Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Dave
Akhirnya Dave dan semua kerabatnya meninggalkan unit apartemen laki laki itu dan membiarkan Rhea sekarang sendirian.
Sekarang Rhea baru merasa kesepian, setelah tadi di ruangan ini penuh dengan tawa dan canda hangat. Kerabat Dave sangat menyenangkan, tidak julid seperti teman teman pengajarnya.
Rhea bisa melihat watak Dave yang berbeda. Saat bersama kerabatnya, Dave terlihat acuh dengannya. Tidak seperti saat mereka berdua tadi.
Apalagi mengingat waktu mereka di club . Jantung Rhea berdebar cepat. Laki laki kurang ajar itu mengulang lagi perbuatannya yang pernah dia lakukan, batinnya sebal.
Ada desir desir halus di hati Rhea mengingat sentuh@n Dave.
Uufffhhh..... Rhea menghembuskan nafas, berusaha menepis perasaan aneh itu.
Rhea menduga kalo laki laki kurang ajar itu memiliki kepribadian ganda.
Tadi saat berdua, Dave menunjukkan ketertarikan terhadap dirinya. Tapi saat dikerumuni kerabatnya, dia bersikap seolah tidak peduli.
Menyebalkan. Untung tadi aku menolaknya, gerutu Rhea dalam hati.
Sekarang Rhea memasuki kamar laki laki itu. Harum khasnya terhidu di indra penciumannya.
Kamarnya rapi dan barang barangnya tertata dengan baik. Tidak ada handuk di atas tempat tidur atau pun baju kotor.yang berserakan maupun sedang digantung.
Rhea jadi sungkan melangkah masuk lebih dalam ke kamar ini. Dia kemudian keluar, beralih ke kamar yang satunya.
Rhea yakin, ini bukan kamar laki laki itu. Memang tetap rapi walau ngga ada harum khasnya. Malah bau pengharum ruangan yang biasa digunakan pembantunya di rumah. Mungkin kamar ini sudah lama tidak di tempati, pikir Rhea.
Rhea kemudian duduk dia atas ranjangnya yang ternyata sangat empuk. Dia.akan tidur di sini saja, putusnya dalam hati.
Rasanya lebih nyaman saja karena kamar ini tidak mengingatkannya akan si jomblo itu.
Rhea mengambil ponselnya dan ingin memeriksa kotak pesan karena berharap mama atau Kak Vidya sudah mengabarinya. Dia ingin memberitau mereka kalo Om Toni dan pengawal pengawal papanya sudah ada di sini.
Tapi pesan yang masuk bukan dari mamanya atau Kak Vidya. Melainkan dari Dave.
Sengaja Rhea membaca tanpa membuka kotak pesannya.
Kamu boleh tidur di kamarku.
Awalnya ingin mengacuhkan, tapi sekarang Rhea malah ngga sabar untuk membalas pesan itu.
Aku tidur di kamar yang satu lagi.
Balasan dari Dave datang agak lama dari yang diperkirakan Rhea. Hampir saja dia menyimpan ponselnya karena mengira akan diabaikan Dave
Kenapa?
Rhea tersenyum miring. Saatnya dia membuat laki laki itu kesal.
Bau kamarnya ngga enak.
Setelah mengirimkannya, Rhea menyimpan ponselnya dengan debar cepat di dada. Secercah senyum terukir di bibirnya.
*
*
*
Paginya Rhea yang sudah membuka pintu, jadi terkejut melihat kehadiran Dave. Penampilannya yang sangat
rapi dengan stelan jasnya membuat Rhea terkesima sesaat.
Sejak kapan dia di sini?
Jantungnya berdebar cepat.
"Mau berangkat sekarang?"
"Aku mau pesan taksol.di bawah."
"Tante Puspa minta aku ngantar kamu." Dave menghadang langkah Rhea. Dari jarak sedekat ini, Rhea kembali terkejut karena menghidu parfum yang berbeda dari laki laki itu.
Dia ganti parfum? batin Rhea ngga percaya sambil.menatap wajah Dave. Tapi dia cepat melengos ketika Dave menatapnya tajam.
Masa, sih, ganti parfum karena dia protes? kicau Rhea dalam hati, masih kepo.
