Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahar
Ting!
"Udah masuk kan?" tanya Dena sesudahnya mentransfer seluruh isi saldonya ke rekening Dyo, walau tak seberapa yang penting niatnya untuk membantu.
Begitu sudah dicek Dyo langsung ngangguk-ngangguk, lalu tersenyum berbunga-bunga, persis seperti merasa Dena adalah sang penyelamat hidupnya.
"Udah." Lalu Dyo menaruh ponselnya ke dalam saku.
"Makasih ya sayang, kamu baik banget deh," ucapnya kemudian.
"Sama-sama—"
Cup!
Tanpa permisi, Dyo langsung mengecup pipi kanan Dena yang langsung terkaget-kaget.
Tapi? Sedetik kemudian.
"Pipi kamu kok bau alkohol?" herannya.
Dena terdiam.
"Apa kamu habis minum anggur lagi?" tanya Dyo mendadak curiga.
Sebab, bau itu masih tercium pekat di sebelah pipi mulus Dena.
Namun, karena Dyo sudah terbiasa dengan pacarnya yang suka diam-diam minum alkohol di belakangnya, Dyo nggak marah, tidak juga langsung menghardik Dena hanya karena hal seperti itu.
Yakin?
Dyo nggak tau aja, kalau sebelum ini Dena sempat dibuat muntah-munta gara-gara hal itu.
Dena jadi senyum-senyum—malu. Maunya sih nggak ngaku ... eh malah udah keburu ketahuan.
Sementara di setengah pikiran Dena yang sedang menahan sedikit malu, Dena masih juga tidak menyangka saat Dyo tiba-tiba mencium pipinya.
Karena eh karena, itu bukan hal yang lumrah ia dapatkan, biasanya Dyo paling cuma bilang 'makasih' aja, itu pun kalau Dyo nggak lupa.
Sambil nyender di sebelah pintu kamar kost-nya. Dena menatap Dyo dalam-dalam.
"Kurangnya besok ya, mungkin kalau besok malam uangnya udah ada, bakal langsung aku anterin ke rumah kamu," ujar Dena yang karena sudah dicium ia berani memberi janji, walaupun sebenarnya agak sukar untuk ditepati.
Tapi Dena percaya diri.
Dan Dyo pun ngangguk-ngangguk lagi. Wajahnya juga langsung terlihat lebih cerah dari detik sebelumnya.
"Iya, kalau bisa sejuta lagi ya," pintanya. "Janji deh, kalau motor aku udah balik, nanti langsung aku ganti," lanjut Dyo dengan segurat ekspresi senang, dibalut janji manis yang selalu sama setiap dirinya habis mendapat pinjaman uang dari Dena.
"Beneran?"
"Iya."
"Sama yang kemarin juga?" Dena berharap diiyakan gara-gara saldo di rekeningnya yang benar-benar sudah tandus.
"Ya kalau ada uangnya sih sekalian aku balikin juga nggak apa-apa. Tapi, kalau ada loh ya, kalau nggak ada ya besok lagi aja," kata Dyo, meringis.
Dena menghela napas, kebiasaan!.
"Yaudah deh, yang kemarin lupain dulu aja. Asalkan, jangan sampai pura-pura lupa ya, awas kamu!" sahutnya sambil mengancam, bakal ngasih cubitan kecil kalau Dyo sampai berlagak amnesia.
"Iya, iya."
"Yaudah deh ... Sebelum ibu kost kamu sadar aku ikut masuk. Aku pulang sekarang aja ya, daripada kena omel," pamit Dyo setelahnya.
Dena langsung bercicit manja, "Yah, kok udah mau pulang sih?"
"Loh, kenapa? Nggak boleh pulang akunya?"
"Bukannya nggak boleh... tapi ... cium dulu dong," pinta Dena sebagai syarat sambil nunjuk-nunjuk sebelah pipinya.
"Kan tadi udah aku cium?"
"Yang sebelah kiri kan belummm," rengek Dena.
"Nggak mau ah! Bau anggur," goda Dyo.
"Ih, yaudah kalau nggak mau, nggak aku pinjemin lagi!" ancam Dena ber-sedekap dada ber-cemberut imut.
Cup!
Tidak pakai lama Dyo langsung ngasih apa yang Dena minta. Ya, dari pada gagal cair-in dana dari Dena. Kan rugi sekali ya.
Sementara Dena langsung berbunga-bunga. Mumpung Dyo lagi keliatan mesranya, ia tidak akan melewatkan kesempatan langka ini.
"Ah, jadi tambah sayang deh," ucap Dena.
"Yaudah sana kalau mau pulang. Ati-ati ya pulangnya, jangan ngebut-ngebut. Inget, motornya cuma minjem," kata Dena sambil cekikian.
