NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: GEMPA DI LEMBAH BELA DIRI

Suasana di Lembah Bela Diri pada hari itu terlihat sangat ramai dan meriah. Berbeda dengan hari-hari biasa, hari ini seolah menjadi hari besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni dan pengunjung lembah tersebut. Di sepanjang jalan utama yang lebar dan panjang, terlihat ribuan orang berkumpul, terdiri dari para pendekar muda, tetua aliran, hingga pengamat ilmu bela diri dari berbagai penjuru dunia. Mereka semua mengenakan pakaian yang rapi dan gagah, membawa senjata andalan masing-masing, dan wajah-wajah mereka terlihat penuh antusiasme serta rasa hormat yang mendalam.

Di bagian paling ujung jalan utama, terdapat sebuah alun-alun yang sangat luas dan datar, yang di tengahnya berdiri sebuah panggung kayu yang besar dan kokoh, tingginya mencapai lebih dari dua meter dari permukaan tanah. Panggung itu dihiasi dengan bendera-bendera berbagai warna dan lambang dari berbagai kelompok besar yang hadir, berkibar tertiup angin dengan gagah perkasa. Di sekeliling panggung tersebut, tempat duduk telah disusun rapi melingkar, diperuntukkan bagi para tetua dan pemimpin aliran yang memiliki kedudukan tinggi dan berpengaruh di dunia persilatan.

Hari ini adalah hari pembukaan Pertemuan Besar Bela Diri, sebuah ajang bergengsi yang diadakan sekali dalam setiap lima tahun sekali. Di sini, para ahli ilmu dari seluruh penjuru berkumpul bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk mengadu kemampuan, menunjukkan kekuatan aliran mereka, dan menentukan siapa yang layak disebut sebagai yang terkuat pada masa itu. Bagi banyak orang, kemenangan atau pengakuan di tempat ini sama berharganya dengan mendapatkan harta karun atau jabatan tinggi, karena nama mereka akan harum dan terdengar hingga ke pelosok negeri.

Namun, di balik kemeriahan dan suasana persaudaraan yang ditampilkan di permukaan, sebenarnya terselip banyak kepentingan, persaingan ketat, dan juga pengaruh besar dari kekuatan-kekuatan tersembunyi yang memegang kendali. Salah satunya dan yang paling dominan tentu saja adalah bayang-bayang kekuasaan dari Istana Surga Gelap. Meskipun mereka tidak secara langsung muncul dan memimpin acara ini, namun hampir separuh dari aliran-aliran besar yang hadir sebenarnya adalah bawahan, sekutu, atau setidaknya orang-orang yang takut dan tunduk pada kekuasaan mereka.

Di tempat duduk yang paling utama dan paling tinggi, terdapat beberapa sosok yang duduk dengan wajah tenang namun memancarkan aura kekuatan yang sangat dahsyat. Di antara mereka, yang paling menarik perhatian adalah seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah berwarna ungu keemasan, wajahnya tampak anggun namun memiliki tatapan mata yang tajam dan dingin. Ia adalah Wen Chang, salah satu dari delapan penasihat utama di Istana Surga Gelap yang dikirim secara khusus untuk mengawasi dan memastikan bahwa acara ini berjalan sesuai dengan skenario yang telah mereka atur sebelumnya.

Di sebelahnya duduk para pemimpin dari berbagai sekte besar, semuanya tampak hormat dan berusaha mengambil hati Wen Chang, menunjukkan betapa besarnya pengaruh yang dimiliki oleh Istana Surga Gelap di dunia persilatan saat ini.

"Semua sudah berjalan sesuai rankan, Tuan Wen Chang," bisik seorang pemimpin sekte yang berjenggot panjang dengan suara rendah. "Para peserta dan pendekar muda yang kita persiapkan sudah siap. Pemenang tahun ini pasti akan jatuh ke tangan orang-orang yang kita dukung, sehingga posisi kita akan semakin kuat dan tak tergoyahkan."

Wen Chang hanya tersenyum tipis dan mengangguk santai, namun matanya terus mengamati seluruh situasi di bawah sana dengan pandangan yang penuh perhitungan.

"Baguslah..." jawabnya pelan. "Pastikan segalanya berjalan lancar. Kami tidak ingin ada gangguan atau kejadian tak terduga yang bisa merusak suasana damai ini. Siapa pun yang berani membuat onar atau menentang aturan yang telah ditetapkan, harus tahu akibatnya seperti apa."

Di tengah keramaian dan hiruk pikuk itu, dua sosok manusia biasa berjalan masuk melewati gerbang utama lembah dengan tenang dan santai. Mereka tidak membawa kerumunan, tidak membawa pasukan, dan juga tidak mengenakan pakaian yang mencolok atau mewah. Hanya berpakaian sederhana, namun langkah mereka begitu tegap dan gagah, serta aura yang terpancar dari tubuh mereka begitu unik dan seimbang, membuat orang-orang di sekitar mereka yang memiliki kepekaan tenaga dalam tidak sengaja menoleh dan merasa ada sesuatu yang istimewa dari kedua orang asing itu.

