Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Sopir Bernama Tarjo
Cahaya pagi yang menembus kaca jendela Losmen Mawar tidak membawa kehangatan, melainkan hanya mempertegas sisa-sisa kengerian semalam. Lantai kayu kamar nomor 13 dipenuhi oleh serbuk hitam pekat—sisa abu dari ratusan Kelabang Geni yang hangus terbakar oleh paduan energi Nando dan Keris Pangruwat. Bau hangus yang samar masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma kapur barus yang apak.
Luna duduk di tepi ranjang, menatap ransel usangnya yang terbuka di atas meja rias. Di dalam kompartemen utamanya, tepat di sebelah buhul santet yang dibungkus kain dan garam, terdapat sebuah bola cahaya berwarna biru citrus sebesar kepalan tangan. Bola itu berdenyut pelan, sangat pelan, seirama dengan detak jantung manusia yang sedang tertidur pulas.
Itu adalah Nando. CEO arogan, hantu pelindungnya, pria yang mengorbankan sisa eksistensinya semalam demi memastikan Luna tetap bernapas.
"Cepatlah pulih, Nando," bisik Luna, menyentuhkan ujung jarinya ke permukaan bola cahaya itu. Sensasi dingin yang menenangkan menjalari kulitnya, meski tidak ada respons kata-kata sarkas atau keluhan tentang kebersihan kamar seperti biasanya.
Ketidakhadiran wujud dan suara Nando membuat dada Luna terasa berongga. Kesunyian ini jauh lebih menakutkan daripada suara jeritan hantu mana pun. Selama belasan tahun ia terbiasa sendirian, namun setelah beberapa hari ditemani oleh ocehan Nando, kesendirian kini terasa seperti hukuman.
Luna menampar kedua pipinya pelan, mencoba mengusir rasa melankolis itu. "Fokus, Luna. Dia sedang beristirahat. Sekarang giliranmu yang mengambil alih kemudi."
Ia segera mengemasi barang-barangnya, menutup rapat ranselnya, dan menyandarkannya di punggung. Berat keris dan buhul itu kembali terasa menekan tulang selangkanya, tapi ia mengabaikannya. Setelah mencuci muka di wastafel berkarat dan merapikan rambutnya, Luna melangkah keluar dari Losmen Mawar, meninggalkan kunci di meja resepsionis yang kosong melompong.
Pagi di Pekalongan sudah ramai oleh hiruk-pikuk aktivitas warga. Udara pesisir yang gerah mulai terasa menyengat kulit. Tujuan Luna sekarang adalah terminal bus antarkota atau pangkalan mobil sewaan. Ia butuh kendaraan yang bisa menembus medan berat menuju Alas Roban, spesifiknya, mencari jalan setapak menuju desa mati, Karang Mayit.
Selama dua jam pertama, yang didapatkan Luna hanyalah penolakan, tatapan curiga, dan gelengan kepala yang ngeri.
"Alas Roban bagian utara? Karang Mayit?" Seorang sopir minibus di terminal menatap Luna seolah gadis itu baru saja meminta diantarkan ke neraka. "Neng, Karang Mayit itu sudah dihapus dari peta kecamatan sejak tahun sembilan puluhan. Nggak ada jalan aspal ke sana. Cuma hutan jati tua dan jurang. Mobil saya bisa rontok, nyawa saya juga bisa melayang. Nggak mau, Neng. Dibayar sepuluh juta juga saya ogah!"
Luna mendesah frustrasi. Uang di dompetnya bahkan tidak sampai dua juta rupiah hasil menarik semua sisa gajinya di ATM minimarket kemarin. Jika sepuluh juta saja ditolak, bagaimana ia bisa meyakinkan siapa pun?
Ia berjalan gontai menuju sebuah warung kopi kecil di sudut terminal yang agak sepi. Ia memesan es teh manis untuk mendinginkan tenggorokannya yang kering. Saat ia duduk di bangku kayu panjang, pandangannya tertuju pada sebuah mobil jeep Taft tua berwarna hijau army yang terparkir di bawah pohon rindang. Bodi mobil itu penuh goresan, bannya besar berlumur lumpur kering, dan kaca depannya dipenuhi debu.
Di atas kap mobil itu, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jaket kulit pudar dan topi pet. Wajah pria itu keras, kulitnya terbakar matahari, dan terdapat sebuah bekas luka goresan panjang melintang di pipi kirinya. Ia sedang mengisap rokok kretek dalam-dalam, menatap kosong ke arah jalanan.
"Neng ngelihatin Pak Tarjo, ya?" tegur ibu penjaga warung sambil meletakkan gelas es teh di depan Luna. "Dia itu sopir carteran lintas hutan. Biasanya bawa kayu atau logistik ke desa-desa terpencil di gunung. Tapi orangnya keras kepala dan temperamental. Jarang ada yang mau pakai jasanya kalau nggak terpaksa."
Mata Luna berbinar. "Dia berani masuk ke hutan Alas Roban, Bu?"
