Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Cameron baru saja merebahkan diri saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Panggilan dari sang kepala pelayan. Cameron ingin mengabaikannya, tetapi panggilan itu terus berulang.
“Ck! Ada apa?” tanya Cameron kesal saat panggilan tersambung.
Dari ujung telepon, Cameron mendengar suara Sarah yang panik dan samar-samar terdengar suara tangis bayi serta Giana yang juga terdengar panik.
“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi, lalu mendengarkan penjelasan Sarah yang terputus-putus. “Apa?! Cepat panggil dokter, aku akan segera pulang sekarang juga!”
Dengan tergesa-gesa, Cameron meraih jaketnya dan berjalan keluar kamar dengan penuh kepanikan. Dalam pikirnya sekarang, apapun yang terjadi, ia harus segera pulang secepat mungkin.
“Cameo! Kau mau ke mana?!” tanya Bianca setengah berteriak dari ruang keluarga.
“Aku harus segera kembali!” sahut Cameron tanpa menoleh. Ia memanggil sang sopir untuk mengantarnya kembali ke bendara.
Dalam perjalanan, ia kembali menelepon Giana, demi memastikan keadaan Cayden baik-baik saja. Namun, panggilan itu tak kunjung tersambung, membuat Cameron kian cemas.
“Tolong lebih cepat!” pintanya pada sang sopir keluarga.
***
“Cayden, Sayang. Ada apa, Nak?” tanya Giana lembut meski tahu bahwa Cayden tak mungkin menjawabnya. “Bibi, bagaimana ini?”
“Tuan akan segera pulang, aku juga akan segera memanggil dokter,” kata Sarah lalu berlalu dari sana, berniat menelepon dokter keluarga. Namun, Giana menghentikannya.
“Tunggu dulu, Bi.” Giana baru teringat untuk memeriksa Cayden secara mandiri. “Aku tahu harus melakukan apa.”
Giana kemudian membaringkan Cayden di atas tempat tidur lalu membuka pakaiannya dan memeriksa sekujur tubuh Cayden. Perut, tangan, leher hingga punggung.
“Cayden sepertinya mengalami kembung,” kata Giana baru menyadarinya, kemudian mengambil minyak dan mengolesi perut Cayden.
Perawat yang merasa itu tugasnya pun mengambil alih tugas Giana, takut akan terkena amarah Cameron lagi. “Biar aku saja, aku tahu caranya menghilangkan kembung pada bayi.”
Setelahnya, barulah Cayden merasa tenang dan kembali tidur setelah Giana kembali menyusuinya.
“Akhirnya,” gumam Sarah merasa lega. Begitu pula dengan sang perawat dan Giana. “Tangis Cayden membuatku panik.”
Giana menyeka pelipisnya pelan. “Ini pertama kalinya aku mengurus bayi, beruntung ada kalian, jika tidak aku tidak tahu harus apa,” katanya sambil terkekeh pelan.
“Apalagi aku yang tak pernah mengurus bayi.” Sarah menimpali. Ia menoleh kepada sang perawat, “Beruntung kita memiliki perawat yang kompeten sepertimu, Meghan. Terima kasih banyak.”
“Ini sudah menjadi tugasku di sini, Bu.” Perawat itu tersenyum sopan. “Jika tidak ada hal lainnya, aku permisi untuk kembali istirahat.”
“Bibi juga istirahatlah, biar aku yang menjaga Cayden.” Giana kembali merebahkan diri di samping Cayden, kali ini ia tidak akan membiarkan Cayden seorang diri.
•••
Pagi hari yang cerah itu, mobil Regina berhenti tepat di depan gerbang, dan tanpa menunggu lama, ia turun dengan langkah anggun yang penuh percaya diri. Kacamata hitamnya terpasang sempurna, menyembunyikan tatapan yang jauh dari kata tenang.
Ia tahu Cameron tidak ada di rumah, dan justru itulah alasannya untuk datang. Hari ini, tidak ada yang akan menghentikannya.
Pintu utama itu terbuka, dan para pelayan menyambutnya dengan sopan. Namun Regina tidak tertarik dengan formalitas itu. Tanpa banyak bicara, ia langsung melangkah melewati ruang utama menuju bagian belakang rumah. Langkahnya cepat dan tujuannya jelas, ia ingin menemukan wanita itu.
Namun alih-alih menuju kamar utama, Regina justru berbelok ke arah kediaman para pelayan. Dalam pikirannya, wanita seperti Giana pasti berada di sana. Akan tetapi ketika ia sampai, ruangan itu justru kosong. Tidak ada siapa pun. Keheningan itu membuat Regina menghela napas kesal, lalu melepas kacamatanya dengan sedikit kasar.
