NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shang Lun dan Perkembangan Fang Yi

“Cepat padamkan apinya!”

Teriakan para pendekar yang diutus Aliansi Murim bersahut-sahutan di tengah kobaran yang semakin membesar. Cahaya api menerangi langit malam, sementara percikan bara beterbangan terbawa angin.

“Apinya terlalu besar! Minta bantuan lebih dari sekte-sekte terdekat!” sahut seorang pendekar lain sambil terus menyiram bagian bangunan yang hampir runtuh.

Ketua Aliansi Murim berdiri di barisan terdepan bersama para pendekar lainnya. Jubahnya telah dipenuhi abu, napasnya berat, tetapi sorot matanya tetap tegas.

“Kalian bertiga!” serunya kepada tiga pemuda di belakangnya. “Cepat pergi ke Sekte Yun, Sekte Wen, dan Sekte Cun. Katakan ini perintah darurat dariku!”

“Baik, Ketua!” jawab mereka serempak sebelum melesat pergi.

Beberapa saat kemudian, seorang pemuda kembali dengan wajah tegang. “Ketua Aliansi! Kobaran api menyebar sangat cepat dan hampir menyentuh hutan di wilayah Desa Giok Seribu Awan!”

Wajah Ketua Aliansi mengeras.

“Sekte Cun! Kalian segera menuju arah Desa Giok dan tahan api agar tidak masuk ke hutan! Sekte Wen dan Sekte Yun, ikut denganku! Kita tekan pusat api di sini!”

Perintah itu segera dilaksanakan. Para pendekar bekerja tanpa henti. Tenaga dalam dikerahkan untuk menciptakan gelombang angin, sementara yang lain menyiram dan merobohkan bangunan yang sudah tak bisa diselamatkan demi mencegah api merambat lebih jauh.

Dua jam berlalu dengan perjuangan yang melelahkan.

Akhirnya, kobaran api mulai melemah. Satu per satu titik api berhasil dipadamkan hingga yang tersisa hanya asap tebal dan bara yang membara pelan.

Ketua Aliansi Murim menarik napas panjang, lalu segera memberi perintah lanjutan. “Bentuk tim investigasi. Selidiki desa ini secara menyeluruh. Cari tahu penyebab kebakaran dan pastikan tidak ada korban yang terlewat.”

Beberapa pendekar langsung bergerak menyisir sisa-sisa bangunan.

Di tengah puing dan bau hangus, Wang Seo yang sejak tadi ikut memadamkan api tiba-tiba berlutut. Tangannya gemetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Kenapa… kenapa bisa seperti ini!” teriaknya dengan suara pecah.

Pemandangan desa yang luluh lantak seakan membuatnya kehilangan semangat untuk hidup.

Ketua Aliansi Murim mendekatinya perlahan. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam, namun juga amarah yang tertahan.

“Tak apa, Nak,” ucapnya pelan. “Relakan apa yang telah menjadi takdir. Jalani hidupmu dengan kebaikan untuk menghormati orang tuamu.”

Wang Seo menunduk, bahunya bergetar.

Di balik tatapan Ketua Aliansi, ada sesuatu yang lebih dari sekadar duka—sebuah tekad untuk menemukan penyebab sebenarnya dari tragedi yang terjadi malam itu.

Malam itu adalah titik balik bagi Wang Seo.

Hatinya yang semula dipenuhi tekad untuk melindungi tanah air perlahan berubah arah. Dari keinginan menjaga, menjadi keinginan membalas. Nama Peng Lin tertanam kuat di benaknya sebagai sumber segala penderitaan.

Sejak saat itu, setiap ayunan pedangnya selalu dibayangi dendam.

Kembali ke masa sekarang.

Di perbatasan wilayah tempat Wang Seo dan Peng Lin berdiri berhadapan, percakapan mereka yang sempat terhenti kini berlanjut. Petunjuk tentang sosok kuat yang tak tersentuh di wilayah itu masih menggantung di udara.

“Siapa dia?” tanya Wang Seo dengan suara berat. “Siapa orang yang membuat Ketua Aliansi Murim tak bisa sembarangan menghunuskan pedangnya?”

Peng Lin menatapnya dalam-dalam. Ia melihat bukan hanya kemarahan, tetapi juga kebingungan seorang pemuda yang belum memahami kerasnya dunia di luar sekte.

“Dia adalah seseorang yang selalu membawa kehancuran ke mana pun ia pergi,” jawab Peng Lin perlahan. “Shang Lun, si Badai Iblis, selain itu dia juga menggunakan pedang besar yang selalu dibawanya. Dialah dalang di balik kehancuran desamu.”

Nama itu menggantung berat di antara mereka.

“Namun,” lanjut Peng Lin, “dari informasi yang kudapat dari anak buahku, Shang Lun biasanya tidak meninggalkan jejak sebesar itu. Ia jarang atau mungkin tidak pernah membakar mayat atau rumah-rumah tanpa tujuan jelas.”

“Lalu?” desak Wang Seo.

“Shang Lun bergerak di bawah perintah salah satu tetua tinggi di Kultus Demonic. Bisa jadi ia menerima perintah langsung untuk membantai warga di desamu.”

Wang Seo menggertakkan giginya. “Apa kau kira aku akan percaya begitu saja pada omonganmu?”

“Percaya atau tidak itu terserah padamu Anak muda,” jawab Peng Lin dengan tenang. “Namun jika aku menunjukkan sesuatu, mungkin kau akan mempertimbangkannya.”

Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sepucuk surat yang sebagian sisinya hangus terbakar. Kertas itu kusam, dengan bekas arang di tepinya.

Peng Lin menyerahkannya ke hadapan Wang Seo.

Dengan tangan terikat dan titik Qi-nya masih ditekan, Wang Seo hanya bisa membaca sekilas bagian yang tersisa.

“‘BUAT KEKACAUAN DI WILAYAH BARAT DAN—’” suaranya terhenti. “Apa arti ini, Peng Lin?”

“Menurutku, ini tulisan tangan seseorang dengan jabatan tinggi di Kultus Demonic,” jawab Peng Lin. “Sayangnya, setengah suratnya sudah hancur. Kita hanya tahu motif awalnya saja yaitu membuat kekacauan di wilayah Barat. Untuk tujuan berikutnya… kita hanya bisa menebak niatan mereka.”

Yan Qing yang sejak tadi diam mulai berbicara, “Lalu bagaimana kau bisa menemukan surat itu? Tim Aliansi Murim dan kami menyelidiki selama tiga hari penuh tetapi tidak menemukan petunjuk apa pun.”

Peng Lin terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Aku ada di sana malam itu.”

Wang Seo menegang.

“Aku mencoba menyelamatkan warga yang masih tersisa,” lanjut Peng Lin. “Namun tidak ada satu pun orang yang berhasil kuselamatkan.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada kelelahan yang terselip di dalamnya.

“Shang Lun dengan cepat menyadari keberadaanku. Ia mulai mencariku sembari membakar seluruh area. Aku hanyalah pendekar kelas empat saat itu. Tidak mungkin aku bisa menghadapi Shang Lun yang sudah berada di kelas enam—bahkan ia setengah langkah menuju kelas tujuh.”

Suasana menjadi sunyi.

Perbedaan tingkat kekuatan itu bukan sekadar angka. Itu jurang yang hampir mustahil diseberangi.

“Jika aku benar-benar pelakunya,” tambah Peng Lin, “aku tidak mungkin melarikan diri dalam kondisi seperti itu.”

Wang Seo menunduk. Untuk pertama kalinya sejak pengejaran dimulai, keyakinannya mulai retak.

Namun menerima kebenaran baru berarti menghancurkan keyakinan lama yang selama ini menopangnya. Dan itu bukanlah hal yang mudah.

Malam itu begitu ramai di Desa Giok Seribu Awan. Suara langkah para penjaga, derap kuda yang sesekali melintas, serta percakapan para pedagang yang belum menutup lapaknya bercampur menjadi satu. Namun di tengah keramaian itu, Fang Yi justru berada dalam kesunyian kamarnya.

Ia duduk di kursi kayu sederhana dengan sebuah buku terbuka di hadapannya—buku yang baru saja ia beli sebelumnya. Tatapannya fokus, napasnya teratur. Malam itu pikirannya terasa begitu jernih.

Perlahan ia membuka halaman demi halaman buku tentang Tekanan Pembuluh Darah—Buku itu berisi ilmu tentang peredaran darah dan qi, lalu ia mulai mempelajarinya dengan seksama. Setiap kalimat yang ia baca terasa mudah dipahami. Diagram jalur meridian yang biasanya membuat orang biasa merasa pusing justru terlihat jelas dan teratur di benaknya.

Tanpa ia sadari, hanya dalam waktu singkat ia telah menghafal seluruh isi buku yang hanya terdiri dari dua puluh halaman itu.

Fang Yi menutup buku tersebut perlahan, wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Hah… kenapa seolah-olah aku bisa menghafal apa pun sekarang? Padahal dulu aku tak bisa mengingat sesuatu dengan benar.”

Ia benar-benar heran. Dulu, untuk menghafal tugas dari ibunya ia membutuhkan waktu berhari-hari. Bahkan sering kali ia lupa apa saja yang harus dilakukannya. Namun malam ini berbeda. Semua informasi terasa menempel begitu saja di kepalanya.

Saat ia masih tenggelam dalam kebingungan, tiba-tiba sesuatu terasa aneh di dalam kantong bajunya.

Sebuah sensasi seperti aliran listrik menjalar dari saku menuju tubuhnya.

“Ahh! Apa ini? Mengapa aku merasa seperti tersengat sesuatu?”

Fang Yi refleks memegang kantongnya dan mengeluarkan benda kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi—sebuah artefak kuno berbentuk manik yang selama ini ia anggap hanya batu biasa.

Namun malam ini, manik itu tidak lagi tampak biasa.

Permukaannya memancarkan setitik aura putih yang bersih. Cahaya itu terlihat lembut, tetapi jelas terlihat di ruangan yang hanya diterangi lampu minyak.

Fang Yi terpaku.

Ia tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, sesuatu dalam dirinya juga berubah. Indranya perlahan menjadi lebih tajam. Pendengarannya menangkap suara-suara kecil di luar kamar dengan lebih jelas. Udara di sekitarnya terasa berbeda seolah olah udara itu adalah makhluk hidup.

Dan tanpa ia pahami sepenuhnya, penglihatannya mulai mampu menangkap sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.

Di sekelilingnya, terdapat aliran tipis yang bergetar halus mengarah ke segala penjuru ruangan—sebuah esensi yang mengalir di udara, di dalam benda-benda, bahkan di dalam dirinya sendiri.

Itu adalah qi.

Namun Fang Yi belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Ia hanya berdiri terpaku, menatap manik bercahaya di tangannya, sementara perubahan besar perlahan berlangsung di dalam dirinya.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!