NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rahasia di Balik Jendela

Malam di Blitar pukul sembilan sudah terasa seperti tengah malam di Surabaya. Jalanan mulai lengang, dan lampu-lampu teras rumah penduduk sudah banyak yang dipadamkan. Di dalam kamar, Dinara sedang menekuni buku hukumnya di bawah temaram lampu meja, mencoba melupakan perdebatan di meja makan tadi sore.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela jati yang tertutup gorden. Dinara berjengit, menoleh ke arah pintu kamar yang terkunci, lalu ke arah jendela. Dimas berdiri di sana, menyembul dari balik gorden dengan senyum miring yang mencurigakan.

"Dek," bisik Dimas. "Ayo ikut Mas. Kita 'kabur' sebentar."

Dinara membelalak. "Mas, ini sudah malam. Nanti kalau Ibu bangun gimana?"

"Ssst... Ibu sama Bapak sudah tidur pulas. Mas sudah cek, suara ngorok Bapak sudah sampai radius dua meter," seloroh Dimas sambil memberi isyarat agar Dinara mendekat. "Ayo, Mas lapar banget. Di dapur tadi cuma ada sayur lodeh sisa, Mas pengen bakso yang di dekat alun-alun. Wes ta, ojo kakehan mikir, mumpung suasananya pas."

Entah karena pengaruh kata-kata Dimas atau karena rasa jenuh yang sudah di ubun-ubun, Dinara akhirnya mengangguk. Ia meraih jilbab instan dan jaket tipisnya. Mereka keluar lewat pintu samping dengan gerakan mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri. Begitu mesin motor dinyalakan di luar gerbang, Dimas langsung menarik gas tipis-tipis, membawa mereka menjauh dari otoritas rumah Subroto.

Udara malam Blitar menyergap kulit, dingin dan bersih. Dinara terpaksa memegang ujung jaket Dimas agar tidak terlempar saat motor melintasi jalanan yang tidak rata.

"Gimana, Dek? Lebih enak hirup udara bebas kan daripada hirup aroma sindiran di dalam rumah?" teriak Dimas di balik helmnya.

Dinara hanya tertawa kecil, membiarkan angin menerpa wajahnya.

Mereka berhenti di sebuah warung bakso gerobakan yang masih buka di pinggir jalan. Wangi kuah kaldu yang gurih dan uap panas yang mengepul menjadi penawar lapar yang sempurna. Dimas memesan dua porsi dengan tambahan tetelan yang melimpah.

"Mas... sebenarnya Mas juga merasa tertekan ya tinggal di sana?" tanya Dinara pelan saat mereka mulai menyantap bakso.

Dimas menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap mangkuknya, lalu tersenyum tipis—senyum yang kali ini tidak mengandung lelucon. "Dek, Mas ini anak laki-laki satu-satunya. Di mata Bapak, Mas itu proyek masa depan yang harus sukses sesuai cetakannya. Mas dipaksa jadi pegawai negeri dulu, tapi Mas milih buka kafe. Mas disuruh nikah umur sembilan belas, Mas tunda sampai dua puluh tiga."

Dimas menyesap kuah baksonya. "Mas ini sebenarnya juga 'korban' standar kolot itu. Mas dianggap telat nikah, dianggap anak yang nggak manut karena lebih milih ngetik daripada ke sawah. Jadi, kalau kamu ngerasa sendirian menghadapi Ibu, percayalah, Mas sudah lebih dulu 'digebuk' mentalnya sama Bapak."

Dinara terdiam. Ia baru menyadari bahwa keceriaan Dimas selama ini mungkin adalah cara pria itu untuk bertahan hidup. Dimas bukan lawan dalam perjodohan ini; dia adalah rekan seperjuangan yang sudah lebih dulu babak belur.

"Terus kenapa Mas mau dijodohkan sama Dinara?"

Dimas menatap mata Dinara lekat-lekat. "Karena pas Mas lihat fotomu, terus Mas dengar kamu tetap mau lanjut kuliah meski ditekan Ibu, Mas mikir... 'Wah, ini partner yang pas'. Mas butuh teman yang sama-sama punya mimpi buat diajak 'berontak' secara halus. Mas nggak mau nikah sama orang yang cuma manut-manut saja terus akhirnya kita berdua mati gaya di bawah ketiak orang tua."

