NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PERAMPOK HUTAN ANGKER

Desa kecil di pinggiran hutan itu seolah enggan terbangun dari mimpi buruknya. Amis darah yang membasahi lantai kayu warung kopi di pojok jalan masih menguap, menyebarkan aroma maut yang belum sempat tersapu gerimis semalam.

Namun, jagad persilatan Andalas sepertinya memang tak membiarkan kedamaian bernaung lama di atap penduduk yang tak berdosa.

Deg!

Angin mendadak berubah haluan. Jika sebelumnya berhembus lembut membawa wangi tanah, kini ia datang dengan liukan yang dingin, liar, dan membawa firasat buruk.

Dari kejauhan, di balik rimbunnya pepohonan purba, terdengar suara yang membuat jantung para penduduk seolah berhenti berdetak.

Suara derap kaki yang amat banyak, berat, dan teratur. Sebuah tanda bahwa yang datang bukanlah sekadar gerombolan pasar, melainkan pasukan yang terbiasa dengan siasat perang.

Rangga Nata berdiri tegak di tengah jalan desa yang berdebu. Matanya menyipit, tajam bagaikan mata elang yang mengintai mangsa dari angkasa.

Tatapannya lurus menembus kabut tipis yang menyelimuti bibir hutan.

Selasih berdiri tepat di sampingnya. Gadis itu bisa merasakan bulu kuduknya meremang.

Wajahnya yang cantik tampak tegang, jemarinya meremas gagang pedang hingga buku-buku jarinya memutih.

“Jumlah mereka tidak sedikit, Rangga…” gumam Selasih dengan suara yang sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena merasakan aura membunuh yang begitu pekat.

Rangga mengangguk pelan. Dadanya naik turun dengan teratur, mengumpulkan tenaga dalam di pusat sanubarinya.

“Lebih dari dua puluh orang. Dan mereka bukan pengecut yang menyerang dari belakang.”

“Golongan hitam?” tanya Selasih pendek.

“Lebih buruk. Mereka adalah anjing-anjing kelaparan yang tak kenal hukum ksatria,” jawaban Rangga singkat, sedingin es.

Tak lama kemudian, bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan dari kegelapan hutan.

Satu per satu, mereka keluar bagaikan hantu yang bangkit dari liang lahat.

Pakaian mereka compang-camping, namun tatapan mata mereka penuh dengan kerakusan dan kekejaman.

Senjata-senjata tajam di tangan mereka tampak kusam, namun beberapa di antaranya masih menyisakan noda merah yang menghitam—darah dari korban-korban sebelumnya.

Di barisan paling depan, melangkah seorang pria tinggi besar dengan dada bidang yang dibiarkan terbuka.

Wajahnya adalah peta dari ribuan pertempuran; penuh bekas luka parang yang mengerikan.

Matanya yang kuning kecokelatan berkilat haus darah, persis mata binatang buas yang telah lama mengincar mangsa.

Ia menyeringai, memperlihatkan barisan gigi yang menguning karena kerak tembakau.

“Ha… ha… ha…”

Tawanya berat, menggema di sela-sela rumah penduduk yang sunyi senyap.

“Jadi kau yang bernama Rangga Nata? Bocah ingusan yang katanya memiliki Pedang Naga Emas itu?”

Rangga tidak menjawab. Ia hanya berdiri kokoh seperti karang yang dihantam ombak, menatap lurus ke dalam bola mata pria raksasa itu.

Pria itu melangkah maju dua tindak, membuat debu jalanan berhamburan.

“Namaku…” Ia berhenti sejenak, memberikan tekanan batin pada siapa pun yang mendengar.

“Rudra Kala.”

Beberapa penduduk desa yang mengintip dari balik celah pintu kayu langsung gemetar hebat.

Nama itu adalah momok yang menghantui sepanjang pesisir Andalas. Nama yang identik dengan pembakaran, penjarahan, dan air mata.

“Pemimpin Perampok Hutan Angker…” bisik seorang lelaki tua di balik jendela dengan suara tercekat ketakutan.

Rudra Kala tertawa lagi, kepalanya terdongak ke langit.

“Bagus! Rupanya namaku masih cukup sakti untuk membuat nyali orang-orang kampung ini mengkeret.”

Ia mengangkat tangannya yang kekar ke udara. Seketika, puluhan perampok di belakangnya menyebar, membentuk formasi lingkaran yang perlahan mengunci setiap jalan keluar desa.

“Serahkan dirimu, Rangga Nata…” katanya dengan nada santai namun penuh ancaman maut.

