Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Pojok Kedai
Langit sore perlahan berubah semakin jingga, memancarkan semburat merah di langit barat.
Di depan kedai sederhananya, Alana masih sibuk melayani pembeli yang datang bergantian tanpa henti. Tangannya bergerak cepat membungkus nasi, menuang sambal ulek, sekaligus menerima pembayaran.
Mulutnya pun tetap aktif berceloteh ramah meskipun tubuhnya sebenarnya sudah terasa sangat pegal akibat didera aktivitas kuliah sejak pagi tadi.
“Kak Alana, level enam tapi jangan terlalu pedas ya,” ujar salah satu pembeli sambil menyengir malu-malu.
Alana langsung menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu menatap pembeli itu dengan pandangan datar yang dibuat-buat.
“Gimana itu konsep logikanya, Kak? Level enam tapi minta jangan pedas. Ada-ada saja.”
Pembeli itu malah tertawa kecil mendapat respons kocak dari sang pemilik kedai. “Hehe… maksudnya jangan yang pedasnya bikin nangis, Kak.”
“Oke, bilang aja kalau mau level tiga, Kakakku,” sahut Alana geli sambil meraih kotak nasi. “Dasar manusia-manusia denial pedas.”
Beberapa pembeli lain yang sedang mengantre ikut tertawa kecil mendengar ocehan spontan Alana.
“Oke, bentar ya, aku nganter pesanan ke meja lain dulu,” ujar Alana seraya mengangkat sebuah nampan kecil berisi seporsi ayam geprek level biasa dan segelas air putih.
Langkahnya berjalan menuju meja pojok, tempat anak laki-laki misterius berseragam sekolah elite itu duduk sendirian sejak tadi.
Anak itu masih diam di tempat yang sama dengan posisi duduk yang sangat rapi, punggung tegak sempurna, dan tatapan mata yang lurus ke depan tanpa banyak bergerak.
Alana meletakkan piring ayam geprek di depannya perlahan. “Ini ya, Dek. Selamat menikmati.”
Namun, anak itu hanya menatap makanannya tanpa berkata apa-apa. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada senyuman, bahkan ekspresi wajahnya nyaris tidak berubah satu milimeter pun. Alana sampai mengernyitkan dahi kecil karena heran.
"Anak siapa sih ini… kaku banget kayak kanebo kering," gumamnya sangat lirih sambil melangkah kembali ke meja depan.
Kesibukan kedai kembali menyita perhatian Alana selama beberapa saat. Satu per satu pembeli datang lalu pergi membawa pesanan mereka. Suara minyak mendesis, bunyi plastik kresek, dan candaan khas anak muda memenuhi suasana sore di gang kecil itu.
Namun di tengah semua keramaian itu, anak laki-laki di pojok sana tetap bergeming seperti patung kecil. Dan hal yang mulai membuat Alana merasa aneh adalah ayam geprek di atas meja itu bahkan belum disentuh sedikit pun oleh si anak.
Waktu terus berjalan pelan. Jarum jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam saat pembeli mulai berkurang satu per satu.
Kursi-kursi plastik yang tadi penuh kini perlahan kosong, menyisakan beberapa piring kotor yang belum sempat dibereskan dan suara televisi samar dari rumah tetangga.
Sedangkan anak laki-laki itu masih duduk diam di tempat yang sama. Alana yang sedang mengelap meja panjang akhirnya kembali melirik ke arah pojok warung. Dahinya langsung berkerut heran saat menyadari piring di depan anak itu masih utuh, bahkan nasinya pun belum berkurang secuil pun.
Akhirnya, didorong rasa penasaran, Alana melangkah mendekat sambil membawa kain lap di tangannya. “Nggak enak ya makanannya, Dek?” tanyanya hati-hati.
Anak itu mengangkat wajahnya pelan, menatap Alana sebentar lalu menggeleng kecil.
“Terus kok nggak dimakan dari tadi?” tanya Alana lagi.
Hening.
Tidak ada jawaban sama sekali. Alana sampai menatap anak itu selama beberapa detik dengan perasaan bingung sendiri.
