NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Judul Bab 2: Luka di Balik Pintu Ruang Kerja

Pagi pertama sebagai seorang istri seharusnya menjadi awal kebahagiaan bagi banyak wanita.

Namun tidak bagi Naya.

Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden kamar mewah itu terasa asing di matanya. Cahaya keemasan yang seharusnya membawa kehangatan justru membuat dadanya semakin sesak.

Ia terbangun dengan tubuh pegal.

Bukan karena malam yang indah bersama suami.

Melainkan karena semalaman ia tertidur di sofa kecil yang berada di sudut kamar.

Perlahan Naya duduk.

Lehernya terasa kaku.

Punggungnya nyeri.

Ia menatap ranjang besar berlapis seprai putih yang masih tampak rapi.

Tak ada bekas seseorang pernah tidur di sana.

Adrian bahkan tidak kembali ke kamar setelah meninggalkannya semalam.

Kenangan malam itu kembali memenuhi kepalanya.

Tatapan dingin Adrian.

Kalimat-kalimat tajam yang menghancurkan harga dirinya.

Dan kontrak pernikahan yang terpaksa ia tandatangani demi menyelamatkan ibunya.

Mata Naya kembali memanas.

Namun ia segera mengusap sudut matanya.

Tidak.

Ia tidak boleh menangis lagi.

Sejak ayahnya meninggal, hidup sudah mengajarinya bahwa air mata tidak pernah mampu menyelesaikan masalah.

"Naya, kamu harus kuat," bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.

Ia bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Naya keluar dengan hijab sederhana berwarna krem dan gamis panjang yang dipinjamkan oleh pihak rumah.

Penampilannya jauh berbeda dibandingkan kemegahan pengantin semalam.

Kini ia hanya terlihat seperti gadis biasa yang sedang berusaha bertahan hidup.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuat tubuhnya menegang.

Pintu terbuka sebelum ia sempat menjawab.

Seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah datar.

Tatapan wanita itu langsung membuat Naya merasa tidak diterima.

"Sudah bangun?"

Naya mengangguk sopan.

"Sudah, Bi."

Wanita itu adalah Bi Sumi.

Kepala pelayan yang sejak semalam terlihat tidak menyukainya.

"Kalau sudah bangun, jangan berdiri saja."

Suara Bi Sumi terdengar dingin.

"Di rumah ini tidak ada yang mendapatkan hidup enak tanpa bekerja."

Naya menunduk.

"Saya mengerti."

Bi Sumi melipat kedua tangannya di dada.

"Saya harap kamu benar-benar mengerti. Karena meskipun menikah dengan Tuan Adrian, bukan berarti kamu menjadi nyonya rumah ini."

Kalimat itu menusuk.

Namun Naya memilih diam.

Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat.

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Bi?"

"Kamu ikut saya."

Sejak saat itu, pagi Naya berubah menjadi pekerjaan tanpa henti.

Ia membersihkan ruang tamu.

Menyapu koridor panjang.

Mengelap meja.

Merapikan ruang keluarga.

Rumah itu sangat besar.

Jauh lebih besar daripada rumah sederhana tempat ia tinggal bersama ibunya.

Setiap sudut menunjukkan kemewahan.

Namun semakin lama berada di sana, Naya justru merasa rumah itu sangat dingin.

Tidak ada tawa.

Tidak ada kehangatan keluarga.

Yang ada hanya kesunyian.

Sekitar dua jam kemudian, Bi Sumi kembali memanggilnya ke dapur.

"Siapkan sarapan untuk Tuan Adrian."

Naya segera mengangguk.

Meski tidak memiliki pengalaman memasak makanan mewah, ia berusaha melakukan yang terbaik.

Tangannya bergerak hati-hati menata bubur ayam hangat dan secangkir teh.

Sesekali ia menarik napas dalam untuk mengurangi rasa gugup.

"Antarkan ke ruang kerja Tuan."

Naya menelan ludah.

Ia sebenarnya tidak ingin bertemu Adrian lagi setelah kejadian semalam.

Namun ia tidak memiliki pilihan.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua.

Ruang kerja Adrian.

Jantungnya mulai berdebar.

Tok.

Tok.

"Tuan Adrian?"

Tidak ada jawaban.

Naya kembali mengetuk.

Masih sunyi.

Dengan ragu, ia memutar kenop pintu.

"Permisi..."

Pintu terbuka perlahan.

Dan apa yang dilihatnya membuat langkahnya terhenti.

Adrian berada di samping sofa.

Pria itu tampak berusaha berpindah dari kursi roda ke tempat duduk tanpa bantuan siapa pun.

Keringat membasahi pelipisnya.

Rahangnya mengeras.

Otot lengannya menegang.

Ia terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa.

Naya belum pernah melihat Adrian sedekat ini.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa di balik kesombongan dan kekuasaan yang dimiliki pria itu, ada luka yang sangat besar.

Bruk!

Tubuh Adrian kehilangan keseimbangan.

Ia jatuh keras ke lantai.

Naya refleks berlari.

"Tuan Adrian!"

Ia berlutut di samping pria itu.

"Tuan, apakah Anda terluka?"

Namun respon yang diterimanya justru membuat dadanya nyeri.

"Pergi!"

Adrian menepis tangannya.

Tatapan matanya penuh kemarahan.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu."

Naya terdiam.

"Aku hanya ingin membantu..."

"Bantuan?"

Adrian tertawa pendek.

Tawa yang terdengar pahit.

"Sekarang kamu sedang mengasihaniku?"

"Bukan begitu."

"Lalu apa?"

Suara Adrian semakin dingin.

"Kamu ingin melihat betapa menyedihkannya aku?"

Naya menggeleng cepat.

Ia benar-benar tidak berpikir seperti itu.

Namun Adrian seolah tidak peduli.

Harga dirinya terluka.

Dan kemarahan itu dilampiaskan kepadanya.

"Keluar."

Naya menggigit bibir.

"Tuan..."

"Keluar!"

Bentakan itu membuat tubuhnya bergetar.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Naya mundur perlahan.

Namun saat berbalik, pandangannya menangkap sesuatu di bawah meja kerja.

Sebuah kalung perak.

Kalung tua dengan liontin berbentuk daun semanggi.

Napas Naya mendadak tercekat.

Tubuhnya membeku.

Kalung itu...

Kalung itu sangat ia kenal.

Jantungnya mulai berdetak semakin cepat.

Ingatan lama yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul.

Malam hujan tiga tahun lalu.

Suara petir.

Mobil yang hancur.

Dan seorang pria yang ia selamatkan dari ambang kematian.

Saat itu...

Kalung miliknya hilang.

Dan sekarang benda itu berada di ruang kerja Adrian.

Mata Naya perlahan beralih kepada pria yang masih berada di lantai.

Dadanya berdebar tidak karuan.

Jangan-jangan...

Pria yang selama ini membencinya...

Adalah pria yang pernah ia selamatkan dahulu?

Bersambung ke Bab 3

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!