Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Istana di Balik Gubuk Bambu
Dua minggu setelah peristiwa berdarah di Wijaya Tower, Jakarta gempar. Pak Menteri Burhan resmi memakai rompi oranye, dan yang paling memilukan bagi keluarga Wijaya adalah saat Guntur harus diseret petugas menuju mobil tahanan.
.
"Romo! Bunda! Tulung aku! Aku emoh mlebu kunjara! (Ayah! Ibu! Tolong aku! Aku tidak mau masuk penjara!)" teriak Guntur histeris dengan tangan terborgol.
.
Pak Wijaya hanya bisa menatap putra keduanya itu dengan mata berkaca-kaca namun tegas. "Kowe kudu sinau dadi wong, Guntur. Rong tahun neng njero muga-muga nggawe kowe sadar. (Kamu harus belajar jadi manusia, Guntur. Dua tahun di dalam penjara mudah-mudahan membuatmu sadar.)"
.
Guntur akhirnya dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Bukan karena bapaknya tidak mampu membayar pengacara mahal, tapi karena Pak Wijaya sadar: jika tidak dipenjara sekarang, Guntur akan menjadi iblis selamanya.
.
Sementara itu, di pinggir sebuah sungai yang jernih di kaki gunung, Arjuna sedang sibuk menyapu halaman sebuah gubuk bambu sederhana yang ia bangun sendiri. Tiba-tiba, suara deru mobil mewah terdengar berhenti di kejauhan.
.
Pak Wijaya, Bunda Siti, Laras, dan Mentari turun dari mobil dengan membawa tas pakaian yang cukup banyak. Mereka tidak membawa perhiasan, tidak membawa kemewahan. Hanya hati yang penuh rindu.
.
"Juna... Romo karo Bunda teka, Le. (Juna... Ayah dan Ibu datang, Nak,)" ucap Bunda Siti sambil berlari memeluk putra sulungnya.
.
Arjuna tersenyum, mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. "Wonten nopo, Romo? Kok mbeto tas kathah? (Ada apa, Ayah? Kok bawa tas banyak?)"
.
Pak Wijaya menghela napas panjang, ia melepas jas mahalnya dan hanya memakai kemeja putih biasa. "Romo kesel dadi wong sugih sing atine mlarat, Juna. Romo, Bunda, lan adik-adikmu pengen melu kowe neng kene. (Ayah lelah jadi orang kaya yang hatinya miskin, Juna. Ayah, Ibu, dan adik-adikmu ingin ikut kamu di sini.)"
.
Mentari dan Laras langsung berlari memeluk Arjuna. "Mas Juna, aku emoh balik neng Jakarta! Aku pengen neng kene, pengen sinau ngaji karo Mas Juna! (Mas Juna, aku tidak mau balik ke Jakarta! Aku ingin di sini, ingin belajar mengaji sama Mas Juna!)"
.
Arjuna terkekeh pelan, ia mengambil rokok kreteknya dan menyumetnya dengan santai. Cret! Asap harum cengkeh memenuhi udara pegunungan yang segar.
.
"Neng kene mboten wonten AC lho, Ndhuk. Turune neng klasa, aduse neng kali. (Di sini tidak ada AC lho, Dek. Tidurnya di tikar, mandinya di sungai,)" goda Arjuna.
.
"Mboten nopo-nopo, Mas! Sing penting atine ayem. (Tidak apa-apa, Mas! Yang penting hatinya tenang,)" jawab Laras mantap.
.
Arjuna menatap ayahnya yang tampak jauh lebih muda sejak melepaskan beban dunianya. "Nggih mpun, nek pancen niku karepe Romo. Nanging syarate setunggal... (Ya sudah, kalau memang itu keinginan Ayah. Tapi syaratnya satu...)"
.
"Opo kuwi, Le? (Apa itu, Nak?)" tanya Pak Wijaya penasaran.
.
