NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nilai seorang asisten

“Selamat pagi, Nona,” ucap Xavero dengan sopan pada Naura.

Hari ini adalah hari pertama Xavero bekerja sebagai asisten pribadi Naura, menggantikan Lisa.

Naura menoleh. “Pagi. Kamu sudah paham dengan cara kerja saya?”

Xavero mengangguk mantap. “Sudah, Nona.”

“Baiklah. Apa jadwal saya sekarang?”

“Hari ini agenda Anda adalah meeting dengan tim investigasi dari klien luar negeri maupun lokal di restoran bintang lima yang berada di daerah barat,” jelas Xavero dengan tenang.

Naura mengangguk pelan sambil tetap fokus pada berkas di tangannya. “Pukul?”

“Jam 10 pagi ini, Nona.”

“Masih ada dua jam,” gumam Naura. “Siapkan dokumennya, saya ada keperluan pribadi terlebih dahulu.”

“Baik, Nona.”

Xavero mengangguk hormat, lalu keluar dari ruangan Naura.

Setelah pintu tertutup, Naura menatap ke arah pintu tersebut sejenak.

“Cepat juga dia menangkapnya pantas Kak Nathan tertarik padanya,” gumamnya pelan.

°°

Satu jam berlalu.

Xavero mengetuk pintu ruangan Naura.

“Masuk,” ucap Naura dari dalam.

Krek.

Xavero membuka pintu dan melangkah masuk.

“Satu jam lagi kita harus sudah sampai di restoran, Nona.” ucapnya sopan. “Sebaiknya kita berangkat sekarang, karena perjalanan ke sana cukup jauh.”

Naura mengangguk. “Bagus, Vero. Kamu paham jadwal.” Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Xavero. “Berkasnya sudah siap?”

“Sudah, Nona,” jawab Xavero.

Naura mengangguk puas.

Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari gedung. Naura berjalan di depan dengan langkah percaya diri, sementara Xavero mengikuti di belakang dengan sikap profesional.

Di depan gedung, sebuah mobil hitam sudah menunggu.

Dengan sigap, Xavero membukakan pintu untuk Naura.

Setelah Naura masuk, Xavero ikut masuk ke dalam mobil, duduk di kursi depan di samping sopir.

“Restoran daerah barat, Pak,” ucap Xavero.

Sopir mengangguk, lalu menjalankan mobil dengan halus.

Perjalanan berlangsung hampir satu jam. Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil cukup tenang, hanya sesekali terdengar suara kendaraan di luar.

Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah yang berdiri megah di kawasan elit.

Pintu mobil terbuka.

Xavero turun lebih dulu, lalu segera membukakan pintu untuk Naura.

“Silakan, Nona.”

Naura keluar dengan anggun, tatapannya langsung mengarah ke bangunan restoran mewah di hadapannya.

Tanpa banyak bicara, ia melangkah masuk. Xavero mengikuti setengah langkah di belakangnya.

Seorang staf restoran langsung menyambut.

“Selamat datang, Nona Naura. Ruangan sudah kami siapkan.”

Naura hanya mengangguk tipis.

“Silakan diantar.”

Mereka dibawa menuju ruang VIP.

Di dalam, beberapa perwakilan tim investigasi sudah duduk menunggu. Suasana langsung terasa formal.

Naura mengambil tempat di kursi utama.

Xavero berdiri di sampingnya sejenak, lalu duduk sedikit ke belakang—posisi yang tepat untuk mengamati.

“Maaf menunggu,” ucap Naura singkat, profesional.

Meeting pun dimulai.

Salah satu perwakilan mulai menjelaskan hasil investigasi.

Beberapa data ditampilkan, angka-angka, serta laporan yang cukup kompleks.

Naura mendengarkan dengan fokus, tapi sesekali alisnya sedikit berkerut.

Xavero memperhatikan itu.

Tanpa diminta, ia membuka berkas yang sudah ia siapkan, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naura.

“Halaman empat, Nona. Perbandingan kuartal dua dan tiga.” ucapnya pelan.

Naura melirik sekilas.

Matanya langsung menemukan poin yang dimaksud.

Ekspresinya berubah tipis, lebih tenang.

Meeting berlanjut.

Namun tak lama, salah satu pihak mulai memberikan penjelasan yang berbelit dan kurang jelas.

Xavero angkat bicara.

“Maaf,” ucapnya tenang, namun cukup tegas hingga ruangan sedikit hening.

“Bisa Anda jelaskan kembali bagian ini secara lebih spesifik? Terutama pada perbedaan angka di kuartal kedua dan ketiga.”

Semua mata langsung tertuju padanya.

Naura menoleh sedikit, menatap Xavero.

Perwakilan itu sempat terdiam, lalu mulai menjelaskan ulang—kali ini lebih jelas.

Xavero mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Naura kembali fokus ke depan, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di tatapannya.

Meeting berjalan lebih terarah.

Beberapa kali, Xavero menyelipkan catatan kecil, membisikkan poin penting, bahkan memperbaiki detail yang hampir terlewat.

Hingga akhirnya—

“Baik,” ucap Naura tegas. “Kami akan mempertimbangkan kerja sama ini.”

Meeting pun ditutup.

Para tamu mulai berdiri, saling berjabat tangan.

Setelah mereka keluar, suasana ruangan menjadi lebih sepi.

Naura masih berdiri di tempatnya.

Perlahan, ia menoleh ke arah Xavero.

Tatapannya tajam, tapi tidak lagi meremehkan.

“Kamu…” ucapnya pelan.

Hening sejenak.

“Lebih cepat memahami situasi dari yang aku kira.”

Xavero menunduk sedikit.

“Itu memang tugas saya, Nona.”

Naura tersenyum tipis.

Senyum yang sangat kecil, tapi cukup berarti.

“Bagus.”

Ia mengambil tasnya.

“Pertahankan itu.”

Lalu tanpa menunggu, Naura melangkah keluar ruangan.

Xavero mengikuti di belakangnya.

Di dalam mobil, Xavero terlihat begitu fokus pada berkas di tangannya, sementara sebuah laptop terbuka di hadapannya. Jemarinya sesekali bergerak, memastikan semua data sudah tersusun dengan rapi.

Naura yang melihatnya hanya tersenyum tipis.

“Jadwal selanjutnya?” tanyanya santai.

Xavero menghentikan aktivitasnya, lalu kembali membuka berkas di tangannya. Ia membacanya dengan saksama, sorot matanya berubah sedikit lebih serius.

Naura memperhatikannya, mulai merasa ada yang berbeda.

“Ada apa, Vero?” tanyanya.

“Jadwal selanjutnya, Anda meeting dengan…” ucap Xavero, namun ia menjeda ucapannya.

Keheningan sejenak justru membuat Naura semakin bingung.

“Xavero!” panggilnya sedikit tegas.

Xavero mengangkat pandangannya, lalu menatap Naura.

“Mahendra Group... Nona.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!