Dyo mencebik. Mencubit pipi Dena sekali, lalu pergi begitu saja sambil tak lupa dadah-dadah.
"Sampai ketemu besok..."
Dena terus ngeliatin Dyo pergi sambil mengusap-usap pipi, paling tidak sampai punggung Dyo ngilang dari pandangan matanya.
Begitu Dyo sudah pergi. Dena kemudian membuka pintu—masuk kamar, melepas sepatu, lalu berebah manja di atas kasur. Tak lupa Dena juga melepas bajunya dan hanya menyisakan be-ha berwarna merah muda.
Padahal, pengennya mau cuci muka sebentar, tapi udah keburu mager duluan.
"Sejuta ya?" gumam Dena menatap langit-langit usang di atas sana. Agak lama, dan di detik yang sama pikiran Dena terus berkelana, di antara suara detik yang terus berjalan di waktu malam menjelang pagi.
"Uang segitu apa mungkin bisa gue dapetin dalam waktu sehari dari hasil malak lagi?" Ketika bergumam tanpa sadar Dena miring ke kiri, lalu perhatiannya terhenti di foto pernikahan mendiang sang ayah dan ibu kandungnya, yang tergantung rapi di samping almari.
Seketika itu juga Dena lantas teringat sesuatu. Kemudian matanya langsung terbelalak jembar sambil buru-buru bangun dari kasur. "Lah iya, besok malam kan gue mau dilamar?"
Dena menepuk-nepuk pipinya. "Terus gimana caranya gue bisa nganterin uangnya ke Dyo?"
Dena jadi kepikiran, hampir setres gara-gara mikirnya kelewat serius, padahal kan uangnya saja belum tersedia. Iya juga! Dena jadi nyengir-nyengir sendiri ketika ia bahkan baru tersadar.
"Apa gue minjem dulu aja ya?" pikir Dena.
"Tapi? Minjem ke siapa?"
"Ke Mimi atau Rola nggak mungkin sih!" Dena geleng-geleng kepala. "Yang ada gue malah digunjing habis-habisan sama mereka... kalau ke Eca, dia ada nggak ya?" Dena sontak mengambil ponsel lalu buru-buru menghubungi Elsa. Mudah-mudahan aja tuh anak masih melek.
Telpon tersambung, dan Dena langsung teriak memanggil Elsa.
"Eca!!!"
"Masih melek lo?"
"Apasih, Den?" sahut Elsa dari seberang sana.
"Eh?" Sedangkan fokus Dena tiba-tiba malah teralihkan oleh suara bising bapak-bapak, yang lagi pada ketawa-ketiwi di sekeliling Elsa.
"Rame bener rumah lo, Ca?" heran Dena.
"Gue nggak di rumah, Den."
"Lah? Lo nggak jadi pulang?"
"Ya jadi, tapi pergi lagi."
Dena reflek mengambil selimut lalu menekan tombol kamera di fitur yang tersedia. "Pergi kemana?"
Elsa mengarahkan kamera ponselnya ke sekitar, memperlihatkan sekumpulan bapak-bapak yang lagi pada duduk melingkar di atas tikar.
"Main gaple sama tetangga," kata Elsa.
Dena langsung melotot. "Buset! Lo main judi, Ca?"
"Enggak! Cuma main biasa aja, yang kalah mijitin yang menang," sahut Elsa sembari memperlihatkan dirinya yang lagi dipijitin sama bapak-bapak tetangganya.
Dena jadi merinding. "Plis, Ca... lo pulang aja deh! Gue takut lo dipegang-pegang gitu!"
Elsa terkekeh.
"Nggak bisa lah, Den. Masa iya gue tinggal pulang. Nggak enak ah sama tetangga," tolaknya.
"Emang ada acara apasih? Ngeronda doang kan?"
"Tetangga gue anaknya kawinan, Den. Gue, nggak enak kalau nggak umum sama tetangga," kata Elsa.
Dena ngangguk-ngangguk. "Oh, jadi ceritanya lo lagi belajar bermasyarakat?"
"Hooh! Pan yang kawin juga guru ngaji gue."
"Guru ngaji lo yang mana?"
"Itu yang kita pernah ketemu pas nonton Persija," kata Elsa.
Dena langsung teringat. "Oh? Yang cantik banget itu, yang anaknya tetangga seberang rumah lo ya?"
"Iya, dan lo tau nggak mahar yang dikasih ama calon suaminya berapa?"
"Berapa emangnya?"
"Tebak!"
"Sejuta?" terka Dena.
Elsa menggeleng. "Sepuluh kali lipatnya, Den!"
"Sepuluh juta?!"
