NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9 Aku Sangat Membenci Paman!

"Mama mau kemana?"

Langkah Venus terhenti tepat di depan ambang pintu kamar. Ia menoleh, mendapati Sean sudah berdiri di sana dengan kedua tangan bersedekap, menatapnya dengan tatapan menyelidik.

Venus baru saja diizinkan pulang dari rumah sakit beberapa jam lalu, dijemput oleh Leo sebelum adik iparnya itu pergi melanjutkan pekerjaan gelapnya.

"Mau ambil minum, Sayang," jawab Venus lembut. Tangannya meraba ponsel di saku, berniat menghubungi Jacob dan Dante untuk mengabari bahwa ia belum bisa masuk kerja hari ini.

"Duduk saja. Biar aku yang ambilkan," ucap Sean.

Tanpa menunggu jawaban, bocah itu melesat ke dapur dan kembali dengan segelas air hangat. "Jangan banyak bergerak dulu. Tubuh Mama masih penuh racun udang pria itu."

Venus tersenyum tipis, menerima gelas itu. Namun, saat Sean mendekat, tatapanya terfokus pada sudut bibir dan pipi putranya. Ada bekas luka yang membiru dan bengkak yang belum hilang.

"Kau tidak sekolah?" tanya Venus, matanya menyipit curiga.

"Tidak," jawab Sean pendek sambil sibuk merapikan bantal di sofa.

"Kenapa? Ini hari Selasa, Sean."

"Tidak apa-apa. Malas saja."

Venus meletakkan gelasnya, lalu menarik dagu Sean agar menghadapnya. "Tatap Mama. Wajahmu kenapa? Kau berkelahi lagi?"

Sean diam. Ia memalingkan wajah, mencoba melepaskan diri dari pegangan ibunya.

"Jawab Mama, Sean!" tekan Venus, kali ini suaranya lebih tegas. "Mama menyekolahkanmu bukan untuk menjadi jagoan jalanan."

Sean menghela napas panjang, bahunya merosot. "Aku hanya membela harga diri. Anak kelas tiga itu terus mengoceh hal yang tidak masuk akal."

"Dan kau di-skors karena itu? Apa-apaan kau, Sean! Kekerasan bukan jawaban untuk sebuah ejekan."

"Dia menghina wajah Mama!" suara Sean tiba-tiba meninggi, matanya berkaca-kaca karena amarah yang dipendam. "Dia bilang wajah ibuku seperti monster yang terbakar. Aku tidak bisa diam saja mendengarnya, Ma! Seharusnya Mama lepas saja topeng jelek itu. Biar mereka tahu Mama cantik! Biar mereka tutup mulut!"

Hati Venus mencelos. Ia menarik Sean ke dalam pelukannya, membiarkan putranya itu bersandar di bahunya.

"Sean, dengar Mama. Kecantikan itu bukan tentang apa yang orang lihat di permukaan. Mama memakai ini bukan karena Mama malu, tapi karena ini adalah pelindung kita. Jika Mama melepasnya sekarang, badai yang lebih besar akan datang dan menghancurkan ketenangan kita."

"Tapi aku benci melihat Mama dianggap lemah hanya karena topeng ini," bisik Sean parau.

Venus mengusap punggung Sean dengan sayang. "Menjadi kuat bukan berarti harus memukul setiap orang yang menghina kita. Orang yang paling kuat adalah mereka yang bisa menguasai dirinya sendiri saat direndahkan. Mama bekerja sebagai detektif untuk mencari kebenaran, bukan untuk pamer wajah."

Sean terdiam sebentar, lalu mendongak. "Lalu bagaimana dengan pria itu? Dia alasan Mama terus memakai topeng ini, kan?"

Venus menarik napas dalam. Ia tahu Sean benar-benar tertekan dengan kehadiran Dante. "Mama berjanji, Sean. Begitu tugas ini selesai atau jika keadaan semakin membahayakanmu, Mama akan mengakhiri kerja sama dengannya. Kebahagiaanmu jauh lebih penting daripada jawaban yang Mama cari selama tujuh tahun ini."

"Janji?"

"Mama janji. Kita akan pergi dari sini jika itu memang yang terbaik," ucap Venus mantap. "Sekarang, istirahatlah. Besok, Mama akan ke sekolahmu untuk meminta maaf pada kepala sekolah. Tapi kau, harus berjanji tidak akan menggunakan tinjumu lagi, mengerti?"

Sean mengangguk pelan, meski matanya tetap menyiratkan tekad untuk melindungi ibunya dengan cara apa pun.

