Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Rumah yang Asing
Kediaman keluarga Talandra tidak sebesar mansion Omerly, namun saat gerbangnya terbuka, yang menyambut Zerya bukan sunyi yang mencekam, melainkan wangi melati dan cahaya lampu kekuningan yang temaram.
"Aku tidak bisa membawa ponselmu selamanya," ucap Javian sambil mengulurkan kembali ponsel Zerya saat mereka turun dari mobil. Suaranya datar, tanpa nada perintah. "Tapi saranku tetap sama. Berikan dirimu waktu tiga puluh menit tanpa suara itu."
Zerya menerima ponselnya, jarinya sempat bersentuhan dengan jari Javian. Dingin ketemu hangat. "Terima kasih, Tuan Javian."
"Javian saja," koreksinya singkat. "Di sini tidak ada sekretaris atau papan nama jabatan."
Begitu pintu depan terbuka, seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat mirip dengan Javian—namun dengan gurat kelembutan yang nyata—berlari kecil menyambut mereka. Clarisse, sang Mommy.
"Javian! Kamu pulang tepat waktu!" Clarisse langsung memeluk putranya.
Zerya mematung. Matanya membulat melihat bagaimana Javian—CEO yang baru saja menekan ayahnya di ruang rapat—merunduk sedikit agar ibunya bisa mencium pipinya dengan mudah.
"Mom, ada tamu," gumam Javian pelan, meski ia tidak melepaskan tangan ibunya dari lengannya.
Mata Clarisse beralih ke Zerya, dan binar di sana semakin terang. "Oh, astaga! Kamu pasti Zerya. Javian tidak bilang kalau temannya secantik ini! Ayo masuk, Sayang. Pai apelnya baru saja keluar dari oven."
Zerya melangkah masuk dengan perasaan waswas. Ia sudah menyiapkan "topeng putri sempurna"-nya, namun saat ia melihat Nathaniel—sang Daddy—sedang memakai celemek di dapur sambil mengaduk teh, topeng itu mendadak terasa berat.
"Duduklah, Zerya. Jangan sungkan," Nathaniel menyapa dengan suara bariton yang ramah.
"Javian sering bercerita tentang proyek CSR-mu. Katanya, idemu sangat cemerlang."
Zerya duduk di kursi kayu yang terasa hangat. Di depannya, pai apel kayu manis yang masih berasap diletakkan oleh Clarisse.
"Makanlah yang banyak. Kamu terlihat sangat lelah," ucap Clarisse sambil mengusap bahu Zerya lembut.
Sentuhan itu.
Hanya usapan ringan di bahu, namun bagi Zerya, itu terasa seperti sengatan listrik. Di rumahnya, sentuhan hanya berarti koreksi: memperbaiki kerah baju yang miring atau dorongan agar ia berdiri lebih tegak. Tidak ada tangan yang mengusap bahunya hanya karena dia "terlihat lelah".
"Terima kasih... Tante," bisik Zerya. Suaranya tercekat.
"Panggil Mommy saja, seperti Javian," sahut Clarisse dengan senyum tulus.
Zerya mengambil sepotong pai, namun tangannya mulai bergetar. Rasa manis apel dan kayu manis itu meledak di mulutnya, namun justru rasa pahit yang menjalar di hatinya. Ia melihat bagaimana Nathaniel bercanda dengan Javian tentang saus pai yang kurang gula, dan bagaimana Clarisse tertawa sambil memukul pelan lengan suaminya.
Ini adalah dunia yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Dunia di mana kesalahan kecil adalah bahan tertawaan, bukan alasan untuk dihapus dari daftar waris. Dunia di mana keberadaannya dihargai hanya karena dia "ada", bukan karena apa yang bisa ia berikan bagi citra keluarga.
Tiba-tiba, setetes air mata jatuh tepat di atas piring porselennya.
Zerya segera menunduk, mencoba menghapusnya dengan cepat, namun tetesan berikutnya tidak bisa dibendung. Dadanya sesak. Kehangatan di ruangan ini justru membuatnya menyadari betapa dinginnya neraka yang ia tinggali selama dua puluh tahun ini.
Nathaniel dan Clarisse terdiam, saling lirik dengan cemas.
Javian, yang sejak tadi hanya memperhatikan dalam diam, meletakkan cangkir tehnya. Ia tidak bertanya "kenapa kamu menangis?". Ia hanya menggeser kotak tisu ke dekat tangan Zerya.
"Pai-nya terlalu panas?" tanya Javian dengan nada datar yang sengaja dibuat untuk menenangkan suasana.
Zerya menggeleng, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Maaf... maafkan saya. Pai-nya sangat enak. Hanya saja... saya tidak pernah tahu kalau rumah bisa terasa seperti ini."
Suasana mendadak hening. Clarisse mendekat, tanpa ragu membawa kepala Zerya ke dalam pelukannya. Zerya membeku sejenak, sebelum akhirnya ia hancur sepenuhnya dalam dekapan wanita yang baru dikenalnya itu. Ia menangis seperti anak kecil yang baru saja menemukan jalan pulang setelah tersesat sangat lama.
Javian memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kegelapan malam.
Rahangnya mengeras. Ia sudah menduga ini akan terjadi, tapi melihat kehancuran Zerya secara langsung ternyata jauh lebih menyesakkan daripada yang ia bayangkan.
"Daddy," panggil Javian pelan pada ayahnya.
Nathaniel mengangguk, seolah mengerti arti tatapan putranya. Javian tidak hanya membawa pulang seorang rekan bisnis. Ia membawa pulang sebuah jiwa yang sedang sekarat.