Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 08
Tubuh Aisyah terasa lemas.
Ia mematung beberapa saat.
Semua yang baru saja terjadi terasa seperti mimpi buruk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia melihat seseorang mati tepat di depan matanya.
Dan ia sadar...
jika tadi Lin Chou tidak datang mungkin sekarang yang terbaring di tanah adalah dirinya.
“Masuk.”
Suara bariton Lin Chou terdengar dingin, namun tegas.
Aisyah tersentak.
Tanpa berani menatap pria itu lagi, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya Aisyah benar-benar merasa takut pada Lin Chou.
Di luar rumah...
Lin Chou masih berdiri diam.
Tatapannya mengikuti punggung Aisyah yang semakin menjauh.
Entah mengapa,ada sesuatu dalam dirinya yang terasa aneh.
Sulit dijelaskan.
Sulit dimengerti.
Tiba-tiba saja bayangan Alesya kembali muncul di kepalanya.
Ia teringat saat pertama kali menyatakan cinta pada Alesya.
Saat itu wanita itu juga menunduk malu.
Menangis pelan.
Dan menatapnya dengan mata yang sama seperti Aisyah tadi.
Lin Chou meremas wajahnya sendiri.
Berusaha menepis semua bayangan itu.
“Ada apa denganku...?”
“Kenapa aku justru menyelamatkannya?”
“Padahal aku jelas-jelas membencinya...”
Ia menghela napas panjang.
Namun suara kecil di dalam hatinya terus berbisik..
"Tolong dia."
“Siapa sebenarnya wanita itu...?”
gumamnya pelan.
Sementara itu di dalam rumah...
Aisyah masih duduk diam di sudut ruangan.
Tubuhnya gemetar.
Pikirannya belum mampu melupakan suara tembakan tadi.
Tatapan tajam Lin Chou.
Dan bagaimana pria itu membunuh seseorang tanpa ragu.
Semua itu membuat Aisyah ingin pergi.
Ingin meninggalkan tempat ini.
Ingin pulang.
Namun... Hatinya ragu.
Di tempat ini ada Lin Zhao.
Pria yang telah menyatakan cinta padanya.
Pria yang selalu berusaha melindunginya.
Tapi jika ia tetap bertahan.... Bukankah itu justru akan membuat hubungan dua saudara itu semakin retak?
Air mata Aisyah kembali jatuh.
Untuk pertama kalinya ia mulai berpikir...
mungkin menjauh adalah satu-satunya cara untuk melindungi semuanya..
******
Sore harinya, Aisyah masih terpaku di tempatnya.
Pikirannya dipenuhi satu keputusan sulit untuk menjauhi Lin Zhao.
Jujur, hatinya tak rela.
Lin Zhao adalah orang yang telah memberinya rasa aman selama berada di Shanghai.
Pria itu adalah cahaya di tengah gelapnya hidup Aisyah.
Namun di sisi lain keberadaan Lin Chou membuatnya merasa terancam.
Aisyah sadar...
berkorban dan menjauh adalah jalan terbaik untuk saat ini.
Perlahan.
Meski menyakitkan.
Sore itu, Lin Zhao pulang.
Begitu masuk rumah, ia langsung terkejut.
Aisyah duduk diam di lantai.
Kakinya terluka.
Pelipis kanannya memar.
“Aisyah!”
Lin Zhao segera berlari mendekat.
“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?”
Suara lembut itu membuat Aisyah menatapnya tanpa berkedip.
Hatinya sesak.
Pria ini begitu baik.
Begitu tulus.
Dan justru karena itu dia harus menjauhinya.
“Aku tidak apa-apa, Kak Lin.”
Jawaban itu terdengar datar.
Dingin.
Membuat Lin Zhao langsung bingung.
Saat Aisyah berdiri, darah kembali menetes dari lukanya.
Lin Zhao buru-buru mengambil kotak obat.
“Duduk. Aku obati dulu.”
Tangannya bergerak hati-hati membersihkan luka Aisyah.
“Sakit?”
Aisyah hanya menggeleng.
Pandangan matanya sengaja dialihkan.
Ia tak berani menatap wajah Lin Zhao.
Ia takut...
kalau melihat pria itu terlalu lama dia takut hatinya akan luluh.
Perubahan sikap itu membuat Lin Zhao semakin gelisah.
“Ada apa denganmu, Aisyah?”
“Apa aku melakukan kesalahan?”
“Kalau iya, katakan. Aku akan memperbaikinya.”
Kata-kata itu menusuk hati Aisyah.
Namun ia hanya menunduk.
“Aku hanya lelah... aku ingin istirahat.”
Setelah itu, Aisyah masuk ke kamar dan menutup pintu perlahan.
Meninggalkan Lin Zhao sendirian dengan ribuan pertanyaan.
Hatinya tak bisa tenang..
Lin Zhao memeriksa kamera pengawas di sekitar rumah.
Dan benar saja.
Ia melihat semuanya.
Anak buah Mr. Wang.
Aisyah yang ketakutan.
Lalu...
kedatangan Lin Chou.
Tembakan.
Ancaman.
Dan... Tatapan Aisyah yang penuh ketakutan.
Lin Zhao mengepalkan tangannya.
“Kak Lin Chou...”
“Apa Kakak yang membuat Aisyah menjauh dariku?”
Tanpa pikir panjang, ia pergi ke rumah besar keluarga Lin.
“Kak Lin! Aku ingin bicara!”
Suara lantangnya menggema di seluruh ruangan.
Tak lama kemudian, Lin Chou keluar.
Tatapannya datar.
“Ada apa?”
Lin Zhao melangkah maju.
“Aisyah berubah setelah bertemu Kakak.”
“Kenapa Kakak menakut-nakutinya?”