Obrolan itu mengalir jauh lebih dalam daripada biasanya. Untuk pertama kalinya, mereka bicara sebagai dua manusia, bukan sebagai pengantin baru yang canggung.

Setelah selesai makan, Dinara bersikeras untuk membayar di gerobak selagi Dimas berjalan lebih dulu menuju motor. Selesai membayar, Dinara melangkah keluar dari area warung dan mendapati Dimas sedang berdiri di dekat pohon besar, sedikit menjauh dari motor.

Langkah Dinara terhenti. Ia melihat bara merah kecil di tangan Dimas. Asap putih mengepul tipis dari mulut suaminya. Dinara baru tahu kalau Dimas perokok. Di rumah, Dimas tidak pernah menyentuh rokok sama sekali, mungkin karena menghargai ibunya atau memang sengaja menyembunyikannya.

Begitu mendengar suara langkah kaki Dinara, Dimas menoleh. Matanya membulat terkejut. Tanpa menunggu sedetik pun, ia langsung menjatuhkan rokok yang baru setengah itu ke aspal dan menginjaknya hingga padam total. Ia bahkan mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, berusaha mengusir sisa asap yang tertinggal.

"Lho, Dek... sudah selesai bayarnya?" tanya Dimas dengan nada cemas yang kikuk.

"Mas merokok?" Dinara mendekat, mencium aroma tembakau yang samar di sekitar suaminya.

Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya tampak sangat bersalah. "Maaf ya, Sayang. Mas biasanya merokok kalau lagi banyak pikiran atau ngerjain naskah. Tapi Mas nggak mau kamu kena asapnya. Napasmu itu harus tetap wangi, nggak boleh kena polusi dari Mas."

Dimas sengaja mundur satu langkah, menjaga jarak agar bau rokok di bajunya tidak menyengat hidung Dinara. "Maafin Mas ya, Mas tadi refleks saja karena suasananya lagi tenang. Janji deh, habis ini Mas minum air putih banyak-banyak biar baunya hilang."

Melihat kepanikan Dimas yang begitu tulus hanya karena tidak ingin istrinya terkena asap rokok, sesuatu di dalam dada Dinara menghangat. Tindakan sederhana itu—mematikan rokok seketika dan menjaga jarak—terasa jauh lebih romantis daripada puisi cinta manapun. Pria ini sangat menghargai keberadaannya, bahkan dalam hal-hal kecil yang tidak terlihat.

Pipi Dinara bersemu merah di bawah lampu jalan yang remang. "Nggak apa-apa, Mas. Dinara nggak melarang, asal jangan berlebihan dan jangan di depan Ibu, nanti Ibu ceramah lagi."

"Lho, kalau di depan Ibu mah Mas nggak berani, Dek. Bisa-bisa Mas disuruh telan puntungnya," gurau Dimas kembali ke mode aslinya. Ia mendekat sedikit, memastikan asapnya sudah hilang. "Ayo pulang. Sebelum Bapak bangun buat tahajud, kita harus sudah meringkuk manis di balik selimut."

Dimas memakaikan helm ke kepala Dinara, mengunci talinya dengan lembut. Jari-jarinya sempat bersentuhan dengan dagu Dinara, membuat gadis itu menahan napas sejenak.

"Pegangan yang erat ya, Sayang. Kita bakal sedikit 'ngebut' biar nggak ketahuan intel rumah," bisik Dimas jahil.

Sepanjang perjalanan pulang, Dinara tidak lagi hanya memegang ujung jaket Dimas. Ia memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya sebentar di punggung tegap itu. Di atas motor yang membelah malam Blitar, Dinara menyadari bahwa rahasia di balik jendela malam ini adalah awal dari sebuah kepercayaan yang mulai tumbuh.

Dimas bukan lagi orang asing. Dia adalah pelarian sekaligus perlindungannya. Dan bagi Dimas, pelukan singkat di pinggangnya malam itu adalah royalti paling manis yang pernah ia dapatkan, jauh melampaui kepuasan menyelesaikan satu bab novel.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!