Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Aroma gurih kaldu sapi yang mengepul di meja makan seketika membangkitkan selera makan Sulfi.
Di warung langganan mereka, Sulfi menikmati sop buntut dengan begitu lahap, sesekali menyeruput kuah hangatnya untuk meredakan mual yang sempat melanda.
Zaidan dan Yuana yang duduk di hadapannya hanya bisa tersenyum menyaksikan nafsu makan sang calon ibu yang begitu besar.
Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.
DOR!!
Suara ledakan nyaring memecah suasana warung yang ramai.
Sebuah peluru melesat cepat, memecahkan kaca jendela tepat di samping kepala Zaidan.
Teror tembakan yang hampir mengenai Zaidan itu membuat seisi ruangan histeris.
Debu dan serpihan kaca berterbangan, bercampur dengan teriakan pengunjung yang berhamburan menyelamatkan diri.
Insting sebagai perwira polisi segera mengambil alih tubuh Zaidan.
Dalam gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, ia menarik Sulfi hingga jatuh ke bawah meja, menjadikannya tameng hidup bagi istrinya.
"Tiarap! Yuana, lindungi Sulfi!" perintah Zaidan tegas.
Dari balik meja yang terbalik, Zaidan melihat dua pria bermotor di seberang jalan masih mengacungkan senjata ke arah mereka.
Tanpa ragu, ia mencabut pistol dari balik pinggangnya.
Dengan akurasi yang mematikan, Zaidan menembak salah satu pelaku tepat di bagian bahu, membuat pria itu terpelanting dari motornya dan menjatuhkan senjatanya ke aspal.
Melihat rekannya tumbang, pelaku lainnya segera tancap gas dan menghilang di balik kerumunan kendaraan.
Di bawah perlindungan meja, tubuh Sulfi bergetar hebat.
Wajahnya pucat pasi, peluhnya bercucuran dingin.
Pemandangan itu, suara tembakan itu, dan bayang-bayang kematian yang hampir menjemput Zaidan membuat ingatannya terseret kembali ke malam kelam bertahun-tahun lalu.
Sulfi yang ketakutan jika kejadian itu berulang lagi hanya bisa meringkuk sambil mendekap perutnya yang kini berisi nyawa baru.
Ia menangis tanpa suara, bibirnya bergetar memanggil nama Zaidan.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah kematian dirinya sendiri, melainkan harus kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya dengan cara yang sama tragisnya.
"Mas, jangan tinggalkan aku. Jangan seperti dulu lagi," rintihnya di tengah keributan sirene polisi yang mulai terdengar mendekat.
Zaidan segera memeluk istrinya dengan erat, mengabaikan luka goresan kaca di lengannya sendiri.
Ia menyadari bahwa penangkapan Bima hanyalah awal dari perang besar.
Bima belum menyerah, dan pengecut itu kini mulai menggunakan cara-cara kotor untuk membungkam mereka—bahkan jika harus meneteskan darah di depan hidangan sop buntut yang belum habis itu.
Sirene polisi meraung-raung di depan kedai sop buntut yang kini porak-poranda.
Kompol menghubungi anak buahnya untuk menangkap mereka, memerintahkan pengepungan di setiap sudut kota untuk mengejar pelaku penembakan yang melarikan diri.
Di tengah kekacauan itu, Kompol menenangkan Yuana yang tampak syok, memastikan asisten hukumnya itu tidak terluka sedikit pun.
Begitu juga dengan Zaidan, ia terus mendekap Sulfi yang masih gemetar hebat di pelukannya.
Zaidan mengabaikan perih di lengannya yang terkena serpihan kaca, fokusnya hanya pada wanita yang kini tengah mengandung buah cintanya itu.
Dalam isak tangis yang menyesakkan, Sulfi mendongak.
Matanya yang sembab menatap Zaidan dengan penuh ketakutan.
Trauma masa lalu seolah tumpang tindih dengan kejadian barusan.
"Mas, aku cabut saja laporannya. Aku tidak mau kehilangan kamu," ucap Sulfi dengan suara parau.
Nyali sang pengacara hebat itu seolah menciut seketika demi keselamatan suaminya.
"Harta, keadilan, aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin kamu tetap hidup, Mas."
Zaidan memegang kedua pipi Sulfi, memaksanya untuk menatap matanya yang tenang namun sarat akan ketegasan.
"Sayang, lihat aku. Jika kamu mencabut sekarang, Bima akan bebas," kata Zaidan dengan suara bariton yang mantap.
Ia tidak ingin istrinya menyerah pada teror. "Bima akan merasa menang dan dia akan terus mengincar kita karena dia tahu ketakutan adalah kelemahan kita."
Zaidan mengusap air mata di pipi Sulfi, mencoba mengembalikan sisa-sisa keberanian istrinya.
"Kamu pengacara tangguh dan jangan takut," ucap Zaidan lagi.
"Ingat tujuan kita sejak awal. Ingat anak kita. Kita tidak boleh membiarkan dia tumbuh di dunia di mana penjahat seperti Bima bisa berkeliaran bebas hanya karena kita takut. Aku polisi, Sayang. Tugasku melindungimu, dan aku janji tidak akan membiarkan sejarah pahit itu terulang."
