NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:32.9k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Batas Yang Akhirnya Menjadi Jelas.

BATAS YANG AKHIRNYA MENJADI JELAS.

"Suami…?"

Itu bukan hanya sekedar bisik-bisik.

Tapi pertanyaan yang akhirnya berani keluar. Dari bibinya Shafiya. Dan arahnya jelas, tertuju ke kyai Fakih.

Kyai fakih menoleh, menatap saudaranya itu sesaat. Lalu mengangguk.

"Iya. Suaminya Shafiya."

Hening jatuh lebih dalam.

Beberapa pasang mata saling bertemu dengan Cepat. Lalu segera dialihkan kembali. Seolah tak ingin terlihat terkejut dan penasaran. Tapi tak mampu benar-benar menahan rasa ingin tahu.

“Jadi, Dia suaminya Shafiya?"

Kali ini bukan lagi pertanyaan.

Tapi seperti pengulangan karena ingin memastikan.

Tidak ada yang berani menatap langsung pada Sagara terlalu lama.

Namun kehadirannya kini terasa berbeda.

Bukan sekadar tamu. Apalagi orang asing.

Juga bukan sekadar orang penting, yang sengaja berkunjung. Ia keluarga--tapi dengan jarak yang tak bisa dinafikan.

Bibinya Shafiya menarik napas pelan.

Tangannya merapikan ujung kerudung, gerakan kecil yang biasanya muncul saat sesuatu tak sepenuhnya bisa diterima… namun sudah tak pantas untuk dipertanyakan.

“Alhamdulillah…” ucapnya lirih.

Entah itu benar-benar rasa syukur,

atau cara paling aman untuk menutupi keterkejutan.

Yang lain mengangguk pelan.

Beberapa ikut mengucap hal yang sama.

“Alhamdulillah…”

Namun di balik itu--tetap ada jeda yang belum selesai. Karena mereka tahu…

ini bukan sekadar kabar bahagia yang terlambat sampai. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Dan tidak pernah diduga.

Pandangan mereka kembali bergerak ke Shafiya.

Tidak ada yang bertanya: kapan menikah?

Tidak ada yang menyusul dengan: kenapa tidak diberitahu?

Bukan karena tidak ingin tahu.

Tapi karena mereka tahu--tidak semua hal harus dibuka di ruang seperti ini.

Namun satu hal tetap tinggal dan menggantung.

Di sudut ruangan, Ilzam berdiri tanpa berubah posisi. Namun kini, ia merasa kalau jarak antara dirinya dan Shafiya benar-benar nyata. Bukan hanya sekedar batas antara dua orang yang belum sempat bersama. Shafiya sudah menikah. Dan itu adalah batas yang jelas. Tidak boleh dilewati.

Sementara itu--Sagara tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak menjelaskan. Karena tanpa satu kata pun--posisinya… sudah dipahami oleh semua orang.

"Sagara." Dokter Raka memecah hening. Menyebut nama Sagara secara langsung.

Sagara menoleh.

"Hasil pemeriksaan nona Shafiya, cukup baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Mendengar itu, Sagara sedikit mengangkat alis.

"Maaf." Dokter Raka tersenyum kecil. "Lupa tidak langsung disampaikan."

"Jadi?"

"Aku rasa tidak apa-apa, jika nona Shafiya masih ingin tinggal, menemani abinya. Satu atau dua jam."

Sagara diam sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk tipis. Singkat. Namun itu cukup membuat Shafiya tersenyum.

Sagara menggeser pandangan ke luar ruangan. Berhenti tepat ke Winda.

Perempuan itu sigap. Masuk ke ruangan dan berdiri dalam jarak terjaga dengan tangan dilipat.

"Pastikan nona baik-baik saja."

"Baik, Tuan."

Sagara kemudian kembali ke kyai Fakih.

"Saya mohon diri." Meski masih tetap datar. Tapi kalimatnya terdengar sopan.

"Semoga sehat kembali."

"Amin." Kyai Fakih cukup menyambut antusias doa itu. "Terima kasih."

Sagara mengangguk tipis.

Menatap Shafiya singkat. Tanpa emosi yang bisa terbaca.

Ia lalu berbalik keluar ruangan. Dokter Raka mengikuti. Dan dua dokter lainnya mengiringi.

Pintu tertutup.

Klik.

Dan seperti ada sesuatu yang ikut tertarik keluar bersama langkah Sagara--ruangan itu kembali hening.

Bukan hening karena tidak tahu harus bicara apa. Tapi hening yang… menyisaka sebuah tanda tanya baru.

