NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tania Santoso, Miliknya

​Hans Lesmana menatap mobil Bentley itu hingga hilang dari pandangan, dan hiruk-pikuk di sekelilingnya seolah ikut lenyap bersamanya.

​Ia menarik kembali tatapannya. Di mata gelap itu, kedinginan yang biasanya ada kini digantikan oleh seberkas fokus yang langka. Ia berbalik dan bicara pada Asisten Lian yang setia menunggu, suaranya beberapa tingkat lebih rendah dari biasanya: "Ayo kembali."

​Lian segera menyiapkan kendaraan. Rolls-Royce Phantom itu melaju dengan tenang menembus malam. Pencahayaan di dalam kabin temaram, namun atmosfer terasa berat karena kebisuan pria di kursi belakang. Hans menyandarkan punggungnya, jemarinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk lutut.

​"Lian." Hans tiba-tiba bersuara, memecah kesunyian.

​"Saya, Tuan?" Lian menoleh sedikit dari kursi depan dan menyahut hormat.

​"Selidiki dia." Perintah Hans singkat seperti biasa, namun nada yang tak bisa dibantah itu membuat jantung Lian bergetar.

​Ia langsung paham siapa "dia" yang dimaksud. Bisa membuat Tuan Hans bersikap seserius ini, gadis itu kemungkinan besar adalah yang pertama.

​"Baik, Tuan," sahut Lian, otaknya mulai bekerja cepat memetakan langkah.

​Di sisi lain, Tania terlebih dahulu meminta sopirnya mengantar Ghina pulang ke kediaman Keluarga Yuwono.

​Di dalam mobil, Ghina menatap Tania yang sedang mengusap pergelangan kakinya dengan wajah sedikit meringis. "Tania, kakimu benar-benar tidak apa-apa? Kelihatannya terkilirnya cukup parah."

​Suara Tania terdengar lembut dan manis, "Tidak apa-apa, Ghin. Cuma sedikit bengkak. Nanti sampai rumah tinggal dikompres es saja."

​Ghina masih cemas. "Pokoknya sampai rumah harus langsung diobati, jangan teledor. Mau kuantar sampai masuk rumah?"

​"Tidak usah, tidak usah. Kamu pulang saja, jangan sampai orang tuamu khawatir." Tania mendorong pelan bahu sahabatnya itu. "Ada Kakakku di rumah, dia pasti mengurusku."

​Barulah Ghina merasa tenang. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, ia turun dari mobil lebih dulu.

​Tania kembali ke rumah mewahnya. Baru saja ia hendak berjalan tertatih menuju kamarnya, sebuah suara jernih namun terdengar sangat khawatir terdengar dari ruang tamu.

​"Tania, ada apa dengan kakimu?"

​Titan—kakak laki-laki Tania—berdiri di sana mengenakan pakaian santai. Tingginya lebih dari 180 cm dengan alis tajam dan mata yang cerah, namun kini alisnya bertaut rapat. Ia melangkah lebar mendekat dan tanpa sepatah kata pun menyangga tubuh adiknya yang goyah. Nadanya penuh kecemasan yang tak tertahankan.

​Titan adalah tipe sister-complex sejati; bagi dia, Tania adalah permata hati yang harus dijaga dari segala mara bahaya.

​"Kak Titan," Tania langsung memasang wajah memelas, mencoba mengalihkan perhatian. "Aku tidak apa-apa, tadi cuma kurang hati-hati waktu jalan jadi terkilir sedikit." Suaranya manja, khas Tania jika sedang merayu kakaknya.

​"Kurang hati-hati?" Titan menaikkan sebelah alisnya. Ia terlalu mengenal adiknya; cara mata Tania yang melirik ke sana-sini jelas menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan.

​"Di mana kejadiannya? Sama siapa? Parah tidak? Cepat, biar Kakak lihat." Rentetan pertanyaan meluncur tanpa memberi jeda bagi Tania untuk bernapas.

​Tania merasa sedikit pening menghadapi interogasi kakaknya. Tatapannya bimbang. "Tadi... tadi kan pesta ulang tahun teman kuliah. Aku pakai sepatu hak tinggi baru dan belum terbiasa. Pas turun tangga tidak fokus, jadi terkilir." Tania bicara sambil mencuri pandang ke arah Titan.

​Titan berlutut dan melihat bahwa luka di kaki adiknya ternyata sudah sempat diobati. Ia memeriksa pergelangan kaki Tania yang membengkak dengan sangat hati-hati. Setelah memastikan tidak ada cedera tulang, ia akhirnya bisa bernapas lega.

​Ia tidak lanjut mendesak detail pesta itu, namun matanya yang dalam sedikit menggelap; jelas sekali ia tidak sepenuhnya percaya pada cerita adiknya.

