Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Minta Maaf
Zivanna meraba sakunya. Tiba-tiba ia ingin memborong semua dagangan dua "teman" barunya ini. Tetapi kemudian dia sadar kalau tidak membawa apa-apa. Dia tadi berangkat ke puskesmas dalam keadaan setengah sadar jadi tidak terpikir untuk membawa dompet atau barang lainnya. Zivanna celingukan mencari neneknya.
"Cari apa, Non? Kalau cuma mau beli gorengan pakai uang saya saja." Budi mengerti hanya dengan melihat tingkah Zivanna.
"Nggak usah Pak Bud, terimakasih. Aku minta Nenek saja."
Belum juga Zivanna beranjak, dia melihat neneknya berjalan ke arahnya sambil berseru, "Zi, jangan kena sinar matahari. Ingat matamu! Nanti nangis lagi!"
Zivanna mendengar yang diucapkan neneknya lalu tertegun. Dia baru sadar jika sejak tadi dia berada di bawah terik matahari, dia juga tidak memakai kacamata anti UV tetapi air matanya sama sekali tidak menetes. Berarti benar dugaannya jika air matanya tidak ada hubungannya dengan operasi mata yang dia jalani. Analisa dokternya jelas salah.
Zivanna segera berlari menghampiri neneknya sebelum perempuan berambut pirang yang sebagian sudah memutih itu berjalan lebih jauh.
Zivanna baru menyadari jika Alvaro sudah pergi beberapa saat yang lalu tetapi entah kenapa neneknya baru terlihat sekarang. "Nenek dari mana? Kok lama?"
"Nenek habis menebus obatmu di bagian farmasi."
"Kenapa nggak minta tolong Pak Budi saja?"
"Nenek minta dia buat menemani kamu karena nenek tahu kamu nggak bakalan duduk diam di satu tempat. Nenek mana sanggup mengikutimu. Sehat dikit saja tingkahmu sudah seperti kuda."
Zivanna mengulum senyum. Malu mengakui jika kata-kata neneknya benar adanya. "Nek, minta uang."
"Mau beli apa?"
Zivanna menunjuk dua penjual jajanan yang kini sudah menjadi teman barunya. Minah mengeluarkan dompetnya lalu memberikannya pada Zivanna. "Nenek tunggu di sini."
Zivanna membawa dompet Minah lalu kembali ke teman-teman barunya. "Habis dari sini bibi berdua tidak usah keliling. Dagangannya hari ini saya beli semua tapi temani saya ngobrol. Saya ingin tahu lebih banyak soal Ayu," ucapnya sambil memberikan masing-masing lima lembar uang kertas berwarna merah.
Kedua orang itu melongo dan saling melempar tatapan.
"Kenapa, Bi? Kurang?" Zivanna hendak mengambil beberapa lembar lagi dari dompet neneknya.
"Bukan. Ini malah kebanyakan." Penjual gorengan ingin mengembalikan tiga lembar uang itu kepada Zivanna.
"Tidak usah dikembalikan. Itu buat bibi semuanya."
"Wah... Terima kasih Nona cantik." Penjual gorengan tersenyum lebar sementara penjual es kembali berkaca-kaca. Sehari paling banter di hanya menghasilkan dua ratus ribu, itupun kalau es dawetnya laku semua. Ini ada lima ratus ribu di depan mata tanpa dia harus kemana-mana, sungguh rejeki yang tidak disangka-sangka.
Kedua orang itu segera membungkus dagangan mereka ke dalam plastik kresek, lalu memberikannya pada Zivanna.
"Terima kasih ya, Nona cantik." Bibi penjual es menyerahkan lima kantong kresek berisi es dawet yang sudah dibungkus plastik kecil sekali minum. Demikian juga bibi penjual gorengan yang sudah membungkus semua dagangannya lalu menyerahkannya pada Zivanna.
Zivanna menerimanya lalu menyerahkannya pada Budi sambil berkata, "Pak Bud, bawa ini ke mobil!"
Budi mengangguk lalu mengambil semuanya.
"Namaku Zivanna. Panggil saja Ziva." Zivanna berkata kepada dua penjual jajanan itu.
"Mana mungkin kami panggil begitu? Nona ini sangat cantik dan datang naik mobil. Pasti kaya raya."
