Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Teman atau Lebih?
Senin pagi, Rara kembali bekerja di RS Bunda dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdebar karena akan bertemu dr. Hanif dan berhadapan dengan Arkan secara profesional.
"Rara, kamu oke?" tanya Sisi saat melihat Rara mematung di depan ruang ganti.
"Aku oke," jawab Rara cepat sambil memakai jas perawat. Cuma kurang tidur.
"Dokter baru itu masih menyebalkan?" Sisi bertanya sambil merapikan kerah baju Rara.
"Ya, maksudku tidak." Jawab Rara gagap lalu menghela napas. Kami mulai cocok.
"Baguslah." Sisi tersenyum. "Dia memang keras, tapi dia bedah terbaik di sini."
"Aku tahu, jawab Rara pelan." Dia ingat bagaimana tangan Arkan terasa hangat saat menggenggamnya.
"Rara Wijaya." suara dingin itu terdengar. "Kamu telat dua menit."
Rara berbalik. Arkan berdiri di pintu dengan wajah datar. Namun, ada binar hangat di matanya yang hanya untuk Rara.
"Maaf, Dokter." Jawab Rara formal agar tidak tersenyum. Aku segera siap.
"Lima menit." Kata Arkan sambil melihat jam. Ruang operasi pertama sudah menunggu."
"Aku segera ke sana." Jawab Rara. Dia sempat mencuri pandang ke arah Arkan yang terlihat lebih lembut.
Setelah Arkan pergi, Sisi menghela napas. "Astaga, dia tetap dingin."
Rara mengangguk sambil tersenyum kecil. Dia tahu Arkan tidak sedingin itu. "Mungkin dia punya sisi lain yang belum kita tahu."
"Kamu berubah sikap ya." Sisi curiga. Ada yang aku tidak tahu?"
"Tidak!" Rara menjawab cepat dan segera keluar ruangan karena takut ketahuan.
Dua hari kemudian, Rara libur. Dia datang ke rumah Ny. Sumiati dengan tas perawat. Dia berpura-pura melakukan kunjungan rutin.
"Aku bisa." Gumam Rara sebelum mengetuk pintu.
Seorang wanita paruh baya dengan mata sembab membukakan pintu.
"Ya?" Tanya wanita itu dengan suara serak.
"Saya Rara, perawat RS Bunda." jawab Rara sambil menunjukkan ID. "Saya ingin memeriksa kondisi Ny. Sumiati."
"Ibuku sudah meninggal." Jawab wanita itu hampa.
"Apa?" Rara terkejut. "Saya tidak tahu, maafkan saya."
"Dokter Hanif bilang itu komplikasi operasi." jelas wanita itu sambil mengajak Rara masuk. "Tapi aku tidak percaya. Ibu sehat setelah operasi."
"Kapan Ny. Sumiati meninggal?" Tanya Rara cemas.
"Tiga hari setelah operasi." Tawab wanita itu lelah. "Dia mengeluh sakit kepala hebat, lalu tiba-tiba sesak napas."
"Apakah Ny. Sumiati minum obat tertentu?" Tanya Rara ragu.
"Ya, dokter Hanif memberi beberapa obat untuk cegah infeksi." Jawab wanita itu sambil mengusap air mata.
"Apakah obatnya masih ada?"
"Ada beberapa yang sisa." jawab wanita itu sambil mengambil kotak obat dari kamar. Aku tidak tega membuangnya.
Rara mengambil kotak itu dengan hati berdebar. Ini yang mereka cari.
"Boleh saya pinjam untuk dokumen rumah sakit?" Tanya Rara. "Saya akan mengembalikannya."
"Silakan, jawab wanita itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku."
"Saya akan bantu." Janji Rara. Dia merasa sudah mendapat petunjuk penting.
Begitu keluar rumah, Rara hendak menelepon Arkan. Namun, sebuah mobil hitam mendadak berhenti tepat di depannya.
"Perawat Wijaya," dr. Hanif keluar dari mobil dengan ekspresi datar. "Apa alasanmu berada di rumah keluarga Sumiati?"
Rara merasakan kepanikan merayap di dadanya, namun dia berusaha untuk tetap tenang. "Saya melakukan pemeriksaan rutin setelah operasi, Dokter."
"Tanpa izin dari dokter yang bertanggung jawab?" tatapan dr. Hanif tajam mengarah padanya. "Dan kenapa kamu membawa obat-obatan itu?"
"Saya..." Rara tersendat, tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Bersambung....