Mereka tentu saja adalah Mo Fei dan Bai Yue.

"Rupanya kita datang di waktu yang tepat ya, Mo Fei," ujar Bai Yue sambil melihat sekeliling dengan wajah tenang namun matanya terus mencatat segala informasi yang ada. "Suasananya sangat meriah, tapi aku bisa merasakan ada banyak sekali aura kuat di sini. Dan juga... ada beberapa aura yang terasa sangat gelap dan tidak menyenangkan."

Mo Fei tersenyum tipis, matanya juga mengamati sekeliling dengan cermat menggunakan kemampuan mata emasnya yang kini semakin sempurna.

"Memang seperti itulah dunia ini, Bai Yue. Di mana ada banyak orang berkumpul, di situ ada kekuatan, dan di situ juga pasti ada kepentingan serta kejahatan yang bersembunyi. Lihatlah panggung besar di depan sana..." Ia menunjuk ke arah tengah alun-alun. "Itu akan menjadi tempat kita memulai segalanya. Kita tidak perlu mencari keributan, tapi jika keributan itu datang menghampiri kita, kita akan terima dengan senang hati."

Mereka berdua terus berjalan maju, menyusuri jalan utama menuju ke arah panggung utama. Karena mereka berdua terlihat asing dan tidak mengenakan lambang atau pakaian khas dari aliran manapun, banyak orang yang memandang mereka dengan tatapan penasaran, ada yang menghina, ada yang curiga, namun tidak ada yang berani bertanya atau menghalangi jalan secara langsung karena merasa ada sesuatu yang misterius dan berbahaya dari kedua orang itu.

Namun, tidak semua orang bisa menahan lidah dan kesombongan mereka.

Saat mereka berdua melewati sebuah kelompok besar yang terdiri dari puluhan pemuda berotot dan gagah yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, tiba-tiba salah satu dari mereka maju selangkah menghalangi jalan mereka dengan wajah sombong dan angkuh.

"Hei! Kalian berdua berhenti dulu!" seru pemuda itu dengan suara lantang dan keras, membuat beberapa orang di sekitarnya langsung menoleh ke arah sana. "Lihat-lihat jalan dong! Ini adalah wilayah khusus untuk anggota Sekte Api Merah! Orang biasa dan pengemis tidak boleh lewat sembarangan di sini! Cari jalan lain sana!"

Pemuda itu berbicara dengan nada yang sangat tinggi dan meremehkan, berharap bisa membuat kedua orang asing itu takut dan lari terbirit-birit, sehingga ia bisa pamer kekuatan dan gengsi di depan teman-temannya.

Teman-teman sekte lainnya pun langsung tertawa mengejek, menambah suasana yang makin memalukan bagi siapa pun yang ada di posisi Mo Fei dan Bai Yue saat ini.

Bai Yue sedikit mengernyitkan dahi, wajahnya berubah sedikit dingin melihat sikap yang begitu kasar dan tidak sopan itu. Ia sudah siap untuk mengajari pemuda itu sedikit sopan santun, namun tiba-tiba Mo Fei mengangkat tangannya sedikit memberi isyarat agar ia menahan diri.

Mo Fei menatap pemuda yang menghalangi jalannya itu dengan pandangan yang datar namun sangat tajam, seolah ia sedang menatap seekor semut yang berusaha menghalangi jalan sebuah kereta kencana.

"Minggir," ucap Mo Fei hanya dengan dua kata saja. Suaranya tidak keras, tidak meninggi, namun entah mengapa setiap orang yang mendengarnya merasakan getaran dingin yang aneh merambat di tulang belakang mereka. "Jalan ini milik umum, bukan milik siapa-siapa. Jangan bersikap seolah-olah kalianlah yang memiliki tempat ini hanya karena memakai seragam warna-warni itu. Itu hanya kain, bukan tanda kekuasaan sejati."

Ucapan Mo Fei itu sontak membuat suasana di sekitar sana menjadi hening sejenak, lalu meledak menjadi suara tawa yang lebih keras dan keras lagi.

"Wah, berani sekali ya mulutnya!" seru pemuda tadi dengan wajah memerah karena marah dan tersinggung. "Kalian berdua pasti orang yang tidak tahu diri ya? Berani sekali kalian menghina Sekte Api Merah! Tahukah kalian bahwa Sekte Api Merah adalah salah satu sekte pendukung utama dari Istana Surga Gelap? Kalian ingin hidup lama atau ingin mati muda hah?!"

Begitu mendengar nama 'Istana Surga Gelap' disebutkan, tatapan mata Mo Fei berubah seketika. Cahaya di matanya yang tadinya tenang kini berubah menjadi sedingin es dan se tajam pisau. Rasa benci dan tekad yang membara di dalam dadanya seakan bergetar mendengar nama musuh utama mereka disebutkan dengan nada sombong oleh orang rendahan seperti ini.