“Di mana dia dan bayi sialan itu?!” gumamnya kesal.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Sofia mendekat dengan sikap sopan, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang berbeda. Ia sudah tahu siapa yang sedang dicari.
“Nona Regina mencari seseorang?” tanyanya, sopan.
Regina melirik sekilas. “Ya, aku mencari pelayan yang menggendong bayi kemarin itu. Di mana dia?”
Sofia tidak langsung menjawab. Bibirnya sedikit melengkung, seolah menikmati momen itu. “Dia tidak tinggal di sini, Nona.”
Alis Regina langsung berkerut. “Apa maksudmu? Apakah dia sudah pergi?” tanyanya hampir tersenyum senang.
Sofia melangkah sedikit lebih dekat, menurunkan suaranya seolah membagikan rahasia. “Sebenarnya, Giana bukan pelayan biasa di sini, Nona. Tuan Cameron cukup memperhatikannya akhir-akhir ini.”
Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan sesuatu yang perlahan menyulut emosi.
“Memperhatikannya?” ulang Regina, nadanya berubah tipis. “Apa maksudmu itu?! Cameron tidak akan mungkin tertarik pada pelayan rendahan seperti kalian! Jaga bicaramu atau aku akan merobek mulutmu itu!”
Sofia langsung menunduk takut. “M-maafkan saya, Nona. Ma-maksud saya bukan seperti itu. Tuan Cameron memperlakukannya sedikit berbeda karena kasihan. M-maaf jika saya lancang,” katanya dengan suara yang bergetar.
“Apa?!” seru Regina, tatapannya mengeras, dingin, dan dipenuhi kecemburuan yang kini tidak lagi bisa disembunyikan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Regina berbalik. Langkahnya cepat dan menghentak, berjalan menaiki tangga dan menuju kamar Giana dengan penuh kecemburuan dan niat untuk mengusir pergi pelayan yang menurutnya tak tahu diri.
Sementara itu, di dalam kamar yang hangat, Giana sedang merapikan tempat tidur kecil milik Cayden. Tangannya bergerak perlahan, memastikan setiap sudut terasa nyaman. Sesekali ia melirik bayi itu yang terbaring tenang dengan mata setengah terpejam.
Dan untuk sesaat, Giana merasa semuanya baik-baik saja.
Hingga tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan keras. Suara benturan itu memecah ketenangan seketika. Giana tersentak, tubuhnya menegang saat ia menoleh ke arah pintu.
Regina berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi menyimpan senyum, hanya kemarahan yang begitu jelas terlihat.
“Keluar kau! Keluar sekarang juga dari rumah ini! Dasar pelayan yang tak tahu diri!”
Giana terdiam, belum sepenuhnya mencerna situasi. “Apa maksud Anda, Nona? Kenapa saya diminta keluar?” tanyanya pelan.
“Jangan pura-pura bodoh!” potong Regina dengan nada tinggi. “Keluar dari rumah ini. Bawa bayimu dan pergi sejauh mungkin dari sini!”
Kalimat itu menghantamnya tanpa ampun, membuat Giana membeku di tempatnya. Namun sebelum ia sempat merespons, suara tangisan Cayden terdengar.
Suara keras Regina membuat Cayden bangun dan terkejut, wajahnya memerah saat tangisnya memenuhi ruangan. Kedua tangannya bergerak gelisah, mencari ketenangan yang hilang.
Refleks, Giana segera mengangkatnya ke dalam pelukan.
“Shh, tidak apa-apa, Sayang. Ibu di sini,” bisiknya panik namun lembut.
Namun tangisan itu tidak langsung mereda, justru membuat suasana semakin kacau.
Regina menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras. Alih-alih merasa bersalah, ia justru semakin kesal.
“Astaga, suara tangisnya benar-benar menjengkelkan,” katanya kesal. “Cepat singkirkan dia dari sini!”
Giana mengangkat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Jangan seperti ini, Nona. Jika Tuan tahu, dia pasti—”
“Aku tidak peduli!” potong Regina tajam. “Cepat pergi dari sini sekarang juga sebelum aku menyeretmu dan bayimu pergi!” Ia melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka terasa menyesakkan. Tatapannya tajam, penuh tekanan yang sulit dihindari.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang terjadi?” lanjutnya sambil menunjuk wajah Giana. “Kau tinggal di kamar ini seperti seorang ibu yang tidak berdaya, lalu kau akan meminta belas kasihan Cameo dan merebutnya dariku.”
Giana menggeleng keras, “Tidak, Nona. Aku tidak pernah berniat untuk—”
“Pembohong! Aku tahu benar akal busuk pelayan sepertimu. Kau hanya berpura-pura lalu pelan-pelan akan mengambil keuntungan dalam setiap kesempatan!” tuduh Regina lagi tanpa ampun.