"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Nama di Atas Kertas Putih
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat mobil tua milik Nata berhenti di depan sebuah kantor urusan agama yang tampak masih sepi. Airine terbangun dengan sentakan, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong bahwa ia tidak tidur sedetik pun semalam.
"Kita sudah sampai. Turunlah," ucap Nata datar. Ia sudah mengganti kaus oblongnya dengan kemeja flanel kotak-kotak yang tampak agak kusam, namun entah kenapa tetap terlihat gagah di tubuh tegapnya.
Airine memijat pelipisnya. "Jam berapa ini? Kenapa sepi sekali?"
"Jam enam lewat sedikit. Aku punya kenalan petugas di sini. Dia bersedia membantu kita lebih awal supaya tidak menarik perhatian orang-orang ayahmu," Nata turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Airine.
Airine melangkah gontai masuk ke dalam ruangan yang berbau pengharum ruangan jeruk murah. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sudah menunggu mereka dengan tumpukan berkas.
"Cepatlah, Dok. Saya tidak punya banyak waktu sebelum shift rumah sakit dimulai," bisik Nata, seolah mendesak.
"Aku tahu, Nata. Kepalaku rasanya mau pecah," keluh Airine. Pikirannya dipenuhi bayangan Reo dan Renata yang menertawakannya, serta ancaman ayahnya semalam. Ia hanya ingin semua ini cepat selesai agar ia punya tameng hukum untuk masuk ke rapat pemegang saham siang nanti.
Si petugas menyodorkan beberapa lembar kertas. "Silakan tanda tangan di sini, Bu Dokter. Dan ini untuk mempelai pria."
Airine meraih pulpen dengan tangan sedikit gemetar. Ia hanya melihat kolom tanda tangan yang ditunjuk. Matanya yang mengantuk hanya menangkap sekilas baris nama yang sudah terisi di sana. Ia melihat huruf depan 'A' dan 'D'.
Mungkin itu nama asli Nata yang belum pernah ia tanyakan secara lengkap, pikirnya pendek. Anatoli? Aditama? Ah, masa bodoh.
Sret! Sret!
Dua tanda tangan dibubuhkan. Nata menyusul di lembar berikutnya dengan gerakan tangan yang sangat mantap dan cepat.
"Sudah sah. Selamat, kalian resmi suami istri," ucap si petugas sambil menyalami mereka dengan tatapan yang sedikit aneh ke arah Nata—tatapan hormat yang tidak biasa diberikan pada seorang tukang bakso.
"Terima kasih, Pak," Nata segera menarik tangan Airine keluar.
Begitu sampai di dalam mobil, Airine menyandarkan kepalanya ke kaca. "Jadi... sekarang kita suami istri? Aku baru saja menikahi pria yang bahkan aku tidak tahu nama belakangnya."
Nata menyalakan mesin mobil yang suaranya menderu kasar. "Kamu yang memintanya, Airine. Kamu bilang aku rakyat biasa yang mudah dikendalikan, bukan?"
Airine menoleh, menatap profil samping Nata yang tegas. "Kenapa petugas tadi melihatmu seolah kamu itu... entahlah, bukan seperti tukang bakso?"
"Mungkin karena aku pelanggan baksonya yang paling galak," sahut Nata asal. "Sekarang, ke mana kita? Rumah sakit? Atau kamu mau pulang ke rumah ayahmu dan memamerkan buku nikah ini?"
"Ke rumah sakit. Aku punya operasi pukul sembilan. Dan Nata... soal semalam..." Airine menggantung kalimatnya, teringat bagaimana Nata menghajar tiga pria besar dengan tangan kosong. "Di mana kamu simpan belati itu?"
"Di tempat yang aman. Kenapa? Kamu takut suamimu ini kriminal?"
"Aku hanya... aku hanya tidak menyangka kamu seberbahaya itu. Aku pikir aku hanya menyewa seorang pelindung pasif. Tapi cara kamu bertarung... itu bukan gaya tawuran antar kampung, Nata. Itu terlalu efisien."
Nata terkekeh sinis, matanya tetap fokus pada jalanan. "Dunia luar itu keras, Dokter. Terutama untuk orang kecil seperti aku. Kalau aku tidak efisien, aku sudah mati di selokan sejak lama."
Mobil berhenti di lampu merah. Nata menoleh sepenuhnya ke arah Airine. "Dengar, Airine Rubyjane. Kamu sudah menandatangani kontrak itu. Mulai hari ini, aku adalah suamimu. Artinya, siapa pun yang mengganggumu, mereka berurusan denganku. Tapi jangan pernah mengatur bagaimana cara aku melindungimu."
"Tapi aku bosnya di sini!" bantah Airine dengan ego dokternya yang tersisa. "Aku yang membayarmu!"
"Di rumah sakit, kamu bosnya. Tapi di luar sana, aku yang memegang kendali," Nata mendekatkan wajahnya, membuat Airine secara insting menahan napas. Aroma maskulin pria itu kembali menyeruak, mengisi kabin mobil yang sempit. "Paham, Istriku?"
Airine hanya bisa mengangguk pelan, lidahnya mendadak kelu. Ada sesuatu yang sangat salah di sini. Ia merasa seperti domba yang baru saja menyerahkan diri ke kandang singa, bukan membawa singa untuk menjaganya.
Setibanya di lobi rumah sakit, Nata menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama—tempat di mana para direksi biasanya turun.
"Turunlah. Aku akan menjemputmu jam lima," ucap Nata.
"Jangan parkir gerobak baksomu di depan sini, Nata! Itu memalukan," bisik Airine sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Aku tahu tempatku, Airine. Pergilah."
Airine keluar dari mobil dengan kepala tegak, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya. Ia berjalan masuk ke lobi, disambut tatapan kaget para staf yang melihatnya turun dari mobil tua dengan kemeja laki-laki yang kedodoran.
...****************...
Sementara itu, di dalam mobil, Nata memasang headset bluetooth-nya. Auranya berubah seketika menjadi dingin dan tajam.
"Lapor. Subjek sudah masuk ke dalam gedung. Operasi 'Deep Cover' dimulai," ucap Nata—atau lebih tepatnya, Komandan Arnold Dexter.
"Diterima, Komandan. Bagaimana soal pernikahan itu?" suara dari seberang bertanya.
Arnold melihat buku nikah berwarna cokelat di atas dasbor. Di sana tertulis jelas namanya: Arnold Dexter. Nama yang tidak sempat dibaca oleh Airine karena kelelahan.
"Sudah selesai. Dia sudah menandatanganinya tanpa melihat. Sekarang, aku punya akses penuh ke laboratorium farmasi Rubyjane. Awasi pergerakan Reo dan sindikat narkoba itu. Jika ada yang mendekati istriku tanpa izin, habisi."
Arnold menginjak gas, memacu mobil tuanya pergi. Di balik celemek bakso yang akan ia kenakan sebentar lagi, sebuah pistol jenis Sig Sauer P320 sudah terkokang rapi.
Ia bukan lagi sekadar tukang bakso yang butuh uang. Ia adalah mesin pembunuh yang kini punya alasan pribadi untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik "investasi" berharganya.
...****************...