Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 07 | Dasha Khumaira
...Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad....
Rinai hujan mengiringi langkah kaki dua anak manusia yang sedang berjalan bersisian di jalan kecil pemakaman umum yang tampak sepi dan suram.
Tepat di sebuah nisan kecil bertuliskan nama 'Dasha Khumaira' Langkah dua orang tadi yang tak lain adalah Aisyah dan Devano terhenti. Lalu mereka berdua berlutut di hadapan nisan kecil itu dengan wajah sendu dan berurai air mata.
"Ini tempat peristirahatan putri kecilku," kata Aisyah sambil mengusap air matanya dengan menggunakan ujung pashmina yang di kenakannya.
Sedangkan Devano hanya bisa menatap ke arah gundukan tanah itu dengan penuh rasa penyesalan yang menyakiti hatinya.
"Maafkan Abi...," gumam Devano sambil mengelus nisan itu dengan penuh penyesalan.
"Abi sudah terlambat ya, sayang?" ucap Devano sambil menitikkan air mata.
Melihat tangis penyesalan Devano itu membuat hati Aisyah bertambah sesak dan sakit tentunya.
"Dasha selalu bilang kalau dia pengen banget ketemu sama Abi-nya...hiks..dan akhirnya sekarang keinginannya itu terwujud. Meskipun dia udah ada di alam yang berbeda," ungkap Aisyah dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Aku ayah yang payah! Bahkan untuk mewujudkan keinginan sederhananya saja aku terlambat. Aku adalah ayah yang buruk untuknya, aku bahkan belum pernah sekalipun menggendongnya," ucap Devano dengan nada getir yang sangat kentara di suaranya.
"Kamu belum terlambat, Dev. Karena sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Dasha sempat menitipkan buku diarynya untuk di berikan kepadamu. Mungkin dia ingin Abi-nya mengabulkan keinginan yang di tulisnya di buku itu," ungkap Aisyah tanpa menoleh kearah Devano.
"Mohon berikan diary itu kepadaku, Aisyah. Hanya dengan itu aku bisa mengurangi rasa bersalahku kepadanya," pinta Devano sembari menatap Aisyah dengan penuh permohonan di matanya.
Aisyah terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Sepulang dari pemakaman kita ke rumah lamaku, sebab buku diary itu tersimpan di sana," kata Aisyah dengan suara serak karena menahan tangisnya supaya tidak pecah di hadapan Devano.
Masih terkenang di ingatan Aisyah ketika Dasha yang waktu itu baru menginjak usia hampir 4 tahun kerap kali menanyakan dimana Abi-nya. Bahkan hampir setiap malam putri kecilnya itu mengatakan kalau dia merindukan Devano yang merupakan ayah kandungnya.
"Umi ... kenapa Abi enggak pernah temui aku?"
"Umi, sebenarnya Abi itu dimana?"
"Umi! Kata temanku aku tidak punya Abi, apa itu benar?"
"Umi, aku ingin bertemu Abi, aku merindukannya, aku juga ingin di peluk olehnya."
Pertanyaan dan pernyataan itu sering sekali di lontarkan Dasha kepadanya dan sampai sekarang pun Aisyah masih terus mengingat pertanyaan putrinya yang sulit di jawab olehnya itu.
*****
"Apa kau masih sering kesini?" tanya Devano kepada Aisyah ketika mereka baru saja masuk ke dalam rumah lama mereka yang penuh dengan kenangan itu.
"Setahun yang lalu aku memang kerap kali datang kesini setiap kali aku merindukan Dasha. Tapi semenjak aku mendapat pekerjaan baru aku jadi jarang mengunjungi rumah ini," jawab Aisyah sambil melangkahkan kakinya menuju kamar tempat dimana diary milik putrinya tersimpan.
Sedangkan Devano memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu, menunggu Aisyah datang dan memberikan buku diary Dasha kepadanya.
Tak butuh waktu lama Aisyah akhirnya keluar dari kamar sambil membawa buku kecil berwarna pink bergambar Hello Kitty di tangan kanannya.
"Ini buku diary-nya. Dan, ini kuncinya," ujar Aisyah seraya menyerahkan buku diary itu kepada Devano.
Dan Devano menerimanya dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
"Dia mengunci buku diary-nya?" tanya Devano seraya mengalihkan pandangannya ke arah Aisyah.
"Iya ... dia bilang, cuma kamulah yang boleh membaca pesannya di dalam buku diary itu," jawab Aisyah sambil mengusap air matanya dengan ujung kerudung pashmina-nya.
"Apa dia menulis sendiri?"
"Mungkin dibantu oleh teman-temannya yang lebih tua, aku nggak tahu pasti."
"Dia anak yang jenius. Aku sangat menyesal sempat tak mengakuinya sebagai anakku," sesal Devano sambil memeluk diary milik putrinya itu.
Melihat pemandangan itu membuat Aisyah ikut merasakan sakit di hatinya. Dia mulai mengerti dan percaya kalau Devano memang serius menyesali semua kesalahannya di masa lalu.
"Buku diary itu kini sudah ada di tanganmu, jadi urusan kita sudah selesai," ujar Aisyah yang membuat Devano menatap wajahnya dengan sendu.
"Aisyah, apa kamu benar-benar yakin untuk tak memberiku kesempatan kedua?" tanya Devano dengan raut putus asa-nya.
"Ya ... karena menurutku tak ada lagi alasan yang membuatku harus kembali sama kamu, Dev. Jadi aku mohon hargai keputusan yang aku buat," jawab Aisyah dengan tegas.
Kemudian setelah itu dia pergi meninggalkan Devano di rumah lama mereka itu.
'Maafkan aku, Dev. Aku melakukan ini demi kebaikan kita berdua. Karena aku yakin kalau kita hanya akan saling menyakiti jika memilih untuk kembali bersama," bisik Aisyah dalam hati.
*****
Devano membuka gembok buku diary yang berbeda di tangannya menggunakan kunci kecilnya.
Lalu setelah itu dia membaca tiap tulisan yang masih tergolong acak acakan itu. Maklum, usia putrinya waktu menulis itu belum genap empat tahun. Devano menangis tersedu-sedu ketika membaca tiap ungkapan yang di tulis di buku diary itu.
Abi, Dasha mau ketemu Abi.
Dasha kangen sama Abi.
Abi, Umi nangis terus kalo Dasha tanya soal Abi.
Abi, Dasha sedih kalau ada yang bilang Dasha gak punya ayah.
Kalau Dasha pergi ... Abi harus pulang dan jagain Umi, yah?
Dasha sayang banget sama Umi dan Abi.
Dasha mau kalian bersatu seperti kedua orang tua teman teman Dasha.
Devano menangis sejadi jadinya ketika membaca tulisan itu, sampai dia tak mampu menyelesaikan sampai ke lembar terakhir.
"Abi janji akan mengabulkan semua keinginanmu yang kamu tulis di buku diary ini, princess," janji Devano sambil mengusap air matanya.
TBC.
Jangan lupa untuk :
-LIKE
-KOMEN
-KASIH BINTANG LIMA
-DAN VOTE