Dave kemudian mundur dan melangkah lebih dulu meninggalkan Rhea.
"Tante Puspa masih khawatir. Jadi minta aku antar jemput kamu beberapa hari ini."
"Oooh....." Rhea menatap punggung tegap Dave. Degup jantungnya masih belum normal.
Setelah itu tidak ada lagi komunikasi diantara mereka.
Kali ini Dave membawa mobilnya untuk menjemput Rhea.
"Kamu ngga ngasih keponakanku pe-er?" usik.Dave sambil membuka pintu mobil untuk Rhea.
"Pe-er?" Rhea balas menatap Dave yang sedang menunggu jawabannya.
"Iya. Mungkin pe-er mewarnai atau menggambar apa saja?" tanya Dave lagi.
"Untuk apa.ngasih pe-er. Mereka cukup belajar di sekolah." Setelah mengatakannya, Rhea masuk ke dalam mobil.
Cengiran kecil terukir di bibir Dave.
"Kamu bakalan jadi guru favorit mereka." Dave kemudian menutup pintu mobil.
Dave berjalan cepat ke arah jok mobilnya dan mendudukinya.
"Mereka selalu dapat pe-er, ya?" tanya Rhea ketika Dave mulai menjalankan mobilnya.
"Begitulah."
Rhea menatap keluar jendela mobilnya.
"Asal mereka tidak merasa terbebani, ngga masalah," jawab Rhea tenang.
Dave melirik Rhea sebentar. Seingat Dave, keponakan keponakannya senang saja. Dia tidak pernah mendengar orang tua mereka mengeluh.
"Kamu cocok dengan lingkungan di sana?"
Rhea menghela nafas.
"Mereka baik. Hanya saja mungkin merasa aku terlalu diistimewakan."
Apalagi sekarang, keluh Rhea dalam hati.
"Mereka belum tau kamu anak temannya Tante Puspa?"
Rhea berbalik menatap Dave sebal.
"Kalo tau, apa mereka ngga tambah yakin aku masuk jalur ordal?"
Dave tertawa pelan.
"Kan, memang begitu."
"Iya, sih." Rhea tetap sebal.
"Cuekin aja. Kamu juga ngga akan lama, kan, ngajar di TK Tante Puspa." Dave melirik sekilas.
Rhea menghela nafas.
"Maunya lama. Tapi kayaknya bentar lagi akan ketahuan."
"Langsng dinikahkan, ya?"
"Mungkin," jawab Rhea malas. Dia ngga suka dengan topik pembicaraan ini.
"Papa kamu mau cepat gendong cucu, ya?" ejek Dave dengan tatapan meremehkaan.
"Itu, kan, karena kamu?!" Nyolot Rhea menjawab. Matanya menyorot tajam.
"Apa hubungannya?" sergah Dave sambil memutar stir. Setelah melewati dua belokan lagi, mereka akan tiba di sekolah tempat Rhea mengajar.
"Temanku mengambil foto ketika kita sedang ...." Rhea terdiam dengan pipi memanas. Rasa malu menjalari dirinya ketika ingin berterus terang.
Dave mengerti.
"Papamu melihat fotonya?"
Rhea mengangguk, kemudian memalingkan wajah dari Dave. Dia menatap lurus ke depan.
"Jadi itu alasannya kamu akan dinikahkan?"
"Ya."
Dave mengangguk maklum.
Kalo dia mengaku sebagai pelakunya, bakal dimaafkan atau bahkan digampar, ya? Dave mulai mikir untuk bertanggungjawab.
"Kalo aku bilang ke papa kamu kalo aku yang ada di foto itu....." Dave melirik Rhea yang masih setia dengan posisinya.
"Kita akan dinikahkan?" lanjutnya tenang.
DEG DEG
Jantung Rhea berdetak keras sekali.
"Mungkin....."
Rhea terkejut lagi ketika merasakan tangan besar Dave menggenggam.tangannya.
"Aku akan mengaku kalo begitu."
salahkan papamu Rhe, coba ide konyol perjodohan itu ga ada pasti ga akan ada perpisahan yg tertunda begini, kesian ibu dan anak terpisah...