NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANGKUT.

Langit mulai berubah warna menjadi ungu gelap. Burung-burung sudah kembali ke sarang, dan suara jangkrik mulai bersahutan menandakan malam semakin dekat. Namun, di jalan setapak yang sepi itu, justru terlihat kesibukan yang luar biasa.

Deon Key dan Kakek Genpo sedang melakukan hal yang mustahil. Mengangkut bongkahan Giok Zamrud seberat ratusan kilogram hanya berdua, tanpa alat berat, tanpa bantuan siapa pun.

 

Sudut Pandang Deon Key

Fisika itu indah. Sangat indah.

Aku tersenyum sendiri melihat hasil kerjaku. Di bawah setiap blok batu hijau raksasa itu, sudah kuseret batang-batang kayu bulat yang licin. Ini adalah prinsip roda paling sederhana. Gesekan diperkecil, tenaga jadi efisien.

"Kek! Dorong dari belakang! Pakai momen! Jangan lawan beratnya, ikuti alurnya!" teriakku memberi komando sambil menarik tali tambang besar di depan.

"Alur apanya! Ini beratnya minta ampun! Kaki kakek mau masuk ke tanah!" teriak Genpo membalas sambil membenamkan kakinya kuat-kuat, mendorong dengan punggungnya.

Kriuk... dent... dent...

Batu itu bergerak. Lambat, sangat lambat, tapi pasti.

Di mataku, benda ini bukan sekadar batu mahal. Ini adalah teka-teki mekanika. Aku menghitung titik berat, sudut kemiringan jalan, dan kekuatan serat kayu yang kami pakai sebagai pengganti roda. Setiap ada batu penghalang, aku langsung tahu harus mengganjal di mana agar tidak meluncur balik.

"Kiri sedikit Kek! Jalanan menyempit di depan!"

"Iya, iya! Jangan teriak-teriak! Otak kakek jadi pusing!"

Meski capek, rasanya luar biasa seru. Bayangkan, barang yang diperjuangkan oleh Klan Awan dan orang-orang kaya di kota, justru kami bawa jalan kaki lewat hutan. Ini bukan sekadar mencuri, ini... mengambil hak milik. Karena simbol Beringin ada di sana, aku yakin batu ini memang ditakdirkan ada di tempat kita.

 

Sudut Pandang Kakek Genpo

Duh, napas... napas...

Dadaku rasanya mau meledak. Umur sudah 88 tahun, masa tua malah diajak main gila begini. Tubuhku memang masih kuat, tapi mengangkut gunung kecil begini itu ujian kesabaran tingkat dewa.

Tapi aku tidak bisa marah. Aku melirik ke depan, melihat punggung Deon yang menarik tali dengan penuh semangat. Matanya berbinar bukan karena uang, tapi karena rasa ingin tahu dan keyakinan.

Anak ini... benar-benar luar biasa.

Dia tidak memukul sembarangan. Dia tidak menarik sembarangan. Setiap gerakannya dihitung. Bahkan saat batu ini mau terguling, dia bisa menyeimbangkannya hanya dengan menyelipkan sepotong kayu kecil.

"Genpo tua... kamu membesarkan monster," gumamku dalam hati sambil tersenyum lelah. "Monster yang baik hati dan jenius."

Kami melewati tikungan tajam. Batu itu hampir menabrak pohon besar.

"Awas!" teriakku.

"Tenang Kek! Jarak aman 15 cm!" jawab Deon yakin. Dan bener saja, batu itu lewat dengan jarak sangat pas, tidak menyisakan goresan sedikitpun.

Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti berkeliling dunia, gerbang tak terlihat dari kompleks kuil kami muncul di balik pepohonan.

"Kita sampai Kek!" seru Deon.

 

Di Halaman Kuil

DUG!

Dengan hati-hati, blok terakhir batu Zamrud didorong masuk dan dihentikan tepat di tengah halaman, tidak jauh dari batu simbol Beringin yang kecil.

Prang...

Suara hening menggantikan hiruk pikuk tadi. Hening yang megah.

Mereka berdua langsung ambruk duduk di tanah, napas memburu, keringat bercucuran membasahi baju mereka sampai basah kuyup.

"Hah... hah... hah..." Genpo memegangi lututnya yang pegal luar biasa. "Gila... benar-benar gila. Sepanjang hidup kakek, belum pernah lihat orang angkut barang seharga istana cuma pakai akal dan kayu bekas."

Deon tertawa kecil, suaranya serak karena kelelahan tapi bahagia. "Kan sudah kubilang Kek, yang penting caranya. Otak itu kuncinya, bukan otot."

Mereka berdua mendongak, menatap tumpukan batu hijau itu di bawah cahaya bulan yang mulai naik.

Pemandangannya sungguh tak terlupakan.

Di bawah sinar remang bulan, permukaan Giok Zamrud itu memancarkan cahaya hijau yang lembut dan misterius. Seolah-olah batu itu bernapas dan memiliki nyawa sendiri. Tempat yang tadinya hanya reruntuhan tua, kini terlihat seperti istana peri yang menyimpan harta karun legendaris.

"Deon..." panggil Genpo pelan.

"Ya Kek?"

"Kamu sadar nggak... sekarang kita berdua mungkin jadi orang terkaya di dunia ini?"

Deon menggeleng pelan. Ia berdiri, berjalan mendekati salah satu blok batu, lalu menepuknya lembut.

"Bagi orang lain mungkin ini uang, Kek. Tapi bagiku... ini petunjuk. Ini jawaban kenapa kuil ini ada, kenapa simbol Beringin ada, dan kenapa aku ditemukan di sini."

Deon menatap Genpo dengan tatapan dalam.

"Batu 3 kg di kota itu cuma remahannya Kek. Ini yang asli. Ini jantungnya. Dan sekarang... jantungnya sudah kembali ke tubuhnya."

Genpo ikut berdiri, menepuk bahu cucunya. Angin malam berhembus kencang, seolah menyambut kedatangan batu itu ke rumah barunya.

"Baiklah, wahai Jenius Gila. Sekarang apa rencanamu selanjutnya? Kita ukir jadi patung? Kita jual diam-diam?"

Deon tersenyum misterius, matanya mengamati retakan-retakan alami pada batu itu.

"Tidak Kek. Besok... kita bersihkan ini. Dan aku yakin, di dalam batu sebesar ini... pasti ada sesuatu yang tersembunyi."

"Sesuatu apa?"

"Entah. Tapi dengan ketajaman mataku... aku bisa merasakannya. Ada ruang kosong di dalam inti batu ini. Seperti... sebuah kotak rahasia."

Mata Genpo membelalak lagi. "APA LAGI INI?!"

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!