Arjuna menyeruput kopi pahitnya yang ada di dalam gelas bambu. "Sedanten jabatan lan bondho neng kutha kudu dilalekne. Neng kene, Romo dudu Direktur, Bunda dudu Nyonya Besar. Neng kene, kabeh mung hamba sing lagi golek ridhone Gusti. (Semua jabatan dan harta di kota harus dilupakan. Di sini, Ayah bukan Direktur, Ibu bukan Nyonya Besar. Di sini, semua cuma hamba yang lagi cari ridhonya Tuhan.)"
.
Pak Wijaya tersenyum bangga. Ia mengambil cangkir bambu milik Arjuna dan ikut menyeruput kopi pahit itu. "Pait, Juna... tapi seger. (Pahit, Juna... tapi segar.)"
.
Hari itu, sebuah pondok kecil yang dinamakan "Pondok Debu" resmi berdiri. Bukan pondok megah dengan gedung beton, melainkan pondok hati tempat keluarga yang hancur itu kembali bersatu di bawah bimbingan sang putra sulung yang mereka buang dulu.
.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Arjuna mengajak keluarganya menuju mushola kecil di pinggir kali. Itulah awal mula perjalanan mereka menjadi manusia sejati
Malam itu, di saat Romo, Bunda, dan adik-adiknya sudah terlelap di atas tikar pandan yang sederhana, Arjuna duduk bersila di pinggir sungai. Suara gemericik air menyatu dengan zikir lirih yang keluar dari bibirnya.
.
Tiba-tiba, udara di sekitar gubuk bambu itu menjadi sangat harum, lebih harum dari bunga melati mana pun. Arjuna memejamkan mata, dan saat itulah ia merasakan "Kotak Batin"—sebuah komunikasi ruhani yang sangat kuat dengan Gurunya, Sang Mursyid.
.
"Le... Arjuna, cah bagus... (Nak... Arjuna, anak tampan...)" Suara Sang Guru menggema di dalam dada Arjuna, bukan di telinga.
.
"Dalem, Guru... (Saya, Guru...)" jawab Arjuna dalam batinnya sambil menunduk takzim.
.
"Wis titi wancine, Le. Kowe ora entuk dadi debu sing mung kabur kanginan terus. Kowe kudu dadi 'Omah' nggo wong-wong sing kelangan dalan. (Sudah waktunya, Nak. Kamu tidak boleh jadi debu yang cuma terbang terbawa angin terus. Kamu harus jadi 'Rumah' buat orang-orang yang kehilangan jalan.)"
.
Arjuna tertegun. "Nanging kulo mboten nggadhahi bondho, Guru. (Tapi saya tidak punya harta, Guru.)"
.
Sang Guru tertawa lirih di alam batin. "Mreneo... deloken neng ngisor wit ringin tuwo neng mburine gubukmu. Iku dudu nggonku, nanging nggone Gusti Allah sing dititipke lewat tangan kuli-mu mbiyen. (Kemarilah... lihatlah di bawah pohon beringin tua di belakang gubukmu. Itu bukan milikku, tapi miliknya Allah yang dititipkan lewat tangan kuli-mu dulu.)"
.
Arjuna membuka matanya. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke belakang gubuk menuju pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun. Di sela-sela akarnya yang besar, Arjuna melihat sebuah peti kayu kecil yang sudah berlumut.
.
Saat dibuka, cahaya kuning berkilauan menyilaukan mata. Di dalam peti itu terdapat tumpukan Emas Batangan murni dengan ukiran kuno. Jumlahnya sangat banyak, cukup untuk membangun sebuah istana.
.
Arjuna gemetar. "Gusti... niki kathah sanget. (Tuhan... ini banyak sekali.)"
.
Kembali suara Sang Guru bergema di batinnya. "Bangunen Pondok Pesantren neng kene. Jenengno AL-HIKAM. Panggonan nggo wong-wong sing pengen golek kawicaksanan, dudu bondho dunya. (Bangunlah Pondok Pesantren di sini. Beri nama AL-HIKAM. Tempat buat orang-orang yang ingin mencari kebijaksanaan, bukan harta dunia.)"
.