Beberapa orang masih menatap ke arah pintu. Seolah memastikan lelaki itu benar-benar sudah pergi. Lalu perlahan pandangan kembali ke dalam ruangan. Tepatnya ke Shafiya.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Namun yang baru saja mereka lihat…

tidak mudah diabaikan begitu saja.

Bukan lagi tentang siapa Sagara.

Tapi tentang bagaimana ia memperlakukan Shafiya.

Terlihat tidak kasar. Tidak mengabaikan. Tapi juga tidak hangat. Mereka seperti dua orang yang berdiri dalam satu garis yang sama…

tapi tidak benar-benar berjalan berdampingan.

Bibinya Shafiya tersenyum tipis.

“Suaminya… orangnya tegas, ya…” ucapnya pelan.

Kalimat yang terdengar netral. Entah itu sekedar bertanya, atau menilai.

Yang lain tidak langsung menyahut.

Namun satu-dua mengangguk kecil--setuju.

“Orang besar, biasanya begitu…” tambah bibi Shafiya yang lain.

Seperti mencoba mencari alasan yang paling bisa diterima, dan tanpa berburuk sangka.

Tidak ada yang membantah.

Karena itu memang masuk akal.

Tapi tetap saja--ada sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok dengan yang baru saja mereka lihat. Karena bagi mereka, ikatan suami istri harusnya tak sekaku itu.

"Nama suaminya siapa, Nduk?" tanya bibinya. Karena memang tidak ada momen perkenalan barusan.

"Sagara," jawab Shafiya.

"Sagara..." Bibinya mengulang nama itu--seolah ada yang belum selesai.

"Sagara--saja?"

"Sagara Deva Adinata."

"Ohh." Si bibi mengangguk. "Namanya bagus," ucapnya dengan tulus. Nama itu memang bagus pikirnya.

Namun sepupu Shafiya yang berdiri di sudut, mengulang nama itu dengan ekspresi terhenyak.

"Adinata--"

Ilzam maju dua langkah. Ia putuskan untuk pamit. Dan sebelum menyampaikan niatnya itu ke kyai Fakih, terlebih dulu ia bicara pada Shafiya.

"Ning Shafiya."

"Gus Ilzam." Shafiya sedikit menegakkan tubuhnya.

"Selamat ya." Suara itu terdengar tenang. Selayaknya seseorang yang sudah melepaskan.

“Semoga Allah menjaga Ning… di jalan yang Ning pilih.”

Ilzam tersenyum tipis.

Namun kali ini--tidak sampai ke matanya. Jelas masih ada beban yang tinggal. Namun tak perlu diperlihatkan.

"Amin." Shafiya menunduk sejenak.

"Terima kasih, Gus. Doanya saya terima."

Ilzam mengangguk singkat, dan ia bergeser ke kyai Fakih untuk pamit. Namun pada saat itulah suara sepupunya Shafiya menyela.

"Mbak Shafiya." Khadijah namanya. Usianya seumuran. Ia berdiri di dekat Shafiya, tersenyum lembut.

"Boleh saya tanya sesuatu?"

Shafiya mengangguk.

"Mungkin pertanyaan saya akan buat, Mbak Shafiya kurang nyaman." Khadijah berhenti sejenak--memerhatikan ekspresi sepupunya.

Shafiya tetap diam terlihat Tenang.

"Tapi jika terus saya pendam, saya bisa buruk sangka. Jatuhnya malah lebih berdosa," lanjut Khadijah.

"Tanyakan saja." Shafiya mengatakan itu dengan menyiapkan diri untuk hal apa pun yang akan ditanyakan oleh sepupunya itu.

"Suami mbak, namanya Sagara Deva Adinata. Rumah sakit ini juga Adinata. Dan saya dengar, sepupu saya kuliah di Universitas Adinata Internasional. Artinya, suaminya mbak itu, seorang Adinata. Pemilik kerajaan bisnis yang terkenal itu."

Shafiya diam. Tidak membenarkan, dan tidak menyangkal.

"Suami mbak bukan orang biasa." Khadijah melanjutkan. "Dia orang besar, yang punya nama. Tapi saya tidak percaya, kalau mbak Shafiya meninggalkan gus Ilzam, dan memilih menikah dengan suami yang sekarang, hanya karena alasan itu. Nama. Kejayaan. Kekayaan."

Semua kalimat itu diucapkan dengan sopan, dan hati-hati. Namun tetap saja jatuhnya menghantam. Beberapa orang sempat menyalahkan Khadijah yang memilih menanyakan perihal itu sekarang. Tapi, secara keseluruhan semuanya diam--seolah sama-sama menanti jawaban.

Bagi Shafiya, itu bukan hanya sekedar pertanyaan. Tapi tantangan yang harus dijawab. Namun sebelum ia sempat mengambil satu kata, pintu diketuk pelan dari luar.

