NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa

Pagi di kota itu selalu datang dengan cara yang hampir sama, seolah waktu berjalan mengikuti pola yang sudah ditentukan sejak lama. Jalanan mulai ramai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, suara kendaraan bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang terburu mengejar rutinitas. Di antara semua itu, Airel Virellia berjalan dengan ritme yang pas, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, seperti seseorang yang sudah tahu bagaimana caranya bergerak tanpa menarik perhatian.

Tas selempangnya tergantung rapi di bahu, bergerak ringan mengikuti langkahnya. Rambut panjangnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajah, membuat penampilannya terlihat sederhana tanpa usaha berlebihan. Ia tampak seperti mahasiswi pada umumnya, tidak mencolok tetapi tetap mudah dikenali jika diperhatikan lebih lama.

Ia berhenti di depan gerbang kampus, menatap papan nama yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Tempat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya selama beberapa tahun terakhir, mengisi hari-harinya dengan rutinitas yang terus berulang. Kelas, tugas, dan percakapan ringan dengan teman-teman berjalan sebagaimana mestinya, tanpa banyak perubahan yang berarti.

Orang-orang menyebutnya normal.

Dan ia tidak pernah merasa perlu membantahnya.

“Airel, kamu datang lagi pagi banget.”

Suara itu membuatnya menoleh, memperlihatkan Kalista Renaya yang berjalan mendekat dengan langkah ringan. Senyumnya lebar seperti biasa, membawa energi yang terasa terlalu besar untuk ukuran pagi hari.

“Kamu juga,” jawab Airel singkat, meski ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya.

Kalista berjalan di sampingnya saat mereka memasuki area kampus, sesekali menyapa orang yang lewat. “Aku ada kelas pagi, jelas harus datang awal. Tapi kamu kan enggak. Ngapain sih tiap hari datang sepagi ini?”

Pertanyaan itu terdengar santai, seperti obrolan biasa yang tidak menuntut jawaban serius. Namun Airel tahu, jika ia menjawab jujur, percakapan itu tidak akan berhenti hanya di sana.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

08.12.

Jarum detiknya bergerak perlahan, stabil, tanpa peduli pada apa pun di sekitarnya. Airel menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.

“Kebiasaan,” katanya singkat.

Kalista mendesah pelan, jelas tidak puas. “Kamu selalu bilang begitu. Kebiasaan apa coba, datang sebelum semua orang juga belum pada siap?”

Airel tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan suara sepatu mereka mengisi jeda yang tercipta di antara percakapan. Kalista akhirnya ikut diam, meski raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang belum hilang.

Mereka sampai di depan gedung fakultas, di mana beberapa mahasiswa sudah mulai berkumpul. Ada yang duduk di tangga sambil bermain ponsel, ada yang berdiri sambil tertawa bersama teman-temannya. Suasana terasa hidup, seperti pagi-pagi lainnya.

Airel berhenti sebentar.

Matanya kembali turun ke jam.

08.15.

Perubahan kecil muncul di wajahnya, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat oleh siapa pun. Seperti seseorang yang menunggu sesuatu terjadi tepat di detik itu, tetapi tidak pernah benar-benar datang.

Ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk ke dalam gedung tanpa mengatakan apa-apa.

“Kamu aneh,” gumam Kalista, cukup pelan tetapi tetap terdengar jelas.

Airel hanya tersenyum tipis, tidak mencoba membantah atau menjelaskan.

Hari berjalan seperti biasa, tanpa kejadian yang benar-benar berbeda. Airel duduk di kelas, mencatat hal-hal penting, dan sesekali mengangkat kepala saat dosen menekankan poin tertentu. Ia tampak fokus, cukup aktif saat diperlukan, dan tidak pernah terlihat tertinggal.

Bagi orang lain, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun ada momen yang selalu berulang, seperti bagian dari rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan.

Di tengah penjelasan dosen yang panjang, Airel menunduk sedikit. Matanya kembali tertuju pada jam di tangannya, seperti sesuatu yang otomatis terjadi tanpa perlu dipikirkan.

12.27.

Jarum detik bergerak mendekati angka berikutnya, stabil dan tanpa ragu.

12.28.

Napasnya tertahan tanpa ia sadari, tubuhnya sedikit lebih diam dibanding sebelumnya.

12.29.

Ia menunggu.

12.30.

Tidak ada perubahan apa pun di sekitarnya. Suara dosen tetap terdengar, teman-temannya masih sibuk mencatat, dan dunia berjalan seperti biasa. Namun Airel tetap diam beberapa detik lebih lama, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang mungkin datang terlambat.

Baru setelah itu ia mengangkat kepalanya kembali, kembali mengikuti pelajaran seperti tidak terjadi apa-apa.

“Airel.”

Ia sedikit tersentak saat namanya dipanggil, lalu langsung menatap ke depan.

“Coba kamu jelaskan poin terakhir yang saya sampaikan.”

Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arahnya, sementara Kalista menyikut pelan dari samping sebagai isyarat. Airel menarik napas sebentar, lalu menjelaskan dengan tenang, kata-katanya tersusun rapi tanpa terdengar ragu.

Dosen itu mengangguk puas. “Baik.”

Kelas kembali berjalan seperti biasa.

Namun Kalista masih menatapnya dengan ekspresi penuh tanya.

“Kamu tadi bengong, kan?” bisiknya pelan.

“Enggak,” jawab Airel cepat, tanpa menoleh.

