Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|08|Dendam Turunan
Aruna menutup mulutnya, matanya membulat terkejut melihat Devara bersama perempuan lain, bahkan perempuan itu terlihat sangat santai disamping pria bertato naga itu. iPad ditangan Aruna terlepas dan jatuh dilantai marmer.
'Entah kenapa rasanya aneh melihat pria yang selalu benci kepadaku bermesraan dengan gadis lain' -batin Aruna
Andre berlari dari arah pantry saat mendengar suara barang jatuh. Tangannya gemetar, terkejut saat melihat Aruna menjatuhkan iPad nya. Dengan cepat Andre mendekat.
"Bu, ada apa. Kenapa...?" Andre melihat video cctv yang masih freeze tepat diwajah Alana yang sedang mencium Devara. Mata Andre membulat, wajahnya menjadi pucat, persis seperti mayat Burhan di dermaga.
"Siapa dia" Tanya Aruna dengan suara lirih, namun tidak dengan perasaannya yang terasa ingin berontak. tangannya menujuk kearah Alana.
Andre menjadi gugup, Ia langsung mengambil iPad nya dengan cepat. "Saya tidak boleh bicara tentang dia" Jawaban Andre sudah Aruna duga. Andre sangat takut kepada Devara.
"Jujur aja, dia siapa. Pacar Pak Devara atau istrinya?" Ujar Aruna, berusaha membuat Andre mangaku siapa perempuan yang ada di cctv tersebut.
"Sudah bu, saya takut Pak Devara marah" ujarnya dengan lirih, namun Aruna terlihat tak peduli.
Suara pintu terbuka, membuat Aruna berhenti mencerca Andre dengan pertanyaan yang ada dibenaknya. Gadis itu menengok keasal suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Devara datang, tangannya Ia masukan kedalam saku celananya. Pandangannya tajam mengarah ke iPad hancur yang berada ditangan Andre.
"Andre" Ujar Devara memberi intruksi Andre untuk segera keluar. Andre yang melihat intruksi dari bos nya segera berjalan keluar sambil menunduk takut.
"Tinggalkan iPad mu" titah Devara.
Andre langsung meletakkan iPad yang menyala dimeja dan masih freeze di bagian adegan Alana saat mencium pipi Devara. Kemudian Andre langsung buru-buru keluar sebelum kena marah oleh Devara.
Sekarang didalam ruangan itu hanya ada Devara dan Aruna. Suasana tampak tegang, Aruna meremas jemarinya dan berdiri seperti patung, Devara mengambil rokok didalam kotak dan menyalakan lighter emas miliknya.
Tato naga di punggung tangannya serasa ikut menjadi saksi bisu ketegangan Aruna disana. "Apa yang kamu ributkan" katanya seraya menyesap rokoknya, pandangannya tak mengarah ke Aruna.
Aruna menggeleng pelan, Ia menunduk takut, memang Devara tidak membentak atau memarahinya, bahkan suaranya masih sama datar-nya seperti biasanya. Namun kali ini rasanya berbeda, padahal jelas kunci permasalahan ada di pria itu. Gadis kecil seperti Aruna hanya bisa menunduk takut tanpa protes satu kalimat pun, apalagi sejak melihat kejadian di dermaga tadi pagi.
Devara memandang ke arah Aruna. Matanya melihat kebawah, kaki Aruna yang penuh luka dan perban. Setelah itu pandangannya beralih lagi. "Harusnya kamu membaca isi perjanjian kontrak itu sampai selesai Run" ujar Devara, kalimatnya lebih panjang dari biasanya, namun kalimat itu mampu membuat Aruna seperti ditindih batu besar yang menghimpit dada-nya. Sesak dan sakit.
Devara mematikan rokoknya. Melonggarkan dasinya yang terasa sesak. Berjalan mendekati Aruna, gadis itu mendur perlahan saat Devara maju mendekat. Sampai badan Devara menghimpit Aruna di tembok, tangan kanannya mencengkram pipi Aruna.
"Kamu hanya pajangan Run, jangan pernah ikut campur urusanku" bisiknya dengan lirih tepat ditelinga Aruna.
"Mau tau saya jemput siapa?" lajut Devara.
Aruna menggeleng, tangisannya pecah saat itu juga. Tak bisa Ia tahan, sikap iblis Devara membuat Aruna semakin ketakutan.
"Run, saya udah nahan ini 15 tahun" Ucap Devara, suaranya sedikit bergetar, Devara melepas cengkramannya. Ada bekas merah di pipi Aruna, bekas jari Devara seperti stempel kepemilikan, bukan ciuman tapi cengkraman.
