Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cadel Mecum...
“Kenapa sih bisa luka!?” rungut Brielle sambil membuka kotak P3K dengan gerakan kesal.
“Lu pasti tawuran.”
“Awas aja… gue kasih tau tante nanti.”
“Cepu,” balas Nevran datar.
“Biarin.”
Nevran menyandarkan tubuh ke sofa, lalu menaik-turunkan alisnya dengan gaya menyebalkan. “Khawatir ya lu..”
Brielle tidak membalas. Diam-diam ia mengambil kapas, mencelupkannya ke obat luka, lalu dengan gerakan cepat—ia menekannya tepat di luka Nevran.
“Aw….” Nevran langsung meringis, matanya berair. “Elle akit..”
Brielle meniru dengan nada cadel menyebalkan. “Elle akit.”
Namun melihat tak ada respon dari cowok itu, Brielle mengangkat wajah—dan membeku. Nevran menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sungguhan.
“Hei…” Brielle panik. “Beneran sakit ya?!”
Nevran hanya diam, bibirnya sedikit bergetar.
“Cadel jangan pundung dong!” Brielle buru-buru mengambil kapas baru, kali ini menempelkannya dengan lembut.
“Elle sih nakal… kan dah elvan bilang sakit…” ngadu Nevran dengan suara kecil, persis seperti anak kecil.
Brielle menghela napas panjang. “Oke oke maaf ya, Elle minta maaf.” Tangannya menepuk-nepuk kepala Nevran pelan, seperti seorang ibu yang sedang menasihati anaknya. “Makanya jangan tawuran lagi.”
Nevran mendongak, matanya masih sedikit basah. “Emang elle khawatir!?”
Entah kenapa ia menjadi manja begini.
“Enggak,” jawab Brielle cepat, lalu membuang muka.
“Ihh… elle jahat…”
Nevran berdiri dan pergi ke ruang sebelah tanpa menoleh. Brielle hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil—tapi tiba-tiba, Nevran balik lagi. Brielle menaikkan sebelah alisnya tanda tanya.
CUP.
Dengan kecepatan kilat, Nevran mengecup sudut bibirnya.
Sesaat Brielle tercengang, otaknya berhenti bekerja. Begitu sadar, cowok itu sudah lenyap ke ruang sebelah—disusul bunyi pintu tertutup.
Brielle meraih bantal terdekat. Lalu satu guling. Lalu dua guling. Lalu semua yang bisa dilempar.
“CADELLLL……!!”
Ia berlari ke ruang sebelah dan mulai menggedor-gedor pintu kayu itu dengan brutal.
Gedubrak! Gedubrak! Gedubrak!
“Buka pintunya, Cadel! Lo berani cium lo berani tanggung jawab!”
Gedubrak!
“Gue pukul pala lo sampe penyok!”
Gedubrak!
“NEVRAN GENDENG!”
---
Di bawah, di ruang santai markas, Axel, Derryl, Nayel, dan Kyven mendengar gemuruh dari atas. Mereka saling pandang, lalu satu per satu geleng-geleng kepala sambil nyengir.
“Pacar bos galak juga, elah,” ujar Axel sambil mengocok kartu Uno.
“Paling parah bos sih,” timpal Derryl. “Keliatannya dingin, ternyata jahil juga.”
Nayel menyandarkan punggung ke sofa, matanya menyipit penuh arti. “Plis… first time lihat bos senyum gitu.”
“Betul kata pepatah,” Kyven menunjuk ke udara dengan jari telunjuk. “Yang keliatan paling beku, biasanya paling lumer sama pacarnya.”
“Itu mah pepatah lo sendiri, Ky,” sahut Derryl ketus.
“Ya pokoknya gitu!”
Suara gedoran dari atas semakin kencang, diiringi teriakan Brielle yang berisinya “CADELLLL BUKA!!”. Keempat cowok itu hanya tertawa kecil sambil kembali melanjutkan permainan Uno mereka.
---
Kembali ke lantai tiga.
Pintu terbuka. Nevran berdiri di ambang dengan wajah tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melemparkan kaus oblong hitam dan celana pendek—keduanya langsung mendarat tepat di wajah Brielle.
“Ganti.”
Brielle melepaskan kain-kain itu dari mukanya, matanya masih menyala karena emosi. “Emang gue cewek apaan pake baju cowok?!” semburnya dengan sisa emosi yang belum reda.
Nevran menyandarkan bahu ke kusen pintu. Santai. Tak bersalah. “Yaudah, kalo lo mau itu lo keliatan.”
Brielle membeku dua detik.
Wajahnya berubah merah total.
“AHH… CADELL MESUM…!”
Dengan satu gerakan cepat, ia menimpuk kepala Nevran dengan bantal yang masih tersisa di tangannya. Buk! Lalu tanpa menunggu reaksi, ia berlari ke kamar mandi dan membanting pintu.
“Hahaha…”
Nevran tertawa. Lepas. Bebas. Tawanya terdengar sampai ke lorong. Ia menyentuh sudut bibirnya sebentar, lalu menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
“So cute,” ucapnya pelan, penuh kagum.
Di balik pintu kamar mandi, Brielle menekan dadanya yang berdebar kencang. Kaus oblong hitam dan celana pendek itu masih ia genggam erat. Wangi Nevran sudah menyatu di setiap serat kainnya.
Brengsek.
Tapi diam-diam—ia tersenyum.
Senyum yang tidak akan pernah ia akui bahkan sampai mati.
Bersambung
bantu support juga yaa😇