Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah di Samudra Pasifik
Matahari terbenam di Sektor Tujuh dengan warna oranye yang tampak sedikit terlalu tajam, seolah-olah atmosfer kota tersebut masih menyimpan partikel energi sisa dari pertarungan beberapa hari lalu. Cahaya senja menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, memantul di kaca-kaca apartemen dan menciptakan bayangan panjang yang memenuhi jalanan.
Arthur berdiri di balkon apartemennya yang sempit. Di tangannya bukan lagi kotak susu stroberi, melainkan sebuah teropong mainan plastik yang ia beli dari toko kelontong. Tentu saja, ia tidak membutuhkan teropong itu untuk melihat apa pun. Indranya mampu memindai hingga ke lapisan eksosfer, namun menggunakan alat mainan adalah cara terbaik untuk meyakinkan Clara bahwa ia hanyalah bocah yang sedang terobsesi dengan astronomi.
Di ufuk barat, jauh melampaui cakrawala yang bisa dilihat mata manusia, Arthur merasakan sebuah denyutan. Itu bukan denyutan jantung, melainkan denyutan ruang-waktu. Sesuatu sedang "menekan" realitas dari sisi luar, seperti sebuah jari yang mencoba melubangi permukaan balon yang tegang.
"Jembatan," bisik Arthur pelan. "Mereka benar-benar mulai membangunnya."
Pesan yang ia kirimkan kepada Valerius bukan tanpa alasan. Koordinat di tengah Samudra Pasifik tersebut adalah titik di mana lapisan dimensi Bumi paling tipis. Di sana, arus laut berputar di atas palung yang sangat dalam, menciptakan anomali magnetik alami yang sempurna untuk menyembunyikan portal antar dimensi.
Jika para Architects berhasil menstabilkan jembatan itu, mereka tidak lagi membutuhkan utusan kecil seperti Kelabang Bencana atau Inquisitor. Mereka bisa mengirimkan armada perang lengkap yang mampu menghapus konsep kehidupan di planet ini dalam satu tarikan napas.
"Arthur! Makan malam sudah siap! Berhenti bermain dengan teropong bodoh itu dan masuklah!" teriak Clara dari dalam.
Arthur menarik napas panjang, aroma sup tomat yang sedikit gosong tercium olehnya. Kontras antara kiamat yang sedang mengintai di Pasifik dan sup tomat yang gosong di meja makannya adalah alasan utama mengapa ia mencintai kehidupan ini. Ketidakteraturan manusia adalah sesuatu yang sangat mewah bagi entitas yang terbiasa dengan keteraturan absolut alam semesta.
"Datang, Kak!" sahut Arthur sambil meletakkan teropongnya.
Sementara itu, di Markas Pusat GDC yang terletak di jantung Sektor Satu, Valerius sedang berada dalam kondisi yang sangat tidak tenang. Ia berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan peta topografi laut dalam Samudra Pasifik. Di sekelilingnya, puluhan operator radar dan perwira tinggi militer tampak bingung dengan perintah mendadak sang Pahlawan Peringkat Satu.
"Komandan, dengan segala hormat, mengirimkan armada penuh ke koordinat itu adalah pemborosan sumber daya," ujar Jenderal Marcus, seorang pria tua dengan medali yang memenuhi dadanya. "Tidak ada aktivitas monster di sana. Radar kita bersih. Bahkan tanda-tanda energi dari Architects pun nol."
Valerius tidak menoleh. Ia menatap titik koordinat yang dikirimkan Arthur. "Jenderal, kau mungkin percaya pada radar. Tapi aku percaya pada... instingku. Ada sesuatu yang sedang terbangun di sana. Sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang pernah kita hadapi."
Valerius tahu bahwa insting hanyalah kata ganti untuk perintah dari bocah kematian. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia sedang menjalankan tugas dari seorang anak kelas dua SD.
"Kirimkan Armada Kedelapan sekarang juga," perintah Valerius dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Siapkan kapal induk bertenaga fusi dan tiga skuadron pahlawan peringkat B sebagai pendukung. Aku ingin pengawasan 24 jam di titik itu. Jika ada riak sedikit pun di air, laporkan langsung kepadaku."
Para perwira saling bertukar pandang, namun kewibawaan Valerius sebagai simbol terkuat dunia membuat mereka tidak punya pilihan selain patuh. Di balik helm emasnya, Valerius menghela napas. Ia hanya berharap Arthur tahu apa yang sedang ia lakukan. Jika armada itu diserang dan ia tidak ada di sana, ia akan tamat.
Kembali ke kantor investigasi, Silas sedang duduk di meja kerjanya yang gelap. Di depannya, tumpukan berkas fisik berserakan sebuah anomali di zaman yang serba digital. Silas telah memutuskan untuk tidak menggunakan perangkat elektronik apa pun setelah kejadian kacamata sensorik nya yang meledak semalam.
