NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: GANTI KULIT

Langkah kaki Arka terasa lebih ringan saat meninggalkan bursa batu mulia. Di saku celana jinnya yang sudah mulai robek di bagian lutut, terselip sebuah kartu nama berwarna hitam dop dengan tulisan emas yang elegan: Clarissa – CEO Permata Nusantara. Di tangan satunya, dia menggenggam ponsel murahnya yang layarnya retak seribu, namun menampilkan notifikasi yang bisa membuat jantung siapapun copot.

Transfer Masuk: Rp500.000.000,00.

Arka berhenti sejenak di bawah halte bus yang mulai sepi. Dia menatap angka nol yang berderet di layar ponselnya itu selama hampir satu menit. Lima ratus juta. Bagi orang seperti Pak Broto atau Clarissa, mungkin itu hanya harga satu jam tangan atau tas mewah. Tapi bagi Arka, yang sebulan lalu harus membagi satu bungkus mi instan untuk dua hari, uang ini adalah nafas kehidupan. Ini adalah peluru pertama untuk senapan balas dendamnya.

"Dunia beneran lucu ya," gumam Arka sambil terkekeh sinis. "Kemarin aku diusir kayak anjing karena telat bayar kos sejuta. Sekarang, aku bisa beli gedung kos itu sekalian sama harga diri pemiliknya."

Dia memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi hangat di mata kanannya yang perlahan mulai mereda. Kekuatan ini bukan mimpi. Mata Ilahi ini nyata. Dan dia bersumpah tidak akan menyia-nyiakannya.

Tujuannya sekarang jelas: Grand Wijaya Mall.

Itu adalah pusat perbelanjaan paling elite di pusat kota. Tempat di mana lantai marmernya selalu berkilau dan bau parfum mahal tercium bahkan dari jarak sepuluh meter sebelum pintu masuk. Dulu, Arka hanya berani melewati gedung itu dengan motor bututnya saat mengantar pesanan ojek online. Dia ingat betul bagaimana satpam di sana sering menatapnya dengan tatapan "Jangan-lama-lama-di-sini-kamu-bikin-kotor-pemandangan".

Begitu turun dari taksi—yang sopirnya sempat menatapnya curiga karena takut Arka tidak bisa bayar—Arka melangkah masuk. AC dingin langsung menyergap kulitnya yang masih agak lembap karena keringat dan sisa gerimis.

Di dalam mal, orang-orang berpakaian rapi, membawa tas belanja dari merk-merk internasional yang harganya selangit. Arka, dengan kaos oblong yang warnanya sudah memudar dan sepatu kets yang solnya hampir lepas, terlihat seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih.

Dia berjalan menuju sebuah butik bernama Vangogh Heritage. Itu adalah butik khusus pria yang hanya melayani pelanggan kelas atas. Jas-jas yang dipajang di etalase depannya bukan cuma pakaian, tapi karya seni.

Baru saja Arka menginjakkan kaki di atas karpet beludru merah butik itu, seorang pelayan pria berambut klimis dengan setelan jas abu-abu langsung berdiri menghalangi jalannya. Namanya, menurut papan nama di dadanya, adalah Fandi.

Fandi menatap Arka dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Dia tidak menyapa "Selamat siang" atau "Ada yang bisa dibantu?". Dia malah bersedekap.

"Mas, salah alamat ya? Toko baju murah atau obralan ada di lantai dasar, deket area parkir motor. Di sini khusus barang high-end," ucap Fandi dengan nada meremehkan yang sangat kental.

Arka tidak langsung marah. Dia malah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tenang tapi mematikan. "Saya nggak salah alamat. Saya mau cari jas."

Fandi mendengus, hampir tertawa mengejek. "Cari jas? Mas tahu nggak jas paling murah di sini harganya berapa? Tiga puluh juta. Itu mungkin gaji Mas selama dua tahun jadi kurir. Jadi tolong, jangan buang-buang waktu saya. Saya lagi nunggu pelanggan VIP."

"Pelanggan VIP? Oh, maksudmu orang yang punya uang?" Arka melangkah maju satu tindak, membuat Fandi refleks mundur karena merasa terintimidasi oleh sorot mata Arka yang tiba-tiba menajam.

"Kurang ajar ya kamu! Keluar sekarang, atau saya panggil sekuriti!" teriak Fandi mulai emosi.

Keributan kecil itu menarik perhatian beberapa pelanggan lain di dalam butik. Seorang wanita paruh baya yang sedang melihat dasi sutra menatap Arka dengan pandangan menghina, seolah-olah keberadaan Arka di sana bisa menularkan kemiskinan.

Tepat saat itu, Arka mengaktifkan Mata Ilahi-nya. Dia tidak mencari giok sekarang, dia mencari kelemahan. Dia melihat ke arah rak jas di belakang Fandi. Matanya menembus lapisan kain, melihat struktur jahitan, dan tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik pada sebuah jas berwarna biru gelap (navy) yang dipajang di manekin utama.

"Jas navy di sana itu... harganya delapan puluh juta, kan?" tanya Arka tiba-tiba.

Fandi melotot. "Iya, dan itu jas limited edition karya desainer Italia. Jangan bilang kamu mau beli itu. Nyentuh aja kamu nggak boleh!"

"Lucu ya," Arka terkekeh. "Delapan puluh juta untuk jas yang jahitannya di ketiak kiri sedikit renggang dan kancing keduanya hampir lepas karena kesalahan produksi? Vangogh Heritage ternyata jualan barang cacat?"

Wajah Fandi langsung pucat pasi. "Ngaco kamu! Jangan asal bicara ya!"

"Cek aja sendiri," tantang Arka.

