Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Musuh dalam Selimut
.. Pagi ini suasana di Wijaya Tower terasa sangat dingin, bukan karena AC yang terlalu kencang, tapi karena firasatku yang mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di sini. Setelah kejadian surat kaleng kemarin, aku tidak membiarkan Clarissa lepas dari pengawasanku sedikit pun. Mataku terus menyisir setiap sudut ruangan, mencari siapa saja yang bertingkah mencurigakan.
.. "Genta, kamu tidak lelah berdiri terus di sana? Sini, duduk sebentar. Kamu sudah berdiri lebih dari empat jam seperti patung selamat datang di bundaran HI," ucap Clarissa sambil memberikan segelas air mineral padaku. Dia mencoba tersenyum, tapi guratan kelelahan dan ketakutan masih tersisa di wajah cantiknya.
.. Aku menerima air itu tapi tetap waspada. "Waduh Mbak Bos, kalau saya duduk nanti kharisma bodyguard saya hilang. Lagipula, saya lagi nunggu 'umpan' saya dimakan. Saya sudah pasang jebakan kecil di sistem surat menyurat kantor tadi pagi," jawabku sambil melirik ke arah pintu ruangan Clarissa.
.. Tak lama kemudian, seorang asisten manajer bernama Doni masuk dengan wajah yang sedikit pucat. Doni ini memang terkenal agak cari muka di depan Clarissa, tapi kali ini tingkahnya sangat aneh. Tangannya gemetar saat menyodorkan beberapa dokumen untuk ditandatangani. "I-ini Bu Clarissa, dokumen kerjasama dengan vendor keamanan baru," ucapnya gugup.
.. Aku langsung berdiri di samping Doni, sengaja menempelkan lenganku yang berotot ke bahunya. "Wah, Mas Doni... kok keringetan begini? Padahal ruangan ini dinginnya sudah kayak di kutub utara lho. Apa jangan-jangan Mas Doni lagi olahraga batin ya?" godaku sambil menatap matanya dalam-dalam.
.. Doni makin panik, dia mencoba melepaskan diri dari rangkulanku. "N-nggak ada apa-apa, Mas Genta. Saya cuma agak kurang enak badan saja." Dia mencoba bergegas keluar, tapi aku dengan cepat menarik kerah bajunya dan membawanya ke sudut ruangan yang agak tersembunyi.
.. "Mas Doni, saya itu orang Sidoarjo. Saya bisa bedain mana orang yang beneran sakit, sama orang yang lagi bohong karena takut ketahuan. Coba jelaskan, kenapa di laci meja Mas Doni ada sisa potongan koran yang hurufnya sama persis dengan surat ancaman buat Mbak Bos kemarin?" tanyaku dengan suara yang sangat rendah namun sangat mengancam.
.. Doni langsung lemas, dia jatuh berlutut di hadapanku. "Ampun, Mas Genta! Saya cuma disuruh! Saya terpaksa karena butuh uang buat bayar utang judi saya! Orang suruhan Adrian menjanjikan saya uang banyak kalau saya bisa bikin Bu Clarissa ketakutan dan mengundurkan diri!" tangisnya pecah di sana.
.. Clarissa yang mendengar itu langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang sangat kecewa. "Doni... saya sudah anggap kamu seperti adik sendiri di kantor ini. Kamu tega mengkhianati saya hanya demi uang?" suaranya bergetar menahan marah. Aku hanya bisa menghela napas panjang, melihat betapa kejamnya pengkhianatan dari orang yang dipercaya.
.. Aku menyerahkan Doni kepada petugas keamanan gedung untuk diproses lebih lanjut. Setelah suasana mereda, aku mendekati Clarissa yang tampak sangat terpukul. "Mbak Bos, jangan sedih ya. Orang seperti Doni itu ibarat kerupuk yang sudah melempem, nggak layak buat dipertahankan. Yang penting sekarang kita tahu siapa musuh di dalam selimut ini."
.. Clarissa menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Genta... kalau tidak ada kamu, mungkin saya sudah dikhianati berkali-kali tanpa saya sadari. Terima kasih sudah menjadi mata dan telinga saya." Dia memegang tanganku dengan sangat erat, memberikan rasa hangat yang menjalar sampai ke hatiku. Di tengah pengkhianatan ini, aku semakin yakin bahwa tugasku bukan cuma menjaga nyawanya, tapi juga menjaga perasaannya agar tidak hancur oleh orang-orang jahat di sekitarnya.
.. Setelah Doni dibawa pergi oleh petugas keamanan, suasana di ruangan Clarissa mendadak jadi sangat sepi. Clarissa masih terduduk lemas di kursinya, tatapannya kosong menatap tumpukan dokumen di mejanya. Aku tahu, dikhianati orang kepercayaan itu rasanya lebih sakit daripada dipukul balok kayu.
