Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Pernikahan
Munafik jika mengaku tidak pernah mengalami pertengkaran dalam rumah tangga, akan selalu ada tantangan yang mendewasakan hubungan itu.
Rumah tangga di bangun dan di pertahankan bersama, bukan tugas salah seorang melainkan harus keduanya.
Hal inilah yang diyakini Clarissa sejak lama, wanita cerdas yang punya prinsip dalam menjalani komitmen rumah tangga.
Terpaku cukup lama didepan cermin setelah beberapa saat menyentuh tulang pipinya yang mulai menunjukkan luka yang tak kunjung reda.
Warna kebiruan yang sulit untuk disamarkan meski dengan polesan bedak dari brand terkenal sekalipun.
Ada kesedihan yang dibalut harapan dalam setiap nyeri yang hadir berdenyut sesekali. Kesedihan yang memilih membisu dan menyamar menjadi kewajaran dalam menjalani peran sebagai istri. Dan harapan yang tetap di pupuk subur demi keberlangsungan rumah tangga yang abadi.
Dua tahun bukanlah perjalanan singkat dalam membina rumah tangga, semua dimulai dari perkenalan dan manisnya masa pendekatan menuju cinta yang membara hingga meyakini kepada hati itulah akan berlabuh dan menjalani pernikahan bak negeri dongeng yang indah dan romantis.
Wanita muda yang masih berumur 25 itu masih menatap wajahnya di cermin yang terlihat menghujat, memancarkan kenyataan yang sangat transparan dan siap menguliti tubuhnya.
Namun entah karena keluguan hati atau ketulusan yang membuatnya tetap memegang teguh prinsip itu bahwa pernikahan ini akan dijaga sampai mati.
Tanpa pernah merenungi dan membangkitkan pertanyaan besar, apa layak dan pantas dia mendapatkan perlakuan ini?
Perenungan yang panjang justru membawanya menuju refleksi lain bahwa dia yang bersalah dan layak mendapat hukuman dan membenarkan semua tindakan lelaki yang dijadikan pelindungnya.
Padahal tiap kali dia mendapatkan luka dari orang yang paling dia banggakan, tubuhnya bergidik ngeri dan tidak siap menerka situasi selanjutnya.
Sepanjang hari menikmati dinginnya rumah megah tanpa teman bicara, berperan menjadi istri penurut dan menjaga tempat yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk pulang.
Cukup lama memandang cermin itu dan bayangannya berlalu menuju nakas yang didalamnya tertata rapi deretan obat dengan berbagai fungsi.
Dioleskan dengan jemari yang bergetar menuju tulang pipi yang kian berdenyut mengaduh, raganya tampak kuat menerima terjangan ombak tapi entah berapa banyak jiwa itu terkikis oleh terjangan kehampaan, kekecewaan, kesedihan, dan luka yang sukar pulih.
Tidak ada air mata, hanya bibir yang sedikit menjerit dan kembali membisu seolah ingin menceritakan semua kejadian akan baik-baik saja.
Denting waktu tidak lagi mengingatkan berapa lama dia memandang penghuni rumah itu dengan segala kisahnya, cukup bergerak seirama dengan semesta dan membiarkan jalan takdir yang memadu.
Hingga penderitaan di sesap tanpa penyesalan namun penuh keyakinan bahwa itu bukanlah penderitaan melainkan pendewasaan diri dan menuju kebijaksanaan dalam menjalani hubungan.
Wanita cantik itu sesekali memandangi denting waktu yang terlihat setia di dinding bersanding kan dengan deretan momen bahagia yang di abadikan dalam potret megah. Potret yang mengingatkan hari bahagia yang membawanya sampai di titik ini.
Potret megah yang juga mengingatkan pada kenangan mengikat janji pernikahan dengan sumpah setia sehidup semati dan bertahan dengan segala gelombang kehidupan yang akan dilalui bersama bukan seorang diri.
Kian tenggelam pada kenangan manis semakin menghanyutkan perasaan yang tidak mampu berkata jujur bahwa semua telah berbeda, janji manis yang menjadi kecut dan romansa pernikahan bagai negeri dongeng telah berakhir.
Wanita tangguh itu terlalu lama hidup dalam masa lalu, masa yang indah kala pertama kali Ethan menyatakan cinta, masa dimana dia sangat di cintai dan di ratukan. Wanita yang terjebak di masa itu dan masa lalu membawanya merajut impian terlalu jauh menuju pernikahan di negeri dongeng.