Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi?
"Mamaaah!"
Di keheningan malam Jay terbangun dari tidur nya. Keringat memenuhi tubuhnya. Degup jantung nya berdetak begitu kencang. Nafas nya ngos-ngosan meraup udara dengan cara rakus.
"Mimpi ini lagi!" Jay bergumam dengan penuh keluhan.
Setelah sadar dari kecelakaan, terkadang dia selalu memimpikan kejadian naas itu kembali. Awalnya dia hanya mengira itu cuma mimpi biasa pasca mengalami hal buruk yang menimpa dirinya.
Namun, setelah beberapa waktu. Mimpi itu seperti potongan-potongan sebuah naskah yang terus berlanjut alur ceritanya.
Dan malam ini adalah kelanjutan cerita mimpi di malam sebelumnya. Dia melihat bayangan sosok yang mirip ibunya melayang memasuki ujung air terjun tempat mobil mereka terjatuh kala kecelakaan itu. Wajah ibu nya itu terlihat bersinar sambil memberikan senyuman yang sungguh merekah.
Setelah menenangkan diri sesaat, dia kembali berusaha memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur, karena saat melihat ponsel nya masih menunjukkan jam tiga dini hari.
***
Tok, tok, tok.
"Jay! Bangun! Udah pagi nih! Kamu nggak sekolah?" Ucap Aida setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Tak mendengar sahutan, Aida pun membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci itu. Seketika tubuh nya menegang melihat Jay dalam keadaan yang berantakan. Posisi nya pagi ini tak seperti pagi-pagi sebelum nya.
Pemuda itu hanya memakai celana pendek yang begitu minim. Tak hanya itu, celana pendek itu terlihat sedikit aneh. Seperti membentuk sebuah tenda. Dan di pucuk tenda itu terdapat cairan yang sangat dia kenali. Satu tangannya pun berada disana.
Posisi pemuda itu sedikit menyeleneh. Dengan tubuh menelentang, sementara kedua kakinya terbuka lebar.
Dengan sedikit canggung, Aida mendekati pemuda yang masih tertidur pulas itu. "Bangun, Jay! Udah pagi!" Ucap Aida lembut sambil menepuk-nepuk pelan bahu pemuda itu.
"Hengh!" Jay menggeliat kan tubuh nya sesaat. Merentang kan kedua tangan nya, dengan kesadarannya yang belum pulih seutuhnya. "Jam berapa sekarang, bi?" Tanya nya dengan suara parau, khas orang baru bangun tidur.
"Setengah tujuh! Buruan mandi. Sekalian mandi besar!" Perintah Aida. Ada rona malu terpancar diwajahnya kala mengatakan itu.
Jay langsung tersentak mendengar perkataan itu. Refleks dia langsung meraba alat nya yang berada di bawah sana.
"Kamu ini! Bibi masih disini lho! Mimpi apa sih kamu semalam? Jorok banget." Ucap Aida merenggut dengan menampol bahu Jay sedikit lebih keras.
Jay yang sudah sadar sepenuhnya hanya meringis mengusap bahunya. Kemudian terkekeh pelan sambil bangkit mendudukkan tubuh nya dengan menarik selimut.
Aida menatap Jay dengan perasaan campur aduk. 'Apa mungkin karena semalam ya?' fikir nya dalam hati, Merasa bersalah pada dirinya sendiri. Tragedi semalam itu benar-benar tak terduga sebelumnya. Tanpa berkata lagi, dia gegas melangkah keluar. Karena saat ini dia masih mengenakan pakaian nya yang semalam.
Jay yang masih didalam kamar itu pun bangkit perlahan. Dia berusaha berjalan tanpa menggunakan kruk lagi menuju kamar mandi. Walau masih terpincang-pincang, dia tetap semangat.
Jay keluar dari kamar setelah mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan ransel yang sudah berada di punggung nya. Suasana di ruang makan masih sama seperti kemaren pagi.
"Bi, aku pamit duluan, ya!" Ucap Jay sambil mengamit tangan Aida, menempel kan punggung tangan kanan nan halus itu ke dahinya.
"Kamu nggak sarapan dulu?" Tanya Aida lembut setelah Jay melepaskan tangan nya.
"Nggak, bi. Ntar di kantin sekolah saja." Balas Jay tak kalah lembut nya.
"Lho, kruk nya nggak kamu pake, Jay?" Tanya Aida kembali. Melihat keponakan nya itu tak lagi menggunakan alat bantu nya untuk berjalan.
Jay tersenyum lembut sambil menggeleng kan kepala nya. "Belajar pelan-pelan untuk tidak ketergantungan." Ucap nya sebelum melangkah kan kakinya menuju garasi.
Shiva, Shitta dan Shilla hanya menyimak percakapan itu. Tak berniat untuk ikut menyela. Menoleh pun tidak.
"Kalau gitu, hati-hati ya, bawa motor nya." Ucap Aida dengan prihatin. Dia masih bisa melihat Jay meringis kesakitan pada kaki kanan nya saat keponakan nya melangkah.
***
Hari-hari terus berlanjut. Motor sport Jay masih di pakai Tomi, sebab motor sahabat nya itu sekarang butuh perawatan di bengkel.