Arjuna bersujud syukur, dahinya menyentuh tanah yang dingin. Ia sadar, emas ini bukan untuk kemewahan keluarganya, melainkan amanah untuk membina umat.
.
Isuk harinya, saat matahari mulai menyembul, Pak Wijaya kaget melihat Arjuna sudah berdiri di depan tumpukan emas itu.
.
"Juna! Iki opo, Le? Kok ono emas semene akehe? (Juna! Ini apa, Nak? Kok ada emas sebanyak ini?)" tanya Pak Wijaya dengan mata terbelalak.
.
Arjuna menatap ayahnya dengan tenang sambil memegang sebatang rokok kretek yang belum disulut. "Niki titipane Guru, Romo. Juna diparingi ilham kon mbangun Pondok Pesantren Al-Hikam neng kene. (Ini titipannya Guru, Ayah. Juna diberi ilham disuruh membangun Pondok Pesantren Al-Hikam di sini.)"
.
Bunda Siti, Laras, dan Mentari keluar dari gubuk dan ikut terpana.
.
"Dadi kita mboten bali neng Jakarta, Mas? (Jadi kita tidak balik ke Jakarta, Mas?)" tanya Laras antusias.
.
Arjuna menyulut rokoknya, asapnya mengepul tenang. "Mboten, Ndhuk. Jakarta niku panggonan golek dunya sing nggawe lali. Neng kene, kita bakal mbangun omah nggo golek ridhone Gusti Allah. (Tidak, Dek. Jakarta itu tempat cari dunia yang bikin lupa. Di sini, kita bakal bangun rumah buat cari ridhonya Allah.)"
.
Pak Wijaya menangis haru. Ia menyadari bahwa kekayaan yang ia kumpulkan puluhan tahun di Jakarta tidak ada apa-apanya dibandingkan "rezeki langit" yang didapatkan putranya hanya dalam satu malam.
.
"Romo bakal mbantu kowe, Juna. Romo bakal dadi kuli neng kene, dadi tukang aduk semen nggo mbangun Al-Hikam. (Ayah bakal bantu kamu, Juna. Ayah bakal jadi kuli di sini, jadi tukang aduk semen buat membangun Al-Hikam,)" ucap Pak Wijaya mantap.
.
Arjuna tersenyum, menyeruput kopi pahitnya. Perjalanan besar dimulai. Al-Hikam akan segera berdiri, bukan dari semen dan pasir biasa, tapi dari zikir dan tetesan keringat orang-orang yang bertaubat.
Matahari sudah mulai tenggelam di balik gunung. Arjuna duduk di lincak bambu, kaki satunya diangkat ke atas, sambil menyulut rokok kreteknya. Pak Wijaya yang biasanya memakai jas sutra mahal, sekarang hanya memakai kaos oblong putih dan sarung goyor yang ikatannya belum terlalu benar.
.
"Juna... nggonmu kok ketoke nikmat banget to, Le? (Juna... punyamu kok kelihatannya nikmat banget sih, Nak?)" tanya Pak Wijaya sambil memperhatikan rokok kretek di tangan Arjuna.
.
Arjuna tertawa kecil. "Niki sanes dhuwit, Romo. Niki obat mumet sing paling jujur. Monggo, nyobi setunggal. (Ini bukan uang, Ayah. Ini obat pusing yang paling jujur. Silakan, coba satu.)"
.
Pak Wijaya mengambil sebatang, lalu menyulutnya dengan korek kayu. Cret!
.
"UHUK! UHUK! Juna... jebule abot banget rokokmu! (UHUK! UHUK! Juna... ternyata berat banget rokokmu!)" Pak Wijaya batuk-batuk sampai wajahnya merah padam.
.
Arjuna justru menyodorkan gelas bambu berisi kopi hitam pekat yang masih mengepul. "Niki kopine, Romo. Ojo diwenehi gulo, ben ngerti nek urip kuwi pait nanging seger. (Ini kopinya, Ayah. Jangan dikasih gula, biar tahu kalau hidup itu pahit tapi segar.)"
.