“Mungkin, hatiku akan sedikit melunak untuk membiarkan desa ini tetap utuh tanpa kurendam dengan api.”

Selasih mengepalkan tangannya hingga gemetar.

“Keji! Kalian tidak lebih dari sekumpulan iblis yang tak punya nurani!”

Rangga melirik Selasih sekilas. Di balik ketenangannya, ada kegelisahan yang ia sembunyikan. Ia tahu, bertarung di sini akan memakan korban jiwa yang tak sedikit di pihak penduduk desa.

“Selasih,” ucap Rangga pelan.

“Ya?”

“Pergilah.”

Selasih tertegun sejenak.

“Tidak!” Jawabannya cepat dan tegas, menyiratkan kesetiaan yang mendalam.

“Ini bukan permintaan, Selasih,” nada suara Rangga berubah. Kini terdengar lebih berat dan berwibawa, sebuah perintah yang tidak bisa diganggu gugat. “Aku mohon.”

Selasih menatap Rangga dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ada luka di hatinya mendengar kata-kata itu.

“Kau pikir aku akan pergi begitu saja? Meninggalkanmu dikeroyok puluhan iblis ini sendirian? Apakah kau pikir aku sehina itu?”

Rangga tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada Rudra Kala yang kini sedang memainkan golok besarnya.

“Mereka bukan lawan biasa, Selasih. Rudra Kala memiliki ilmu Tapak Penghancur Sukma. Sekali kau terkena angin pukulannya, nyawamu takkan tertolong.”

“Aku juga bukan gadis lemah yang hanya bisa bersembunyi di balik jubahmu!” balas Selasih dengan emosi yang meluap.

Rangga akhirnya menoleh. Tatapannya melunak, ada pancaran kasih yang samar di sana, namun ketegasan tetap mendominasi.

“Aku tahu kau hebat, Selasih. Sangat tahu.”

Sunyi sejenak di antara mereka, di tengah deru napas para perampok yang kian mendekat.

“Tapi di sini…” Rangga melirik ke arah rumah-rumah penduduk. Ia melihat mata ketakutan dari anak-anak kecil dan wanita yang pucat pasi.

“…aku tidak bisa bertarung dengan bebas. Aku harus membagi konsentrasiku untuk menjaga mereka.”

Selasih terdiam. Lidahnya kelu. Ia sadar, keberadaannya di samping Rangga di tengah pemukiman ini justru akan menjadi beban bagi sang Pendekar Naga.

“Kalau kau tetap di sini,” lanjut Rangga dengan bisikan yang menyayat, “aku harus membagi nyawaku untuk melindungimu juga. Dan itu berarti kita berdua akan tamat.”

Selasih menggigit bibirnya hingga berdarah. Perih di bibirnya tak sebanding dengan perih di dadanya. Ia tahu Rangga benar. Secara logika pendekar, ini adalah pilihan terpahit yang harus diambil.

Rudra Kala tertawa keras, menikmati pertengkaran batin dua pendekar muda itu.

“Ha ha ha! Sungguh pemandangan yang mengharukan! Seperti drama sepasang merpati di ambang maut!”

“Cepat putuskan, Bocah!” bentak Rudra Kala, raut wajahnya kembali beringas.

“Atau aku mulai menghitung mundur dengan nyawa penduduk desa ini sebagai taruhannya!”

Selasih gemetar hebat. Ketakutan akan keselamatan penduduk dan Rangga beradu di dalam kepalanya.

Rangga menarik napas panjang, mencoba menjernihkan sukmanya dari segala gangguan emosi.

Lalu, ia berkata dengan sangat pelan, namun getarannya menembus langsung ke batin Selasih.

“Selasih… Percayalah padaku.”

Hanya tiga kata. Namun bagi Selasih, kata-kata itu mengandung janji yang lebih kuat dari sumpah apa pun.

Gadis itu menutup matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh menyentuh debu.

Beberapa detik kemudian, ia membukanya kembali. Tatapannya kini berubah; tenang, dalam, dan penuh kepasrahan yang agung.

“Baik…”

Namun sebelum ia membalikkan badan, Selasih melangkah satu tindak mendekati Rangga. Suaranya kini merendah, hanya bisa didengar oleh desiran angin dan telinga Rangga sendiri.

“Rangga…”

Pemuda itu menoleh sedikit, menanti kata yang mungkin menjadi yang terakhir.

“Aku akan menunggumu.”

Rangga terdiam, menahan gejolak di dadanya.