Bagi Sean, jika dunia tidak bisa melihat kecantikan ibunya, maka ia sendiri yang akan menjadi perisai agar dunia tidak bisa menyakitinya lagi.

*****

Sebuah .obil hitam mewah terparkir di depan rumah ederhana di pinggiran Amsterdam.

Venus, yang baru saja hendak melepas penat di ruang tengah, tersentak saat melihat monitor CCTV kecil di dekat pintu.

"Dante? Bagaimana dia bisa tahu alamat ini?" bisiknya panik. Dengan tangan gemetar, ia menyambar topeng kulitnya, menekannya ke wajah hingga benar-benar melekat sebelum pria itu mengetuk pintu.

"Biar aku saja!" Sean sudah berdiri di ambang pintu sebelum Venus sempat mencegahnya.

"Mama tidak ada di rumah. Paman sebaiknya pergi," ucap Sean datar, menatap pria jangkung di depannya tanpa rasa takut sedikit pun.

Dante menunduk, menatap bocah yang memiliki sorot mata setajam elang itu. Ia menyipitkan mata, merasa ada dejavu yang menghantamnya.

"Kau berbohong, bocah! Aku tahu ibumu ada di dalam. Dan kenapa kau menatapku seolah aku ini monster? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau aku pernah melakukan kesalahan padamu?"

"Ya. Aku sangat membenci Paman. Sekarang dan selamanya!" seru Sean, suaranya menggelegar meski tubuhnya kecil. "Jika di dunia ini hanya ada satu pria tersisa, yaitu Paman, aku tidak akan pernah menerima Paman menjadi ayahku!"

"Sean!" bentak Venus yang baru saja muncul di belakang putranya. Wajahnya langsung pucat di balik topeng. "Masuk ke kamarmu sekarang! Jangan tidak sopan!"

Sean mendengus, lalu memberikan satu tatapan maut terakhir pada Dante sebelum masuk ke dalam dan membanting pintu kamarnya.

Suasana mendadak menjadi sangat canggung.

Dante masih berdiri mematung di teras, mencerna kata-kata tajam dari bocah yang baru ia temui dua kali itu.

"Maafkan putra saya, Tuan Dante. Dia... dia memang sulit dekat dengan orang asing," ucap Venus berusaha tenang.

"Kenapa dia begitu membenciku, Ve? Dia bicara soal ayah. Apa hubungannya denganku?" tanya Dante seolah menuntut jawaban.

Venus menarik napas panjang, mencoba merangkai dusta yang paling masuk akal. "Ayah Sean sudah tiada. Dia meninggal dalam sebuah kebakaran hebat tujuh tahun lalu. Sejak itu, Sean sangat sensitif terhadap siapa pun yang mencoba mendekatiku. Dia merasa ayahnya berkhianat.

Dante terdiam, dadanya terasa sesak mendengar kata kebakaran.

"Ya! Dalam mimpiku, aku melihat ayahku menikah lagi dan itu membuatku muak! Katanya dia hanya cinta pada mamaku seorang, tapi ternyata dia pengkhianat! Dia lebih memilih wanita cantik daripada janji setianya pada mama!" sahut Sean dari dalam kamarnya.

Kalimat itu menghantam Dante tepat di ulu hati. Ia membeku di tempat. Kata-kata Sean bukan sekadar omelan anak kecil, itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke rahasia terdalamnya.

Dante menatap pintu kamar Sean dengan perasaan campur aduk.

"Kenapa aku merasa sedang disindir habis-habisan oleh bocah ini? Bagaimana dia bisa bicara soal pengkhianatan dan pernikahan kedua dengan nada semarah itu?" batin Dante.

"Tuan Dante?" panggil Venus, membuyarkan lamunan pria itu. "Ada keperluan apa Anda ke sini?"

Dante berdehem, berusaha menguasai dirinya kembali. "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu setelah dari rumah sakit. Tapi sepertinya, keberadaanku di sini memang tidak diinginkan."

"Oh baiklah. Sampai jumpa," ucap Venus. Ia memang berharap pria ini segera pergi.

Dante berbalik menuju mobilnya. Di dalam benaknya, wajah Sean terus terbayang. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang disembunyikan oleh detektif berwajah rusak ini dan putranya yang terlalu cerdas itu.

"Aneh, jika ayahnya sudah tiada, lalu siapa pria berwajah rusak yang mengaku sebagai suaminya?" gumam Dante bertanya-tanya.

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!