​Ia membantu Tania duduk di sofa empuk ruang tamu, lalu memerintahkan kepala pelayan: "Pak Wawan, ambilkan kompres es."

​Melihat perhatian kakaknya yang begitu sigap, mata Tania penuh dengan rasa sayang. Ia tanpa sadar tersenyum dan memeluk lengan kakaknya manja. "Kak Titan memang yang terbaik! Kakak paling hebat di seluruh dunia!"

​Amarah Titan langsung luntur karena rayuan itu. Ia mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut.

......................

​Lantai teratas Gedung Grup Lesmana, ruang kerja CEO.

​Efisiensi kerja Asisten Lian memang selalu mencengangkan. Hanya dalam satu malam, sebuah dokumen detail sudah tersusun rapi di atas meja kayu jati besar milik Hans Lesmana.

​"Tuan, ini informasi yang Anda minta." Lian berdiri tegak di samping, suaranya stabil.

​Hans mengulurkan tangan, mengambil dokumen itu, dan membukanya.

​Di halaman pertama terpampang foto identitas seorang gadis. Dalam foto itu, mata Tania melengkung manis seperti bulan sabit, bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat pas. Tanpa riasan pun, kecantikannya tetap memukau. Kemurnian dan daya tarik menyatu secara unik dalam dirinya.

​Tatapan Hans seolah terkunci pada foto itu. Ibu jarinya mengusap pinggiran foto dengan lembut, merasakan permukaan kertas yang dingin.

​Putri kecil dari Keluarga Santoso di Jakarta—satu-satunya anak perempuan di generasi ini. Karena pernah mengalami penculikan oleh musuh keluarga saat masih kecil, ia dilindungi dengan sangat ketat hingga jarang muncul di publik.

​Usianya 19 tahun, saat ini kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Nasional, semester empat. Ia dikenal sebagai primadona kampus di kalangan dosen maupun mahasiswa, dan... tidak memiliki pacar. Dokumen itu juga menyertakan beberapa foto curian: satu saat ia menoleh di bawah pohon kampus, satu lagi saat ia sedang serius membaca di perpustakaan. Semuanya tampak begitu hidup.

​"Jadi benar-benar dari Keluarga Santoso," bisik Hans pelan. Tidak ada nada emosi khusus dalam suaranya, namun matanya semakin lama semakin dalam.

​Ia teringat saat mereka pertama kali bertemu; kakinya jelas sangat sakit hingga matanya memerah, tapi ia masih berani memelototi Hans dengan keras kepala. Mata jernih yang berkaca-kaca itu bagai kail tak kasatmata yang mencakar hatinya berulang kali. Hatinya yang sudah membeku selama dua puluh enam tahun, untuk pertama kalinya merasakan riak yang disebut "kehilangan kendali".

​Ia perlahan menutup dokumen itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang mengandung kekuatan dan rasa posesif yang tak tertahankan.

​Tania Santoso.

​Nama itu bergulir di ujung lidahnya, membawa sensasi menggelitik yang aneh.

​Miliknya. Kesadaran itu membuat suasana hatinya membaik secara misterius.

​Malam semakin larut, kabut menebal.

​Dalam mimpinya, Hans tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas; hanya sosok Tania yang tampak nyata. Gadis itu masih mengenakan gaun sutra pucat yang sama. Salah satu kaki putihnya sedikit terangkat, dan bengkak di pergelangan kakinya seolah menusuk mata Hans.

​Ia melangkah mendekat tanpa kendali, telapak tangannya menggenggam kaki mungil yang indah itu. Tekstur kulitnya terasa hangat dan halus, membawa aroma harum khas gadis muda yang menyebar dari telapak tangan hingga ke lubuk hatinya.

​Hans menunduk, ibu jarinya tanpa sadar mengusap kulit lembut di pergelangan kaki Tania, merasakan getaran kecil akibat sentuhannya.

​"Jangan..." Tania seolah ingin menarik kakinya kembali, suaranya serak menahan tangis. Matanya yang basah menyiratkan rasa malu, sedikit kemarahan, dan setitik kepanikan yang tak terdeteksi saat menatap Hans.

​Tatapannya seperti anak rusa yang ketakutan, namun tetap menunjukkan keras kepala yang menggoda hatinya. Bukannya melepaskan, Hans justru menggenggam pergelangan kaki itu lebih erat, meski kekuatannya tetap terjaga agar tidak menyakiti. Di dalam mimpi, ia jauh lebih berani dan agresif daripada di dunia nyata.

​Bagaimana kelanjutan pertemuan mereka setelah malam itu?

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!