NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KEPULANGAN SANG NAGA

Langit di atas kompleks Candi Muaro Jambi mendadak berubah warna menjadi kelabu pekat, bukan karena mendung, melainkan karena pusaran energi yang ditarik oleh Arka. WREEEEEUMMM...

Di tangannya, kotak kayu jati berisi Prasasti Air Abadi bergetar hebat, menyalurkan cairan bening yang meresap langsung ke pori-pori kulit Arka. SREEEET...

Arka menghembuskan napas panjang. FIIIIUUUU... Udara yang keluar dari mulutnya berupa uap dingin yang membekukan dedaunan di sekitarnya.

KRETEK... KRETEK... Luka bakar akibat gas termobarik Monas dan luka dalam dari The Liquidator kini sirna, menyisakan kulit yang lebih padat dan otot yang lebih efisien.

"Siska, pegang bahuku," perintah Arka. Suaranya bukan lagi suara manusia yang lelah, melainkan suara yang beresonansi dengan tanah dan air di bawah kaki mereka.

Siska, yang masih gemetar melihat sisa-sisa pertempuran ghaib tadi, segera menurut. "Arka... apa yang mau kau lakukan? Kita tidak punya kendaraan, dan pelabuhan pasti sudah dijaga ketat."

Arka menatap ke arah laut lepas yang memisahkan Sumatera dan Jawa. "Kita tidak butuh kendaraan. Alam ini adalah jalanku."

Arka menghujamkan Keris Kyai Sangga Buwana ke permukaan kolam Telago Rajo. JLEB!

“Aji Bayu Bajra: Arus Nadi Nusantara!” BZZZZZZZT! DHUARRRR!

Seketika, air kolam itu berputar membentuk pusaran raksasa. Angin menderu kencang, menciptakan koridor udara yang transparan di tengah hutan Jambi.

Arka menggunakan kombinasi 15% Elemen Udara sebagai pendorong dan 25% Elemen Air sebagai pelicin gesekan udara.

WUSH!

Tubuh mereka melesat ke langit, melintasi pepohonan dengan kecepatan yang melampaui jet tempur paling canggih sekalipun. BOOOMM!

Mereka bergerak di dalam "gelembung" ruang yang diciptakan Arka, membuat mereka tidak terkena tekanan udara yang mematikan.

Ini adalah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah memahami Sangkan Paraning Dumadi, asal dan tujuan penciptaan.

***

DI KOTA BATU, JAWA TIMUR.

Kondisi di dalam safe house intelijen militer semakin kacau. Bau belerang dan bunga kamboja busuk memenuhi ruangan.

Raksasa bertato Banaspati itu masih terjepit di rekahan lantai yang diciptakan Dafa, namun ia tidak menyerah.

"Anak haram... kau pikir hanya ini kemampuan Black Order?!" raung si raksasa.

Ia memejamkan mata, lalu membisikkan mantra terkutuk. Seketika, tato di dadanya menyala merah darah.

HUUUUUU... (Suara api Banaspati yang berkobar)

Sosok roh api Banaspati keluar dari kulitnya, bermanifestasi menjadi bola api raksasa yang melayang di tengah ruangan. Suhu udara melonjak drastis hingga tirai dan PRANG! PRANG! (Kaca jendela pecah karena panas).

Reyna terbatuk karena asap. UHUK... UHUUKKK... Ia melihat Dafa mulai pucat. Anak itu memang punya kekuatan besar, tapi fisiknya masih anak kecil. Mengeluarkan Resonansi Bumi tadi telah menguras banyak energinya.

"Dafa! Kembali ke belakang Tante!" SRET! SRET! Reyna menerjang maju, menggunakan kedua keris patrem-nya untuk menangkis lidah api yang menjalar.

HAAH... HAAH... "Tante... panas..." bisik Dafa. Keringat dingin mengucur di dahinya.

Si raksasa tertawa puas melihat Dafa melemah. "Tangkap anak itu! Hidup atau mati!" perintahnya pada dua pria bermata merah di belakangnya.

WUSSHHH!!

