Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari ke 90
Di hari ke lima belas Joko kembali di kaget kan dengan kemunculan makhluk aneh lain.
Angin berhembus membawa aroma dupa bercampur dengan semerbak bunga kantil. Dari kejauhan terdengar bunyi derap langkah hentakan kaki namun bukan kaki manusia, lebih mirip derap langkah kaki hewan yang ringan namun berwibawa.
Daun-daun berguguran seolah memberi jalan, dari balik kegelapan tampak sesosok makhluk muncul.
Kali ini makhluk itu berbentuk menjangan (kijang/rusa) namun kepalanya berbentuk kepala manusia dan berparas cantik. Tubuhnya ramping dengan bulu berwarna keemasan, yang mengkilap. Dapat dipastikan makhluk itu berjenis kelamin perempuan, meskipun punya tanduk seperti rusa jantan.
Menjangan itu berwarna putih di kawal oleh beberapa prajurit yang berwujud manusia dan sebagian berwujud binatang dengan kepala manusia. Ada ular dengan kepala manusia, Banteng dengan kepala manusia dan menjangan berkepala manusia.
Makhluk itu menghampirinya, membuat Joko langsung membuka matanya.Wajahnya memucat.
"Makhluk apa itu??"
kibraja yang berdiri tak kasat mata di sampingnya hanya tersenyum kecil suaranya lirih terdengar di telinga batin Joko.
"Jangan takut le kamu akan mendapat anugerah pertamamu dari sang Dewi,"
"Eyang, apa yang harus aku lakukan??"
"Sambutlah Ia. Dia adalah Dewi Menjangan, salah satu penguasa Alas Roban. Tidak semua orang bisa melihat wujudnya, hanya mereka yang terpilih saja yang bisa melihatnya,"
Joko menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya.
Sosok Menjangan berkepala perempuan itu melangkah Anggun diiringi pengawalnya yang bertubuh tinggi besar. Para pengawal itu menyerupai prajurit berotot , dengan kulit hijau kecoklatan dan mata merah menyala, membawa tombak panjang. Mereka berjalan mantap namun menjaga jarak seakan menjadi benteng pelindung bagi Sang Dewi.
Dewi Menjangan hanya diam tanpa berkata apapun, namun tatapannya begitu menusuk.
Seperti makhluk astral lainnya Dewi Menjangan pun tidak berani untuk melewati garis pelindung Joko. Makhluk itu juga tidak memperkenalkan dirinya atau mengajak ngobrol Joko seperti makhluk Astral lainnya.
Dia hanya berdiri di hadapan Joko menatapnya intens kemudian tak lama ia menghilang.
Di hari berikutnya setelah kemunculan Dewi Menjangan makanan Joko pun berubah. Jika sebelumnya ia diberi makan bunga melati, di hari ke enam belas dan seterusnya sampai hari ke delapan puluh delapan Joko hanya diberi makan bunga kantil. Bunga itu berwarna kuning gading dan jumlahnya selalu tiga buah.
Di hari-hari berikutnya Joko selalu di temani oleh Dewi Menjangan yang muncul untuk mengantarkan makanan, walaupun kadang sesekali Kunti, Kuyang, atau Gondoruwo sering muncul untuk mengajaknya ngobrol.
Hingga di hari ke sembilan puluh tiba Joko mendengar suara Dewi Menjangan untuk pertama kalinya. Bila sebelumnya wanita itu tak pernah berbicara saat mengantarkan makanan, kali ini untuk pertama kalinya Iya berbicara dengan Joko.
"Sebentar lagi makanan kamu akan datang, makananmu berbeda kali ini," ucapnya dengan suara lembut namun penuh wibawa
"Makanan mu istimewa karena di ambil langsung dari Segara Kidul," imbuhnya
Tidak lama sebuah makanan muncul di hadapan Joko. Makanan kali ini adalah bunga wijaya kusuma. Jika biasanya makanan coklat selalu dialasi dengan daun pisang maka kali ini bunga wijaya kusuma diletakkan di sebuah tempat seperti nampan yang terbuat dari emas yang mengeluarkan aroma harum yang khas yang tidak pernah ditemui di dunia.
Karena sudah sangat lapar Joko pun buru-buru mengambil bunga itu. Saat hendak memakannya Dewi Menjangan menghentikannya.
"Jangan dulu di makan, ada tata cara untuk memakan bunga tersebut," pungkasnya dengan senyum tipis
Ia kemudian menyuruh Joko untuk meletakkan kembali bunga itu. Ia kemudian memberitahu sebuah mantera yang harus di baca sebelum memakan bunga itu.
