"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: SERPIHAN MASA LALU YANG TERTINGGAL
Keheningan di kediaman Lynn pagi ini terasa memuakkan. Tidak ada lagi suara tawa manja Elysia atau denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal. Setelah insiden di lobi kantor kemarin, reputasi keluarga Lynn jatuh ke titik terendah dalam sejarah. Berita tentang "Putri Kandung Lynn yang Melakukan Penipuan Publik" menjadi santapan empuk media massa.
Elyas Lynn mengurung diri di ruang kerjanya, sementara Anora terus menangis di kamar, merasa terkhianati oleh darah daging yang baru saja ia puja-puja. Kehancuran itu nyata, dan pelakunya adalah keserakahan yang mereka bawa sendiri ke dalam rumah.
Nerina melangkah menyusuri lorong asrama pelayan di bagian belakang mansion. Tempat ini jauh dari kemewahan bangunan utama, namun terasa lebih jujur. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu sederhana—kamar kepala pelayan, kamar Ergino.
Sejak pengakuan Ergino di perpustakaan semalam, Nerina tidak bisa tidur. Pertanyaan demi pertanyaan menghujam kepalanya. Ia ingin bicara, namun pagi ini Ergino menghilang dari pandangannya dengan alasan harus mengurus "sampah" sisa kemarin.
Nerina mencoba memutar kenop pintu. Tidak dikunci.
Ia masuk perlahan. Kamar itu sangat rapi, hampir terlihat seperti tidak berpenghuni. Hanya ada tempat tidur, sebuah lemari kecil, dan meja kayu di sudut ruangan. Namun, sebuah benda di atas meja segera menarik perhatiannya.
Sebuah kotak musik kayu berwarna cokelat tua yang sudah kusam.
Jantung Nerina berdegup kencang. Ia melangkah mendekat, jemarinya gemetar saat menyentuh ukiran bunga mawar di tutup kotak itu. Ia memutar kunci kecil di sampingnya.
Ting... ting... ting...
Alunan nada Lullaby yang lembut dan sedikit sumbang karena usia mulai memenuhi ruangan. Nerina menutup mulutnya dengan tangan. Ia mengenal nada ini. Ia mengenal kotak musik ini. Ini adalah satu-satunya benda yang ia dekap erat setiap malam di panti asuhan sebelum ia diadopsi oleh keluarga Lynn. Benda yang katanya hilang saat ia pindah ke mansion ini belasan tahun lalu.
Nerina membalikkan kotak itu dengan tangan yang kaku. Di bagian bawah, di atas kayu yang sudah mulai lapuk, terdapat goresan tangan seorang anak kecil: Huruf 'N' yang besar dan miring.
Dan tepat di sampingnya, sebuah cap stempel berwarna ungu pudar yang nyaris hilang, namun masih terbaca: "Panti Asuhan Kasih Mulia".
"Bagaimana mungkin..." bisik Nerina, air matanya jatuh tepat di atas stempel itu.
"Kotak itu adalah satu-satunya barang yang Anda tangisi saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, Nona."
Nerina tersentak dan berbalik. Ergino berdiri di ambang pintu. Ia tidak lagi memakai seragam pelayan, melainkan jaket kulit hitam yang membuatnya tampak sangat maskulin dan berbahaya. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen, namun matanya hanya tertuju pada kotak musik di tangan Nerina.
"Gino... kenapa benda ini ada padamu?" suara Nerina pecah. "Benda ini hilang sepuluh tahun lalu. Pengasuh bilang benda ini terjatuh di jalan saat aku pindah."
Ergino masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia mendekati Nerina, namun kali ini ia tidak membungkuk. Ia berdiri tegak, menatap Nerina dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan dan kepahitan.
"Benda itu tidak hilang, Nerina," ujar Ergino lembut. "Seseorang di keluarga Lynn sengaja membuangnya ke tempat sampah karena menganggapnya sebagai barang rongsokan panti asuhan yang tidak layak berada di mansion ini. Aku... aku menemukannya di tumpukan sampah malam itu."
