Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Aku Punya Seseorang yang Disukai
Yohan terkekeh, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan Hans. Sebaliknya, ia justru semakin gencar menggoda Tania.
"Tania, jangan hiraukan wajah kaku Kak Hans sekarang; dia itu murni... malu! Kamu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuatnya bersikap seperti ini!"
Pipi Tania semakin memanas. Ia hanya bisa menundukkan kepala dan berpura-pura fokus pada makanannya, sementara ujung telinganya berubah menjadi merah tua. Ia bisa merasakan dengan jelas tatapan penuh selidik dari Ghina dan Yohan, serta pengamatan diam-diam namun tajam dari Asisten Lian.
Hans bersikap seolah tidak mendengar apa pun, sepenuhnya mengabaikan reaksi orang lain di ruangan itu. Ia terus menjaga Tania dengan santai, hanya sesekali menyuap makanannya sendiri, seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan luas itu. Melihat pemandangan ini, Ghina tak henti-hentinya takjub. Sepertinya putra sulung Keluarga Lesmana ini benar-benar menaruh hati pada sahabatnya, dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah makan siang, Tania dan Ghina dijemput oleh sopir yang dikirim oleh Keluarga Santoso. Sebelum masuk ke mobil, Tania tidak tahan untuk tidak menoleh dan melambai pada Hans, sebuah lesung pipit samar muncul di sudut bibirnya, tampak cerah dan menggetarkan hati.
Hans berdiri di tempatnya, tatapan dalamnya mengikuti sedan hitam itu sampai benar-benar menghilang di tengah kemacetan Jakarta sebelum ia perlahan mengalihkan pandangannya.
"Cih, apa jiwamu sudah ikut terbawa pergi?" Yohan angkat bicara dari samping dengan nada mengejek. "Masih mau main golf, Tuan Muda Hans?"
Hans meliriknya dengan ekspresi datar, jelas-jelas tidak berminat. "Tidak ada waktu. Aku mau pulang ke Rumah Lama."
"Baiklah, sudah kuduga!" Yohan menepuk pahanya secara berlebihan, tampak patah hati. "Contoh nyata orang yang lebih memilih cinta daripada teman! Bertahun-tahun persaudaraan kita sia-sia saja!"
Hans tidak memedulikan tingkah konyolnya dan langsung berjalan menuju mobilnya.
Mobil melaju mulus menuju kawasan Menteng. Hans bersandar di kursi belakang yang luas, beristirahat dengan mata terpejam. Namun, bayangan senyum menawan Tania tak henti-hentinya muncul di benaknya, membuat bibirnya yang biasanya dingin dan kaku melengkung dalam lengkungan yang hampir tak terlihat.
Namun, ketika memikirkan kakeknya yang akan ia temui, lengkungan samar itu menghilang, dan sentuhan keseriusan muncul di antara alisnya. Sepertinya tidak akan mudah untuk melewati ujian dari sang kakek.
Mobil segera memasuki pekarangan luas dan berhenti di depan sebuah kediaman dengan arsitektur klasik yang megah dan berwibawa, kental dengan suasana sejarah yang panjang. Ini adalah Rumah Lama Keluarga Lesmana.
Leluhur Keluarga Lesmana adalah pahlawan bangsa. Pada masa Kakek Hans, Kakek Hadi Lesmana, beliau juga memiliki prestasi militer yang gemilang. Karena itulah, akar keluarga ini di Jakarta sangat dalam dan status mereka sangat terpandang. Pada generasi ayah Hans, meskipun mereka tidak melanjutkan karier militer, mereka membangun jalan baru di dunia bisnis, menciptakan kerajaan bisnis Grup Lesmana seorang diri.
Kepala pelayan sudah menunggu di pintu. Melihat Hans turun dari mobil, ia melangkah maju dengan hormat. "Tuan Muda, Anda sudah kembali."
"Paman Wahyu." Hans mengangguk, suaranya stabil. "Di mana Kakek?"
"Tuan Besar sedang menunggu Anda di ruang teh." Paman Wahyu membungkuk sedikit dan mengantarnya ke dalam.
Hans mengangguk dan melangkah masuk. Di ruang teh, aroma samar kayu cendana terasa menyegarkan dan menyenangkan. Kakek Hadi Lesmana duduk tegak. Di depannya ada satu set peralatan teh tanah liat yang indah. Mendengar langkah kaki, beliau bahkan tidak mengangkat kelopak matanya, tetap fokus pada gerakan tangannya.
"Kek," panggil Hans dengan suara berat, duduk di atas bantal duduk tepat di depan sang kakek.
