NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 aturan main tuan devano

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tebal menyilaukan mata Alana.

Seluruh tubuhnya terasa remuk. Semalaman ia benar-benar tidur di atas karpet berbulu tipis di lantai, masih dalam balutan gaun pengantin yang lecek dan tidak nyaman. Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk tulang-tulangnya.

Alana memaksakan diri untuk duduk. Ia menoleh ke arah ranjang kebesaran di tengah ruangan. Kosong.

Devano sudah tidak ada di sana. Sprei sutra hitam itu tampak rapi, seolah tidak ada monster berdarah dingin yang menempatinya semalam.

Tok! Tok! Tok!

Gedoran pintu yang kasar membuat Alana terkesiap. Belum sempat ia menyahut, pintu kayu mahoni itu didorong paksa dari luar.

Seorang wanita paruh baya dengan gaun pagi sutra merah marun dan perhiasan berlian yang mencolok melangkah masuk. Dagunya terangkat tinggi. Tatapannya menyorotkan kebencian yang tidak ditutup-tutupi. Di belakangnya, dua orang pelayan wanita mengekor dengan kepala menunduk, menahan senyum mengejek ke arah Alana.

Dia adalah Nyonya Besar Sandra Adhitama. Ibu kandung Devano.

"Jadi, ini rupa tikus got yang berani menyusup ke dalam keluargaku?" Suara Sandra melengking tajam, membelah keheningan kamar.

Alana buru-buru bangkit berdiri, merapikan gaunnya yang kusut masai dengan panik. "N-Nyonya..."

"Tutup mulutmu!" bentak Sandra. Wanita paruh baya itu melangkah maju, memutari Alana sembari menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. "Keluarga Wijaya benar-benar tidak tahu malu. Siska melarikan diri, dan mereka mengirim anak haram tak berguna ini sebagai gantinya? Kau pikir kau pantas menyandang gelar Nyonya Adhitama?"

Alana mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Kuku-kukunya memutih menahan perih di dada. "Saya tidak pernah meminta posisi ini, Nyonya Besar. Saya hanya—"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Alana. Sangat keras hingga sudut bibir Alana terasa kebas dan mengecap rasa anyir darah.

Kedua pelayan di ambang pintu tersentak, namun tak ada yang berani bersuara.

"Jangan berani membantahku, Pelacur Kecil!" desis Sandra, menunjuk tepat di depan wajah Alana. "Kau dan keluargamu hanya mengincar harta putraku yang sedang sakit! Dengar baik-baik, di rumah ini, kau bahkan lebih rendah dari pelayan paling kotor sekalipun. Jangan harap kau bisa hidup tenang!"

Alana menundukkan kepala. Rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebelah pipinya yang mulai membengkak merah. Ia tidak menangis. Sejak kecil diusir dari kasih sayang ayahnya dan disiksa ibu tirinya, air mata Alana sudah mengering.

"Apa Ibu sudah selesai menyalurkan hobi pagi hari Ibu di kamarku?"

Sebuah suara bariton yang berat dan sedingin es tiba-tiba membekukan suasana.

Semua kepala menoleh. Devano muncul dari pintu penghubung ruang kerja pribadi, duduk di atas kursi rodanya dengan kemeja hitam yang kancing atasnya masih terbuka. Auranya begitu gelap dan mendominasi, membuat udara di ruangan itu seakan tersedot habis.

Raut wajah Sandra seketika berubah melunak, meski masih menyisakan kekesalan. "Devano, Ibu hanya memberinya pelajaran. Wanita ini penipu! Dia bukan Siska. Kita harus melemparnya ke jalanan dan menghancurkan keluarga Wijaya sekarang juga!"

Devano memutar kursi rodanya perlahan mendekati mereka. Tatapan matanya yang setajam elang tidak tertuju pada ibunya, melainkan pada pipi merah Alana. Ada kilat emosi yang tak terbaca di manik hitam pekat itu.

"Siapa yang masuk, dan siapa yang keluar dari kamarku... adalah urusanku, Ibu," ucap Devano datar, namun setiap suku katanya mengandung penekanan yang mutlak. "Keluarga Wijaya akan menerima hukuman mereka, tapi bukan Ibu yang mengatur caraku bermain."

Sandra mendengus kesal. Ia tahu betul sifat putranya yang tidak bisa dibantah. "Terserah kau, Devano. Tapi Ibu tidak akan pernah sudi meminum teh dari tangan wanita murahan ini!"