Namun, si bocah justru kembali menunduk tanpa ekspresi. Alana akhirnya menyerah, memilih untuk kembali membereskan sisa dagangannya sambil sesekali mengomel kecil pada diri sendiri. “Aneh banget sumpah itu anak…”
Beberapa menit kemudian, seluruh pembeli sudah benar-benar pulang dan kedai kecil itu mulai sepi total. Kini hanya tersisa suara jangkrik malam dan kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut kedai.
Alana mengembuskan napas panjang yang sangat berat sambil meregangkan pinggangnya yang terasa encok. Hari ini benar-benar berjalan sangat panjang dan melelahkan bagi batin dan fisiknya.
Namun saat hendak menurunkan kain penutup etalase, matanya kembali menangkap sosok kecil yang masih setia duduk diam di kursi pojok dalam keheningan. Alana langsung memejamkan matanya sebentar, mengusap wajahnya gusar. “Ya Allah… masih di situ ternyata.”
Alana akhirnya kembali menghampiri meja anak tersebut dengan langkah pelan. “Dek,” panggilnya dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Anak itu mendongak pelan.
“Mau dimakan nggak ayamnya? Kalau nggak dimakan, mau dibungkus aja? Soalnya kedainya udah mau tutup nih,” tutur Alana memberi pilihan.
Kali ini, setelah jeda beberapa detik, anak itu akhirnya mengangguk kecil.
“Oalah… dari tadi dong,” gumam Alana lega.
Dia langsung mengambil piring ayam geprek tersebut lalu membungkusnya dengan cepat ke dalam kotak makan plastik. “Nah, gini kan enak,” omelnya pelan yang sebenarnya lebih ke arah ramah, sambil memasukkan sendok plastik ke dalam kantong kresek.
Setelah selesai, Alana menyerahkan bungkusan itu pada anak tersebut. Namun, anak itu tetap duduk diam di kursinya. Tidak beranjak pergi, tidak bicara, dan tidak bergerak sedikit pun.
Alana mulai menatapnya dengan pandangan curiga. Jangan-jangan anak ini tidak punya ongkos pulang? “Dek…”
Anak itu menoleh.
“Kamu… nggak punya duit buat bayar, apa gimana?” tanya Alana sehalus mungkin, takut menyinggung perasaan si anak.
Bocah itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna hitam. Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, dia menyerahkan beberapa lembar uang kertas yang nilainya bahkan jauh melebihi harga seporsi ayam geprek.
Alana langsung meringis, merasa sedikit bersalah karena sudah salah sangka.
“Oh… punya toh. Uangnya pas ya, sekarang sana buruan pulang,” ujar Alana sambil mulai menurunkan tirai bambu kedainya.
Namun, bocah itu lagi-lagi tidak bergerak dengan cepat. Dia hanya berdiri perlahan sambil memegang bungkusan makanannya erat-erat. Tatapan matanya tetap terlihat kosong dan sedingin es.
Alana makin dibuat bingung sendiri melihat tingkah ajaib anak itu. Tapi karena tubuhnya bener-bener sudah berada di ambang batas kelelahan, gadis itu akhirnya memilih untuk tidak peduli lebih jauh. Dia segera melangkah masuk ke dalam kontrakan kecilnya, mandi kilat, lalu menunaikan salat isya sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya dengan pasrah ke atas kasur busa tipis di lantai.
“Nggak kuat… gue capek banget asli…” Baru beberapa menit memejamkan mata, Alana sudah langsung tertidur pulas akibat kelelahan.
...----------------...
Entah berapa lama Alana terlelap, sampai akhirnya kelopak matanya terbuka pelan karena tenggorokannya mendadak terasa sangat haus dan kering. Ruangan kontrakan kecilnya sudah tampak gelap gulita dan sunyi. Alana meraba-raba kasurnya asal untuk mencari ponsel, lalu menyipitkan mata saat melihat pantulan cahaya dari layar.
21.07
“Hah?!” Alana langsung terduduk tegak dengan rasa panik yang menjalar seketika. “Ya Allah, gue ketiduran lama banget!”