"Ikuti bacaannya dan jangan ada yang di potong," ucap Eyang kakung membenarkan ucapan Dewi Menjangan
Joko pun mengikuti semua arahan wanita itu hingga bagaimana ia mengambil dan memegangnya.
Setelah selesai membaca menyera, Joko mulai memakan satu persatu kelopak bunga wijaya kusuma itu dimulai dari kelopak yang paling bawah dari arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam.
Setelah habis semua kelopak bunga itu, kini yang tersisa hanya kelopak bunga inti atau intisari bunga atau putik yang berbentuk seperti kelereng yang bisa berubah wujud menjadi lima warna.
Dewi Menjangan pun memberitahu Joko cara memakan putik bunga tersebut. Ia juga memberitahu mantera yang harus di baca sebelum memakan putik bunga itu.
"Putik bunga ini harus ditelan tidak boleh dikunyah," begitu ucapnya
Joko mengangguk.
Selesai merapal mantera Joko langsung menelan putik bunga itu dan ajaibnya walaupun putih bunga itu lumayan besar Joko bisa langsung menelannya.
Setelah cowok menghabiskan makanannya Dewi Menjangan pun pamit pergi. Tidak selamat setelah itu Eyang kakung pun muncul.
"Besok subuh Eyang dan bapakmu akan dapat datang menjemputmu, jadi kamu baik-baik saja malam ini di sini. setelah ini kamu akan menghadapi ujian terakhirmu. kamu akan melihat hujan badai, petir, dan semua makhluk penghuni hutan akan muncul. Jangan takut le, jangan lari, tetaplah di tempat mu dan bacalah amalan ini," ucap Eyang kakung
Sebuah kain kafan bertuliskan huruf Arab di tinggalkan olehnya. Joko pun mulai menghafalnya.
Dan benar saja tidak lama setelah Eyang kakung pergi hujan muncul dari dua sisi. Sisi pertama adalah sisi dunia yaitu hujan dari alam dunia dan Sisi yang di sampingnya adalah hujan dari alam lain. Alam yang tidak pernah ada siang. Hujan turun sangat deras ditambah angin kencang berhembus hampir saja menerbangkan tubuh Joko.
Beruntung ia membaca mantera itu tanpa henti sehingga, dirinya bisa bertahan dan tidak ikut terbawa angin puting beliung. Petir menggelegar menyambar-nyambar membuat Joko sesekali ketakutan dan nyaris lari meninggalkan tempat semedinya.
Namun bisikan sang kakek membuatnya tetap kuat dan bertahan hingga badai pun reda. Namun ujian tak berhenti sampai di situ. Tidak lama ratusan ular tiba-tiba muncul dihadapannya. Meskipun takut Joko berusaha tenang dan terus membaca mantera pemberian Eyang kakung, hingga ular-ular itu pun akhirnya menghilang.
Paginya saat sang fajar mulai menyingsing, menebar warna merah keunguan di langit Eyang kakung dan Pranyoto sudah tiba di Alas Roban.
Keduanya hanya berdiri di hadapan Joko tepat di luar garis pelindung.
Joko tersenyum senang melihat kedatangan mereka. Ia berpikir akhirnya selesai sudah tirakat yang ia jalani.
"Mulai sekarang kamu sudah dewasa le, kamu sudah menjadi lelaki sejati. Malam nanti apa yang bisa kamu dengar, kamu dengar. Apa yang bisa di lihat kamu lihat. Jangan takut, apapun yang terjadi ikuti saja semua alurnya," jangan sampai ada kesalahan, semuanya harus kamu lakukan dengan benar," ucap Eyang kakung
Joko hanya menghela nafas, "Itu artinya tirakatnya belum selesai," desahnya lirih
Pranyoto tersenyum tipis mendengar desahan putranya. Ia kemudian menyuruh Joko maju mendekat kearahnya. Ia kemudian membuka kain kafan yang di pakai Joko sebagai pakaiannya selama tirakat.
Pria itu dengan cekatan mengganti sarung Joko itu dengan sebuah kain batik prada atau lebih tepatnya kain batik pengantin. Joko tampak bingung saat menyadari ayahnya memakaikan kain batik pengantin kepadanya.
"Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan padaku, aku mau dijadikan apalagi kali ini??"
lantas untuk memutus adalah dgn bnyk punya istri kok ngeri men ya
tp emang sih siapa yg g sedih krn kehilangan tp mbok ya jgn terllu berlebihan sih
kira3 siapa yg bikin niken seperti itu
kek gtu ya ko
nah tuhh tau kan kek mana klo ada istri bnyk sookoorrr🤭🤭🤣🤣🤣
kek mana coba setan dan jin aja bisa cembokur lho ko
kmu sih g hati2
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