangkat!

Lima gerakan pertama dari Sembilan Bentuk Seni Tongkat kini telah ia kuasai hingga tahap pemahaman mendasar, gerakannya mengalir luwes namun menyimpan kekuatan yang mengerikan, cukup untuk melindungi dirinya di tahap awal ini. Adapun empat gerakan terakhir yang jauh lebih mematikan—Meruntuhkan, Memecah, Mengguncang, dan Ilusi—masih tertahan di dalam ingatannya. Kondisi fisik dan tingkat kekuatan rohnya belum cukup untuk menirunya tanpa risiko cedera serius, jadi ia harus rela menyimpannya dulu dan menunggu saat yang tepat.

"Xiao Xuan! Sudah waktunya, Nak! Kita harus berangkat ke sekolah, jangan sampai terlambat!"

Suara lantang Kakek Jack memecah konsentrasi dan ketenangan halaman belakang.

Xiao Xuan menepuk debu halus di bajunya dengan gerakan tenang, lalu berbalik badan dan berjalan keluar menuju gerbang. Di sana, berdiri Kakek Jack dengan senyum lebar yang tak pernah luntur, dan di sampingnya, berdiri sosok kecil yang tampak tenang namun matanya bersinar tajam dan cerdas—Tang San.

Saat tatapan mereka bertemu di udara, Xiao Xuan melihat kilatan aneh, campuran antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan, di sepasang mata berwarna ungu milik anak itu.

Tang San diam-diam tertegun dan hatinya berdebar tak menentu. Tadi, dari kejauhan saat ia berjalan mendekat, ia sempat melihat samar-samar gerakan tongkat Xiao Xuan. Secara kasat mata dan sekilas pandang, itu hanyalah ayunan tongkat biasa, gerakan anak-anak yang tak berarti apa-apa. Namun, naluri pertempuran dan pengalamannya dari dua kehidupan membuat bulu kuduknya merinding seketika.

Gerakan tongkat itu... kenapa rasanya begitu berbahaya? batin Tang San bertanya-tanya dengan cemas. Seolah-olah setiap ayunan itu menyembunyikan kekuatan yang bisa merobek angin dan membelah batu... Ada sesuatu yang salah di sini.

Sepanjang perjalanan kaki menuju Kota Nuoding, rasa penasaran dan kegelisahan itu terus mengganjal di hati Tang San. Ia menahan diri sedapat mungkin, berpikir berulang kali apakah harus bertanya atau tidak, namun akhirnya ia tak tahan lagi. Saat Kakek Jack berjalan agak di depan mereka, Tang San memperlambat langkahnya dan mendekat ke arah Xiao Xuan, bertanya pelan dengan nada hati-hati.

"Xiao Xuan... tadi pagi... di halaman belakang... apakah kau sedang berlatih menggunakan tongkat?"

Xiao Xuan melirik sekilas dengan wajah datar dan ekspresi kosong, lalu menjawab santai seolah hal itu adalah hal remeh yang tak penting sama sekali.

"Kurang lebih begitu. Tapi itu hanya gerakan iseng yang kubaca dan kulihat gambarnya di buku cerita tua milik Kakek. Bukan apa-apa, cuma mainan saja. Kau tahu kan, kekuatan rohku bawaan hanya tingkat satu. Aku sadar diri. Selain mengumpulkan energi setiap hari dengan susah payah, aku hanya mencari cara lain agar setidaknya punya sedikit kemampuan bertahan diri kalau ada hewan buas atau masalah datang."

Tang San mengangguk perlahan sambil merenung dalam-dalam.

Buku cerita... batinnya mengulang. Pantas saja gerakannya aneh tapi terasa berbahaya, ternyata hanya imajinasi penulis.

Perasaan waspada dan curiga yang tadi muncul perlahan mereda dan hilang sepenuhnya. Ia berpikir logis dan masuk akal. Bagaimana mungkin di desa terpencil dan miskin seperti ini, ada ilmu bela diri tingkat tinggi? Kakek Jack hanyalah kepala desa biasa yang tak pernah pergi jauh, tak mungkin memiliki pengetahuan seperti itu. Dan anak di sebelahnya ini... meski tampak cerdas, tenang, dan dewasa di luar dugaan, mustahil ia juga seorang yang bereinkarnasi dan membawa ingatan masa lalu seperti dirinya.

Rasa iba dan belas kasihan sedikit muncul di mata Tang San. Hal-hal yang tertulis di buku cerita itu hanyalah khayalan penulis, omong kosong yang indah, tapi tak ada gunanya dalam pertarungan nyata. Bahkan bisa berbahaya jika dipelajari secara salah atau disalahartikan.

"Begitu rupanya..." gumam Tang San pelan, lalu ia pun kembali diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tak lagi membahas hal itu, menganggapnya sebagai kesalahpahaman semata.

Xiao Xuan tersenyum tipis dan sinis dalam diam melihat reaksi itu. Tujuannya pergi ke Akademi Kota Nuoding sangat sederhana dan jelas: secepat mungkin mencapai tingkat sepuluh, membangun dasar kekuatan yang kokoh dan sempurna, lalu menggunakan koneksi serta sumber daya akademi itu untuk melangkah lebih jauh ke jenjang pendidikan Master Roh yang lebih tinggi.

Di sana, di tengah persaingan, intrik, dan kekacauan yang akan terjadi, itulah tempat di mana ia akan benar-benar mulai bersinar, melepaskan diri dari bayang-bayang protagonis, dan menulis kisahnya sendiri.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!