NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:161.5k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Pergi Ke Klinik

Isak Naomi masih tersisa meski pelukan Jihan terasa hangat di sekelilingnya. Tubuhnya sedikit bergetar, seperti menahan badai yang belum benar-benar reda.

“Kenapa mereka tega...” suaranya bergetar, nyaris hilang di antara tangis yang tak kunjung berhenti.

Jihan mengusap punggungnya pelan, ritmis, mencoba menenangkan. Meski begitu, rahangnya masih mengeras karena emosi yang dia tahan mati-matian. “Aku tahu... aku tahu...” katanya, kali ini lebih lembut, menekan amarahnya sendiri agar tidak ikut meledak. Namun beberapa detik kemudian, sifat aslinya kembali muncul. Emosi Jihan tidak pernah bisa diam terlalu lama.

“Tapi ini nggak bisa didiamkan, Na!” ujarnya tegas sambil sedikit menjauh agar bisa menatap wajah Naomi. Matanya tajam, penuh kemarahan yang belum tersalurkan. “Ini fitnah! Mereka nuduh kamu selingkuh? Sampai hamil? Gila, ini sudah keterlaluan!”

Naomi menggeleng pelan. Air matanya masih jatuh tanpa jeda. “Aku... nggak mau lagi berurusan sama mereka...” katanya lirih, hampir seperti bisikan yang dipaksa keluar.

Jihan langsung menghela napas keras, dadanya naik turun. “Tapi—”

“Aku capek, Ji...” potong Naomi. Suaranya lemah, tapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan. Itu bukan sekadar kelelahan fisik, tapi kelelahan hati yang sudah terlalu lama dipendam. “Aku benar-benar capek.”

Kalimat itu membuat Jihan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, dia tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Naomi, mencoba memahami beban yang tidak sepenuhnya bisa ia rasakan.

“Aku cuma mau hidup tenang sekarang. Aku cuma mau fokus ke Davin,” lanjut Naomi sambil melirik ke arah kamar.

Nama kecil itu seolah menjadi jangkar yang menahan dirinya agar tidak tenggelam lebih dalam. Satu-satunya alasan dia masih berdiri sampai sekarang.

Jihan mengikuti arah pandangan itu. Ekspresinya sedikit melunak. Ia ingin membantah. Ingin memaksa Naomi untuk melawan, untuk tidak diam begitu saja. Tapi melihat kondisi sahabatnya sekarang, dia tahu ini bukan waktunya.

“Ya sudah...” katanya akhirnya, nada suaranya berubah lebih tenang. “Untuk sekarang… kita fokus ke Davin dulu.”

Naomi mengangguk pelan, seolah beban di pundaknya sedikit berkurang.

“Tapi bukan berarti aku memaafkan mereka,” tambah Jihan cepat, setengah menggerutu. “Aku cuma... menunda marah.”

Naomi tersenyum tipis di tengah air matanya. Senyum kecil yang rapuh, tapi tulus.

“Besok kita ke klinik dokter Junie,” lanjut Jihan sambil mengusap tangan Naomi dengan lembut. “Kita mulai dari situ. Satu langkah dulu.”

Naomi menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. “Iya...”

Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi. Hanya suara napas, sesekali isak yang tersisa, dan keheningan yang justru terasa menenangkan.

...***...

Keesokan paginya, suasana apartemen sudah sibuk sejak dini hari.

Naomi bergerak dengan hati-hati, setiap gerakan terasa terukur. Davin sudah dia gendong dengan posisi yang aman, tubuh kecil itu bersandar tenang di dadanya. Semua perlengkapan bayi sudah masuk ke dalam tas, botol susu, pakaian ganti, tisu, hingga obat-obatan kecil yang mungkin dibutuhkan.

Jihan, seperti biasa, jauh lebih heboh.n“Checklist!” katanya sambil memegang ponsel, berjalan mondar-mandir seperti seorang manajer proyek. “Botol? Ada. Alat feeding? Ada. Tisu? Ada. Emosi? Wah ini belum stabil kayaknya.”

Naomi menatapnya datar. “Jihan…”

“Iya, iya. Aku serius kok,” katanya sambil nyengir, tapi tetap tidak berhenti bergerak.

Meskipun begitu, kehebohan Jihan sedikit banyak membantu mencairkan suasana. Naomi bahkan hampir tersenyum lebih lebar.

Mereka akhirnya berangkat menuju klinik milik Junie Andreas.

Perjalanan terasa cukup tenang. Naomi lebih banyak diam, sesekali menatap Davin, memastikan anak itu baik-baik saja. Jihan di sampingnya sesekali melirik, tapi memilih tidak banyak bicara.