"Permisi." Suara itu datang. Tanpa menunggu jawaban, pintu dibuka. Petugas masuk dengan langkah ringan. Membawa

nampan makan siang.

Khadijah yang menerima nampan itu, dan meletakkannya di atas meja kecil, tak jauh dari Shafiya.

Aroma hangat segera menyebar ke ruangan. Sup bening. Sayur tumis. Ikan laut, dan sedikit bau minyak yang masih tersisa.

Awalnya tak ada yang memperhatikan, sampai terlihat Shafiya sedikit mengernyit sebentar. Tangannya yang tadi menggenggam, terlepas perlahan. Napasnya tertahan.

Aroma dari makanan itu kembali menyentuh inderanya lebih jelas, dan lebih tajam. Shafiya menunduk sedikit, mencoba menahan. Namun, tubuhnya bereaksi duluan.

Ia menutup mulutnya cepat. "Permisi." Suaranya hampir tak terdengar. Shafiya berdiri dan melangkah tergesa ke kamar mandi.

Pintu kamar mandi ditutup. Detik berikutnya suara itu terdengar. Tertahan, namun cukup jelas untuk dikenali.

Ruangan menjadi diam. Beberapa saling berpandangan lebih lama dari sebelumnya.

Bibinya menarik napas pelan.

"Masuk angin, mungkin," ucapnya terlalu cepat.

Namun tidak ada yang langsung mengiyakan, karena semua yang ada di ruangan itu--bukan orang yang asing dengan tanda seperti itu.

1
Ayuwidia
Pandai sekali dia berbicara
Ayuwidia
kata-kata keramat ☕
Ayuwidia
Bukan hanya menjadi istrimu saja yg harus menghadapi itu semua, Sagara. Para istri dari suami yg lain pun juga demikian, hanya versinya berbeda. Jadi, nggak ada alasan bagi seorang istri untuk meninggalkan suaminya dgn alasan tanggung jawab, konflik, dan hal yang rumit
Badiah Roudloh
sempat deg deg akhirnya legah. selalu ditunggu
Nofi Kahza
Ravendra bakal tamat. Udah nggak ada ruang bergerak. Maju mundur tetap kena😎😎
Najwa Aini: Game Over
total 1 replies
Nofi Kahza
Sekarang hobi banget nyentuh pucuk kepala istrinya ya, Gar. Pertahankan. ok!
Nofi Kahza: serasa lebih sepuh darimu aku kak🤣
total 2 replies
Nofi Kahza
panggil pelan2, Fi. lalu ngomong. "Mas Sagara... sini yuk. Tidur di sebelah sini. Aku kelonin biar mimpi indah.". Eaaaakk🤣
Najwa Aini: Telat sih kamu bisikinnya
total 1 replies
Nofi Kahza
penasaran sama gaji dokternya/Drool/
Najwa Aini: Cukup lah..buat beli Pajero...
wataawww
total 1 replies
Nofi Kahza
Halah halahh.. kok pakek toel toel segala sih, Gar. aku yg baca kna salting/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Najwa Aini: Pasti hidungnya situ yang merah. Berasa kena toel
total 1 replies
Nofi Kahza
ciiee.. yang barusan senyum beneran kan..🤭
Najwa Aini: Iyak lah...tapi singkat
total 1 replies
iqha_24
tariik napaas... lumayan tegang
honda vario
kak tulisanmu bagus semua.... aku suka bngt... stelah crita ini yg nafsa dilanjut jg ya
Najwa Aini: Insyaallah ya Kak..😍😍
total 3 replies
zee
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Najwa Aini: 🌹🌹. Terima kasih Kak
total 1 replies
Badiah Roudloh
bagus ceritanya
Najwa Aini: Matur nuwun kak..🌹
total 1 replies
Nurilbasyaroh
makasih mas sagara dari awal bab ini yang aku tunggu pengakuan mu sama safhiya
Najwa Aini: Akhirnya pecah telor ya...Terima kasih masih setia sampai bab ini
total 1 replies
Eka Widya
Alhamdulillah akhirnya...setelah nahan nafas sekian bab.plong dah.ungkapan cinta yg elegan🥰🥰
Najwa Aini: Cinta yang dewasa ya kak...Tak hanya sekedar kata "aku cinta"...
total 1 replies
iqha_24
🥺
Najwa Aini: 🌹..Terima kasih kak
total 1 replies
Ayuwidia
Aw aw aw kalimatnya bikin seorang istri pingin salto, Mas
Ayuwidia
Di bumi belahan mana pun, cara ini memang sudah teruji kehebatannya. Politik memecah belah
Ayuwidia
Betoel banget, dan ini sepertinya berlaku bagi semua istri. Termasuk aku 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!