Jay sendiri saat ini sudah sangat nyaman mengendarai motor matic baru milik nya. Karena dia tak perlu menggunakan kaki untuk mengoperasikan motor tersebut.
Saat ini hari minggu, Jay berniat untuk pergi ke arah utara, tepatnya daerah lembah letak bangkai mobil keluarga nya yang sudah tak layak pakai itu, pasca kecelakaan.
Mobil keluarga itu masih di posisi yang sama. Semua bodynya reot, kacanya pecah. Tak pantas lagi untuk di perbaiki. Makanya dia sebagai pemilik yang masih selamat membiarkan bangkai mobil itu disana.
Dengan sedikit usaha, Jay akhirnya berada disana. Motor nya di parkirkan di pinggir jalan. Dia menuruni lembah dengan cara merangkak sambil berpegangan dengan apapun yang bisa di raihnya.
Jay baru menyadari, kawasan tempat mobil itu terjatuh, memang ada air terjun yang cukup tinggi. Sama seperti penampakan yang terus menghantui di mimpinya.
"Hey, Nak! Ngapain disini sendirian?" Tiba-tiba dari arah belakang Jay, terdengar suara seorang nenek-nenek mengapa nya. Nenek itu begitu renta, jalannya saja sudah membungkuk. Kalau tidak ditopang dengan sebuah tongkat, mungkin saja nenek itu sudah tersungkur.
Sontak Jay terkejut seketika melihat ada orang lain yang berada di tempat seperti ini. "Nggak apa-apa, Nek! Cuma mau cari sesuatu di mobil ini. Barang kali masih ada sesuatu yang bisa di gunakan." Kilah Jay setelah melihat nenek itu sekilas. Kemudian dia melihat dan mencoba membuka pintu mobil untuk memastikan sang nenek atas tujuan nya.
Nenek-nenek itu pun semakin mendekati Jay. "Apa kamu nggak merasa takut disini, nak?" Tanya nenek tersebut. Satu tangannya pun memegang bahu Jay. Sementara tangan nya yang lain masih memegang tongkat untuk menopang keseimbangan nya dalam berdiri.
Jay jadi sedikit merinding mendengar ucapan sang nenek. Dilihat nya motor matic nya yang terparkir di jalan, terlihat kecil di atas sana. Rupanya saat ini dia berada di lembah yang cukup rendah. Bisa di katakan disini adalah dasar jurang.
Dia tak menyangka telah berada di kedalaman seperti saat ini. Didesak rasa penasaran nya, dia mengutuk tindakan nya yang ceroboh ini. Bagaimana dia akan mendaki jalan yang terjal ini nantinya?
"Nggak apa-apa, nek. Lagian, sekarang masih siang, kan?" Jawab Jay berusaha menenangkan diri nya sendiri yang mulai sedikit bergetar karena peringatan sang nenek.
Nenek itu terkekeh pelan. Melihat pemuda yang sok berani seperti Jay ini. "Kamu nggak takut sama nenek?" Tanya nenek itu lagi dengan suara yang mulai berubah. Suara itu seperti suara monster yang pernah di lihat nya dalam televisi serial horor.
Jay makin bergetar mendengar pertanyaan sang nenek dengan suara yang begitu menyeramkan itu. Namun pandangannya masih mengamati isi dalam mobil. Berusaha mengabaikan nya.
Sekilas dari pantulan pecahan kaca mobil yang masih melekat di pintu, Jay melihat tubuh nenek itu tak seperti saat pertama kali dilihat nya tadi.
Jantung nya semakin berdegup kencang melihat perubahan itu. Di liriknya dengan sudut matanya pada tangan sang nenek yang menempel di bahunya.
Jemari itu terlihat tak biasa, kuku-kukunya begitu panjang. Berwarna hitam, bentuknya runcing disetiap ujungnya, seperti cakar elang.
Deg.
Dengan cepat Jay membalikkan badannya. Seketika itu juga, tubuh nya menegang. Melihat perubahan drastis pada nenek itu. Secara kasar, nenek itu sekarang begitu menyeramkan. Tubuh nya kini lebih tinggi, kira-kira tiga meteran. Mata nenek itu merah menyala, di kepalanya ada dua tanduk yang menonjol dengan elegan. Daun telinga nya panjang berbentuk lancip di bagian atas nya. dipunggung nya pun ada sayapnya.
Warna kulit nenek itu hitam legam, namun terlihat halus dan masih kencang. Tubuh bagian atas nya sedikit terekspos, memperlihatkan payu daranya yang hitam legam yang cukup besar dan samar-samar karena penutup bagian atas tubuh nya transparan, pu ting payu dara itu sedikit terlihat dan berwarna merah muda.
Tubuh bagian bawah nya hanya ditutupi selembar kain, bentuk nya persis seperti goni, juga berwarna hitam. Dibelakangnya terlihat ada ekor panjang yang bagian ujung nya seperti senjata berbentuk segitiga.
Glek.
Jay menelan salivanya, pandangan nya pun kembali di alihkan pada wajah nenek itu. Nenek itu tersenyum, menampilkan gigi nya yang menakutkan. Tak lama kemudian, lidah nya yang bercabang itu menjulur panjang menyentuh wajah nya. Membuat kesadaran Jay pun hilang seketika. Tanpa sempat berkata-kata, tubuh nya ambruk ke tanah.
*****