Pak Wijaya menyeruput kopi itu perlahan. "Walah... paité nyethak neng gulu! (Walah... pahitnya membekas di tenggorokan!)" Namun anehnya, setelah ngopi dan merokok, Pak Wijaya merasa dadanya yang dulu sesak karena memikirkan dunia, sekarang mendadak terasa sangat plong.
.
Laras dan Mentari yang baru saja selesai berwudhu di sungai, langsung lari mendekat dengan semangat.
.
"Mas Juna! Mas Juna!" teriak Mentari dengan mata berbinar-binar. "Aku karo Mbak Laras pengen dibuka 'Mripat Batine' (Mata Batin)! Ben iso weruh sing aneh-aneh koyo Mas Juna! (Aku dan Mbak Laras ingin dibuka 'Mata Batin'-nya! Supaya bisa lihat yang aneh-aneh seperti Mas Juna!)"
.
Arjuna hampir saja menyemburkan kopinya mendengar permintaan adiknya itu. "Lho, Ndhuk... mata batin kuwi dudu tontonan TV. Nek kowe weruh sing medeni, opo kowe ora bakal mlayu? (Lho, Dek... mata batin itu bukan tontonan TV. Kalau kamu lihat yang menakutkan, apa kamu tidak bakal lari?)"
.
"Mboten, Mas! Pokoke pengen weruh macan putih kuwi! (Tidak, Mas! Pokoknya ingin lihat macan putih itu!)" sahut Laras dengan mantap.
.
Arjuna tersenyum, ia mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya. "Mripat batin kuwi bakal mbukak dewe nek atimu wis resik seko rasa sombong. Nek saiki kowe weruh, sing ono malah kowe wedi karo bayanganmu dewe. (Mata batin itu bakal terbuka sendiri kalau hatimu sudah bersih dari rasa sombong. Kalau sekarang kamu lihat, yang ada malah kamu takut sama bayanganmu sendiri.)"
.
Arjuna kemudian menatap Ayahnya yang masih meresapi pahitnya kopi. "Romo, pripun? Penak dadi wong sugih neng Jakarta nopo dadi kuli neng kene? (Ayah, gimana? Enak jadi orang kaya di Jakarta atau jadi kuli di sini?)"
.
Pak Wijaya menghembuskan rokok kreteknya pelan, matanya menatap langit yang penuh bintang. "Jebule bener kandhamu, Juna. Ngopi pait karo udud kretek neng kene luwih mewah tinimbang mangan enak neng hotel bintang lima. (Ternyata benar katamu, Juna. Ngopi pahit sama rokok kretek di sini lebih mewah daripada makan enak di hotel bintang lima.)"
.
Arjuna mengangguk-angguk paham. "Nggih niku carane Gusti Allah maringi nikmat. Sederhana nanging nancep neng ati. (Ya itu caranya Allah kasih nikmat. Sederhana tapi menancap di hati.)"
.
Malam itu, di bawah pohon beringin yang menyimpan rahasia langit, sebuah keluarga yang dulu pecah kini mulai menyatu kembali. Suasana "Pondok Al-Hikam" yang masih berupa gubuk itu terasa lebih hangat daripada istana mana pun di Jakarta.
Malam semakin larut di Pondok Al-Hikam. Suasana sunyi, hanya terdengar suara serangga malam dan gemericik air kali. Di sudut gubuk, Bunda Siti tampak duduk bersila di atas sajadah lusuh. Bibirnya bergerak sangat cepat, melantunkan ayat-ayat suci tanpa melihat mushaf sedikit pun.
.
Arjuna yang baru saja selesai salat tahajud di pinggir kali, tertegun melihat ibunya. Ia merasakan aura yang sangat sejuk, sebuah pancaran cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang "selesai" dengan dunianya.
.
"Bunda... (Bunda...)" panggil Arjuna lembut.
.
Bunda Siti mengakhiri bacaannya, lalu menoleh sambil tersenyum teduh. "Wonten nopo, Le? (Ada apa, Nak?)"
.
