Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Latihan Keras Wang Fei.
Bab 14. Latihan Keras Wang Fei.
Ketika energi spiritual mengalir, sumbat yang menutup botol itu langsung melayang, sementara pil-pil yang berada di dalamnya keluar satu per satu dan jatuh dengan tepat ke telapak tangan Wang Fei.
Tanpa ragu, dia segera menelan dua puluh pil tersebut sekaligus. Jika ada orang yang melihatnya, mungkin mereka akan menganggap Wang Fei adalah orang gila. Bagaimanapun, umumnya seseorang hanya bisa memurnikan pil-pil tersebut satu per satu. Itu pun harus dilakukan secara perlahan agar tubuh tidak terkejut oleh ledakan energi yang terkandung di dalamnya.
Namun Wang Fei sama sekali tidak khawatir. Dia jauh lebih memahami tubuhnya daripada siapa pun. Selain karena memiliki Dantian Batu tipe pelahap, teknik kultivasi tubuh yang dilatihnya juga sangat membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk mengokohkan pondasinya.
"Glup!"
Dalam sekali teguk, pil-pil tersebut langsung meleleh dan berubah menjadi arus energi besar yang mengalir ke dua jalur.
Jalur pertama menuju Dantian Batu, sedangkan jalur kedua langsung menyebar ke seluruh tubuh. Rasionya adalah setengah banding setengah. Seketika tubuhnya kembali bergetar. Dia merasakan energi yang bagaikan banjir bandang mencoba menerobos paksa dari dalam dantiannya yang mulai retak karena dipenuhi energi spiritual dalam jumlah sangat besar.
Di saat yang sama, dia juga bisa merasakan bahwa kekuatan fisiknya mulai mengalami peningkatan. Meskipun belum cukup besar untuk menerobos, tetapi dia dapat merasakan bahwa peningkatan itu benar-benar nyata.
Dan ketika retakan pada dantian itu tidak lagi mampu menahan tekanan, akhirnya dengan suara "PYAR!", dantiannya pun pecah dan sejumlah besar energi kembali menerjang lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.
"BOOM!"
Aura yang begitu ganas dan tirani meledak bagaikan gelombang badai. Ketika semuanya terakumulasi dengan sempurna, ranahnya yang sebelumnya berada di tahap awal akhirnya berhasil menembus tahap menengah.
Akan tetapi, ternyata semuanya tidak berhenti sampai di situ. Energi itu terus menggempur batasannya hingga akhirnya dia berhasil menerobos ke tahap puncak. Barulah setelah semuanya stabil, getaran di dalam tubuhnya mulai menghilang perlahan yang menandakan bahwa seluruh kekuatannya telah benar-benar stabil.
Saat membuka mata, kegembiraan jelas terlukis di wajah tampannya. Detik berikutnya, dia pun tak kuasa tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Akhirnya aku berhasil menerobos ke tahap puncak!"
Kini dia hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk menerobos ke level 3 dari ranah Pengumpulan Qi.
Pada saat itu, Wang Fei tidak menyadari bahwa hari ternyata sudah siang. Matahari mulai memancarkan panas menyengat yang terasa membakar kulit.
"Tidak kusangka ternyata sudah tengah hari," kata Wang Fei.
Akhirnya, mulai dari tengah hari hingga sore hari, dia kembali melatih teknik-teknik yang dikuasainya, yaitu Langkah Petir dan Tinju Sembilan Matahari. Bahkan dia juga mulai melatih Teknik Pedang Cepat yang akan dipadukan dengan Teknik Pedang Terbang miliknya.
"Aku ingin melihat seperti apa kekuatan yang dihasilkan jika dua teknik pedang itu digabungkan menjadi satu."
Dan begitulah, selama setengah hari dia membagi waktu masing-masing dua jam untuk terus mengulang setiap teknik yang dipelajarinya.
Hingga menjelang sore, sebuah kejutan besar kembali ditunjukkan olehnya. Teknik Tinju Sembilan Matahari memang belum mengalami terobosan, tetapi efek yang dihasilkannya menjadi jauh lebih dahsyat.
Nyala apinya menjadi semakin terang, atau lebih tepatnya itu adalah Matahari Api Petir yang ketika menerjang memiliki efek kehancuran sangat mengerikan, yaitu membakar sekaligus meledakkan area luas.
Serangan itu melesat hingga sejauh sepuluh meter dengan area kehancuran mencapai radius lima ratus meter, sesuatu yang sangat mengejutkan.
Bahkan saat Wang Fei hanya berniat mencoba-coba dengan menggabungkannya bersama kekuatan pelahap, hasil yang muncul ternyata sangat mencengangkan.
Saat tiga bola Matahari Api Petir menghantam tanah,
kekuatan destruktif yang begitu besar seketika membakar pohon-pohon tak terhitung jumlahnya hingga menjadi abu.Petir menyambar dari dalam dengan ledakan brutal dan ganas.
"BOOM! DUAR!"
Namun yang paling mengerikan adalah, efek yang terjadi setelah dampak dari ledakan tersebut. Kekuatan pelahap segera menyedot seluruh energi kehidupan di area sekitar.
Dalam sekejap, hutan dalam radius lima ratus meter berubah menjadi zona mati tanpa tanda-tanda kehidupan sedikit pun. Pohon-pohon raksasa meledak bagaikan ranting rapuh yang diterjang badai. Tanah retak dan amblas, menciptakan kawah sedalam hampir dua meter.