Kedua pria itu melesat melewati rekahan lantai. DUM! Reyna mencoba menghalau, namun bola api Banaspati menghantamnya tepat di bahu kanan, membuatnya terpental menabrak lemari senjata hingga hancur. BRAK!

"Tante Reyna!" teriak Dafa.

GRRRR... KREK!  Salah satu pria bermata merah mencekik leher kecil Dafa, mengangkatnya ke udara. "Kau adalah kunci persembahan untuk Tuan Rendra, Bocah."

Dafa meronta, namun cengkeraman pria itu dilapisi ilmu Kalingga yang mematikan saraf. Saat harapan seolah sirna, Dafa memejamkan matanya. Ia tidak menangis. Ia hanya membatin satu nama.

“Papa... tolong...”

Di atas langit Selat Sunda, Arka yang sedang melesat tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. DEG!  Ia merasakan "teriakan" sukma Dafa. Jantungnya berdegup seperti genderang perang.

"Dafa dalam bahaya!" geram Arka.

ZING! Amarah Arka meledak. Tekanan energinya membuat gelembung pelindungnya mendadak berwarna biru gelap bercampur emas. WHIIIIII... BOOOOM!

Ia tidak lagi peduli pada penyamaran. Ia menarik seluruh energi dari arus laut di bawahnya.SPLASH!  "Siska, tahan napasmu! Kita akan melompat lewat jalur bawah tanah!"

Arka menukik tajam ke arah pesisir utara Jawa. Namun, sebelum ia menyentuh tanah Jawa, sebuah penghalang ghaib berwarna ungu tua mendadak muncul di angkasa, menghalangi jalannya. VREEEEEE...

"Siapa?!" Arka berteriak, suaranya menggelegar di udara.

Sesosok pria paruh baya mengenakan jubah sutra hitam dengan motif naga perak muncul, melayang di atas awan. Pria itu memegang sebuah tasbih dari tulang harimau.

Di belakangnya, berdiri dua belas bayangan hitam yang membawa tombak panjang. Ini adalah Sang Kurator Agung, petinggi The Sovereign wilayah Asia yang lebih kuat dari Madam V.

"Arka Nirwana, kau dilarang menginjakkan kaki di tanah Jawa sampai proses transisi kekuasaan selesai," ucap Sang Kurator dengan nada tenang namun mematikan.

"Kembalilah ke Sumatera, atau kami akan meratakan Kota Batu malam ini juga."

Arka menatap pria itu dengan pandangan benci yang mendalam. "Kalian bicara soal aturan di tanah leluhurku? Kalian bicara soal larangan di depan pewaris segel?!"

Arka melepaskan Siska, membiarkannya melayang di dalam gelembung air pelindung yang ia ciptakan.

Ia sendiri maju ke depan, memegang Keris Kyai Sangga Buwana yang kini panjang cahayanya mencapai tiga meter, membentuk pedang cahaya hijau yang luar biasa besar.

"Persetan dengan The Sovereign! Persetan dengan Black Order!" WRAAAAAAARRRR!

Arka melakukan gerakan menebas yang sangat lebar. Segel Bumi 20% dan Elemen Udara 15% menyatu membentuk teknik baru: Tebasan Patahan Benua.

KRAKKKK!!!!(Suara barrier ghaib yang hancur seperti kaca raksasa).

Penghalang ungu itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang dipukul palu besi. Sang Kurator Agung terbelalak. Ia tidak menyangka Arka punya kekuatan untuk menghancurkan barrier tingkat dewa dalam satu serangan.

"Berhenti, Arka! Jika kau lewat, kau akan memicu perang antara dunia nyata dan ghaib!" teriak Sang Kurator sambil melemparkan tasbihnya yang berubah menjadi rantai-rantai besi panas yang mengincar anggota tubuh Arka.

Arka tidak berhenti. ZAP! Arka melesat melewatinya seperti kilat biru. Rantai-rantai itu hanya mengenai bayangan udara yang ditinggalkan Arka.

"Biarkan perang itu terjadi! Karena akulah badainya!"

***

BALIK KE RUMAH AMAN DI BATU

Pria bermata merah yang mencekik Dafa tiba-tiba merasakan suhu di ruangan itu turun drastis secara mendadak. Air di dalam gelas di atas meja mendadak membeku, TING!  Lalu meledak. PYARRRR!

