Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Batas Yang Akhirnya Menjadi Jelas.
BATAS YANG AKHIRNYA MENJADI JELAS.
"Suami…?"
Itu bukan hanya sekedar bisik-bisik.
Tapi pertanyaan yang akhirnya berani keluar. Dari bibinya Shafiya. Dan arahnya jelas, tertuju ke kyai Fakih.
Kyai fakih menoleh, menatap saudaranya itu sesaat. Lalu mengangguk.
"Iya. Suaminya Shafiya."
Hening jatuh lebih dalam.
Beberapa pasang mata saling bertemu dengan Cepat. Lalu segera dialihkan kembali. Seolah tak ingin terlihat terkejut dan penasaran. Tapi tak mampu benar-benar menahan rasa ingin tahu.
“Jadi, Dia suaminya Shafiya?"
Kali ini bukan lagi pertanyaan.
Tapi seperti pengulangan karena ingin memastikan.
Tidak ada yang berani menatap langsung pada Sagara terlalu lama.
Namun kehadirannya kini terasa berbeda.
Bukan sekadar tamu. Apalagi orang asing.
Juga bukan sekadar orang penting, yang sengaja berkunjung. Ia keluarga--tapi dengan jarak yang tak bisa dinafikan.
Bibinya Shafiya menarik napas pelan.
Tangannya merapikan ujung kerudung, gerakan kecil yang biasanya muncul saat sesuatu tak sepenuhnya bisa diterima… namun sudah tak pantas untuk dipertanyakan.
“Alhamdulillah…” ucapnya lirih.
Entah itu benar-benar rasa syukur,
atau cara paling aman untuk menutupi keterkejutan.
Yang lain mengangguk pelan.
Beberapa ikut mengucap hal yang sama.
“Alhamdulillah…”
Namun di balik itu--tetap ada jeda yang belum selesai. Karena mereka tahu…
ini bukan sekadar kabar bahagia yang terlambat sampai. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Dan tidak pernah diduga.
Pandangan mereka kembali bergerak ke Shafiya.
Tidak ada yang bertanya: kapan menikah?
Tidak ada yang menyusul dengan: kenapa tidak diberitahu?
Bukan karena tidak ingin tahu.
Tapi karena mereka tahu--tidak semua hal harus dibuka di ruang seperti ini.
Namun satu hal tetap tinggal dan menggantung.
Di sudut ruangan, Ilzam berdiri tanpa berubah posisi. Namun kini, ia merasa kalau jarak antara dirinya dan Shafiya benar-benar nyata. Bukan hanya sekedar batas antara dua orang yang belum sempat bersama. Shafiya sudah menikah. Dan itu adalah batas yang jelas. Tidak boleh dilewati.
Sementara itu--Sagara tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak menjelaskan. Karena tanpa satu kata pun--posisinya… sudah dipahami oleh semua orang.
"Sagara." Dokter Raka memecah hening. Menyebut nama Sagara secara langsung.
Sagara menoleh.
"Hasil pemeriksaan nona Shafiya, cukup baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mendengar itu, Sagara sedikit mengangkat alis.
"Maaf." Dokter Raka tersenyum kecil. "Lupa tidak langsung disampaikan."
"Jadi?"
"Aku rasa tidak apa-apa, jika nona Shafiya masih ingin tinggal, menemani abinya. Satu atau dua jam."
Sagara diam sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk tipis. Singkat. Namun itu cukup membuat Shafiya tersenyum.
Sagara menggeser pandangan ke luar ruangan. Berhenti tepat ke Winda.
Perempuan itu sigap. Masuk ke ruangan dan berdiri dalam jarak terjaga dengan tangan dilipat.
"Pastikan nona baik-baik saja."
"Baik, Tuan."
Sagara kemudian kembali ke kyai Fakih.
"Saya mohon diri." Meski masih tetap datar. Tapi kalimatnya terdengar sopan.
"Semoga sehat kembali."
"Amin." Kyai Fakih cukup menyambut antusias doa itu. "Terima kasih."
Sagara mengangguk tipis.
Menatap Shafiya singkat. Tanpa emosi yang bisa terbaca.
Ia lalu berbalik keluar ruangan. Dokter Raka mengikuti. Dan dua dokter lainnya mengiringi.
Pintu tertutup.
Klik.
Dan seperti ada sesuatu yang ikut tertarik keluar bersama langkah Sagara--ruangan itu kembali hening.
Bukan hening karena tidak tahu harus bicara apa. Tapi hening yang… menyisaka sebuah tanda tanya baru.
Beberapa orang masih menatap ke arah pintu. Seolah memastikan lelaki itu benar-benar sudah pergi. Lalu perlahan pandangan kembali ke dalam ruangan. Tepatnya ke Shafiya.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Namun yang baru saja mereka lihat…
tidak mudah diabaikan begitu saja.
Bukan lagi tentang siapa Sagara.
Tapi tentang bagaimana ia memperlakukan Shafiya.
Terlihat tidak kasar. Tidak mengabaikan. Tapi juga tidak hangat. Mereka seperti dua orang yang berdiri dalam satu garis yang sama…
tapi tidak benar-benar berjalan berdampingan.
Bibinya Shafiya tersenyum tipis.
“Suaminya… orangnya tegas, ya…” ucapnya pelan.
Kalimat yang terdengar netral. Entah itu sekedar bertanya, atau menilai.
Yang lain tidak langsung menyahut.