“Bukan sebagai rekan seperguruannya, bukan pula sebagai pendekar…” Selasih menundukkan wajahnya yang memerah. “…tapi sebagai seorang wanita yang mengharapkan kepulangan kekasihnya.”

Angin berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Selasih yang menyentuh pipi Rangga.

“Aku tidak tahu kapan pengembaraanmu akan berakhir, Rangga. Tapi aku akan menunggumu di gerbang desa ini, sampai saat itu tiba. Jangan biarkan aku menunggu selamanya.”

Sunyi menyergap. Rangga Nata, yang biasanya memiliki lidah setajam pedang, kini tak mampu mengeluarkan satu kata pun.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, hati sang Pendekar Naga bergetar hebat. Ada kehangatan sekaligus beban yang manis menyelimuti jiwanya.

Namun, ia hanya mampu mengangguk pelan. Sebuah janji tanpa suara.

Selasih tersenyum tipis—sebuah senyum yang paling indah yang pernah Rangga lihat.

Gadis itu kemudian berbalik dan melangkah pergi menuju bagian dalam desa tanpa menoleh lagi.

Setiap langkahnya terasa ringan bagi penduduk desa, namun terasa sangat berat di lubuk hati Rangga.

Rudra Kala mendengus, meludahkan air sirih ke tanah.

“Sudah selesai urusan asmara kalian? Sekarang, saatnya mencabut nyawa!”

Rangga kembali menatap Rudra Kala. Namun kini, tidak ada lagi kelembutan di matanya.

Yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es yang mematikan. Aura di sekeliling tubuhnya mendadak bergolak, debu-debu di bawah kakinya mulai berputar.

“Ayo.”

Rudra Kala menyeringai lebar.

“Akhirnya kau menyerah juga, Bocah!”

Namun, sebelum parang raksasa Rudra Kala bergerak—

WUSSS!!!

Rangga melesat! Bukan ke arah Rudra Kala, melainkan berbalik arah menuju hutan belantara di belakang desa!

“Keparat! Dia mau kabur! Kejar dia! Jangan biarkan kepala ia lolos!” teriak Rudra Kala dengan kemarahan yang meluap.

Tanpa ragu sedikit pun, seluruh perampok yang haus akan hadiah kepala Rangga bergerak serentak! Mereka melompati pagar desa, mengejar bayangan putih yang melesat cepat menembus pepohonan.

“Jangan biarkan dia lolos! Kepung dari samping!”

Namun, di dalam rimbunnya hutan, di balik kecepatan yang luar biasa, Rangga Nata tersenyum tipis. Sebuah senyum penuh siasat.

“Datanglah, Iblis-iblis kelaparan…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar oleh deru angin. “…datanglah jauh dari pemukiman warga.”

Tubuhnya melesat semakin cepat, menembus rimbunnya belukar dan melompati batang-batang pohon tumbang.

Rangga sengaja memancing mereka masuk semakin dalam ke jantung hutan angker, tempat di mana tidak ada lagi saksi mata yang tak berdosa.

Para perampok itu terus mengejar tanpa berpikir panjang. Nafsu membunuh telah membutakan nalar mereka. Tanpa sadar, mereka telah meninggalkan desa jauh di belakang.

Rudra Kala tertawa keras sambil berlari di antara dahan-dahan pohon. “Lari sepuasmu, Rangga Nata! Hutan ini akan menjadi kuburanmu!”

Namun, para perampok itu tidak menyadari. Bahwa mereka bukannya sedang mengejar mangsa yang ketakutan, melainkan sedang ditarik masuk ke dalam wilayah jagal yang telah dipilih Rangga sendiri. Sebuah tempat yang sunyi, gelap, dan mematikan.

Di sebuah tanah lapang di tengah hutan yang dikelilingi pohon-pohon tua bertubuh raksasa, Rangga berhenti.

Rangga berbalik badan, menunggu dengan tenang. Inilah tempat di mana ia tidak perlu lagi menahan diri demi keselamatan penduduk desa. Tempat di mana sang Naga akan mengamuk tanpa sedikit pun belas kasihan.

Di kejauhan, di batas Desa Bungo Tanjung, Selasih berdiri mematung. Matanya menatap ke arah hutan yang tampak hitam pekat di kejauhan.

“Jangan mati, Rangga…” bisiknya lembut, terbawa oleh semilir angin senja. “Aku masih menunggumu di sini. Bersama janji yang kau bawa.”

Angin membawa bisikan itu masuk ke dalam kerimbunan hutan, seolah menjadi tenaga tambahan bagi sang Pendekar Naga yang kini berdiri tegak di ambang badai kematian.

BERSAMBUNG...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!