"Apa yang terjadi?!" si raksasa berteriak panik.

Tiba-tiba, atap rumah aman itu hancur berantakan. BRAKKKKKK!  Bukan karena ledakan, tapi karena tekanan udara yang begitu besar hingga beton-beton itu terlempar ke samping seperti kertas.

DHUMMMMMMMMM!

Sesosok pria mendarat di tengah ruangan dengan dentuman yang menggetarkan seluruh kompleks perumahan. Tanah di sekitar titik pendaratannya retak membentuk pola naga.

Debu mengepul tebal. FIIIIUUU...  Saat debu itu tersingkap, tampak Arka berdiri di sana. Matanya menyala biru laut, dan dari punggungnya keluar uap panas yang membara. DZZZT... DZZZT...

Ia menggendong Siska di satu tangan, dan memegang keris hijau di tangan lainnya.

Pria yang mencekik Dafa gemetar. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Seluruh tubuhnya terasa seperti ditekan oleh gunung yang sangat berat.

Arka menatap pria itu. Hanya menatap.

"Lepaskan... anakku," suara Arka bergetar rendah. VREEEEUMM... (Frekuensi yang membuat telinga musuh berdarah).

"Ba... bagaimana kau bisa sampai di sini dalam sekejap?!"

Si raksasa mencoba berdiri. KREEEK! Tiba-tiba, pilar es muncul dari bawah lantai dan menghantam kakinya. BRAK! JLEB!

"Arghhhhhhh!!!!" raungan kesakitan memenuhi ruangan. KRETEK! (Suara tulang yang hancur menjadi bubur).

Arka berjalan tenang.TAK... TAK... Setiap langkah membuat lantai membeku. KRETEK...

"Aku bilang... LEPASKAN!" Arka menghentakkan jari. WUSH!

DUAAAGGGHHH!  Sebuah tekanan udara yang tak terlihat menghantam pria bermata merah itu hingga tubuhnya terpental menembus tiga dinding rumah. BLAM! BLAM! BLAM!  Tubuhnya hancur di jalanan aspal.

Dafa jatuh, namun Arka segera menangkapnya dengan lembut. SRET.  Seluruh aura mengerikan Arka mendadak hilang saat ia menyentuh anaknya.

"Papa...?" Dafa berbisik lemah.

"Papa di sini, Dafa. Tidurlah," Arka mencium dahi anaknya.

Arka menyerahkan Dafa ke pelukan Reyna yang merangkak mendekat. "Rey, jaga mereka berdua. Siska, tetap di samping Reyna."

Arka berdiri kembali. Ia menatap si raksasa dan sisa-sisa anggota Black Order yang masih hidup.

Ia melangkah keluar ke halaman rumah yang kini sudah dikepung oleh ratusan agen Black Order dan tentara bayaran The Sovereign yang baru saja tiba.

Hujan mulai turun dengan deras di Kota Batu. Petir menyambar-nyambar di puncak Gunung Panderman. BLAARRR... BLAARRR...

Di bawah guyuran hujan, Arka berdiri sendirian menghadapi ratusan musuh. Ia membuka kemejanya yang sudah hancur, memperlihatkan Tujuh Segel Hitam di punggungnya.

Tiga dari tujuh segel itu kini berpendar terang, cokelat bumi, hijau udara, dan biru air.

"Kalian datang ke kotaku... mengancam keluargaku..." Arka mengangkat kerisnya tinggi-tinggi ke arah langit. CRAAAAAAAAKKKKKKK!!!!!

Petir raksasa menyambar bilah keris itu, menyalurkan jutaan volt listrik ke tubuh Arka. BZZZZZZZZTTT!  Arka tidak terbakar; ia justru menyerap kilat itu.

"Hari ini, aku akan menunjukkan pada kalian... kenapa nenek moyang kita menyebut tanah ini sebagai Paku Bumi Dunia."

ROOOOOOOOAAAAARRRRRRRR! (Raungan Arka bersahutan dengan guntur yang membelah langit Batu).

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!