Ia sedang menulis sesuatu di sebuah buku catatan kecil dengan pena tinta manual. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia mengingat tatapan Arthur di kantor kepala sekolah tadi pagi. Setiap kali ia mencoba memikirkan wajah Arthur, kepalanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum sebuah sistem pertahanan mental yang ditinggalkan Arthur di dalam ingatan Silas.
"Dia bukan manusia," tulis Silas dengan huruf-huruf yang bergetar. "Dia adalah penjara yang menampung sesuatu yang seharusnya tidak ada. Jika Valerius adalah cahaya, maka bocah ini adalah kegelapan yang menopang cahaya itu."
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Dua agen keamanan elit masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka mengenakan seragam khusus dengan logo pribadi Valerius.
"Tuan Silas," ucap salah satu agen dengan suara dingin. "Komandan Valerius ingin bertemu dengan Anda. Sekarang."
Silas menutup buku catatannya dengan cepat dan menyembunyikannya di balik laci terkunci. Ia tahu saat ini akan tiba. Ia tahu bahwa rasa ingin tahunya telah membawanya ke tepi jurang. Namun, anehnya, ia merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak perlu lagi menanggung rahasia ini sendirian.
"Aku mengerti," jawab Silas sambil berdiri. "Biarkan aku mengambil jas ku."
Ia mengikuti para agen itu menuju lift khusus. Di sepanjang koridor, ia melihat kesibukan yang luar biasa. GDC tampaknya sedang mempersiapkan sesuatu yang besar. Berita tentang pengerahan armada ke Pasifik sudah mulai menyebar di kalangan internal, dan itu hanya menambah ketegangan yang ada.
Saat lift membawanya ke puncak menara, Silas memikirkan tentang peringatan Arthur. Apakah ini saatnya matahari tidak lagi terbit bagiku? pikirnya. Namun, Silas bukan hanya seorang investigator; dia adalah seorang pencari kebenaran. Dan baginya, kebenaran tentang Arthur jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Keesokan paginya di sekolah, Arthur disambut oleh pengumuman yang tak terduga. Bu Hera berdiri di depan kelas dengan senyum yang dipaksakan, memegang selembar brosur berwarna cerah.
"Anak-anak, dengarkan semuanya!" ujar Bu Hera. "Pihak sekolah dan GDC baru saja menyetujui program Wisata Edukasi Pahlawan. Minggu depan, kelas kita akan melakukan perjalanan lapangan ke Sektor Empat untuk melihat secara langsung upaya pemulihan pasca bencana dan mengunjungi museum prestasi Komandan Valerius!"
Seluruh kelas bersorak kegirangan. Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk melihat lebih dekat dunia para pahlawan. Mia bahkan melompat dari kursinya karena terlalu bersemangat.
Namun, Arthur hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Sektor Empat? Tempat di mana ia baru saja menghancurkan tangan raksasa beberapa hari lalu? Mengunjungi lokasi bencana adalah ide terburuk bagi seseorang yang ingin melupakan bahwa dirinya baru saja menyelamatkan dunia.
"Ini pasti rencana Valerius," gumam Arthur pelan. "Dia pasti ingin menunjukkan ku kepada publik lagi atau sesuatu yang bodoh seperti itu."
Arthur menyadari bahwa perjalanannya untuk mencapai sesuatu dengan tenang akan sangat sulit jika dunia terus menerus mencoba menariknya ke pusat perhatian. Terlebih lagi, ia merasakan bahwa di Sektor Empat nanti, akan ada sisa-sisa energi dari dimensi lain yang mungkin bereaksi dengan kehadirannya.
"Arthur! Kau dengar itu?" Mia mengguncang bahunya. "Kita akan ke Sektor Empat! Siapa tahu kita bisa bertemu pahlawan sungguhan di sana, bukan cuma melihat Valerius dari jauh!"
Arthur hanya memberikan senyum paksa yang terlihat sangat menyedihkan. "Ya, Mia. Aku sangat... bersemangat. Sungguh."
Di dalam hatinya, Arthur mulai merencanakan sesuatu. Jika ia harus pergi ke lokasi bencana tersebut, ia harus memastikan bahwa tidak ada satu pun sensor yang aktif di sana. Ia harus menjadi bocah yang paling tidak terlihat di antara tiga puluh murid lainnya. Namun, dengan nasibnya yang selalu sial, ia tahu bahwa perjalanan sekolah ini tidak akan sesederhana kelihatannya.
Jauh di bawah samudra Pasifik, sebuah celah ungu mulai bercahaya redup di dasar palung. Ikan-ikan laut dalam yang biasanya tidak memiliki mata, tiba-tiba mati secara massal saat suhu air naik secara drastis dalam hitungan detik.
"Jembatan" itu belum selesai, tapi ia mulai menarik sesuatu dari sisi lain. Sesuatu yang lapar. Sesuatu yang tidak sabar untuk bertemu kembali dengan sang Sovereign.
Arthur, yang sedang duduk di bangkunya, tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. Ia melirik ke arah barat, meskipun terhalang oleh dinding beton sekolah.
"Cepat sekali," batin Arthur. "Tampaknya sup tomat Clara semalam adalah makanan tenang terakhirku untuk minggu ini."