Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: EKONOMI BUMI HANGUS
Pagi itu, Jakarta terbangun dalam keadaan mencekam. Bukan karena suara ledakan, melainkan karena keheningan yang mematikan di layar-layar bursa saham. Madame Vivienne tidak menggertak. Dalam waktu kurang dari dua belas jam sejak peluncuran satelit Icarus-1, The Council mulai menarik tuas penghancur ekonomi Indonesia.
"Bos, situasi di luar kendali!" Elena berteriak dari meja komandonya. Wajahnya diterangi oleh cahaya merah dari peringatan sistem. "Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 12% dalam pembukaan pasar. Investor asing melakukan capital outflow massal. Rupiah menembus angka yang tidak masuk akal. Ini bukan lagi sekadar krisis, ini adalah upaya kebangkrutan paksa!"
Nata berdiri di tengah ruangan, menatap layar yang menampilkan antrean panjang warga di depan mesin-mesin ATM yang kehabisan uang tunai. Bank-bank besar mulai menutup operasionalnya karena likuiditas dolar mereka dibekukan oleh bank korespondensi di New York dan London.
"Mereka menggunakan taktik bumi hangus," gumam Nata. "Mereka ingin rakyat Indonesia menderita agar pemerintah menyerahkanku sebagai tumbal."
Ponsel satelit Nata bergetar. Jenderal Surya. Suaranya terdengar parau, seolah ia baru saja melalui malam yang sangat panjang. "Nata... Istana sedang dikepung secara diplomatik. Menteri Keuangan melaporkan bahwa cadangan devisa kita tidak cukup untuk menahan serangan ini lebih dari 48 jam. Madame Vivienne secara resmi menawarkan bantuan likuiditas dari IMF, tapi syaratnya adalah pembatalan seluruh proyek satelitmu dan ekstradisi kamu ke Den Haag."
"Jenderal, dengarkan saya," Nata memotong dengan suara yang sangat stabil. "Katakan pada Presiden, jangan ambil satu sen pun dari mereka. Itu adalah jeratan leher. Aktifkan 'Protokol Penyelamatan Nasional' yang saya kirimkan ke tablet rahasia Anda bulan lalu."
"Nata, rakyat sedang panik! Mereka tidak bisa membeli bahan pokok karena transaksi perbankan mati!"
"Itulah sebabnya kita akan menyalakan sistem kita sekarang juga. Elena, aktifkan Jaringan Icarus untuk publik!"
Seketika, di seluruh penjuru Indonesia, terminal-terminal kecil yang selama ini didistribusikan secara rahasia oleh kurir Yuda ke warung-warung, pasar, dan SPBU mulai memancarkan sinyal Wi-Fi satelit gratis. Rakyat yang tadinya kehilangan akses perbankan tiba-tiba menerima notifikasi di ponsel mereka melalui aplikasi Prawira Pay.
[Pemberitahuan: Transaksi Rupiah Anda kini dijamin oleh Dinar Digital. Nilai tukar tetap. Silakan gunakan untuk kebutuhan pokok di gerai bertanda Icarus.]
Nata telah menyiapkan ini sejak lama. Ia menggunakan cadangan emas fisiknya yang tersimpan di bunker Tangerang dan minyak yang dikirim oleh Pangeran Khalid untuk menjamin nilai mata uang digitalnya. Di saat rupiah di pasar global hancur, Dinar Digital di dalam jaringan Icarus tetap stabil.
"Bos, sistem mulai memproses sepuluh ribu transaksi per detik!" Elena melaporkan dengan mata berbinar. "Warung-warung mulai menerima pembayaran digital kita. Pemerintah daerah di beberapa provinsi mulai menggunakan sistem kita untuk distribusi bantuan darurat."
Nata melihat grafik di layarnya. Ia sedang melakukan hal yang mustahil: Membangun ekonomi paralel di tengah keruntuhan ekonomi nasional.
Namun, Madame Vivienne tidak tinggal diam. Di kantor pusat sebuah bank investasi di Singapura, ia menatap peta kekuatan Nata yang justru semakin menguat di tingkat akar rumput.
"Dia menggunakan satelit itu untuk mem bypass kendali kita," Vivienne mendesis kepada asistennya. "Hubungi unit siber kita di Eropa Timur. Saya ingin satelit Icarus-1 itu buta. Jika kita tidak bisa menghentikan transaksinya di bumi, kita hancurkan matanya di langit."
Serangan siber tingkat tinggi mulai menghujam protokol Icarus-1. Ribuan paket data jahat mencoba mencari celah dalam transmisi laser satelit tersebut.
"Bos! Mereka mencoba mengambil alih kendali orbit Icarus-1!" Elena berteriak panik. "Mereka ingin menabrakkan satelit kita ke satelit lain agar terjadi tabrakan berantai di luar angkasa!"
Nata langsung duduk di samping Elena. Jemarinya menari di atas papan ketik virtual. "Mereka pikir mereka bisa mengalahkan algoritma yang dibangun dengan pengetahuan dari masa depan? Elena, alihkan kendali ke 'Inti Kesadaran'. Gunakan enkripsi berbasis blockchain yang berubah setiap milidetik."
Pertempuran di luar angkasa itu terjadi dalam sunyi. Di layar monitor, terlihat ribuan garis merah mencoba menembus perisai biru milik Icarus. Nata tidak hanya bertahan; ia mulai melacak balik sumber serangan.