Arjuna duduk di samping ibunya. "Juna nembe sadar, bacaan Al-Qur'an Bunda niku fasih sanget. Malah kadosipun Bunda sampun hafal sedanten. (Juna baru sadar, bacaan Al-Qur'an Bunda itu fasih sekali. Malah sepertinya Bunda sudah hafal semuanya.)"
.
Bunda Siti menghela napas panjang, matanya menerawang jauh. "Sejatine, rahasia iki kudu dipendem, Juna. Nanging saiki kowe wis dadi 'wong', Bunda kudu crito. (Sebenarnya, rahasia ini harus dipendam, Juna. Tapi sekarang kamu sudah jadi 'orang', Bunda harus cerita.)"
.
Bunda Siti memegang tangan Arjuna yang kasar karena bekas kerja kuli. "Simbahmu mbiyen kuwi Wali Mastur (Wali yang tersembunyi). Beliau mboten kerso dikenal menungso, nanging uripe mung nggo Al-Qur'an lan Hadis. (Kekekmu dulu itu Wali Mastur. Beliau tidak mau dikenal manusia, tapi hidupnya hanya untuk Al-Qur'an dan Hadis.)"
.
Arjuna terkejut bukan main. Selama ini ia mengira ibunya hanyalah wanita biasa yang sabar menghadapi watak keras Pak Wijaya.
.
"Dadi Bunda niku keturunan Sang Wali? (Jadi Bunda itu keturunan Sang Wali?)" tanya Arjuna tak percaya.
.
Bunda Siti mengangguk pelan. "Bunda sampun hafal Al-Qur'an lan ribuan Hadis kawit cilik, Le. Nanging Bunda milih dadi 'debu' neng sandhinge Romomu. Bunda pengen dadi makmum sing setya, senajan atine perih mergo dunya. (Bunda sudah hafal Al-Qur'an dan ribuan Hadis sejak kecil, Nak. Tapi Bunda memilih jadi 'debu' di samping Ayahmu. Bunda ingin jadi makmum yang setia, meskipun hatinya perih karena dunia.)"
.
Arjuna tertunduk lesu. Ternyata kekuatan batinnya selama ini, ketabahannya menjadi kuli, dan bimbingan gaib yang ia terima, mengalir dari doa-doa rahasia ibunya yang merupakan keturunan kekasih Allah.
.
"Niki sebabe Juna saged mbangun Al-Hikam... mergo dongane Bunda sing mboten nate putus. (Ini sebabnya Juna bisa membangun Al-Hikam... karena doanya Bunda yang tidak pernah putus,)" bisik Arjuna sambil mencium tangan ibunya.
.
Bunda Siti mengelus rambut Arjuna. "Mbangun pesantren niku mboten nggo gagah-gagahan, Le. Niki amanah seko simbahmu. Jogoen mripatmu, jogoen atimu. (Membangun pesantren itu bukan buat gagah-gagahan, Nak. Ini amanah dari kakekmu. Jagalah matamu, jagalah hatimu.)"
.
Tiba-tiba, dari arah luar gubuk, terdengar suara harimau mengaum sangat pelan, seolah memberikan salam takzim kepada Bunda Siti.
.
Pak Wijaya yang sedang tidur di ruang tengah mendadak terbangun, tapi ia hanya melihat bayangan istrinya yang bercahaya di balik kelambu. Ia tidak tahu bahwa wanita yang selama ini ia anggap lemah, justru adalah "tiang langit" yang menjaga keluarganya dari kehancuran total.
.
"Wis, saiki istirahat. Sesuk kowe kudu mulai milih kayu nggo pondasi masjid. (Sudah, sekarang istirahat. Besok kamu harus mulai memilih kayu buat pondasi masjid,)" ucap Bunda Siti kembali menjadi sosok ibu yang bersahaja.
.
Arjuna melangkah keluar dengan hati yang bergetar. Ia baru sadar, musuh terberatnya bukan Guntur atau Pak Menteri, tapi menjaga amanah besar yang mengalir dalam darahnya sendiri.