Bangunan kliniknya terlihat modern dan elegan. Tidak terlalu mencolok, tapi jelas menunjukkan kualitas. Desainnya minimalis, dengan sentuhan warna putih dan kaca yang memberi kesan bersih dan profesional.

Namun begitu masuk, mereka langsung disambut kenyataan. Yaitu keramaian.

“Wah...” gumam Naomi pelan, sedikit terkejut.

“Ya iyalah,” sahut Jihan. “Dokter Junie itu kayak artis. Bedanya dia bikin orang cantik beneran, bukan cuma filter.”

Naomi hampir tertawa mendengar itu. Mereka mengambil nomor antrian. Angkanya masih jauh dari giliran mereka.

“Sepertinya kita harus sabar,” kata Naomi sambil melihat layar.

Jihan ikut melihat, lalu mendesah panjang. “Sabar level dewa.”

Mereka duduk di ruang tunggu. Suasananya cukup nyaman, tapi tetap terasa penuh. Beberapa ibu terlihat menggendong anak dengan kondisi yang mirip Davin. Ada yang tampak lelah, ada yang cemas, ada juga yang mencoba tetap tersenyum.

Hati Naomi terasa campur aduk. Sedih karena melihat kenyataan bahwa banyak anak mengalami hal serupa. Tapi juga sedikit lega karena dia tidak sendirian.

Setelah beberapa saat, Davin mulai gelisah. Tubuh kecil itu bergerak sedikit, mengeluarkan suara lirih. Naomi langsung bangkit.

“Aku ke toilet sebentar ya,” katanya pelan.

Jihan mengangguk. “Aku di sini. Tenang.”

Naomi berjalan pelan menyusuri lorong klinik. Langkahnya hati-hati, tapi pikirannya jauh. Kata-kata dalam berita itu kembali terngiang. Selingkuh, lalu hamil dengan pria lain. Fitnah itu seperti racun yang terus berputar di kepalanya, menggerogoti sedikit demi sedikit.

“Kenapa...” bisiknya pelan.

Tanpa sadar, langkahnya sedikit goyah. Fokusnya hilang.

Bruk!

Naomi menabrak seseorang cukup keras. Sebuah gelas kopi di tangan pria itu langsung tumpah. Sebagian mengenai lantai, sebagian lagi mengenai sepatu pria itu.

“Ah—”

Pria itu refleks mundur sedikit, menghindari sisa cairan yang jatuh. Namun sebelum dia sempat bicara, Naomi angkat suara.

“Kalau jalan pakai mata, bisa nggak sih?!” bentak Naomi tiba-tiba.

Suasana di sekitar langsung hening. Beberapa orang bahkan menoleh.

Pria itu terdiam, jelas terkejut. Naomi sendiri tampak sama terkejutnya dengan reaksinya. Tapi emosinya sudah terlanjur meledak.

“Maaf!” lanjutnya cepat, tapi nadanya masih tinggi. “Saya lagi buru-buru, tapi bukan berarti Anda bisa sembarangan berdiri di tengah jalan!”

Padahal jelas-jelas dia yang menabrak. Pria itu menatapnya. Tidak marah. Tidak tersinggung. Justru terlihat heran.

“Sepertinya...” katanya pelan, “yang berjalan tanpa melihat itu bukan saya.”

Nada suaranya tenang. Bahkan ada sedikit nada ringan di sana. Namun entah kenapa, itu justru membuat Naomi semakin kesal.

“Jadi sekarang Anda menyalahkan saya?” balasnya cepat, alisnya mengerut. Pria itu menghela napas kecil. Lalu tersenyum.

“Tidak,” katanya santai. “Saya cuma menyampaikan fakta. Tapi kalau Anda ingin menyalahkan saya juga tidak apa-apa. Saya cukup fleksibel.”

Naomi tertegun sejenak. Jawaban itu tidak seperti yang dia bayangkan. Tidak defensif. Tidak menyerang balik. Justru santai. Baru sekarang dia benar-benar melihat pria di depannya.

Tinggi, rapi, dengan wajah yang sulit diabaikan. Sangat tampan. Namun ekspresi santainya itu justru membuat Naomi semakin jengkel.

“Sudahlah!” katanya akhirnya, mencoba mengakhiri. “Saya nggak punya waktu untuk ini.”

Ia berbalik hendak pergi.

Namun pria itu berkata lagi, “Tunggu sebentar.”

Naomi berhenti. Menoleh dengan kesal.

“Ada lagi?” tanyanya ketus.