.. "Mbak Bos, jangan terlalu dipikirkan. Orang kayak Doni itu ibarat bumbu pecel yang sudah basi, kalau dipaksain dimakan malah bikin sakit perut. Lebih baik kita buang jauh-jauh biar nggak nular ke yang lain," ucapku mencoba mencairkan suasana sambil berdiri di depannya dengan pose bodyguard paling gagah yang kupunya.
.. Clarissa mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca. "Genta... kenapa dunia ini rasanya sangat jahat? Kenapa semua orang mendekati saya hanya karena uang? Apa tidak ada satu pun orang yang tulus di dunia ini?" tanyanya dengan suara bergetar yang membuat hatiku rasanya seperti diiris sembilu.
.. Aku melangkah mendekat, sedikit memberanikan diri untuk memegang bahunya pelan. "Masih ada saya, Mbak Bos. Saya ini orangnya nggak pinter matematika, jadi saya nggak ngerti cara hitung-hitungan untung rugi buat temenan sama orang. Pokoknya selama Mbak Bos baik sama saya, saya bakal jadi pagar besi yang paling kokoh nggo Mbak Bos."
.. Clarissa tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa sangat tulus dan hangat. Dia memegang tanganku yang masih ada di bahunya. "Kamu benar, Genta. Mungkin saya harus berhenti melihat ke belakang dan mulai melihat ke depan... bersama kamu." Kata-katanya itu membuat jantungku serasa mau melompat keluar dari dada, tapi aku tetap berusaha sok tenang.
.. Sore itu, kami meninggalkan gedung kantor lebih awal. Aku mengajak Clarissa makan bakso urat di pinggir jalan untuk sedikit melupakan pengkhianatan Doni. Melihat seorang CEO cantik duduk di kursi plastik sambil keringatan kepedesan makan bakso itu adalah pemandangan paling indah sekaligus lucu yang pernah kulihat. Jakarta mungkin penuh dengan musuh dalam selimut, tapi selama aku ada di sampingnya, aku pastikan selimutnya selalu hangat dan aman dari gangguan siapa pun.
.. Suasana di warung bakso pinggir jalan itu mendadak terasa seperti restoran bintang lima hanya karena ada Clarissa di depanku. Meskipun dia sedang sibuk mengelap keringat di dahi dengan tisu murah, tapi keanggunannya tidak hilang sedikit pun. Aku memperhatikan bagaimana dia meniup kuah bakso yang masih panas, sebuah pemandangan yang membuat hatiku yang keras ini mendadak luluh.
.. "Genta, kenapa kamu melihat saya seperti itu? Apa ada kuah bakso yang muncrat ke wajah saya?" tanya Clarissa sambil meraba pipinya yang kemerahan karena pedasnya sambal. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang jernih, membuatku salah tingkah dan hampir menjatuhkan garpuku ke lantai.
.. Aku berdeham pelan, mencoba menetralkan degup jantungku. "Eh, nggak kok Mbak Bos. Saya cuma baru sadar kalau Mbak Bos itu jauh lebih cantik pas lagi kepedesan begini daripada pas lagi marah-marah di kantor. Aura 'galak' CEO-nya langsung luntur keganti sama aura 'manis' penjual bakso," jawabku asal yang langsung dihadiahi cubitan di lenganku.
.. Clarissa tertawa, tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. "Kamu itu ya, selalu punya cara buat bikin saya lupa sama masalah berat di kantor. Doni mungkin sudah mengkhianati saya, tapi melihat kamu masih setia berdiri di samping saya, rasa sakit itu perlahan-lahan mulai hilang. Terima kasih sudah jadi 'pagar besi' saya, Genta."
.. Kami menghabiskan sore itu dengan obrolan ringan tentang masa kecilku di Sidoarjo yang penuh dengan kenakalan, dan masa kecilnya di Jakarta yang penuh dengan kursus dan aturan ketat. Ternyata, meskipun dunia kami berbeda jauh, tapi kesepian yang kami rasakan itu hampir sama. Kami berdua sama-sama mencari sosok yang bisa dipercaya tanpa ada embel-embel kepentingan di belakangnya.
.. Saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi, aku mengantarkan Clarissa pulang ke rumahnya. Di depan pintu, dia sempat terhenti sejenak dan menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Genta... besok kita libur sebentar dari urusan kantor ya? Saya ingin pergi ke suatu tempat yang tenang bersama kamu." Aku hanya mengangguk mantap, menyanggupi permintaannya dengan sepenuh hati. Malam itu, aku tidur dengan senyum yang terus mengembang, menyadari bahwa pengkhianatan Doni justru membuat hubunganku dengan Clarissa semakin dekat dan tak terpisahkan.