Ibu itu mengedikkan bahu. "Tarjo mah nggak takut setan, Neng. Dia lebih takut nggak bisa makan. Tapi ya itu, harganya suka seenak jidat, dan orangnya rada sinting semenjak istrinya hilang di hutan itu belasan tahun lalu."
Informasi itu sudah lebih dari cukup. Luna segera menenggak es tehnya hingga tandas, membayar, dan melangkah mantap mendekati jeep hijau tersebut.
Mendengar langkah kaki mendekat, pria bernama Tarjo itu melirik dari sudut matanya. Ia mengembuskan asap kretek tebal yang langsung menyapu wajah Luna. Baunya menyengat.
"Mobil ini nggak disewakan buat turis yang mau piknik, Neng," ucap Tarjo dengan suara berat dan serak, bahkan sebelum Luna sempat membuka mulut.
"Saya bukan turis, Pak," jawab Luna tegas, mempertahankan kontak mata. "Saya butuh tumpangan ke Alas Roban. Ke Karang Mayit."
Tarjo menghentikan gerakannya. Rokok kretek yang bertengger di bibirnya nyaris terjatuh. Ia menoleh perlahan, menatap Luna dengan sorot mata yang tajam dan menusuk. Selama beberapa detik, hanya terdengar suara bising terminal di sekitar mereka.
"Karang Mayit," ulang Tarjo perlahan, mengeja nama desa itu seolah itu adalah sebuah kutukan. Ia melompat turun dari kap mobil, tinggi badannya menjulang mengintimidasi Luna. "Anak kota sepertimu, mau apa ke desa bangkai itu? Di sana tidak ada apa-apa selain pepohonan busuk dan altar darah."
Jantung Luna berdegup kencang saat mendengar kata 'altar darah'. Pria ini tahu sesuatu.
"Saya harus mencari sesuatu yang diambil dari keluarga saya," jawab Luna berbohong sebagian, menyembunyikan fakta tentang dukun dan Nando. "Saya punya uang satu setengah juta. Itu semua yang saya miliki. Saya hanya butuh Bapak mengantar saya sejauh mobil ini bisa masuk, sisanya saya akan jalan kaki."
Tarjo tertawa, tawa hambar yang terdengar mengerikan. Ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu boots kulitnya. "Satu setengah juta untuk mengantar nyawa ke mulut harimau? Kau bercanda, Neng. Simpan uangmu buat beli tiket kereta pulang ke Jakarta. Jangan buang nyawamu sia-sia. Hutan itu tidak menerima tamu."
Tarjo berbalik, hendak masuk ke kursi kemudi.
Luna panik. Jika Tarjo pergi, tamatlah riwayatnya. Dengan nekat, Luna merogoh bagian bawah ranselnya, menyentuh gagang Keris Pangruwat, lalu membiarkan sedikit demi sedikit energi putih dari keris itu merembes ke telapak tangannya. Ia melangkah maju dan menahan lengan jaket kulit Tarjo.
Seketika, Tarjo tersentak seolah tersengat listrik. Pria berwajah keras itu berbalik dengan mata terbelalak ngeri, menatap tangan Luna yang mencengkeram lengannya. Tarjo, sebagai orang yang lama hidup berdekatan dengan hal mistis di hutan, memiliki kepekaan batin. Ia bisa merasakan aura kuno yang sangat kuat dan mematikan memancar dari balik ransel gadis itu.
"Kau..." Tarjo menatap Luna dengan pandangan baru. Bukan lagi tatapan meremehkan seorang anak kota, melainkan tatapan penuh kewaspadaan. "Aura apa itu? Kau bukan gadis sembarangan."
Luna melepaskan cengkeramannya, wajahnya tetap sedatar mungkin meski jantungnya ingin meledak. "Saya tidak punya niat buruk pada Bapak. Tapi saya harus ke Karang Mayit hari ini juga. Jika Bapak punya dendam dengan hutan itu karena masa lalu Bapak... maka kita punya musuh yang sama. Tolong saya, Pak."
Tarjo terdiam lama. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah hutan lebat di kejauhan timur yang tertutup kabut tipis. Bekas luka di pipinya tampak semakin jelas. Tarjo menelan ludah, lalu menghela napas panjang yang terdengar pasrah.
"Satu setengah juta," desis Tarjo akhirnya. "Bayar di muka. Aku akan mengantarmu sampai ke Pos Mati—batas terakhir di mana kendaraan bisa lewat. Setelah itu, kau jalan sendiri menyusuri sisa rel lori tebu zaman Belanda. Setuju?"
"Setuju," jawab Luna tanpa ragu, merogoh dompetnya dan menyerahkan seluruh lembaran uang tunai yang ia miliki. Mulai detik ini, ia resmi menjadi orang miskin yang sesungguhnya. Namun jika Nando tidak bisa kembali ke tubuhnya, uang sebanyak apa pun di dunia ini tidak akan ada artinya bagi Luna.
"Naik," perintah Tarjo singkat sambil membuka pintu kemudi.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