Mendengar itu, manajer butik, seorang pria paruh baya bernama Pak Hendra, keluar dari ruangannya. Dia sudah mendengar perdebatan itu sejak tadi. Dia segera mendekati manekin yang dimaksud Arka. Dengan teliti, dia memeriksa jahitan di bawah lengan kiri. Matanya membelalak. Benar. Ada sedikit perenggangan benang yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, dan kancingnya memang sedikit goyang.

Pak Hendra menatap Arka dengan pandangan berubah drastis. Dari mana pemuda kumal ini tahu detail sekecil itu dari jarak tiga meter?

"Mas... bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Pak Hendra dengan nada yang jauh lebih sopan.

Arka tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas, dan menarik sebuah kartu debit berwarna hitam—kartu eksklusif yang baru saja dia dapatkan dari bank setelah menunjukkan saldo lima ratus jutanya.

Arka meletakkan kartu itu di meja kasir dengan bunyi plak yang mantap.

"Saya ambil jas itu. Ambilkan yang baru dari gudang, jangan yang di manekin ini. Oh, dan sekalian kemeja sutra putih, sepatu pantofel kulit sapi asli, dan jam tangan yang ada di etalase itu," kata Arka tenang.

Fandi, si pelayan sombong tadi, gemetar. "Mas... kartu itu..."

"Gesek aja dulu. Kalau saldonya nggak cukup, saya sendiri yang bakal jalan kaki keluar dari mal ini sambil telanjang," ucap Arka dingin.

Pak Hendra dengan sigap mengambil kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC. Dia menekan angka: Rp125.000.000,00 untuk seluruh setelan yang diminta Arka

Beep. APPROVED.

Hening. Suasana butik itu mendadak jadi sunyi senyap, hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar. Fandi hampir jatuh terduduk. Seratus dua puluh lima juta keluar begitu saja dari kantong orang yang dia sebut "sampah" tadi.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan!" Pak Hendra langsung membungkuk dalam-dalam. "Fandi, cepat siapkan ruang VIP! Layani Tuan ini dengan standar tertinggi! Sekarang!"

"Nggak perlu," potong Arka. Dia menatap Fandi yang wajahnya sudah seperti kertas putih. "Saya nggak mau dilayani orang yang matanya katarak dan lebih mementingkan bungkus daripada isi. Biar Pak Hendra saja yang urus."

Selama satu jam berikutnya, Arka mendapatkan perlakuan bak raja. Dia mandi di kamar mandi eksklusif butik, mencukur jenggot tipisnya yang tidak rapi, dan mengenakan setelan jas navy yang pas di tubuhnya. Jas itu seolah menyatu dengan kulitnya, memberikan kesan wibawa yang luar biasa. Bahunya yang dulu sering membungkuk karena beban hidup, kini tegak.

Saat Arka keluar dari ruang ganti, Pak Hendra dan beberapa pelayan wanita di sana sempat menahan napas. Pemuda kurir tadi sudah hilang. Yang berdiri di depan mereka sekarang adalah seorang pria tampan dengan aura misterius, seolah dia adalah pewaris konglomerat yang baru pulang dari luar negeri.

"Luar biasa, Tuan. Anda terlihat... berbeda," puji Pak Hendra tulus.

Arka menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya kini tidak hanya melihat rahasia di balik benda, tapi juga memancarkan kepercayaan diri yang mematikan.

"Bungkus baju lama saya. Buang saja ke tempat sampah," kata Arka sambil merapikan kerah jasnya.

Dia melangkah keluar dari butik. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap di atas lantai marmer mal menimbulkan bunyi yang tegas. Orang-orang yang tadi memandangnya rendah kini justru berbisik-bisik, bertanya-tanya siapa "pangeran" baru yang sedang berjalan ini.

Arka memutuskan untuk mencari makan siang. Dia berjalan menuju area Fine Dining di lantai paling atas. Namun, saat dia melewati sebuah restoran Italia terbuka bernama La Luna, langkahnya mendadak terhenti.

Di sana, di meja pojok dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, duduk dua orang yang sangat dia kenal.

Siska. Mantan pacarnya yang memutuskan Arka di bawah hujan dua hari lalu dengan alasan "Kamu nggak punya masa depan". Siska terlihat cantik dengan gaun merah ketat, tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu seorang pria.

Pria itu adalah Rendy. Anak pemilik dealer mobil bekas yang dulu sering menjadikan Arka bahan lelucon di depan teman-temannya. Rendy sedang memamerkan kunci mobil BMW-nya di atas meja dengan sengaja.

"Aduh sayang, nanti kalau kita nikah, aku mau pesta di hotel bintang lima ya. Nggak kayak si Arka itu, mungkin dia cuma bisa ngajak aku makan di warteg," suara Siska terdengar renyah, diikuti tawa sombong Rendy.

"Arka? Hahaha, anak itu palingan sekarang lagi dikejar-kejar penagih hutang. Jangan sebut namanya lagi lah, bikin selera makan ilang aja," sahut Rendy sambil meminum wine-nya.

Arka menyeringai. Sebuah seringai dingin yang penuh arti. Dia merapikan jas navy-nya, memperbaiki letak jam tangan mewahnya, lalu melangkah mantap menuju meja mereka.

"Wah, kebetulan banget ya. Lagi bahas masa depan, atau lagi bahas masa lalu?"

Suara berat dan penuh wibawa itu membuat Siska dan Rendy serentak menoleh. Dan saat mereka melihat siapa yang berdiri di depan mereka, waktu seolah berhenti berputar.

#urbanfantasi #harem#romansa #komedi

#mata #sakti

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!