Pria itu menunjuk ke arah bajunya yang sedikit terkena kopi. “Anda lupa satu hal.”

Naomi mengernyit. “Apa?”

“Permintaan maaf yang benar,” jawabnya ringan.

Naomi terdiam. Beberapa detik terasa panjang. Emosinya masih bergejolak, tapi kesadarannya mulai kembali. Ia menghela napas panjang.

“Maaf,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Saya lagi... tidak dalam kondisi baik.”

Pria itu menatapnya sejenak. Kali ini lebih serius. “Terlihat,” katanya jujur.

Naomi sedikit tersentak. Namun anehnya, nada itu tidak terdengar menghakimi.

“Semoga harimu membaik,” lanjut pria itu.

Naomi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berjalan pergi. Namun begitu menjauh, jantungnya masih berdegup cepat. Entah karena emosi. Atau karena pertemuan singkat yang terasa aneh itu.

Sementara itu, pria tadi tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Naomi yang menjauh di antara lorong klinik. Matanya menyipit sedikit, seolah memikirkan sesuatu. Lalu perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Menarik...” gumamnya pelan.

Tak jauh dari situ, seorang staf mendekat dengan sedikit panik.

“Dokter Junie, pasien sudah menunggu di ruang konsultasi.”

Pria itu menoleh santai, seolah kejadian barusan tidak terlalu mengganggunya.

“Baik,” jawabnya singkat.

1
Sri Supriatin
Baru buka2 noveltoon nemu karyamu thor... Sy hadir... Sengaja cari yg tamat, jd bc marathon 🤭😍😍
Mama lilik Lilik
bagus ceritanya, terimakasih KK author 🙏
Sofiati
kyknya bisu deh klo ga tuli
Rommy Wasini Khumaidi
oke,tamat.trimakasih buat karyamu thor
Lee Mba Young
abyan tak di ambil kakek neneknya ya, kasian banget ya.
sprti nya ortu Naomi pun gk sayang ma cucu nya. pdhl cucu satu satu nya. berarti anggun yg gk punya hati terhadap anak kecil berasal Dr ortu nya.
biasa nya kakek nenek adlh Garda terdepan cucu. mereka lbih sayang cucu Drpd anak kan🤣. tp ortu anggun ke balik lbih sayang anggun Drpd abyan.
Firdaus Hamid
karya yg bagus dan syarat dengan nilai2 moral kehidupan yg layak untuk diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita...hidup pasti berputar dan selama kita dalam jalur yg benar insyaallah akan indah pada waktunya...amiin ya Allah... selamat buat penulis nya karya nya selanjutnya ditunggu ya bro
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
agak lain emang pengantin baru yg satu ini mp malah adu kentut 😭😭🤣🤣
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, saatnya semua menerima konsekuensinya dan menjalani hidup dan mencoba introspeksi, supaya hidup kits terus diperbarui dan tetap jadi berkat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, happy end, bagus ceritanya. congrats buat dokter Junie Dan dokter Naomi 😄🙏
Desau: folback kak biar hadiahnya bisa dikirim 😅
total 1 replies
W I 2 K
bukannya adu mekanik malah adu kentut... astoge.... pengantin baru macam mana ini bah..... 🤣🤣🤣
Ma Em
Naomi dgn Junie pengantin baru bkn melakukan malam pertama malah ngadu kentut , emang pasangan pengantin yg sangat langka , selamat untuk Naomi dan Junie semoga langgeng pernikahan nya selalu bahagia dan segera berikan adik untuk Davin .
Ninik Sumarni
pengantin kocak 😄😄
Rommy Wasini Khumaidi
katanya kentut di depan pasangan menandakan kenyamanan
MamDeyh
Astagaaa /Facepalm/
sunaryati jarum
Kenapa kau tak percaya kena HIV,Anggun.Sebelum menjebak Zain dan selama jadi istrinya bahkan setelah dicerai hidupmu makin liar gonta ganti pasangan intim, yaitu jadinya.Untuk Naomy semoga awal kebahagiaan kamu.
Rommy Wasini Khumaidi
selamat menempuh hidup baru Juni & Naomi
Anonim
kenapa bisa tidak mungkin, kan Lo udah HS sama beberapa cowok
Nadja 🎀
anggun kmu benar-benar deh terbiasa gak nyadar suatu saat terkena HIV.. aku menggeleng otakmu buntu 🤣
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus menyangkal anggun ? kan kamu pelacur murahan, ya pasti terkena HIV. jangan-jangan Zayn dan Robi juga sama 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
finally congrats yah dokter Junie Dan dokter Naomi 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!