Kebanyakan warga kecamatan Suka Jaya hanya memiliki sepeda motor atau sepeda kayuh biasa. Bisa dihitung dengan jari berapa orang yang memiliki mobil. Biasanya mereka adalah orang kaya di kecamatan itu seperti pemilik penggilingan padi, pemilik peternakan, tuan tanah, atau pengusaha lokal seperti pemilik toko kelontong atau toko pakan ternak dan pupuk.
Sementara, Minah termasuk golongan tuan tanah karena memiliki sawah berhektar-hektar. Dan di desa Suka Makmur sendiri Minah adalah satu-satunya orang yang memiliki kendaraan beroda empat tersebut.
"Kami panggil Non Ziva saja, ya? Sama seperti Budi manggil Nona cantik."
"Ya, terserah bibi," Zivanna menurut saja. Mereka bertiga sudah kembali duduk lesehan, tetapi kali ini sedikit bergeser ke taman, di bawah pohon ketapang kencana yang rindang.
"Apa bibi ini juga jalan kaki? Desa Suka Sari lumayan jauh dari sini. Kalau dari desa Suka Makmur saja bisa satu jam, berarti dari desa Suka Sari bisa lebih." Zivanna kembali bertanya.
Penjual gorengan yang sedang membersikan keranjangnya dari sisa-sisa gorengan mengernyit heran. Seingatnya sejak tadi mereka belum membicarakan asal usul masing-masing. "Darimana Non Ziva tahu saya berasal dari desa Suka Sari?"
"Eh ... " Zivanna bingung sendiri. Dari mana dia tahu, dia sendiri juga dia tidak tahu. Dia hanya merasa semakin lama mengobrol dengan mereka dia merasa semakin dekat. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saling mengenal. "Saya nebak aja," kilahnya.
"Tebakannya bisa bener gitu?" Si penjual gorengan masih terheran-heran. "Bibi jualan naik sepeda. Tuh ... " Lalu menunjuk sepeda ontel tua yang bersandar di sudut parkiran. "Kalau dagangan bibi dan Ayu sama-sama sudah habis biasanya kami pulang bareng. Kami boncengan, terus dia nanti turun di persimpangan setelah itu dilanjutkan jalan kaki."
"Memangnya nggak ada yang bisa anter jemput Ayu? Apa dia nggak punya saudara atau orang terdekat lainnya? Kekasih, misalnya."
"Kalau seingat bibi sih dia punya tetangga laki-laki yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Siapa ya namanya bibi lupa. Tapi kalau lihat orangnya pasti bibi ingat karena dia sering menyusul Ayu ke sini."
"Tapi laki-laki itu bukan kekasihnya? Ayu nggak cerita?"
Bibi penjual gorengan menggeleng. "Sebelumnya mereka memang terlihat dekat. Dia sering mendatangi Ayu ketika sedang berjualan. Kelihatannya dia sangat menyayangi Ayu. Tapi pas bibi tanya, Ayu bilang laki-laki itu hanya tetangga yang sudah dia anggap seperti kakaknya."
"Tetapi anehnya, akhir-akhir sebelum meninggal dia jadi menghindari pemuda itu. Setiap pemuda itu datang Ayu selalu menghindar. Kadang baru melihatnya memasuki halaman puskesmas saja Ayu langsung tegang."
"Apa mungkin waktu itu mereka sedang ada masalah makanya Ayu menghindar? Bibi perhatikan tidak sejak kapan Ayu menghindari laki-laki itu?"
Pertanyaan Zivanna sudah seperti detektif yang sedang menyelidiki kasus besar. Zivanna bahkan tidak kenal siapa yang sedang mereka bicarakan tetapi entah kenapa Zivanna sangat tertarik mendengarnya dan sangat penasaran.
"Kalau tidak salah setelah kejadian pesanan palsu itu. Iya betul. Bibi ingat sekarang. Pemuda itu datang ingin mengajak Ayu bicara. Tapi Ayu nggak mau. Dia malah seperti ketakutan." Bibi penjual gorengan lalu menoleh kepada penjual es di sampingnya. "Kamu ingat tidak ketika pemuda itu datang terus si Ayu ketakutan sampai gemetaran?" tanyanya.
Bibi penjual es mengangguk. "Kami tidak tega jadi kami bantu Ayu dengan mengusir pemuda itu. Tapi sebelum pergi pemuda itu berkali-kali meminta maaf pada Ayu. Intinya pemuda itu datang untuk minta maaf, begitu kalau tidak salah."
"Maaf untuk apa?"