Dengan langkah mengentak, Sandra berbalik dan keluar dari kamar, diikuti kedua pelayan yang buru-buru menutup pintu kembali.

Kamar itu kembali hening. Hanya menyisakan ketegangan yang pekat antara Devano dan Alana.

"Kemari," perintah Devano singkat.

Alana ragu-ragu sejenak. Dengan langkah gontai, ia berjalan mendekati pria yang sedang duduk di kursi roda itu. Bau maskulin dari campuran musk dan mint yang menguar dari tubuh Devano membuat dada Alana berdebar aneh.

Devano mengangkat sebuah dasi sutra berwarna abu-abu gelap dari pangkuannya, lalu menyodorkannya ke arah Alana.

"Pasangkan," titahnya.

Alana menelan ludah. "S-saya tidak terbiasa memasangkan dasi pria, Tuan."

"Maka belajarlah. Atau kau ingin aku memanggil ibuku kembali untuk mengajarimu sopan santun seorang budak?" ancam Devano dengan suara rendah.

Tangan Alana gemetar saat mengambil dasi itu. Ia melangkah lebih dekat, berdiri tepat di sela-sela kedua kaki Devano yang—dalam pandangannya—lumpuh. Jarak mereka begitu dekat hingga lutut Alana menyentuh kain celana Devano.

Alana mengalungkan dasi itu ke leher Devano. Saat tangannya bergerak menyimpulkan dasi, tanpa sengaja jari-jari dingin Alana bersentuhan dengan kulit rahang Devano yang hangat. Pria itu menegang, namun matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Alana.

"Perhatikan baik-baik, Alana. Aku tidak suka mengulang perkataanku," bisik Devano. Suaranya mengalun sangat dekat dengan telinga Alana.

Alana fokus menatap simpul dasi di dada bidang Devano, tidak berani menatap mata pria itu. "S-saya mendengarkan."

"Pertama," Devano mulai menyebutkan aturannya, "Di luar kamar ini, kau adalah istriku yang penurut dan sangat mencintaiku. Kau akan tersenyum dan menjaga nama baik Adhitama, apa pun hinaan yang kau dengar."

"Kedua, kau tidak berhak bertanya ke mana aku pergi, apa yang aku lakukan, dan dengan siapa aku berurusan."

Tangan Alana baru saja selesai merapikan simpul dasi itu. Ia bernapas lega dan hendak mundur satu langkah untuk memberi jarak.

Namun, sebelum Alana bisa menjauh, Devano tiba-tiba mencengkeram pinggang Alana dengan kedua tangannya yang besar dan kuat.

"Ah!" Alana terkesiap saat Devano menariknya dengan kasar ke depan.

Tubuh Alana menabrak dada bidang Devano. Karena Devano sedang duduk di kursi roda, posisi itu membuat Alana setengah membungkuk, dengan kedua tangannya refleks bertumpu pada bahu lebar pria itu agar tidak jatuh.

Wajah mereka bertubrukan dalam jarak yang sangat berbahaya. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Napas Devano yang panas menyapu bibir Alana yang bergetar.

"D-dan yang ketiga?" cicit Alana, matanya membesar karena terkejut bercampur panik. Jantungnya berdetak brutal menabrak tulang rusuknya.

Tatapan Devano turun ke bibir Alana, lalu kembali ke matanya dengan kilat obsesi yang gelap. Jemari Devano di pinggang Alana mengerat, menyusup ke balik kain gaun pengantinnya yang longgar, memberikan sensasi terbakar pada kulit pinggang Alana yang tersentuh langsung oleh jari-jarinya.

"Ketiga..." bisik Devano dengan suara serak yang memabukkan. "Selama kontrak ini berlaku, ujung rambut hingga ujung kakimu adalah milikku. Tubuhmu, nyawamu, adalah propertiku. Jangan biarkan pria mana pun menatapmu terlalu lama, apalagi menyentuhmu."

Devano memiringkan wajahnya, menghirup aroma manis dari perpotongan leher Alana, membuat tubuh wanita itu meremang hebat.

"Jika kau melanggar aturan ketiga ini, Alana... aku akan mematahkan kakimu dan mengurungmu di ranjang ini selamanya."

Alana memejamkan mata, terjebak di antara rasa takut yang melumpuhkan dan gairah asing yang perlahan meracuni kewarasannya.

ia kini resmi menjadi tawanan iblis berwajah malaikat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!