"Jadi kalian adalah anjing-anjing kecil dari Istana Surga Gelap ya..." bisik Mo Fei perlahan, namun kata-katanya terdengar sangat jelas dan menusuk ke telinga semua orang. "Pantas saja kelakuanmu sama seperti tuanmu yang asli. Sombong, kasar, dan suka menindas orang lemah."

"BRUTAL! BERANI KAU MENYebut KAMI ANJING?!" pemuda itu benar-benar hilang kendali. Dengan wajah bengis ia langsung mengangkat tangannya dan menyalurkan tenaga dalamnya yang cukup kuat, lalu menghantamkan telapak tangannya ke arah dada Mo Fei dengan kekuatan penuh. "MATILAH KAU!!"

Semua orang yang melihat itu mengira Mo Fei pasti akan terpental jauh atau bahkan tewas seketika karena kekuatan hantaman itu memang cukup dahsyat untuk ukuran pendekar muda.

Namun... apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan semua orang.

Mo Fei tidak bergerak mundur, tidak juga menangkis dengan tangan. Ia hanya berdiri diam di tempatnya, dan saat tangan besar pemuda itu hampir menyentuh dadanya, tiba-tiba sebuah lapisan cahaya keemasan yang sangat tipis namun padat muncul melindungi tubuhnya secara otomatis.

DORRR!!

Suara hantaman terdengar keras seperti guntur, namun yang terjadi bukanlah Mo Fei yang terlempar, melainkan pemuda Sekte Api Merah itu yang berteriak kesakitan! Ia terpental mundur sejauh lebih dari sepuluh langkah, tangannya gemetar hebat, dan mulutnya memuntahkan darah segar! Wajahnya pucat pasi menahan rasa sakit yang luar biasa seolah baru saja memukul sebuah gunung batu yang keras dan panas.

"Kau... kau... siapa kau sebenarnya?!" seru pemuda itu dengan suara terbata-bata dan penuh ketakutan, ia tidak menyangka bahwa orang yang terlihat biasa saja ini memiliki pertahanan yang sedemikian rupa hingga bisa memantulkan serangannya sendiri dengan begitu dahsyat.

Mo Fei tidak menjawab, ia hanya melangkah maju selangkah, dan seketika itu juga tekanan berat yang luar biasa besarnya terpancar keluar dari tubuhnya. Tekanan itu bukan hanya ditujukan pada pemuda itu saja, tapi menyebar ke seluruh kelompok Sekte Api Merah dan bahkan orang-orang di sekitarnya!

Ratusan orang di sana seketika merasa seolah dada mereka diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat, napas mereka menjadi sesak, kaki mereka gemetar, dan mereka tidak sanggup lagi berdiri tegak! Rasa takut yang murni dan alamiah muncul di hati mereka, seolah mereka sedang berdiri bukan di hadapan manusia biasa, melainkan di hadapan seekor naga purba yang sedang marah besar!

"Karena kalian adalah bawahan dari Istana Surga Gelap..." ujar Mo Fei perlahan namun suaranya bergema jelas di telinga semua orang, "Maka mulai saat ini, kalian musuh bagiku. Beritahu pada tuanmu di sana... bahwa orang yang mereka cari, orang yang mereka takuti, dan orang yang akan menjadi akhir dari kekuasaan mereka, sudah datang. Aku Mo Fei, dan inilah awal dari kehancuran kalian!"

Setelah mengucapkan kalimat yang penuh tantangan dan wibawa itu, Mo Fei dan Bai Yue pun kembali berjalan maju melewati kelompok orang-orang yang kini sudah terdiam kaku dan ketakutan setengah mati itu. Tidak ada satu pun yang berani bergerak, tidak ada yang berani menatap wajah mereka, dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun saat kedua sosok itu lewat di hadapan mereka.

Kejadian singkat namun sangat menggetarkan itu secepat kilat menyebar ke seluruh penjuru lembah. Gemanya bahkan sampai terdengar hingga ke panggung utama tempat para tetua dan Wen Chang duduk.

Di atas panggung utama, Wen Chang yang tadinya duduk santai tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan sedikit terkejut. Ia menoleh ke arah sumber gangguan itu, dan ia bisa merasakan aura dua kekuatan yang sangat unik, sangat kuat, dan yang paling membuatnya waspada... aura itu sangat murni dan sangat membenci kejahatan!

"Oh? Ada mainan baru yang menarik rupanya..." gumam Wen Chang di dalam hati, sudut bibirnya tersenyum miring namun matanya memancarkan kilatan bahaya. "Mo Fei ya... Nama yang mulai sering terdengar belakangan ini. Jadi kau yang berani membuat keributan di sini dan menantang kami ya... Bagus, sangat bagus. Mari kita lihat seberapa besar keberanian dan kekuatan yang kau miliki ini."

Suasana di Lembah Bela Diri yang tadinya meriah dan tenang, kini berubah menjadi tegang dan penuh ketegangan. Badai besar baru saja mulai terbentuk, dan pertarungan untuk menentukan takdir dunia pun resmi dimulai dari tempat ini.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!