Sulfi terdiam, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Kata-kata Zaidan seolah menjadi suntikan kekuatan di tengah kerapuhannya.
Di bawah pengawalan ketat anak buah Kompol Hendrawan, Sulfi akhirnya mengangguk pelan.
Ia menyadari bahwa mundur sekarang berarti membiarkan kegelapan menang, dan dengan Zaidan di sisinya, ia harus kembali berdiri tegak demi keadilan yang telah lama tertunda.
Zaidan segera membawa Sulfi masuk ke dalam mobil dengan pengawalan ketat.
Rasa khawatir yang sempat menyelimuti kini berganti menjadi kewaspadaan tinggi.
Sepanjang jalan menuju rumah, mata Zaidan tak berhenti memantau kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang membuntuti mereka.
Sesampainya di kediaman mereka, Zaidan langsung membimbingnya masuk ke dalam kamar.
Suasana rumah yang biasanya tenang kini terasa lebih tegang.
Zaidan tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun, apalagi sekarang ada nyawa kecil yang sedang tumbuh di rahim Sulfi.
Sebelum menutup pintu utama, ia keluar menemui tim pengamanan yang sudah bersiap di halaman.
Ia meminta beberapa petugas menjaga rumahnya selama dua puluh empat jam penuh.
"Pastikan setiap sudut terpantau. Jangan biarkan orang asing mendekat tanpa pemeriksaan ketat," perintah Zaidan kepada rekan-rekannya dengan nada bicara yang sangat serius sebagai seorang perwira.
Setelah memastikan baris pertahanan di luar rumah sudah aman, Zaidan kembali ke kamar.
Ia melihat Sulfi duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang masih sedikit kosong.
Zaidan berlutut di hadapan istrinya, menggenggam tangannya yang mungil, dan berusaha memberikan rasa nyaman.
"Petugas sudah berjaga di luar, Sayang. Rumah ini sekarang menjadi tempat paling aman di kota ini," bisik Zaidan menenangkan.
"Istirahatlah, biar Mas yang berjaga di sini. Bima sudah melakukan kesalahan besar dengan mengirim orang-orang itu, dan Mas pastikan itu adalah serangan terakhirnya."
Sulfi menarik napas dalam, mencoba mengusir rasa takut yang masih tersisa.
Kehadiran para petugas di luar rumah dan ketegasan Zaidan perlahan mulai membangun kembali dinding keberaniannya yang sempat runtuh.
Di balik jendela yang tertutup rapat, perjuangan mereka untuk menjatuhkan Bima kini memasuki tahap yang lebih berbahaya, namun juga lebih menentukan.
Malam semakin larut, namun kantuk seolah enggan menyapa Zaidan.
Suasana kamar terasa sunyi, hanya terdengar suara detak jarum jam dan deru napas teratur dari arah ranjang.
Melihat wajah istrinya yang sudah tertidur pulas, Zaidan menyempatkan diri untuk membetulkan letak selimut Sulfi, memastikan wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu merasa hangat dan aman.
Perlahan, Zaidan melangkah menuju meja kerja di sudut kamar.
Dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Zaidan membuka laptopnya. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang tampak lelah namun penuh determinasi.
Ia kembali membuka tentang kejadian Bima, mulai dari berkas digital kasus tabrak lari bertahun-tahun lalu hingga laporan penembakan di kedai sop buntut tadi siang.
Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, menelusuri setiap detail yang mungkin terlewatkan oleh penyidik sebelumnya.
Zaidan sadar, menghadapi orang seperti Bima tidak cukup hanya dengan otot atau senjata.
Ia ingin mencari kelemahan Bima melalui celah yang paling sensitif: aliran dana dan relasi kekuasaannya.
Zaidan mulai masuk ke dalam database internal kepolisian, memetakan aset-aset tersembunyi milik keluarga Bima dan perusahaan cangkang yang digunakan untuk menyuap oknum di masa lalu.
"Pasti ada sesuatu," gumam Zaidan sangat pelan.
"Uang sebanyak apa pun tidak akan bisa menghapus jejak digital selamanya."
Matanya terpaku pada sebuah nama firma hukum yang sering menangani aset Bima di luar negeri. Insting intelijennya bergejolak.
Ia yakin, jika ia bisa menemukan bukti bahwa Bima menggunakan dana perusahaan untuk membayar eksekutor penembakan tadi siang, maka Bima tidak akan pernah bisa keluar dari penjara, bahkan dengan pengacara termahal sekalipun.
Zaidan terus bekerja dalam diam, menjadi penjaga di tengah malam bagi istrinya yang tertidur.
Ia bersumpah dalam hati, sebelum matahari terbit atau sebelum Sulfi terbangun nanti, ia harus sudah memiliki kartu as untuk menghancurkan Bima hingga ke akar-akarnya.
Keadilan untuk mendiang suami Sulfi dan keamanan untuk keluarga kecilnya kini berada di ujung jari-jarinya.