NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Bodyguard Sengklek dan Tragedi Makan Siang Mewah

Hari pertama menjadi bodyguard bukanlah perkara mudah bagi pria sepertiku yang terbiasa sarapan nasi pecel di pinggir jalan Sidoarjo. Sekarang, aku harus berdiri tegap memakai jas hitam yang kancingnya hampir lepas karena aku kekenyangan makan semalam. Ditambah lagi, sepatu pantofel ini rasanya seperti menjepit jempol kakiku yang biasanya bebas merdeka memakai sandal jepit Swallow.

​"Genta, ingat ya. Tugasmu cuma satu: diam, waspada, dan jangan banyak tingkah! Di sini Jakarta, bukan pasar tempat kamu biasa nongkrong," Clarissa memperingatiku dengan wajah galaknya sambil merapikan dandanannya di depan cermin besar lobby Wijaya Tower.

​"Siap Mbak Bos! Pokoknya aman terkendali seperti parkiran pasar pas malam minggu. Kalau ada yang macam-macam, langsung saya kirim ke puskesmas terdekat," jawabku mantap sambil mencoba membetulkan kerah jas yang mencekik leher.

​Kami naik ke lantai 25 menggunakan lift. Rasanya kupingku pengang, maklum biasanya cuma naik motor butut yang suaranya mirip mesin parut kelapa. Begitu pintu lift terbuka, suasana mewah langsung menyambut. Wangi parfum mahal menyeruak di mana-mana, sangat kontras dengan bau keringatku yang mulai bereaksi dengan jas pinjaman ini.

​Suasana menjadi sangat tegang saat kami memasuki ruang rapat. Orang-orang berpakaian rapi, memakai kacamata mahal, dan membawa laptop canggih sedang berdebat masalah saham yang sama sekali tidak kupahami. Aku diperintahkan berdiri di pojokan ruangan, tepat di belakang kursi Clarissa. Aku mencoba memasang muka sangar, melipat tangan di dada, supaya terlihat seperti profesional kelas dunia. Tapi, karena rapatnya terlalu lama dan bahasanya mirip mantra dukun, perutku mulai berontak.

​Kruyuuuk... kruyuuuk...

​Suara perutku terdengar jelas di seluruh ruangan yang kedap suara itu. Semua orang terdiam, lalu menoleh ke arahku. Wajah Clarissa yang tadinya putih mulus langsung merah padam karena malu. Dia melirikku dengan tatapan yang seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup.

​"Waduh, maaf Bapak-Bapak. Naganya lagi demo minta jatah sarapan. Maklum, tadi di jalan cuma sempat makan angin," celetukku sambil nyengir tanpa dosa.

​Salah satu lawan bisnis Clarissa, seorang pria gemuk bernama Pak Broto yang wajahnya sangat sombong, tertawa mengejek. "Clarissa, ini bodyguard atau pelawak yang kamu bawa? Kok tidak pantas sekali! Apa perusahaanmu sudah jatuh miskin sampai menyewa orang kampungan seperti ini?"

​Mendengar bosku dihina, darah premanku langsung mendidih. Aku maju dua langkah, mendekati meja kaca besar itu, lalu menggebraknya pelan tapi bertenaga. "Heh Pak Broto! Daripada mengurusi perutku, mending Bapak urus saham Bapak yang lagi anjlok itu. Jangan macam-macam sama Mbak Bosku, atau Bapak saya pindahkan jadi tukang parkir di Sidoarjo besok pagi!"

​Pak Broto kaget, dia memberi isyarat pada bodyguard-nya sendiri—pria kekar yang tingginya dua meter. Namun, saat dia menarik kerah jasku, tato gambar "Doraemon" memegang pedang samurai di lenganku tidak sengaja terlihat. Bodyguard itu malah melongo kebingungan.

​"Apa lihat-lihat? Mau saya kasih baling-baling bambu?" gertakku. Pria itu mundur pelan-pelan. Clarissa segera mengambil alih situasi dan akhirnya berhasil memenangkan negosiasi karena Pak Broto mendadak ciut.

​Setelah rapat selesai, Clarissa membalikkan badan, berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggu di depan gedung. Aku mengekor di belakangnya sambil menenteng tas kerjanya yang sangat berat.

​"Genta, sekarang ikut saya makan siang dengan klien dari Singapura. Ingat, ini restoran bintang lima. Jangan bikin malu lagi!"

​"Beres Mbak Bos. Saya bakal jadi asisten paling sopan se-Jakarta," jawabku.

​Begitu sampai di restoran, aku sudah merasa mual. Pelayannya pakai dasi kupu-kupu, wajahnya klimis-klimis. Pas duduk, aku disuguhi buku menu yang isinya bahasa planet lain semua. 'Escargot', 'Foie Gras', 'Wagyu A5'. Aku bingung, ini nama makanan atau nama jurus ninja?

​"Mbak Bos, ini tidak ada nasi pecel apa? Kok namanya seperti mantra dukun semua?" bisikku lirih.

​"Diam, Genta! Biar saya yang pesan," jawab Clarissa ketus.

​Tak lama kemudian, pesanan datang. Piringnya besar sekali, seukuran ban truk, tapi isinya cuma sedikit banget di tengah-tengah. Ada daging kecil yang dikelilingi rumput hiasan. Aku bengong melihat piringku. "Mbak Bos, ini makanan beneran atau cuma sampel laboratorium? Piringnya seluas lapangan bola, tapi isinya pelit banget!"

​Clarissa hampir saja menyemburkan wine-nya.

"Genta! Ini daging paling mahal di dunia! Makan saja!"

​Karena lapar, aku mencoba memotong daging itu memakai pisau dan garpu yang beratnya seperti besi tua. Tapi sial, dagingnya licin sekali! Pas aku tekan, dagingnya malah melesat dari piring, terbang melewati kepala pelayan, dan mendarat tepat di dalam gelas wine milik seorang bule di belakangku.

​PLUNG!

​Bule itu kaget, wajahnya kecipratan wine. Aku langsung berdiri panik, "Waduh Mister! Sorry, sorry! Dagingnya tadi mau latihan renang kayaknya."

​Clarissa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menahan malu tingkat dewa. Tapi untungnya bule itu malah tertawa. Karena merasa tidak akan kenyang, aku diam-diam mengeluarkan 'senjata rahasia' dari saku jasku. KERUPUK KALENG PUTIH.

​KRETEK!

​Aku makan kerupuk itu bersama daging mahal tadi. Suara kerupukku menggema di seluruh restoran. Semua orang menoleh, tapi aku cuek saja. Malah kutawarkan pada klien Singapura yang duduk satu meja dengan kami. "Mister mau? Ini kerupuk asli Sidoarjo. Sekali gigit, lupa cicilan!" tawarku bangga.

​Clarissa hanya bisa pasrah. Tapi anehnya, gara-gara aku membuat klien itu tertawa terus, kontrak kerjasama milyaran rupiah malah ditandatangani hari itu juga.

​"Genta... kamu itu memang preman yang paling sengklek sedunia," ujar Clarissa saat kami berjalan menuju parkiran.

​"Tapi kan kenyang dan kontraknya gol, Mbak Bos! Menang banyak kita!" jawabku sambil nyengir lebar. Jakarta ternyata seru juga, apalagi kalau punya bos secantik Mbak Clarissa, meskipun galaknya melebihi macan lapar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!