NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 — Latihan, Mata Air Kehidupan!

Sejak malam ketika Lautan Pahitnya terbuka di usia tiga tahun, Li Yao tidak pernah berhenti.

Wu Qingfeng mengajarinya teknik-teknik dasar, tapi Li Yao segera menyadari bahwa metode standar Lingxu Dongtian terlalu lambat untuk tubuhnya. Ia tidak protes. Ia tidak meminta lebih. Ia hanya diam-diam menyesuaikan.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun.

Latihan fisik adalah yang pertama. Wu Qingfeng mengajarkan gerakan-gerakan sederhana seperti memanjat tebing, berlari di atas air, melompat di antara dahan pohon pinus yang tinggi. Latihan-latihan ini dirancang untuk melenturkan otot, membiasakan tubuh dengan gerakan cepat, dan membangun fondasi fisik yang kokoh.

Li Yao melakukannya dengan tekun.

Tapi ia juga melakukannya lebih dari yang diminta.

Ketika Wu Qingfeng menyuruhnya memanjat tebing sepuluh kali, ia memanjat dua puluh kali. Ketika gurunya menyuruhnya berlari mengelilingi bukit sekali, ia berlari lima kali. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menunjukkan rasa lelah, meskipun otot-otot kecilnya sering terasa remuk di malam hari.

"Kenapa kau begitu keras pada dirimu sendiri?" Wu Qingfeng pernah bertanya, iya merasa bahwa Li Yao anak kecil ini terlalu memaksakan diri.

"Karena aku tidak tahu kapan kesempatan berikutnya akan datang," jawab Li Yao. "Jadi aku akan memanfaatkan setiap hari yang aku miliki."

"Dimana pun tubuh kekacauan merupakan salah satu fisik terkuat!, jadi aku harus memanfaat nya sebaik mungkin." tambah Li Yao dalam hati.

Wu Qingfeng terdiam. Ia hanya bisa menghela nafas dan sesekali mengecek kondisi fisik Li Yao. Wu Qingfeng sendiri sangat khawatir dengan latihan berat yang di lakukan anak kecil ini.

Setelah latihan fisik, giliran meditasi.

Li Yao duduk bersila di atas batu datar di tepi sungai. Angin pagi berhembus lembut. Air mengalir jernih.

Ia memejamkan mata.

Meditasi bukanlah sekadar duduk diam. Ini adalah seni mengosongkan pikiran, merasakan aliran energi dalam tubuh, dan secara perlahan memperkuat fondasi spiritual. Bagi kebanyakan murid, meditasi adalah bagian paling membosankan dari kultivasi.

Bagi Li Yao, ini adalah waktu favoritnya.

Karena saat ia memejamkan mata, ia tidak hanya sendirian.

Ia bisa merasakan keempat tubuh lainnya.

Dari kejauhan, dari tempat-tempat yang bahkan tidak bisa Li Yao petakan dengan peta mana pun, ada empat denyut yang berdetak bersamaan dengan denyutnya. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Setidaknya untuk sekarang belum!

Yang bisa ia rasakan hanyalah keberadaan mereka, samar-samar, seperti cahaya bintang yang sampai ke mata setelah perjalanan jutaan tahun.

Itu sudah cukup. Itu membuatnya tidak pernah merasa sendiri.

Wu Qingfeng tidak tahu tentang ini, bahkan tidak ada seorang pun yang tahu selain Li Yao sendiri.

Usia empat tahun, Li Yao mulai mempelajari teknik gerakan.

Bukan teknik rahasia. Bukan langkah dewa. Hanya gerakan dasar yang diajarkan kepada semua murid Lingxu Dongtian—cara melompat lebih tinggi, cara berlari lebih cepat, cara memindahkan berat badan saat menyerang atau menghindar.

Li Yao mempelajarinya dengan antusiasme yang jarang ia tunjukkan.

Ia berlari di halaman belakang berjam-jam, melompat dari batu ke batu, berguling di tanah berlumpur, jatuh dan bangkit lagi berkali-kali. Lututnya sering lecet. Telapak tangannya kasar. Tapi Li Yao tidak berhenti.

"Kau seperti anak kucing belajar memanjat," kata Wu Qingfeng, tersenyum dengan setengah tertawa.

Li Yao tidak menanggapi. Ia terlalu sibuk berlatih.

Usia lima tahun, ia sudah bisa melompat setinggi atap gubuk. Usia enam tahun, ia bisa berlari menyusuri dahan pohon pinus tanpa jatuh. Usia tujuh tahun, ia sudah lebih cepat daripada murid-murid Lingxu Dongtian yang usianya dua kali lipat.

"Kau punya bakat alami dalam gerakan," kata Wu Qingfeng. "Tapi jangan lupa—kecepatan tanpa kekuatan hanya akan membuatmu lelah lebih cepat."

Li Yao mengangguk. Ia tidak melupakan latihan fisiknya.

Usia tujuh tahun, Li Yao mulai menggabungkan semuanya.

Setiap pagi, ia berlari mengelilingi gunung, lalu memanjat tebing tertinggi di belakang Lingxu Dongtian, lalu duduk bermeditasi selama dua jam. Sore harinya, ia berlatih gerakan-gerakan ofensif dan defensif—pukulan, tendangan, tangkisan—semua tanpa menggunakan energi spiritual, hanya mengandalkan otot dan refleks.

Wu Qingfeng mengawasi dari kejauhan.

"Aku tidak mengerti," kata tetua Wu Qingfeng pada tiba-tiba. "Murid-murid lain baru mulai latihan fisik serius di usia remaja. Kau baru delapan tahun."

"Aku tidak bisa menunggu sampai remaja," jawab Li Yao. "Aku harus siap."

"Untuk apa?"

Li Yao diam sejenak. "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin sesuatu akan datang. Dan aku tidak ingin menyesal nanti."

Wu Qingfeng tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya duduk di samping bocah itu, menatap matahari terbenam di ujung pegunungan, dan bergumam pelan, "Anak aneh."

Usia delapan tahun, Li Yao sudah menyelesaikan semua latihan dasar yang diajarkan Wu Qingfeng. Ia tidak lebih kuat dari kultivator dewasa, tapi untuk seusianya, ia sudah jauh di atas rata-rata.

Tubuhnya lentur namun kokoh. Gerakannya cepat tanpa terburu-buru. Meditasinya dalam tanpa kehilangan kesadaran akan lingkungan sekitar.

Wu Qingfeng tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan dalam hal fondasi.

"Yang tersisa sekarang hanyalah waktu. Terus berlatih. Terus kumpulkan energi. Mengingat kecepatan kultivasi mu, menembus ranah Pantai Seberang mungkin tidak membutuhkan waktu lama."

Wu Qingfeng sangat terharu, murid sekaligus setengah anak nya kini sudah mencapai ranah Mata Air Kehidupan puncak, sedikit lagi menyusul ranah kultivasi nya yang hanya pada Jembatan Ilahi.

Li Yao mengangguk. Sebelumnya, ketika Li Yao pertama kali mencapai ranah Mata Air Kehidupan, dia merasa sangat senang.

Mata Air Kehidupan merupakan ranah pertama yang memungkinkan seorang praktisi bisa terbang bebas!

Dalam dua tahun, dan usia sepuluh tahun akan tiba. Li Yao merasa dengan kecepatan kultivasi nya sendiri, dan sedikit sumber daya dari Gua Surga Lingxu, menembus Pantai Seberang dalam usia sepuluh tahun adalah hal yang pasti!

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!