"Iyaa, itu juga dia sendiri yang minta, dan langsung disanggupin sama calonnya," sahut Elsa.
Dena sebagai sesama perempuan turut bersuka cita. "Wah, itu tandanya yang laki emang beneran cinta, Ca."
"Iyaa, makanya. Besok-besok kalau gue mau dikawinin orang, gue pastiin lagi deh, calon gue beneran cinta apa kagak," ujar Elsa.
Dena mencebik. "Pasti lo mau minta mahar yang gedean?"
"Ya nggak harus sih, sesuai kesanggupan dianya aja. Tapi gue maksimal-in," kikik Elsa.
"Eh tapi, Ca, emangnya kalau mahar di kawinan gitu, boleh ditentuin sama yang mempelai perempuannya kah?" tanya Dena yang sedetik lalu tiba-tiba mendapat secercah keingintahuan.
"Boleh, Den. Tapi ya harus liat kondisi calon mempelai pria-nya. Kalau pas-pasan ya jangan tinggi-tinggi juga mintanya. Realistis aja," jelas Elsa sambil kembali fokus main gaple.
"Kalau CEO?"
Elsa tertohok. "CEO?"
"Lo lagi ngehalu dikawinin CEO, ya?" tanya Elsa seraya membanting kartu.
"Ya, nggak juga, tapi kalau ada yang mau ya langsung gue terima nggak pake mikir, ya nggak? Iya dong? Realistis aja," kikik Dena pura-puranya. Padahal?
"Kecuali yang kayak, Om Alvaro! Harus mikir seribu kali," lanjutnya dalam hati.
Elsa mencebik manja. Dena kalau ngehalu suka nggak kira-kira. "Ngimpi Den, ngimpi. Mana ada CEO yang mau ngawinin rakyat jelata kayak kita!"
"Ya siapa tau ada, kayak di drama-drama Cina itu," kata Dena.
"Hm, lo sih kebanyakan nonton drama. Pikiran lo jadi ke arah sana kan!"
Dena nyengir-nyengir sambil buang muka. Elsa nggak tau aja dia udah ngebuktiin sendiri kalau yang seperti itu memang benaran ada.
"Yaudah deh, Ca. lanjut aja main gaplenya, gue mau tidur," kata Dena.
"Udah, gitu doang? Lo nelpon gue buat apa sih, Den?"
"Nggak buat apa-apa kok, Ca. Sok lanjutin, assalamualaikum." Dena mengakhiri panggilan itu sambil senyum-senyum.
Ketika Dena tiba-tiba mendapat satu ide cemerlang di kepalanya soal mahar kawinan.
Mahar?
"Ide bagus sih! Minta mahar yang gede, diam-diam kawin, terus bikin Om Alvaro jenkel, lalu cerai!"
"Mudah! Habis itu gue langsung punya banyak duit, tanpa ada yang tau gue aslinya janda!" Dena tersenyum sumringah, lalu buru-buru narik selimut supaya besok paginya nggak bangun kesiangan.
Ingat! Dena kan masih harus sekolah.
...***...
Pagi-pagi sekali di depan gerbang SMA Harina. Dena turun dari angkot sambil senyum-senyum.
Dyo yang kebetulan baru datang sontak menghampiri Dena sambil nyentil-nyentil kupingnya.
"Dyo! Tumben banget berangkat?" kaget Dena.
Dyo spontan berhenti, lalu membuka kaca helmnya sambil nyetandarin motor di tengah-tengah gerbang sekolah. Jangan heran, namanya juga jagoan.
"Mau ikut ulangan, biar besok nggak tinggal kelas," jawab Dyo nyengir.
"Idih, pas lagi ada ulangan inget berangkat, pas nggak ada, nggak tau ngilang kemana! Mana nggak jemput pacarnya lagi, sebel deh!" gerutu Dena manyun-manyun.
"Emang nggak jemput, tapi nanti pulangnya pasti aku anter," sahut Dyo dan sebelum kena omel Pak Komar—satpam di sekolah. Dyo berniat untuk segera memarkirkan motornya dengan baik dan benar.
"Sampai nanti ya..."
Brum!
Brum!
Dyo ngacir, ninggalin Dena yang malah nggak ditawarin buat sekalian gonceng. Padahal, dari gerbang sekolah sampai pusatnya masih lumayan jauh juga jaraknya.
Tapi, Dena ya lanjut jalan aja, mau marah-marah juga percuma. Si doi udah keburu ninggalin.
Namun, tanpa sedikit pun Dena sadari, seorang gadis berambut warna-warni sedari tadi terus memperhatikannya dari kejauhan.
Gadis itu lalu tersenyum, tipis—bergumam pelan.
"Oh? Jadi pacarnya yang itu?"