Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tidak Lagi Sama
Setelah hari itu, aku mencoba meyakinkan diri…
bahwa apa yang aku lihat bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan.
Hanya seorang teman.
Hanya sebuah kebetulan.
Aku mengulang-ulang kalimat itu di kepalaku,
seolah dengan begitu, semuanya akan kembali terasa ringan.
Tapi kenyataannya, tidak sesederhana itu.
Hari-hari berikutnya justru semakin jelas memperlihatkan sesuatu
yang sebelumnya hanya aku rasakan samar-samar.
Raka mulai semakin jarang ada.
Bukan hilang sepenuhnya,
tapi tidak lagi seperti dulu.
Dia masih mengirim pesan.
Masih menanyakan hal-hal kecil.
Tapi kehadirannya… tidak lagi utuh.
“Aku lagi di luar,” tulisnya suatu sore.
Aku membaca pesan itu sambil duduk di depan kantor.
Tempat yang dulu sering menjadi titik temu kami.
“Sama siapa?” tanyaku, untuk pertama kalinya.
Ada jeda cukup lama sebelum dia membalas.
“Sama teman.”
Lagi-lagi… teman.
Kata yang semakin sering dia gunakan,
tapi semakin sulit aku percayai.
“Oh,” jawabku singkat.
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Tidak ingin terlihat seperti seseorang yang menuntut.
Padahal di dalam hati,
ada begitu banyak pertanyaan yang tidak pernah aku ucapkan.
Hari itu, aku kembali pulang sendiri.
Jalan yang sama.
Langkah yang sama.
Tapi perasaan yang sangat berbeda.
Dulu, aku berjalan sambil menunggu dia datang.
Sekarang, aku berjalan sambil mencoba menerima…
bahwa dia mungkin tidak akan datang lagi seperti dulu.
Beberapa hari kemudian, aku melihatnya lagi.
Kali ini bukan dari jauh.
Lebih dekat.
Dia sedang bersama seorang perempuan.
Duduk santai, berbicara, tertawa…
seperti yang dulu dia lakukan bersamaku.
Aku berhenti sejenak.
Tidak berniat mendekat,
tapi juga tidak bisa langsung pergi.
Ada perasaan aneh yang sulit aku jelaskan.
Bukan hanya cemburu.
Tapi seperti… kehilangan sesuatu
yang bahkan tidak pernah benar-benar aku miliki.
Aku akhirnya berjalan melewati mereka.
Dia sempat melihat ke arahku.
Tatapan kami bertemu beberapa detik.
Tapi tidak ada yang dia lakukan.
Tidak memanggilku.
Tidak juga menghampiri.
Seolah aku hanya seseorang yang kebetulan lewat.
Dan saat itu,
aku benar-benar merasakan sesuatu runtuh di dalam diriku.
Malamnya, seperti biasa, pesan darinya kembali muncul.
“Kamu udah di rumah?”
Aku menatap layar itu lama sekali.
Seolah tidak percaya…
bagaimana seseorang bisa bersikap begitu berbeda dalam waktu yang sama.
“Udah,” jawabku singkat.
“Hari ini aku capek banget,” lanjutnya.
Aku hampir tersenyum pahit membaca itu.
Capek…
dari menghabiskan waktu dengan orang lain?
Tapi tentu saja, aku tidak mengatakan itu.
“Istirahat aja,” balasku.
Percakapan itu berakhir begitu saja.
Tidak seperti dulu yang bisa panjang tanpa terasa.
Sekarang semuanya terasa singkat,
seperti sesuatu yang dipaksakan untuk tetap ada.
Hari demi hari, pola itu terus berulang.
Dia datang… lalu pergi lagi.
Memberi sedikit perhatian… lalu menghilang.
Dan aku… tetap di tempat yang sama.
Menunggu sesuatu yang semakin lama semakin tidak pasti.
Suatu malam, aku tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat semuanya semakin jelas.
Ponselnya berdering saat dia sedang bersamaku.
Dia melihat layar itu sekilas… lalu langsung mematikannya.
“Kenapa nggak diangkat?” tanyaku pelan.
Dia menggeleng.
“Nggak penting.”
Aku tidak langsung percaya.
Tapi aku juga tidak bertanya lagi.
Sampai beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering.
Kali ini, lebih lama.
Dia terlihat sedikit gelisah.
Tapi tetap tidak mengangkatnya.
Dan entah kenapa,
perasaan di dalam hatiku mulai tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan…
tapi aku tidak tahu apa.
Aku hanya duduk diam di sampingnya.
Tidak bertanya.
Tidak menuntut.
Tapi di dalam hati,
aku mulai menyadari satu hal yang tidak bisa aku abaikan lagi
dia tidak lagi jujur.
Dan mungkin…
yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan itu sendiri,
tapi bagaimana aku tetap memilih bertahan…
meskipun aku sudah mulai melihat semuanya dengan jelas.