“Kamu lihat jam lagi,” lanjut Kalista. “Aku perhatiin dari tadi.”

Airel terdiam sesaat. Ia tidak menyangkal, tetapi juga tidak memberi penjelasan.

“Itu cuma kebiasaan,” katanya lagi, nada suaranya tetap datar.

Kalista menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. “Kebiasaan kamu makin aneh.”

Airel tidak menanggapi.

Ia sudah terlalu sering mendengar hal itu.

Siang beralih menjadi sore dengan cara yang hampir tidak terasa. Setelah kelas selesai, sebagian mahasiswa langsung pulang, sementara yang lain memilih berkumpul di sekitar kampus. Suasana perlahan menjadi lebih tenang, menyisakan langkah kaki yang semakin jarang terdengar.

Airel berjalan keluar dari gedung, langkahnya tetap sama seperti pagi tadi. Kalista sempat menarik lengannya, mencoba mengajaknya ke kafe dekat kampus, tetapi ia hanya menggeleng pelan.

“Aku ada urusan,” katanya singkat.

Kalista menatapnya dengan curiga, tetapi akhirnya mengangguk. “Kamu selalu punya urusan setiap sore.”

Airel tersenyum kecil. “Mungkin.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh, karena ia tahu penjelasannya tidak akan terdengar masuk akal bagi siapa pun.

Langkahnya menjauh dari area kampus, melewati jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu sore. Ia tidak perlu berpikir ke mana harus pergi, karena tubuhnya sudah terbiasa mengikuti arah itu tanpa ragu.

Sebuah halte tua di ujung jalan.

Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya sesekali diisi oleh orang-orang yang datang dan pergi. Catnya mulai mengelupas, bangkunya dingin, dan lampu di atasnya sering berkedip tanpa pola yang jelas.

Airel berhenti di sana.

Matanya langsung menyapu area sekitar, seperti mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.

Ia duduk di bangku paling ujung, meletakkan tas di sampingnya. Tangannya kembali bergerak, melihat jam di pergelangan tangannya.

17.42.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma jalanan yang mulai berubah seiring datangnya malam. Beberapa kendaraan lewat tanpa berhenti, suaranya cepat menghilang setelah menjauh.

Airel menatap lurus ke depan.

Waktu berjalan perlahan.

17.43.

17.44.

Ia tetap diam, tidak melakukan apa pun selain menunggu.

17.45.

Ada sesuatu dalam cara ia menunggu, bukan sekadar kebiasaan, bukan pula sekadar harapan kosong. Ada keyakinan kecil yang tetap bertahan, meski tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban.

Seorang pria tua duduk beberapa kursi darinya, lalu pergi saat bus yang ditunggunya datang. Seorang ibu dan anak kecil sempat berdiri di dekat tiang halte, berbicara pelan sebelum akhirnya naik kendaraan yang berhenti sebentar.

Orang-orang terus berganti.

Namun Airel tetap di sana.

“Airel?”

Ia menoleh saat mendengar suaranya dipanggil. Kalista berdiri beberapa langkah darinya, tampak sedikit kelelahan.

“Kamu di sini lagi,” katanya sambil berjalan mendekat. “Aku sudah nebak sih.”

Airel tersenyum kecil. “Kamu belum pulang?”

“Tadi balik ke kampus bentar, terus kepikiran kamu pasti di sini.” Kalista duduk di sampingnya, menatap ke arah jalan. “Kamu nunggu siapa sih?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar dengan jelas.

Airel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya berbicara.

“Enggak ada,” katanya pelan.

Kalista mengangkat alis. “Kalau enggak ada, kenapa kamu ke sini terus?”

Airel terdiam lagi, seperti sedang menimbang apakah ia perlu menjelaskan atau tidak.

“Karena dia bilang akan datang ke sini,” ucapnya akhirnya.

Kalista sedikit terkejut. “Dia?”

Airel mengangguk.

“Siapa?”

Pertanyaan itu menggantung, tidak langsung mendapat jawaban.

Airel menunduk, matanya kembali ke jam.

17.48.

“Orang yang pernah janji,” katanya.

Kalista menatapnya lama, mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui. “Sudah berapa lama?”

Airel tidak langsung menjawab.

Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin.

“Tujuh tahun.”

Kalista terdiam, tidak langsung memberi tanggapan.

“Tapi kamu masih nunggu?” tanyanya pelan.

Airel tersenyum tipis, matanya tetap ke depan.

“Dia belum datang.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih berat.

Kalista menghela napas. “Kalau dia enggak pernah datang?”

Airel tidak menjawab.

Ia hanya menatap jalan yang mulai sepi, seperti pertanyaan itu tidak perlu dijawab.

Jam kembali bergerak.

17.50.

Airel berdiri perlahan, mengambil tasnya. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengakhiri sesuatu tanpa hasil.

“Kamu mau pulang?” tanya Kalista.

Airel mengangguk. “Seperti biasa.”

Kalista ikut berdiri, masih menatapnya. “Kalau kamu capek, bilang ke aku.”

Airel tersenyum kecil. “Iya.”

Mereka berjalan menjauh dari halte, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Suasana menjadi lebih sepi, hanya tersisa suara kendaraan yang sesekali lewat.

Beberapa langkah kemudian, Airel menoleh ke belakang.

Tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya, seolah berharap ada sesuatu yang berubah.

Namun halte itu tetap sama.

Kosong.

Ia mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa.

Besok, ia akan kembali lagi.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!