"Kamu menemukannya?" Nerina mengerutkan kening. "Sepuluh tahun lalu? Tapi kamu baru bekerja di sini setahun terakhir!"
Ergino terdiam sejenak, lalu ia mengambil kotak musik itu dari tangan Nerina. Ia mengusap huruf 'N' di bawahnya dengan ibu jarinya. "Di kehidupan ini, aku memang baru bekerja setahun. Tapi di kehidupan yang telah hancur itu, aku adalah anak laki-laki yang selalu mengawasimu dari balik gerbang panti asuhan. Anak laki-laki yang kamu beri separuh rotimu saat aku kelaparan."
Nerina membelalak. Ingatan samar tentang seorang anak laki-laki pendiam di balik pagar besi panti asuhan muncul di benaknya. Anak yang selalu babak belur, yang tidak pernah bicara pada siapa pun kecuali padanya.
"Anak kecil itu... kamu?"
"Aku menghabiskan seluruh hidupku di masa lalu untuk mengejarmu, Nerina. Dari anak jalanan, menjadi bayangan di dunia bawah, hingga menjadi orang yang bisa berdiri di belakangmu. Tapi aku selalu terlambat," Ergino meletakkan kotak musik itu kembali ke meja. "Saat aku akhirnya punya kekuatan untuk melindungimu, kamu sudah menjadi milik Andrew. Dan saat aku mencoba menarikmu keluar, kamu sudah hancur."
Ergino meraih tangan Nerina, menatap bekas luka di punggung tangannya sendiri. "Kotak musik ini adalah pengingat bagiku. Bahwa ada hal-hal berharga yang tidak boleh dibuang. Bahwa ada seseorang yang harus aku selamatkan, tidak peduli berapa kali aku harus mati dan kembali ke titik nol."
Nerina menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa pelayannya, pelindungnya, adalah seseorang yang sudah mencintainya bahkan sebelum ia mengenal kata cinta itu sendiri.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?"
"Karena aku ingin kamu mencintai dirimu sendiri dulu sebelum kamu tahu siapa aku, Nerina," bisik Ergino. Ia menarik Nerina ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati wanita itu yang hancur. "Sekarang, keluarga Lynn sudah mulai runtuh. Andrew sudah pergi. Dan sebentar lagi, tikus kecil bernama Elysia akan benar-benar terpojok."
Nerina menyandarkan kepalanya di dada Ergino, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil namun kuat. "Apa langkah kita selanjutnya, Gino?"
"Ayahmu sedang di ambang kebangkrutan karena saham yang terus merosot," Ergino melepaskan pelukannya dan menatap mata Nerina dengan tajam. "Ini saatnya. Kita akan membeli saham-saham yang dilepas pasar secara diam-diam. Kita akan mengambil alih Lynn Tower atas namamu sendiri. Bukan sebagai anak angkat, tapi sebagai pemilik tunggal."
Nerina tersenyum di balik air matanya. "Dan Elysia?"
"Dia sedang menyiapkan rencana pelarian dengan sisa uang yang dia curi," Ergino memberikan seringai tipis. "Tapi dia tidak tahu, bahwa setiap jalan keluar sudah aku tutup. Dia akan menghadapi pengadilan bukan sebagai putri kandung, tapi sebagai kriminal."
Nerina menatap kotak musik di meja, lalu menatap Ergino. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Namun dengan kotak musik tua dan pria di depannya, ia merasa takdir kali ini tidak akan pernah berani mengkhianatinya lagi.
"Gino," panggil Nerina.
"Ya, Nona?"
"Terima kasih sudah menyimpan kotak musik itu... dan terima kasih sudah mencariku."
Ergino mencium kening Nerina dengan penuh pengabdian. "Aku akan selalu mencarimu, Nerina. Bahkan jika aku harus membakar seluruh dunia ini untuk menemukanmu kembali."