Lin Chou hanya tersenyum tipis.
“Jadi wanita itu mengadu padamu?”
“Aku justru menyelamatkannya.”
“Kalau aku tak datang mungkin sekarang dia sudah dibawa Mr. Wang.”
“Dan kamu tak akan pernah melihatnya lagi.”
Lin Zhao mengepalkan tangan.
“Tapi Kakak membuat dia menghindari aku.”
Lin Chou kembali tersenyum.
“Berarti dia cukup tahu diri.”
Kalimat itu langsung membakar emosi Lin Zhao.
“Kak... Aisyah berbeda.”
“Aku mencintainya.”
“Aku mohon jangan sakiti dia lagi.”
Wajah Lin Chou langsung berubah.
“Cinta?”
“Kamu bicara soal cinta padaku?”
“Wanita Indonesia hanya membawa luka.”
“Bukankah hidupku sudah cukup jadi pelajaran?”
Lin Zhao tertawa pahit.
“Aku berbeda dari Kakak.”
“Aku akan memperjuangkan cintaku.”
“Aku tidak akan menyerah seperti Kakak.”
“Kalau dulu Kakak punya pendirian.”
“Mungkin Kak Alesya tidak akan pergi.”
“Dan Lin Xioyi masih punya ibu.”
Kata-kata itu menghantam tepat ke luka terdalam Lin Chou.
Matanya memerah.
Tangannya mengepal.
Luka tujuh tahun lalu,terbuka kembali.
“Pergi.”suaranya rendah.
Namun penuh amarah.
“Tinggalkan aku sendiri.”
****
Setelah Lin Zhao pergi, tubuh Lin Chou perlahan merosot ke sofa.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun..
Ia merasa kalah oleh kata-kata adiknya sendiri.
Ia ingat jelas apa yang terjadi tujuh tahun lalu.
Dan benar...
Jika saat itu ia memiliki pendirian yang kuat. Mungkin ia tak akan kehilangan wanita yang paling ia cintai.
Tujuh tahun telah berlalu.
Namun bayang-bayang Alesya tak pernah benar-benar pergi.
“Kalau dulu aku lebih berani...”
“Apa aku tidak akan kehilanganmu, Alesya?”
gumamnya lirih, menatap foto lama Alesya di layar ponselnya.
Sementara itu...
Lin Zhao pulang dengan amarah yang masih tersisa.
Namun saat melihat Aisyah duduk sendiri di ruang baca. Semua emosinya perlahan mereda.
Wanita itu tampak melamun.
Tatapannya kosong.
“Aisyah...”
Suara lembutnya membuat Aisyah menoleh.
“Iya, Kak Lin.”
Jawabannya masih terdengar dingin.
Namun kali ini Lin Zhao memilih untuk memahami.
Ia duduk tak jauh dari Aisyah.
“Maafkan sikap Kakakku.”
“Kamu pasti takut melihat sisi aslinya.”
“Tapi kamu tidak perlu takut.”
“Selama aku ada... aku akan melindungi kamu.”
“Bahkan jika aku harus melindungi kamu dari kakakku sendiri.”
Mata Aisyah langsung berkaca-kaca.
Ia tahu Lin Zhao pasti sudah mengetahui semuanya.
Tentang ancaman Lin Chou.
Tentang anak buah Mr. Wang.
Dan alasan kenapa dirinya berubah.
“Aku belum bisa membawamu pulang ke Indonesia sekarang,” lanjut Lin Zhao.
“Tapi aku janji... suatu hari nanti aku akan mengantarmu pulang.”
“Kamu hanya perlu percaya padaku.”
Air mata Aisyah akhirnya jatuh lagi.
“Kak Lin... maafkan aku...”
Lin Zhao hanya tersenyum.
Lalu memberinya selembar tisu.
“Sudah... jangan menangis lagi.”
“Bagaimana kalau kita keluar sebentar? Mencari udara segar.”
Aisyah mengangguk pelan.
Dan mereka pun pergi bersama.
Tak lama setelah itu Lin Chou datang ke rumah Lin Zhao.
Rumah itu sunyi.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Rapi.
Bersih.
Ia tersenyum tipis.
“Wanita itu ternyata pandai merapikan rumah...”gumamnya pelan.
Entah kenapa kakinya justru melangkah menuju kamar Aisyah.
Ia sendiri tak tahu apa yang sedang ia cari.
Mungkin jawaban.
Mungkin ketenangan.
Atau mungkin,masa lalu?
Di atas nakas, ia melihat sebuah buku kecil.
Sebuah catatan harian.
Tangannya bergerak membuka halaman pertama.
Dan matanya langsung terpaku.
Ibu... Bapak...
Aisyah merindukan kalian.
Kak... aku juga merindukanmu.
Kak, sekarang aku berada di Shanghai.
Kota yang dulu pernah Kakak ceritakan dengan penuh kebanggaan.
Tapi aku datang bukan sebagai tamu.
Aku datang sebagai seorang imigran gelap.
Aku ditipu.
Aku tersesat.
Dan sekarang aku hanya berharap bisa pulang.
Karena aku tidak ingin kembali dalam peti mati... seperti Kakak.
Tangan Lin Chou mendadak gemetar.
Dadanya terasa sesak.
Kalimat terakhir itu menusuk terlalu dalam.
Ia menutup buku itu perlahan.
Tatapannya kosong.
Ada sesuatu yang terasa hilang.
Sesuatu yang selama ini luput dari pandangannya.
Namun ia tak tahu apa itu.
“Siapa sebenarnya kakakmu itu...?”gumamnya lirih.
Dan untuk pertama kalinya rasa ingin tahu Lin Chou terhadap Aisyah...
berubah menjadi ketakutan..