Namun satu-dua mengangguk kecil--setuju.
“Orang besar, biasanya begitu…” tambah bibi Shafiya yang lain.
Seperti mencoba mencari alasan yang paling bisa diterima, dan tanpa berburuk sangka.
Tidak ada yang membantah.
Karena itu memang masuk akal.
Tapi tetap saja--ada sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok dengan yang baru saja mereka lihat. Karena bagi mereka, ikatan suami istri harusnya tak sekaku itu.
"Nama suaminya siapa, Nduk?" tanya bibinya. Karena memang tidak ada momen perkenalan barusan.
"Sagara," jawab Shafiya.
"Sagara..." Bibinya mengulang nama itu--seolah ada yang belum selesai.
"Sagara--saja?"
"Sagara Deva Adinata."
"Ohh." Si bibi mengangguk. "Namanya bagus," ucapnya dengan tulus. Nama itu memang bagus pikirnya.
Namun sepupu Shafiya yang berdiri di sudut, mengulang nama itu dengan ekspresi terhenyak.
"Adinata--"
Ilzam maju dua langkah. Ia putuskan untuk pamit. Dan sebelum menyampaikan niatnya itu ke kyai Fakih, terlebih dulu ia bicara pada Shafiya.
"Ning Shafiya."
"Gus Ilzam." Shafiya sedikit menegakkan tubuhnya.
"Selamat ya." Suara itu terdengar tenang. Selayaknya seseorang yang sudah melepaskan.
“Semoga Allah menjaga Ning… di jalan yang Ning pilih.”
Ilzam tersenyum tipis.
Namun kali ini--tidak sampai ke matanya. Jelas masih ada beban yang tinggal. Namun tak perlu diperlihatkan.
"Amin." Shafiya menunduk sejenak.
"Terima kasih, Gus. Doanya saya terima."
Ilzam mengangguk singkat, dan ia bergeser ke kyai Fakih untuk pamit. Namun pada saat itulah suara sepupunya Shafiya menyela.
"Mbak Shafiya." Khadijah namanya. Usianya seumuran. Ia berdiri di dekat Shafiya, tersenyum lembut.
"Boleh saya tanya sesuatu?"
Shafiya mengangguk.
"Mungkin pertanyaan saya akan buat, Mbak Shafiya kurang nyaman." Khadijah berhenti sejenak--memerhatikan ekspresi sepupunya.
Shafiya tetap diam terlihat Tenang.
"Tapi jika terus saya pendam, saya bisa buruk sangka. Jatuhnya malah lebih berdosa," lanjut Khadijah.
"Tanyakan saja." Shafiya mengatakan itu dengan menyiapkan diri untuk hal apa pun yang akan ditanyakan oleh sepupunya itu.
"Suami mbak, namanya Sagara Deva Adinata. Rumah sakit ini juga Adinata. Dan saya dengar, sepupu saya kuliah di Universitas Adinata Internasional. Artinya, suaminya mbak itu, seorang Adinata. Pemilik kerajaan bisnis yang terkenal itu."
Shafiya diam. Tidak membenarkan, dan tidak menyangkal.
"Suami mbak bukan orang biasa." Khadijah melanjutkan. "Dia orang besar, yang punya nama. Tapi saya tidak percaya, kalau mbak Shafiya meninggalkan gus Ilzam, dan memilih menikah dengan suami yang sekarang, hanya karena alasan itu. Nama. Kejayaan. Kekayaan."
Semua kalimat itu diucapkan dengan sopan, dan hati-hati. Namun tetap saja jatuhnya menghantam. Beberapa orang sempat menyalahkan Khadijah yang memilih menanyakan perihal itu sekarang. Tapi, secara keseluruhan semuanya diam--seolah sama-sama menanti jawaban.
Bagi Shafiya, itu bukan hanya sekedar pertanyaan. Tapi tantangan yang harus dijawab. Namun sebelum ia sempat mengambil satu kata, pintu diketuk pelan dari luar.
"Permisi." Suara itu datang. Tanpa menunggu jawaban, pintu dibuka. Petugas masuk dengan langkah ringan. Membawa
nampan makan siang.
Khadijah yang menerima nampan itu, dan meletakkannya di atas meja kecil, tak jauh dari Shafiya.
Aroma hangat segera menyebar ke ruangan. Sup bening. Sayur tumis. Ikan laut, dan sedikit bau minyak yang masih tersisa.
Awalnya tak ada yang memperhatikan, sampai terlihat Shafiya sedikit mengernyit sebentar. Tangannya yang tadi menggenggam, terlepas perlahan. Napasnya tertahan.
Aroma dari makanan itu kembali menyentuh inderanya lebih jelas, dan lebih tajam. Shafiya menunduk sedikit, mencoba menahan. Namun, tubuhnya bereaksi duluan.
Ia menutup mulutnya cepat. "Permisi." Suaranya hampir tak terdengar. Shafiya berdiri dan melangkah tergesa ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi ditutup. Detik berikutnya suara itu terdengar. Tertahan, namun cukup jelas untuk dikenali.
Ruangan menjadi diam. Beberapa saling berpandangan lebih lama dari sebelumnya.
Bibinya menarik napas pelan.
"Masuk angin, mungkin," ucapnya terlalu cepat.
Namun tidak ada yang langsung mengiyakan, karena semua yang ada di ruangan itu--bukan orang yang asing dengan tanda seperti itu.