"Ketemu," bisik Nata. "Mereka menggunakan server di sebuah pangkalan rahasia di Kepulauan Cayman. Elena, kirimkan 'hadiah' balik. Aktifkan virus Ouroboros yang kita kembangkan. Biarkan sistem mereka memakan data mereka sendiri."
Dalam hitungan detik, serangan siber terhadap Icarus berhenti total. Di belahan dunia lain, pusat data milik The Council di Cayman mengalami gagal fungsi total, menghapus seluruh catatan hutang ribuan orang secara permanen.
Sore harinya, situasi di Jakarta mulai berbalik. Berita tentang ketangguhan sistem Nata menyebar seperti api. Kepercayaan rakyat mulai pulih bukan karena rupiah membaik, tapi karena mereka punya alternatif yang bekerja.
Jenderal Surya datang ke Prawira Fortress menggunakan helikopter militer. Ia melangkah masuk ke dalam bunker dengan wajah takjub.
"Nata... Anda baru saja menyelamatkan negara ini dari kerusuhan besar," ucap Surya sambil menjabat tangan Nata dengan sangat erat. "Presiden baru saja menolak tawaran IMF. Indonesia secara resmi akan mengadopsi sistem kliring Linden-Prawira sebagai cadangan devisa nasional kedua."
"Ini baru awal, Jenderal," jawab Nata. "Madame Vivienne akan sangat marah. Dia telah kehilangan kredibilitasnya karena gagal menjatuhkan negara 'kecil' seperti kita. Dia akan melakukan sesuatu yang lebih nekat."
"Apa yang lebih nekat dari menghancurkan ekonomi?" tanya Surya.
Nata menatap layar yang menampilkan pergerakan armada laut di Samudra Hindia. "Dia akan mencoba memicu konflik fisik. Dia akan menekan sekutu-sekutunya untuk melakukan provokasi militer di perbatasan, mencari alasan untuk melakukan intervensi kemanusiaan."
Nata kemudian berbalik ke arah Yuda. "Yuda, bagaimana dengan Kirana dan Arya?"
"Mereka aman di lantai paling bawah, Bos. Tapi Kirana terus bertanya kenapa kita tidak bisa keluar dari sini," jawab Yuda dengan nada sedih.
Nata terdiam sejenak. Ia merasa pedih di hatinya. Kekuasaan yang ia miliki seolah membangun dinding antara dirinya dan kehidupan normal yang ia janjikan pada adiknya. Namun, ia tahu bahwa jika ia menyerah sekarang, tidak akan ada masa depan bagi siapa pun.
Malam itu, Nata menerima panggilan video langsung dari Madame Vivienne. Wajah wanita itu tidak lagi tampak anggun. Kerutan kemarahan terlihat jelas di dahinya.
"Kamu telah memenangkan satu pertempuran, Tuan Prawira," ucap Vivienne dingin. "Tapi kamu telah menghancurkan keseimbangan yang menjaga perdamaian dunia. Kamu tidak tahu apa yang telah kamu lepaskan. Kami telah mengaktifkan 'Protokol Scarcity'. Mulai besok, tidak ada satu pun kapal tanker minyak yang akan menuju pelabuhan Indonesia. Kami akan mencekik energimu."
"Anda terlambat, Madame," jawab Nata sambil menyesap tehnya. "Dua jam yang lalu, Pangeran Khalid telah memerintahkan armada tankernya untuk bergerak menuju Indonesia di bawah bendera perlindungan Linden-Prawira. Dan tebak siapa yang menjamin keamanan mereka di laut?"
Nata menampilkan layar radar laut yang menunjukkan armada kapal perang dari beberapa negara aliansi baru yang selama ini merasa ditekan oleh The Council, bergerak untuk mengawal jalur minyak tersebut.
"Dunia tidak lagi hanya berputar di sekitar meja makan Anda, Vivienne," lanjut Nata. "Dunia ini luas, dan rakyat mulai sadar bahwa mereka tidak butuh tuan seperti Anda."
Vivienne memutus sambungan dengan kasar.
Nata bersandar di kursinya, mengembuskan napas panjang. Ia merasa sangat lelah. Perang ekonomi ini telah menguras seluruh energinya. Namun, saat ia melihat Elena yang tertidur di atas meja kerjanya karena kelelahan, dan Yuda yang masih setia berjaga di pintu, Nata menyadari bahwa ia tidak sendirian.
"Ini baru Bab 29 dari seratus bab kehidupan baruku," bisik Nata pada kegelapan bunker. "Dan aku baru saja mulai menulis sejarah yang sebenarnya."
Ia berdiri, berjalan menuju kamar adik-adiknya, dan melihat mereka tertidur lelap. Di tengah badai yang mengguncang dunia, kamar itu adalah satu-satunya tempat yang tetap damai. Nata berjanji, apa pun yang terjadi besok—apakah itu sanksi baru, serangan siber, atau bahkan perang nyata—ia akan tetap berdiri sebagai perisai bagi mereka.
Keesokan harinya, koran-koran di seluruh dunia memuat berita utama yang sama: "Keajaiban Jakarta: Negara Pertama yang Mengalahkan Tekanan Global Tanpa Bantuan Barat."
Nama Nata Prawira kini bukan lagi sekadar buronan; ia telah menjadi simbol perlawanan global. Dan sang arsitek tahu, setelah ini, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang biasa lagi.
Bersambung.....