Pemandangan mencekam pun terjadi.
Udara dipenuhi asap hitam dengan bau hangus yang menyengat. Sesekali kilatan petir dan gelombang panas mematikan masih memercik di udara. Itu adalah sisa terakhir dari dampak destruktif yang baru saja terjadi.
Kini hanya dengan sekali lihat saja sudah dapat disimpulkan bahwa serangan tinju itu tidak hanya menghancurkan target, tetapi juga melahap esensi kehidupan dari area yang dilewatinya.
Wang Fei membeku di tempat. Detik berikutnya, napas dingin berhembus dari hidungnya. Di saat yang sama, kengerian mendalam terlihat jelas di matanya ketika menyadari bahwa serangan tersebut memiliki daya hancur yang jauh melebihi apa pun yang pernah dia bayangkan.
Ketika semua keterkejutan itu tidak lagi bisa ditahan, suara gugup pun meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Hah? Apa yang terjadi? A-Apakah itu tadi benar-benar serangan yang aku lakukan?" ucapnya tak percaya.
Setelah menenangkan diri, dia kembali berkata pelan,
"Tampaknya aku tidak bisa lagi sembarangan menggabungkan Teknik Tinju Sembilan Matahari dengan kekuatan pelahap. Dampaknya terlalu brutal dan mengerikan."
Bayangkan saja, seandainya serangan itu dilancarkan kepada lawannya saat seleksi kompetisi nanti, seperti apa nasib lawannya?
Tak perlu dipertanyakan lagi, tubuh lawannya pasti akan langsung hancur menjadi debu tanpa menyisakan apa pun. Jika itu terjadi, bukankah dia telah melakukan pembunuhan terhadap sesama murid?
Bukankah jika dia melakukannya, itu berarti dia telah melanggar peraturan dan akan langsung diusir dari sekte?
Wang Fei dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pikirannya segera memberikan peringatan keras.
"Tidak, tidak, tidak. Bahkan tanpa menggunakan kekuatan pelahap saja dampaknya sudah sangat menakutkan. Sepertinya aku harus menjadikannya sebagai kartu truf terakhir jika benar-benar terdesak. Untuk lebih aman, lebih baik aku menggunakan Teknik Tinju Peledak saja. Dengan begitu dampak yang ditimbulkan tidak akan seheboh dan semenakutkan Tinju Sembilan Matahari."
Dia mulai menggunakan kekuatan Tinju Peledak yang dibalut elemen Api Petir. Benar saja, meskipun tidak seganas Tinju Sembilan Matahari, saat serangan itu dilepaskan, sejumlah energi besar tetap menghantam bagaikan badai yang mengandung kekuatan api dan petir.
Seketika pohon di depannya terbakar lalu meledak hancur berkeping-keping menjadi serpihan yang tersebar ke segala arah.
"Nah... setidaknya ini jauh lebih normal," ucapnya dengan senyum puas.
Jika ada orang yang mendengarnya, bisa dipastikan mulut mereka akan menganga lebar hingga mampu dimasuki satu butir telur ayam utuh.
Pasalnya, kekuatan yang telah ditunjukkan Wang Fei sendiri sudah sangat menakutkan. Tinju Peledak sebenarnya hanyalah teknik tingkat dasar. Namun karena telah dilatih hingga mencapai tahap kesempurnaan, efek kehancuran yang dihasilkannya bahkan setara dengan teknik tingkat menengah.
Akhirnya, dua jam berikutnya dia gunakan untuk melatih Langkah Petir. Memang tidak ada terobosan, tetapi dia bisa merasakan perbedaannya. Gerakannya menjadi lebih halus dan lebih cepat hingga udara di sekelilingnya tampak bergetar dan terdistorsi, seolah pergerakan itu sendiri hampir menyentuh hukum cahaya.
Dan yang paling penting... dirinya tidak lagi terengah-engah karena kehabisan energi seperti sebelumnya.
"Hahaha! Bagus! Dalam sepuluh tarikan napas, aku bisa bergerak bolak-balik sejauh lima ratus meter sebanyak lima puluh kali tanpa kelelahan sedikit pun!" ucapnya puas.
Di penghujung sore, Wang Fei mulai melatih Teknik Pedang Cepat yang dikombinasikan dengan Teknik Pedang Terbang. Hasilnya sangat luar biasa. Dengan kontrol jiwa dan pengaturan kekuatan mental yang tepat, Xue Jian, sang pedang patah, melesat seperti kilatan cahaya yang diselimuti Api Petir.
Saking cepatnya, setiap tebasannya bukan hanya meninggalkan luka parah, tetapi juga melubangi pohon-pohon dalam jumlah besar dengan ledakan destruktif yang mengerikan.
Bahkan setelah serangan itu terjadi, masih ada sisa nyala api dan percikan petir ungu yang menari liar, seolah meninggalkan jejak kengerian terakhir dari kekuatan tersebut.
"Hah... hah... hah..." napas Wang Fei terengah-engah saat hari mulai gelap.
Semua persiapan sudah matang. Besok saatnya kembali berburu di Hutan Kabut.
"Beruang Api Ganas... tunggulah kedatanganku," ucapnya dengan mata penuh semangat perang yang menyala-nyala.
utk itu saya uplaus satu vote