"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangkar Sensorik dan Isolasi Senyap
Kabin sedan mewah hitam milik Elian Gava Alaric terasa seperti sebuah peti es yang kedap suara. Di kursi penumpang baris belakang, Lyra Anya Cassandra duduk menyusut. Jas seragam hitam milik Elian masih tersampir di bahu proporsionalnya, membungkus tubuh kurusnya yang masih bergetar hebat. Kepala Lyra bersandar lesu pada kaca jendela yang dingin, menatap kosong pada kerlip lampu jalanan kota yang bergeser mundur dengan cepat.
Aroma parfum amberwood yang hangat, maskulin, dan sangat mewah dari jas itu memenuhi rongga paru-parunya. Bagi Lyra, wangi itu adalah candu yang membingungkan. Di satu sisi, kepalanya yang masih didera kabut kepala (brain fog) pasca-insiden penyekapan di gudang tua langsung merasa tenang setiap kali menghirupnya. Namun di sisi lain, sisa-sisa logika sehat di balik kacamata bulatnya mulai bergolak.
"Elian..." Lyra membuka suara, memecah kesunyian yang intimidatif. Suaranya serak dan canggung. "Maaf. Karena aku, kamu harus berurusan dengan Arsyen lagi di gerbang sekolah tadi."
Elian tidak langsung menoleh. Profil wajahnya yang simetris dan rupawan tampak seperti patung pualam di bawah temaram lampu jalanan. Ketika ia akhirnya memutar kepalanya, seulas senyuman manis senyuman malaikat pelindung yang biasa ia pamerkan di depan publik terkembang sempurna.
"Kenapa kamu harus minta maaf, Lyra?" suara bariton Elian mengalun sangat lembut. "Arsyen hanyalah berandalan yang gemar mencari gara-gara. Dia tidak suka melihat aku membantumu, karena bagi orang sekasar dia, menolong siswi berprestasi sepertimu adalah hal yang tidak penting."
Lyra menundukkan kepala, jemarinya yang kurus meremas ujung tas sekolahnya. "Kata-kata Arsyen tadi... dia bilang aku cuma barang pajangan. Dia bilang kamu cuma mau menang dari dia."
Mendengar hal itu, manik mata hitam jelaga Elian menyempit sepersekian detik. Sifat sosiopatik dan obsesi tak kasat mata miliknya bergolak hebat di dalam dada. Ia menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka hingga Lyra bisa merasakan embusan napasnya.
"Kamu memercayai orang luar seperti dia, Lyra?" tanya Elian. Tangannya yang putih bersih bergerak perlahan, meraba dagu manis Lyra dan mendongakkannya dengan cengkeraman yang lembut namun dominan. "Lihat mataku. Apa aku terlihat seperti sedang memanfaatkanmu?"
Lyra menatap sepasang netra gelap itu. Di dalamnya, ia hanya melihat pantulan dirinya yang rapuh. "Enggak, Elian. Kamu... kamu satu-satunya orang yang mau berdiri di sampingku di SMA Gava."
"Benar. Hanya aku, Lyra," bisik Elian intens, menjalankan metode gaslighting untuk merusak fokus logis Lyra. Jari tangannya beralih mengusap rambut kuncir kuda Lyra dengan gerakan yang teratur sebuah conditioning bawah sadar agar Lyra bergantung total padanya. "Di sekolah itu, kamu sendirian. Sahabat-sahabat SMP mu... Nadia, Febby, dan Dhea, mereka semua bersenang-senang di SMA Negeri 2, bukan? Mereka tidak ada di sampingmu saat kamu tersiksa di dalam gudang tua kemarin. Hanya aku yang ada di sana untuk menyelamatkanmu."
Kata kata Elian menghantam telak sanubari Lyra. Fakta bahwa ia terpisah sekolah dari ketiga sahabatnya membuat benteng pertahanan dunianya terasa sangat jauh. Ia merasa terisolasi di SMA Gava yang kejam ini. Lyra tidak tahu, sama sekali tidak menduga, bahwa Elian-lah yang mengatur agar ia terkunci di gudang tua, demi menciptakan skenario Savior Complex ini.
"Aku merindukan mereka, Elian..." isak Lyra pelan, membiarkan pertahanannya runtuh. Tubuhnya condong ke depan, menyandarkan dahinya pada dada bidang Elian yang terbalut kemeja putih mahal.
Elian mendekap punggung kurus Lyra secara posesif. Di atas kepala Lyra, seringai asimetris yang mengerikan terukir di wajah rupawan Elian. Skenario isolasi psikologisnya berjalan sempurna. Sang domba kecil kini benar-benar telah melangkah masuk ke dalam labirin kontrolnya.
Mobil akhirnya berhenti di depan toko kue rumahan milik Nenek Lyra. "Terima kasih untuk tebengannya, Elian," ucap Lyra lirih saat ia melepas jas hitam Elian.
"Simpan saja jas itu untuk malam ini, Lyra. Anggap saja itu pelindungmu dari hawa dingin," balas Elian dengan senyuman manis. "Besok pagi, supirku akan menjemputmu."
Setelah Lyra masuk ke dalam rumah, Elian menutup kaca mobilnya. Senyuman di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi sedingin es yang mematikan. Ia merogoh sakunya dan menelepon Devan Raditya.
"Devan," panggil Elian dingin. "Arsyen El Barack mencoba mengusik milikku di gerbang sekolah. Gerakkan geng elitmu untuk mempersempit ruang geraknya besok. Dan satu lagi..." Elian menyipitkan matanya. "Cari tahu akun media sosial ketiga teman SMP Lyra yang bersekolah di SMA Negeri 2. Kirimkan foto rumor Lyra di gudang olahraga kemarin kepada mereka lewat akun anonim. Aku ingin persahabatan masa lalu Lyra hancur tanpa sisa."
"Oke, El. Skenario adu domba digital bakal beres malam ini," sahut Devan patuh sebelum menutup telepon. Elian tersenyum kejam dalam kegelapan kabin, membiarkan wangi amberwood mengunci ambisi gelapnya malam itu.