'Apa yang dia tahan selama 15 tahun, apa mungkin dia salah orang, bahkan 15 tahun yang lalu umurku masih 6 tahun' -batin Aruna.
Aruna meringis menahan perih. Ia memegangi pipinya, mengusapnya dengan kasar berharap bekas tangan Devara bisa hilang dalam sekejab.
Mata Devara berkedut melihat Aruna memegangi pipinya, persis seperti yang ibunya lakukan kepada Devara yang menangis saat sebelum pergi meninggalkan dirinya bersama ayahnya 15 tahun yang lalu. Mengusap air mata Devara kecil menggunakan tangan hangat sang ibu.
Devara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Seperti mencari sesuatu yang ada didalam ponselnya itu. Lalu Ia melemparkannya kearah Aruna. Gadis itu melihat dari ponsel Devara yang terjatuh dilantai marmer. Foto ayahnya bersama anak kecil, wajah anak kecil itu mirip sekali dengan Devara, Aruna menebak itu adalah Devara dan seorang pria berumur kurang lebih sama dengan Ayah Aruna. Aruna menutup mulutnya, matanya membulat tak percaya apa yang Ia lihat.
"Wijaya memb*nuh Ayahku!," Suara Devara pecah. Baru pertama kalinya melihat Devara semarah itu saat ini.
"A-aku tidak tau, aku minta maaf atas nama ayahku" Ujar Aruna, lututnya lemas, Ia memohon memegangi kaki Devara yang masih emosi saat itu.
Devara berjongkok. Mendekati wajah Aruna yang sudah basah karena air mata. Tangan Devara menyentuh pipi Aruna dan menghapus air mata itu menggunakan jempolnya. Lalu Devara mengalihkan tangannya kembali.
"Simpan air matamu untuk esok hari Run" setelah mengatakan itu Devara mengambil kembali ponselnya dan pergi meninggalkan Aruna yang masih lemas tak berdaya ditemani air mata yang terus mengalir deras.
' Kenapa papah gak pernah bilang sama Aruna kalau punya masalah sama keluarga Mahesa, sekarang Aruna udah dewasa pah, apa begini cara yang tepat buat Devara membalas dendam nya kepada keluarga Wijaya' -batin Aruna.
15 tahun yang lalu, Wijaya bersahabat baik dengan Mahesa bahkan mempercayakan Wijaya untuk menanamkan sahamnya ke perusahaan Mahesa. Bahkan sempat ada obrolan tentang perjodohan anak mereka kelak. Saat itu Devara berumur 13 tahun, sedangkan Aruna berumur 6 tahun. Jarak yang cukup jauh namun mereka tetap akan menjodohkan anak mereka.
Tetapi, ditahun kedua Wijaya menanamkan sahamnya, ternyata Wijaya ketahuan mempunyai pikiran busuk yaitu hanya memanfaatkan kebaikan Mahesa, bahkan sempat ketahuan korupsi di perusahaan Mahesa. Saat masa itu, Mahesa sedang kesulitan ekonomi sampai istrinya menceraikannya karena dirinya hampir bangkrut. Tersisa Mahesa dan Devara, namun Mahesa terlebih dahulu menyerah dengan bun*h diri.
Devara kecil dirawat sang kakek, dan akhirnya kakeknya bisa membuat perusahaan Mahesa makin stabil. Namun, dendam yanh diturunkan ayahnya kini telah sampai kepada Devara. Dendam yang masih dirasakan Devara hingga dewasa, apalagi mendengar kabar kalau perusahaan Wijaya bangkrut, kali pertama Devara tersenyum lebar saat itu.
Usahanya berhasil untuk membuat Wijaya bangkrut. Melihat Aruna yang bekerja di sebuah restoran sampai ditagih rentenir suruhannya, sengaja itu perbuatan Devara.
Dan Elula juga Devara yang menyuruh dengan upah mobil porsche yang Ia sewakan kepada Elula selama satu minggu. Gadis itu langsung setuju untuk membujuk Aruna agar bisa bertemu dengan dirinya di club VERTIGO.
Pertemuan yang Aruna anggap tidak sengaja ternyata menyimpan rahasia dibaliknya, Aruna hanya korban orang tuanya. Namun, obsesi Devara tidak sampai disitu. Ia masih ingin menjerat Aruna lebih dalam tanpa mengotori tangannya sendiri. Aruna sudah Ia beli dan Ia miliki. Harta berharga satu-satunya milik wijaya sudah ada ditangan Devara.