Sang kakek hanya menjawab dengan gumaman "Mhm". Beliau menyeduh teh dengan tenang—mencuci cangkir, membilas teko, memasukkan daun teh, dan menuangkan air dari ketinggian. Setiap gerakannya mengalir seperti air, menunjukkan ketenangan dan kematangan. Udara perlahan dipenuhi dengan aroma teh Oolong yang unik dan harum.
Hans duduk tenang bersamanya. Baru setelah kakeknya memberi isyarat, ia mengambil cangkir teh dan menyesapnya perlahan. Setelah beberapa cangkir teh, suasana tetap sunyi.
"Main catur denganku." Sang kakek meletakkan cangkir tehnya dan memberi isyarat kepada Paman Wahyu untuk membawakan papan catur. Di atas papan, bidak hitam dan putih saling bertautan layaknya asap peperangan yang sunyi.
Di tengah permainan, Kakek Hadi mengambil bidak hitam dan meletakkannya perlahan di papan, menghalangi titik kunci bidak putih. Beliau bicara seolah sambil lalu:
"Usiamu sudah tidak muda lagi. Menurutku kamu harus lebih banyak keluar, menghadiri pertemuan sosial di lingkaran kita, dan mengenal lebih banyak gadis seumuranmu."
Tangan Hans tidak berhenti saat ia meletakkan bidak, mencari celah kehidupan di antara kepungan bidak hitam. Kelopak matanya sedikit turun. "Aku sibuk bekerja."
"Seberapa sibuk pun kamu bekerja, kamu tidak boleh menunda urusan besar dalam hidupmu." Nada bicara sang kakek datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
"Aku dengar cucu Keluarga Tanujaya, Kaila, tertarik padamu. Aku sudah bertemu anak itu beberapa kali; penampilan dan latar belakang keluarganya cukup serasi. Dia anggun, murah hati, dan terpelajar. Kalian anak muda bisa lebih banyak berinteraksi."
Di atas papan catur, bidak putih Hans melakukan gerakan cerdik. Bukan saja berhasil menembus kepungan, tapi juga memutus strategi bidak hitam. Ia mendongak, menatap mata kakeknya yang menyelidik, nadanya tenang namun jelas:
"Kek, aku sudah punya seseorang yang aku sukai."
Tak. Bidak catur di tangan Kakek Hadi terjatuh ke papan, menimbulkan suara renyah yang memecah keheningan ruang teh. Beliau menatap cucunya yang selalu setenang gunung itu dengan rasa heran. Alisnya sedikit berkerut.
"Oh? Gadis dari keluarga mana? Kenapa aku belum pernah mendengar hal ini?" Kapan anak ini mulai berkencan dengan seseorang?
Hans tidak segera menjawab. Ia hanya mengambil bidak yang jatuh dan memasukkannya kembali ke wadah. "Kakek akan bertemu dengannya di masa depan."
"Kamu ini," Kakek Hadi mendengus, tatapannya menyapu wajah Hans. "Apa kamu sedang bermain teka-teki denganku sekarang? Setidaknya kamu bisa memberitahuku tentang dia, bukan? Bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana karakter dan sifatnya? Pastikan dia bukan seseorang dengan latar belakang yang meragukan."
"Dia sangat baik." Jawaban Hans tetap singkat, namun sentuhan kelembutan muncul di matanya. "Sifatnya juga baik. Untuk sisanya, jika waktunya sudah tepat, aku akan membawanya untuk menemuimu secara pribadi. Kakek pasti akan menyukainya."
Kakek Hadi menatapnya cukup lama. Melihat ekspresi Hans yang jujur dan tatapannya yang teguh, tidak tampak seperti sedang berpura-pura, rasa terkejut di hatinya perlahan digantikan oleh rasa ingin tahu. Beliau mengambil cangkir teh, menyesapnya, meletakkannya kembali, dan nadanya sedikit melunak.
"Baiklah, aku tunggu. Namun, sebaiknya kamu bergegas. Tulang-tulang tuaku ini masih menunggu untuk menggendong cicit." Di akhir kalimat, senyum tipis bahkan muncul di sudut mulut sang kakek.
Adalah hal yang baik jika cucunya memiliki seseorang yang disukai. Beliau hanya sangat penasaran tentang siapa gadis ini sampai bisa menarik perhatian cucunya yang memiliki standar sangat tinggi dan dingin pada semua orang itu.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Tanujaya.
Kaila kembali ke rumah dengan amarah yang tidak lagi bisa dibendung. Ia berlari kencang menuju kamarnya dan menyapu semua botol parfum mahal serta pajangan edisi terbatas di meja riasnya ke lantai. Suara benda pecah bergema di seluruh lantai dua, membuat para pelayan ketakutan dan tidak berani bernapas keras.