Dengan rambut yang masih acak-acakan dan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, Alana berjalan terburu-buru keluar sambil mengucek matanya yang masih terasa sepet. Namun, begitu dia membuka pintu kayu kontrakannya yang langsung menghadap ke teras kedai, langkah kaki Alana langsung berhenti total. Jantungnya berdegup kencang secara refleks.
Di luar sana, di bawah temaram lampu jalan gang yang minim, anak laki-laki tadi ternyata masih ada. Dia masih duduk diam di kursi pojok kedai Alana yang sudah gelap. Sendirian. Di tengah keheningan malam yang mulai dingin.
Alana menatap pemandangan itu dengan pandangan tidak percaya. “Loh?!”
Mendengar suara pintu terbuka, anak itu perlahan menolehkan kepalanya ke arah Alana. Ekspresi wajahnya tetap sama; datar, tenang, namun entah kenapa di mata Alana, sosok kecil itu justru terlihat sangat kesepian.
Alana buru-buru melangkah mendekat ke arah teras. “Dek… kok kamu masih di sini?!”
“Iya,” jawab anak itu pendek.
“Kamu beneran belum pulang dari tadi?”
“Iya.”
Alana mulai merasa frustrasi sendiri menghadapi situasi yang tidak masuk akal ini. “Rumah kamu di mana sebetulnya?”
Bocah itu diam selama beberapa detik sebelum menjawab singkat, “Jauh.”
“Terus kamu nggak dijemput?”
“Nggak.”
Alana langsung melongo dengan sempurna. “Nggak gimana maksudnya?! Ini udah jam sembilan malam lewat lho, Dek!”
Anak itu kembali bungkam, memilih untuk tidak merespons. Jawabannya sejak tadi selalu pendek-pendek, persis seperti robot kecil yang kehabisan baterai emosi. Alana yang kehabisan akal akhirnya ikut jongkok di depan kursi anak itu, lalu menatap wajah si anak itu dengan ekspresi yang sangat serius.
“Kamu… lagi kabur dari rumah, ya?”
Anak itu menggelengkan kepalanya kecil.
“Lagi dimarahin sama orang tua kamu?”
Gelengan lagi yang Alana dapatkan.
“Terus kenapa dari tadi belum pulang-pulang juga ke rumah?” tanya Alana menuntut jawaban.
Anak itu menundukkan kepalanya pelan, menatap kantong kotak ayam geprek yang masih berada di genggamannya. “Iya.”
“Iya apanya? Ya Allah, Dek, ngomong yang jelas dong biar aku nggak bingung,” cecar Alana sambil mengacak rambutnya sendiri frustrasi. "Ni anak beneran bikin tingkat stres gue naik drastis sumpah," batinnya merana.
Setelah hampir lima menit melakukan interogasi sepihak tanpa membuahkan hasil apa pun, Alana akhirnya menyerah kalah. Dia berdiri tegak seraya berkacak pinggang. “Nggak bisa kayak gini. Pokoknya kamu harus pulang sekarang juga. Bahaya anak kecil sendirian malam-malam di luar.”
Mendengar perintah tegas itu, anak itu secara perlahan mulai berdiri dari kursinya. “Oke,” jawabnya singkat.
Tanpa membantah lagi, dia mulai membalikkan tubuh dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang konstan, meninggalkan area kedai Alana menuju ke arah jalan besar di ujung gang.
Alana berdiri diam di tempatnya sambil melipat kedua tangan di dada, mengawasi punggung kecil yang perlahan mulai menjauh itu. Namun entah kenapa, di mata Alana, langkah kaki anak itu terlihat sangat aneh. Lambat, kosong, dan sangat tidak meyakinkan untuk ukuran seorang anak remaja yang berjalan membelah malam sendirian.
Sebuah rasa tidak enak yang mengganjal mendadak muncul dan merayap di dalam dada Alana. Dia menggigit bibir bawahnya pelan dengan batin yang berkecamuk. "Duh, kenapa gue jadi kepikiran dan ngerasa bersalah gini, sih…"
Sosok anak itu terlihat semakin menjauh di bawah temaram tiang lampu jalanan. Dan tanpa bisa dicegah oleh logikanya sendiri, kedua kaki Alana akhirnya justru melangkah maju, berjalan cepat menyusul punggung kecil itu dari belakang.